Saturday, August 06, 2005

Indomie

Image hosted by Photobucket.comAda satu pertanyaan, yang entah sudah berapa puluh kali saya lontarkan ke temen-temen sesama alumnus kampus dulu. Meski menggunakan metode random sampling yang tidak sesuai dengan yang dijelaskan dalam mata kuliah Rancangan Percobaan (S1) atau Statistik Sosial (S2), rasanya saya menemukan jawaban yang valid dan signifikan, dengan tingkat kepercayaan 99%.

Pertanyaannya adalah: “Enakan mana, Indomie rebus bikinan sendiri atau bikinan si Akang pemilik warung Indomie?”


Kadang-kadang, bagi yang sudah beristri, pertanyaannya diganti: “Enak mana, Indomie buatan istri atau bikinan mamang yang jualan Indomie rebus di pinggir jalan?”

Sodara-sodara, jawabannya rata-rata adalah: Enakan bikinan si Akang empunya warung. Atau, lebih sip Indomie bikinan Mamang pedagang Indomie pinggir jalan.

Nah, lho? Tanpa meremehkan arti bakti istri yang rajin bikin Indomie buat suami, memang rasanya jauh beda dengan yang dibuat oleh Mamang penjual Indomie rebus di warung-warung. Apa karena campur keringat, atau serbet kumel itu ya? Hiiii....


Teman Setia Para Mahasiswa

Sebenarnya, istilah lebih tepat untuk ini adalah mie instan. Tapi, istilah Indomie = Mie Instan sudah seperti layaknya pasta gigi = Odol, atau air minum dalam kemasan = Aqua. Jadi, sutralah....

Kalau ada jenis makanan yang perlu mendapat tanda jasa kesetiaan berkarya, saya rasa Indomie mungkin salah satu yang harus menerima. Dia menemani lebih akrab dari siapapun, kayaknya. Makanya, saya pake kata "dia".

Saya jadi ingat, dulu, masa kuliah S1, di daerah Darmaga, Bogor, entah berapa kali dalam seminggu Indomie ini menjadi santapan utama. Tiap ke warung Indomie (yang entah kenapa kok mayoritas dikelola orang dari Kuningan?), wajah-wajah mahasiswa rantau yang kuyu kelaparan tampak ngantri menunggu hidangan murah meriah ini. Gizi dan sebagainya, nomor 16... yang penting nggak masuk angin, dan sensasi rasanya (ah, masak iya?).

Malah, sampai-sampai metodologi proses memasaknya ada banyak rupa. Di dekat pertigaan Radar, tukang mie memasukkan Indomie ke dalam plastik, diberi daun sawi, lalu disiram air panas, dan dimasukkan ke dalam panci mendidih. Waduh, itu kandungan senyawa kimia plastiknya memuai dan dikonsumsi juga. Semua juga tau, tapi entah kenapa semua juga diam. Nggak peduli. Santap abis.

Di Jl. Bara Tengah, ada warung Indomie keren, letaknya di atas jalan, sehingga kalau malam pengunjungnya bisa melihat seliweran mahasiswa lalu-lalang sibuk dengan urusan masing-masing. Si Mamang juga punya penampilan beda dengan penjual Indomie lain. Dia pakai ikat kepala putih dari handuk made in Cina. Sekilas, mirip dengan penjual singkong dan makanan lokal di Jepang sono. Dan, campuran sayurnya bukan sawi hijau, melainkan sawi putih. Sadar atau tidak, si Mamang ini sudah menerapkan strategi positioning dan branding yang mantap (saya malah baru dapatnya di Semester 3 S2 UI.... rasain lo, kalah sigap soal branding dengan mamang Indomie).

Tetapi, di warung ini juga tingkat loyalitas saya jatuh, dan akhirnya tidak pernah datang ke situ lagi. Gara-garanya, suatu saat, sekitar jam 23.00 WIB, saya dan Khairullah (teman pemilik Rental PC Rezko), nongkrong pengen isi perut di situ. Si mamang pun, dengan tampilan khasnya, mulai memasak. Sekitar sekian menit, saya melihat hal aneh. Di wajan tempat merebus Indomie, selain ada sawi putih dan Indomie kuning, kok ada benda coklat mengapung-ngapung.... dan meronta-ronta...!! (Whhaaa, coba, mana ada sawi warna coklat, pake meronta lagi). Sekian detik dibutuhkan untuk mengidentifikasi, sampai akhirnya kami berdua tak sadar berteriak kepada si Mamang, dengan teriakan 'agak' ngeri: "Kecoaaaa......!"

Tahukah anda reaksi si Mamang. Hohoho, memang betul-betul mental baja. Tanpa ngomong apapun, atau minta maaf, atau apalah, dia dengan cekatan, gerakan bak jurus "Kunyuk Melempar Buah" ala Wiro Sableng, mencongkel si kecoa dari Indomie yang tengah mengebul-ngebul mendidih. Tuiiiing..... sang coro nahas itu mencelat ke luar, nemplok di sudut kaki kursi. Dan, oh my god, tanpa merasa pernah terjadi apa-apa, itu hidangan tetap diaduk-aduk, dituang ke mangkok, dikasih bumbu, dan dihidangkan kepada kami berdua. Betulp-betul Indomia bumbu kecoak....

Saya nggak ingat apa reaksi detil saya waktu itu. Kayaknya, kalo ndak salah ingat, kita berdua bengong dan pura-pura ngobrol, tapi tidak menyentuh si Indomie. Cuma makan kerupuk, dan akhirnya cabutt. Putus hubungan dengan si Mamang. Sampai kini.

Menjajal Lagi

Dan begitulah. Entah mengapa, beberapa hari silam saya tiba-tiba bertanya lagi ke teman di kantor, soal enakan mana, masakan Indomie sendiri/istri, atau buatan Mamang penjualnya. Eh, jawabannya masih sama, enakan masakan penjual.

Pulang dari kantor, keluar dari stasiun Bogor, hujan rintik-rintik. Ah, saya sudah lapar, perut berdesis dan berkontraksi. Tiba-tiba pandangan saya tertumbuk pada warung Indomie di tepi jalan. Nostalgia? Why not. Saya tanpa sadar mengikuti langkah kaki (tentu diperintah otak dan hati, cuma serasa otomatis, gitu loh)... menuju warung itu. Saya telepon istri, bilang kalo entah kenapa tiba-tiba saya ingin makan Indomie rebus di warung. Buah hati saya itu cuma tertawa lebar dan bilang, "Ya sudah, selamat bernostalgia.."

"Indomie, Mang. Satu..." saya pesan ke si penjual. Dia mengangguk, dan mulai bekerja. Warung kebetulan sepi, cuma saya sendiri. Tanpa sadar, saya mengamati ritual langkah memasak Indomie yang dilakukan si Mamang. Buka bungkus, sreset, masukin ke wajan berisi air mendidih. Sementara bumbu dibuka dan ditaruh di mangkok. Hmm..... Usai masak, saya taruh kecap, bubuk merica, dan saos sambel botolan yang kental. Ini sambel yang saya tau bukanlah 100% tomat dan cabe, melainkan lebih banyak dibuat dari tepung ubi rambat kuning (Seorang teman pernah meneliti pembuatannya dulu sekali).

Nah, di situ jawabannya tiba-tiba muncul. Sembari makan dan merem-melek menikmati hidangan, saya mulai mengira-ngira. Kesimpulannya hadir ketika makan usai. Jangan-jangan, semua rasa yang khas itu datang dari saos sambel botolan ini, karena 100% warung Indomie selalu pakai saos sambel yang seperti ini.

Berguna atau tidak, tak terlalu penting. Yang jelas, saya lumayan puas. Selain bisa makan Indomie rebus, juga menemukan 'jawaban' dari pertanyaan yang sudah kerap saya lontarkan itu.

Jadi, enak mana, makan Indomie bikinan sendiri, atau yang buatan Mamang penjualnya? Jawabannya mungkin tetap sama: Indomie buatan si penjual. Kenapa? Karena saos sambel ubi jalar kuning itu....
Nyam...nyam.... (ah)

Catatan: Selama menulis tentang Indomie ini, tidak ada Indomie yang disakiti, atau dicuri dari tempatnya. Tidak ada kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga saya, gara-gara saya pengen Indomie tapi tidak ada stoknya di lemari. Dan yang terpenting, tidak ada pesan sponsor dari pabrik Indomie (Bogasari atao Indofood). Semua ini sekadar pengalaman belaka.







Tuesday, July 19, 2005

Ketika ALLAH Mengalahkan Mereka

Saat Perang Irak berkecamuk 2002 lalu, tak ada yang meragukan keganasan jet tempur Tornado milik Inggris. Inilah pesawat yang ikut andil meluluhlantakkan kota Bagdad dari udara dengan bom-bomnya. Tetapi siapa pernah menduga, kalau pesawat itu justru hancur digempur misil Patriot milik sekutunya sendiri, Amerika Serikat.

Atau simaklah ini, kekuatan habis-habisan pasukan sekutu merangsek maju ke ibukota Irak, terhambat berhari-hari. Bukan karena dihadang pasukan Irak, melainkan karena badai pasir yang luar biasa dahsyat. Konon butirannya sampai menembus jaket dan masker mereka, sehingga menimbulkan banyak kepanikan.

Sejarah menunjukkan, hal-hal aneh dan ajaib di medan pertempuran kerap terjadi dalam perjalanan kaum muslimin, sejak jaman nabi hingga masa modern kini. Awam, atau para ahli yang tak percaya keimanan dan kekuasaan Allah, dapat saja menyebutnya karena taktik pihak musuh, faktor alam, atau keberuntungan semata. Tapi fakta tak terbantahkan, ada 'tangan' Allah yang bermain di sana. Berikut beberapa di antaranya:

Hujan, Ketenangan, dan Khusyuk

Di saat Perang Badar, malam hari sebelum perang, kaum muslimin merasa tenang dan lega. Mereka dapat beristirahat dengan hati penuh kepercayaan. Atas rahmat Allah, malam itu turun hujan rintik-rintik, membuat udara sejuk dan nyaman, Keesokan harinya mereka merasa segar dan pikiran penuh dengan harapan baru. Pasir di sekitar mereka menjadi agak padat sehingga mudah diinjak dan meringankan langkah. Kemudahan itu dinyatakan dalam Al Quran surat Al Anfaal ayat 11.

Beberapa saat setelah usai Perang Dzatu Riqa', Rasulullah SAW dan kaum muslimin berhenti di suatu tempat untuk bermalam. Rasul memilih beberapa sahabat untuk menjadi pengawal malam bergiliran, mengingat ancaman musuh masih mungkin datang. Mereka antara lain adalah Amar bin Yasir r.a dan Abbad bin Bisyir r.a., mendapat giliran pertama. Abbad menyilakan Amar tidur karena sahabatnya itu kelihatan capai.

Saat ia menjaga dan merasa aman, Abbad pun bersalat, membaca Fathihah dan ayat Al Quran. Tahu-tahu ada sebuah panah meluncur dan mengenai lengannya hingga berlubang. Ia mencabutnya, dan meneruskan salat. Panah kedua meluncur lagi, ia cabut kembali, demikian pula panah ketiga, ia cabut sambil terus rukuk, lalu sujud. Saat tak tahan lagi, tangannya membangunkan Amar, sementara ia terus menyelesaikan salatnya, baru kemudian berkata lirih kehabisan tenaga "Bangunlah, gantikan aku menjaga, aku terkena panah." Amar pun melompat bangun dan berteriak sehingga si pemanah gelap lari. Ketika ditanya kenapa tak membangunkannya, Abbad menjawab : "Tadinya aku membaca ayat Al Quran dan aku ttidak ingin menghentikannya..." Kekhusyukan salat dan membaca Al Quran ternyata menguatkannya.

Satu orang =1000 tentara

Dalam usaha penaklukan Mesir di jaman Khalifah Umar bin Khattab r.a., beliau menulis surat kepada panglima pasukan muslimin yang bertugas, Amru bin Ash r.a. Beliau menanyakan, mengapa penaklukan berjalan lamban sejak beberapa tahun lalu. Karena itu, selain surat, khalifah mengirim empat sahabat, yakni Az Zubair bin Al Awwam, Miqdad bin Al Aswad, Ubadah bin Al Shamit, dan Masalamah bin Mukhalad. "Sepanjang yang kuketahui, seorang lelaki di antara mereka setara dengan seribu lelaki, kecuali kalau mereka telah diubah oleh unsur-unsur yang mengubah orang lain," tulis Umar. Beliau memerintahkan agar keempat orang ini ditampilkan di depan pasukan, untuk menambah semangat dan keyakinan mereka.

Begitu menerima surat dan kehadiran empat sahabat, Amru bin Ash melaksanakan amanat khalifah tersebut. Mereka mengerjakan salat dua rakaat dan memohon pertolongan Allah. Dan tak lama kemudian, Allah menaklukkan Mesir untuk mereka.

Bantuan Malaikat

Allah juga menurunkan para malaikat-Nya untuk membantu kaum muslimin melawan orang kafir pada beberapa peperangan seperti Badar dan Uhud. Al Baihaqy, men-takhrij dari Aud bin Abdurrahaman, budak Ummu Bartsan, menceritakan dari seseorang yang pernah mendengar keluh kesah seorang kafir, bahwa ketika orang-orang musyrik bertempur melawan Muhammad SAW, mereka menghunus pedang dan siap menyerang. Tapi tiba-tiba muncul beberapa orang berwajah tampan mendatangi mereka seraya berkata,"Kalian adalah orang-orang yang berwajah buruk. Minggirlah kalian!" Setelah mereka berkata seperti itu, orang-orang kafir mengalami kekalahan yan telak.

Ada pula seorang Anshar dari pasukan muslimin, yang dalam sebuah pertempuran berusaha mengejar seorang musuh musyrikin di depannya. Tapi dia mendengar ada suara lecutan cambuk dari atas dan suara kuda dengan sebuah suara, "Maju terus wahai Haizum." Selagi pandangannya tertuju pada musuh yang dburunya, ternyata orang kafir itu sudah menggeletak di tanah. Wajah mayat itu hancur terkena lecutan cambuk. Maka sahabat Anshar ini menemui Rasul SAW menceritakan semuanya. Beliau bersabda, "Benar apa yang engkau ceritakan. Itu merupakan pertolongan malaikat yang datang dari langit ketiga. Jumlah mereka tujuh puluh malaikakat dan dapat menawan 70 musuh."

Ciri-ciri malaikat 'turun tangan' membantu kaum muslimin antara lain berupa kematian musuh dengan cara leher terpenggal dan ujung jari-jari mereka terpotong, (Al Quran Surat Al Anfaal ayat 12).

Tanah, Angin, dan Petir

Saat perang Hunain, Rasul menghadapi saat-saat genting ketika banyak pasukan muslimin yang kocar-kacir digempur musuh. Yang tinggal di dekat beliau hanyalah sahabat Abbas bin Abdul Muthalib dan Abu Sufyan bin Al Harits. Ketika musuh merangsek maju, Beliau menaburkan ke muka orang-orang musyrik segenggam tanah. Orang-orang kafir itu mengaku mereka seolah melihat batu dan pepohonan memburu mereka. Kaum musyrikin akhirnya dapat dikalahkan.

Sementara, pada perang Ahzab (Khandaq), musuh mengepung kota Madinah dari segala penjuru. Ketika saat puncaknya, di malam hari angin kencang berhembus, memporak-porandakan pasukan sekutu (Ahzab). Angin itu amat menusuk tulang, diiringi petir menyambar-nyambar. Saking kacaunya, pemimpin mereka waktu itu, Abu Sufyan, langsung lari lintang pukang dengan untanya, kembali ke Mekkah. Mereka gagal masuk ke kota, dan kaum muslimin meraih kemenangan gemilang.

Mayat Dilindungi Lebah

Dalam suatu kesempatan, Rasulullah mengirim pasukan perang dan mengangkat Ashim bin Abul Aflah sebagai komandan. Ashim pernah berujar bahwa ia tidak sudi berada dalam perlindungan orang musyrikin. Ia bersumpah pada Allah agar tubuhnya kelak tidak dijamah orang musyrik dan dia tidak mau menjamah oang musyrik. Ketika Ashim terbunuh, orang-orang Quraisy mengirim utusan untuk memotong sebagian anggota tubuh Ashim sebagai bukti. Pasalnya, sewaktu Perang Badar, Ashim berhasil membunuh banyak pemimpin Quraisy. Yang terjadi kemudian adalah, Allah mengutus sekumpulan lebah untuk melindungi jasadnya dari tindakan keji itu. Karena itu, sahabat Ashim ini dijuluki sebagai "Orang yang Dilindungi Lebah."

Jumlah Bukan Ukuran

Dalam Perang Badar, Allah swt memberikan rahmatnya bagi pandangan para pejuang muslimin, sehingga mereka melihat jumlah musuh seolah tampak sedikit dari yang sebenarnya. Para sahabat melihat dan saling berbicara membicarakan jumlah orang kafir. Mereka menduga, jumlahnya hanya tinggal 70 orang. Setelah perang usai, dari tawanan mereka tahu bahwa jumlah musuh mencapai 1000 orang.

Sementara, dalam sebuah peperangan melawan Romawi, seorang pasukan muslimin bernama Hajar bin Ady berteriak kepada rekan-rekannya, "Mengapa kalian tidak segera menyerbu musuh dengan menyeberangi Sungai Tigris ini? Sementara Allah telah berfirman, sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya."
Segera dia terjun ke sungai dengan tetap menunggang kudanya, lantas para prajurit muslim mengikuti langkahnya. Musuh yang melihat tindakan yang dilakukan para prajurit itu berkata, "Ada jin Ifrit datang..." dan mereka pun melarikan diri.

Di Perang Mu'tah, kaum muslimin yang berjumlah 3000 orang maju melawan 100.000 pasukan Romawi, plus 100.000 pasukan lainnya dari Nasrani Arab. Dalam perang yang berlangsung hebat itu, Rasulullah yang ada di Madinah dapat menggambarkan kejadian yang tengah berlangsung di medan perang, atas izin Allah. Zaid bi Haritsah r.a. yang bertugas membawa panji Rasulullah bertempur dengan gagah berani, hingga akhirnya syahid di ujung tombak musuh. Ja'far bin Abi Thalib r.a. segera mengambil alih panji tersebut dan menerjang musuh.

Kepahlawaan Ja'far dilukiskan, tangan kanannya yang memegang panji ditebas musuh hingga putus, dengan segera ia mengalihkan panji ke tangan kiri. Ketika tangan kiri juga putus, ia mengepitnya dengan kedua lengannya, sebelum akhirnya gugur dalam usia yang belia, 33 tahun. Panji itu langsung digaet Abdullah bin Rawahah, yang tak lama kemudian menyusul gugur. Tsabit bin Arqad mengambil laih dan berteriak kepada kaum muslimin agar mereka memilih pimpinan yang baru setelah 3 pimpinan gugur. Pasukan muslim memilih Khalid bi Walid, yang kemudian berhasil membawa pasukan muslimin memukul mundur pasukan Romawi hingga kocar-kacir, sebelum akhirnya memutuskan menarik pasukan kembali ke Madinah.

Cobaan yang lebih berat datang ketika Perang Tabuk menghadapi Romawi. Saat itu musim paceklik, sehingga pasukan muslimin begitu terbatas persenjataan dan logistiknya, sehingga saat itu dijuluki sebagai "Jaisyul 'Usrah" (pasukan yang menghadapi kesukaran) . Saking terbatasnya, seekor unta harus dinaiki bergantian oleh 2-3 orang tentara. Dalam terik matahari, haus mendera, dan banyak pasukan kondisinya amat mengkhawatirkan. Saat itu, para sahabat menanyakan Nabi SAW untuk meminta pertolongan Allah. Rasul SAW pun mengangkat tangan menengadah ke langit dan baru menarik tangannya setelah turun hujan deras. Orang-orang beramai-ramai minum dan mengisi wadah airnya hingga penuh.

Dalam perang lainnya, Rasul pernah mendoakan seluruh sisa perbekalan makanan yang ada pada pejuang muslimin. Setelah itu, seluruh anggota dipersilakan mengambil bekal masing-masing. Hingga pasukan itu habis, makanan yang tersedia ternyata masih utuh, bahkan dengan ukuran yang sama seperti saat didoakan.

Keajaiban di Afghanistan

Berbagai peristiwa menakjubkan yang terjadi pada zaman sahabat dan tabi"in, ternyata juga dialami para mujahidin beratus tahun setelahnya. Lahan jihad Afghanistan menyisakan berbagai kisah nyata pertolongan Allah terhadap kaum mujahidin dalam mengusir pasukan Tentara Merah Uni Soviet dari sana. Dr. Abdullah Azzam, salah satu panglima mujahidin Afghanistan yang terkenal, telah merangkum dalam sebuah berjudul "Ayatur Rahman fi Jihadil Afghan" (Tanda-tanda Kekuasaan Allah dalam Jihad Afghanistan) tentang keajaiban-keajaiban yang terjadi selama perang.

Misalnya, seorang anak usia 3 tahun, di malam hari dengan gagah berani membawa korek api menuju tank Soviet. Sang komandan bingung dan bertanya apa maksud bocah tersebut. Bawahannya dengan tergopoh-gopoh memberi tahu bahwa balita itu bertekad membakar tank-tank musuh yang masuk ke desanya!

Seorang wanita, dalam kesempatan lain, ada di depan mesjid yang di dalamnya terdapat pejuang muslim yang tengah dikepung tank-tank musuh. Si wanita berdoa, "Ya Allah, jika Engkau akan memberikan kekalahan pada para mujahidin yang ada di dalam sana, maka jadikanlah diriku sebagai tumbal untuk menyelamatkan mereka..." Padahal, dua hari lagi wanita itu akan melangsungkan pernikahannya. Benar saja, wanita itu tewas diberondong peluru tentara musuh dan para mujahidin bisa menyelamatkan diri.

Ada pula kisah pasukan Mujahidin yang hanya 40 personel membuat kalang kabut sepasukan besar Rusia. Dengan bermodalkan senjata sederhana dengan pinggang dililit kain kafan putih, mereka berteriak, ''Allahu Akbar!'' dan menerjang barisan musuh. Anehnya, pasukan Soviet itu lari tunggang langgang. Prajurit Rusia yang tertangkap mengaku, mereka kabur karena tiba-tiba melihat pasukan Mujahidin berjejal memenuhi bukit. Seruan ''Allahu Akbar'' terdengar membahana bak letusan ribuan senjata menggetarkan bumi.

Di daerah Syathura, mujahidin yang cuma berkekuatan 25 orang digempur musuh yang berjumlah 2000 orang. Pertempuran sengit terjadi selama empat jam, dengan kemenangan di pihak mujahidin. Musuh yang tewas sebanyak 80 orang dan 26 tertawan. Tawanan Soviet itu mengaku bahwa pasukan mujahidin dengan senapan mesin buatan Amerika menghujani mereka dari empat penjuru mata angin. Padahal, 25 orang pejuang tadi hanya menggnakan senapan sederhana dan hanya menyerang dari satu arah.

Dalam Majalah GATRA tahun 2001, Ustad Ja'far Umar Thalib, Panglima Laskar Jihad, dan pernah berjuang di sana, bercerita dalam suatu kesempatan Mujahidin terkepung di sebuah lembah. Dua helikopter besar ada di atas dan siap melontarkan bomnya. Sementara para mujahid hanya punya sisa satu bazoka. Allahu Akbar, satu bazoka itu menghancurkan sebuah heli yang, anehnya, kemudian menimpa heli lainnya.

Pasukan Beruang Merah juga takluk oleh cuaca. Psaukan mujahidin pimpinan Ahmad Syah Mas'ud (yang bergelar Singa Lembah Panshir) pernah dikepung tentara Soviet di wilayah Panshir. Mereka dipaksa bertahan di dalam gua. Sebulan kemudian, yang terjadi justru tentara Rusia mati bergelimpangan karena kedinginan.

Kisah Mujahidin Ambon

Seorang pejuang Putih (istilah untuk orang Islam ) pernah menghadapi pasukan merah (Nasrani) yang memberondong tubuhnya dengan rentetan tujuh tembakan. Anehnya, pejuang itu tak kurang satu apapun. Pejuang Putih justru mudah digempur dan lemah kalau mereka emosi dan melontarkan kata-kata kotor. Karena itu, pasukan Merah konon suka memancing dengan kata-kata kotor, menghina agama, menghina nabi, dan lain-lain, agar para pejuang muslim emosi dan balas memaki.

Seorang dokter pernah kagum tatkala mengobati seorang pasien yang terluka akibat panah di tubuhnya. Belum selesai diobati, sang pasien memaksa untuk turun lagi ke medan jihad. "Ayo dok, tolong sembuhkan saya segera. Biar saya balik lagi ke sana..." ujar sang pasien. Ada juga seorang anak perempuan berusia 11 tahun yang mengancam akan bunuh diri kalau orang tuanya tidak mengizinkan dirinya berjihad. Konon, wanita muda itu menjadi salah satu pemimpin pasukan jihad Jailolo.

Atau, simaklah pengalaman dr. Jose Rizal Jurnalis dari MER-C di sebuah majalah. Di Tual, jumlah umat Islam hanya 20%, kampungnya terjepit di tepi pantai, sementara orang-orang Kristen berada di kawasan yang lebih tinggi. Orang-orang Merah menyerang dengan gencar dengan berbagai macam senjata. Hebatnya, umat Islam mampu bertahan. Setelah suasana aman dan Islam-Kristen berbaur kembali, rahasianya terungkap. Orang Kristen mengaku sudah setengah mati menyerang tapi akhirnya lari sebab mereka melihat banyak sekali orang berpakaian putih-putih, tersebar dimana-mana, bahkan di pohon dan genting rumah.

Seorang pemimpin pasukan jihad, dalam ceramahnya di kawasan Rawamangun, berkisah lain lagi. Tatkala pasukan merah menyerang pasukan muslim yang tersudut di sebuah mesjid, tahu-tahu saja mereka lari lintang pukang dan berteriak ketakutan. Selidik punya selidik, mereka mengaku halaman mesjid, mereka melihat banyak sekali anak-anak kecil berbaju putih berdiri tegap melindungi mesjid. Siapakah mereka? Wallahu a'lam.

Pert
olongan Bagi Orang Mukmin

Perang yang dahulu (dan masih hingga kini) di Irak, sesungguhnya juga menyisakan banyak pertanyaan tentang kejadian-kejadian ganjil. Bagaimana mungkin seorang petani bisa menjatuhkan heli Apache yang paling canggih di dunia? Bagaimana mungkin misil dan rudal yang terprogram dengan akurat bisa melenceng ke Iran, Turki, Saudi, atau Kuwait?

Yang jelas, pertolongan Allah tak dapat ditebak kapan dan di mana datangnya. Hanya, pertolongan tersebut ditujukan kepada kaum dan masyarakat yang berjuang ikhlas membela agamanya. Banyak riwayat para sahabat dan kejadian di dunia modern seperti di atas menjelaskan tentang keajaiban yang Allah berikan di saat kondisi kaum muslimin terjepit, hampir tak berdaya.

"(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dari hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka kepada Allah dengan bermacam-macam purbasangka. Di situlah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat." (al-Ahzaab: 10­ 11)


Wallahu a'lam

Sunday, July 17, 2005

Akhirnya...

Dua tahun itu sebentar
Mungkin malah cuma sekerjap mata
Baru kemarin rasanya
mengisi malam-malam penuh wacana
diskusi di ruang terbuka
dengan paper dan take home exam yang melelahkan

Dua tahun itu
sama dengan satu jam
2003-2005 setara dengan 15 juni 2005 14.00-15.00
ketika nasib dan status
ditentukan ketuk palu para dosen
"Dengan senang hati, kami meluluskan Saudara.."

Plong...


(Jumat, 15 Juli 2005, 14.00 -15.00 WIB, aku akhirya menjalani sidang akhir pengujian tesis di program pascasarjana, departemen ilmu komunikasi FISIP-UI. Sidangnya terbuka, karena bbrp teman ingin ikut dan menyaksikan. Ya sudah, apa ruginya, kalau hancur ya hancur sekalian. Namun ternyata semua berjalan lancar. Dua tahun jerih payah terbayar, dua tahun menjalani sisa malam dengan terkantuk-kantuk di bis antarkota UKI-Bogor, setelah seharian bekerja, lalu berlanjut dengan kuliah malam yang melelahkan. Begitu, empat-lima hari sepekan, selama hampir 24 bulan).

Ini pastilah bukan (sekadar) soal gelar. MSi, kek, MS kek, atau apalah. Tugas menuntut ilmu, yang aku rasa sudah sampai taraf wajib, karena jika aku tidak menambah ilmuku berarti aku potensial menzalimi banyak orang dengan pekerjaanku yang terkait bidang komunikasi. Itu saja...

Menuntut ilmu dari buaian hingga liang lahat. Sekarang, satu tahap kewajiban lagi sudah selesai. Aku menanti dan mencari dengan semangat tugas dan tantangan lain.

I'll miss my campuss at Salemba... (ah)

Thursday, July 07, 2005

Blog-ku Sayang, Blog-ku Malang

Sebenarnya sedih juga, ninggalin blog begini lama. Sampai ketika si Abdul Latief Siregar a.k.a Azis Sutan Barita a.k.a Poltak yang baru jalan-jalan dari Pakistanshire (eh, maksudnya Bradford) menulis harapannya agar ada updating. Plus, Mbak Hani, yang dengan polos nanya di shoutbox, "Yang punya keblog lagi ke mana nih..?"

Sesungguhnya saya tidak ke mana-mana. Cuma, malu untuk bilang bahwasanya ada banyak kejadian selama bulan Juni lalu, dan persoalannya belum kelar hingga kini. Soal tesis menjelang ujian, soal kepindahan kerja, dll. Sampai-sampai, nulis di Insani saja di-stop dulu.

Sebegitu seriusnya kah persoalan? Klise barangkali. Tetapi memang begitulah. Tak heran, hingga kemudian blog jadi nomor sekian dalam prioritas. Kabar buruk buat dunia per-blog-an? Mungkin ya, mungkin nggak. Emang gua siapa sih? Hehehe...

Mudah-mudahan ntar malam, saya bisa mulai menulis lagi. Nggak janji, sih. Cuma kasih harapan aja :)

Friday, May 27, 2005

Ingat Kampung Halaman (lanjutan)

Di kampung, ada satu hal favorit yang selalu kutunggu-tunggu: makan. Tidak peduli apakah itu sarapan, makan siang, atau makan malam, semuanya terasa enak. Padahal menunya sungguh tidak intelek di mata orang kota: sayur singkong rebus, nasi putih mengepul (kadang ada juga nasi merah, lebih enak lagi), sambel terasi, dan balado teri atau ikan sungai. Wuih, the most delicious cuisine in the world...Yang aku, ingat, ada ikan sungai yang disebut "ikan sulup" (kecil-kecil, warna keperakan, di Medan kadang disebut dengan "ikan chen-chen". Ada juga ikan jurung; yang ukurannya besar dan streamline seperti peluru. Dua-duanya sama enak. Selain itu, juga tersedia ikan asap dari limbat (sejenis lele), yang paling uenak kalo digulai. Hmmm.....

Belum lagi kalo kita diundang silih berganti dari satu rumah famili ke rumah famili lain. Yang paling ditunggu-tunggu adalah kalau berkunjung ke rumah bapak dan ibu angkat kami, dipanggil Pak Cuman (nama aslinya Lukman) dan Ibu Betty (asli Yogya, tapi udah lebih batak dari orang batak).......... Mereka tinggal di dalam komplek pasar. Selalu ada kurir yang datang ke rumah nenek, dan menanyakan, apa menu yang diinginkan kalau pas datang ke rumah mereka. Saya dan saudara-saudara biasanya saling berebut menyampaikan 'aspirasi' perut masing-masing.

Jika malam menyambangi kampung, suasana terasa temaram, meski belakangan listrik sudah tersedia. Dulu, belum ada yang memiliki TV, kemudian satu-satu mulai membeli dan memasangnya di halaman rumah, seperti yang dilakukan Pak kades, yang rumahnya pas di sebrang jalan. Dingin menyelubungi seluruh kawasan bebukitan itu. Kami biasanya berkumpul di rumah, minum teh atau kopi, dan berbincang-bincang. Bagi anak laki-laki seperti aku, kesempatan semacam itu biasa dipakai untuk mencuri-curi melinting rokok tradisional (dari daun jagung, diisi dengan sejumput tembakau) dari saku kakek atau paman. Biasanya Mama' langsung menyuruh berhenti, sedangkan Ayah cuma tertawa-tawa. "Biarlah, sekali-sekali," begitu alasannya. Para paman malah dengan semangat mengajari bagaimana melinting dan memasukkan jumput tembakau secara baik dan benar :)

Dan bila malam makin larut, saatnya tidur. Ini tidur paling nikmat, dengan selimut tebal, dan tak jarang lebih dulu didongengi cerita oleh Uwak kami. Tentu, sambil rambut di kepala diucel-ucel, membuat kita makin 'teler' keenakan dan akhirnya tak sadar terpulas.

Kalau bosan, kita bisa minta sepupu memanjat pohon kelapa di siang hari dan memetik buahnya barang dua-tiga butir. Bosan juga? Bisa ikut Uwak laki-laki membuat gula merah dari pohon aren (gula aren). Memasaknya penuh kesabaran, dan dicetak berbentuk bundar dengan cetakan dari pelepah pisang yang sudah dikeringkan. Manisnya, jangan tanya lagi. Dan sangat bergizi. Penuh kalori.

Sering pula kita pergi ke pasar (disebut Pekan, tiap hari Kamis). Di sana ada banyak jajanan tradisional, dengan harga murah. Atau, menemani Uwak berdagang tauge ke provinsi sebelah (Sumatera Barat), tepatnya di Pasar Rao (tempat lahirnya sutradara terkenal, Asrul Sani). Sementara Uwak menjajakan tauge-nya, kita berkeliling pasar sambil bermain hingga letih. Kalau dagangannya laku, Uwak suka membelikanku tebu segar yang sudah dipotong-potong dan ditancapkan di tangkai bambu. Persis makan es krim, tetapi yang ini tebu, saudara-saudara...

Dan ketika esok atau lusa kita akan pulang kembali ke Medan, itu saatnya para paman dan bibi serta sepupu membuatkan oleh-oleh spesial: dodol kacang. Membuatnya dari kelapa dan gula merah (aren), diaduk pelan-pelan, yang lama kelamaan makin berat karena makin mengental. Aku pernah mencoba, bahkan hingga SMA, tetap saja ngos-ngosan dan tidak kuat. Sementara mereka membuatnya begitu santai dan mudah, sambil berbincang dan bersenda gurau.

Ada perasaan sedih tiap kali akan berangkat pulang, menunggu bis yang ditumpangi datang menjemput. Biasanya, dulu hingga SMA, ketika akan berangkat pastilah saku celana saya penuh dengan uang recehan, dari lima ratusan, hingga seribuan. Itu 'persenan' dari nenek, kakek, uwak, paman, dan famili lainnya. Wah, bahagianya (waktu aku lulus dari IPB dan mampir di sana, eh, aku juga masih disangui seperti itu, betapa mereka tidak mau melepas tradisi ini. Jadi malu, ih).

Sekarang, aku cuma bisa mengenang-ngenang semua itu. Entah kapan bisa ke sana lagi, dan menjalani masa-masa bahagia tanpa beban seperti dulu. I miss my village... (ah)

Tuesday, May 24, 2005

Ingat Kampung Halaman

Baca Kompas Minggu, 22 Mei 2005 lalu? Ketika mereka membedah tentang bagaimana nikmatnya hidup di desa, dengan segala suasana dan tradisinya, aku jadi termenung-menung. Aku jadi ingat kampung halaman. Tepatnya, kampung halaman ayah almarhum (semoga Allah merahmati-nya, allahummaghfir lahum warhamhum). Hitung punya hitung, aku terakhir ke sana 13 tahun silam, ketika baru saja lulus perguruan tinggi dan pulang ke Medan dengan bis, bersama kedua orang tua. Waktu itu, kami mampir di sana 3 hari.

Kompas menulis tentang kehidupan di desa sekitar Gunung Sorik Merapi di Tapanuli Selatan (sekarang masuk wilayah Kabupaten Mandailing Natal atau Madina). Kampung ayah juga di kawasan sana juga, meski lumayan jauh dari Sorik Merapi. Namanya Muara Sipongi, sekitar 22 km dari Kotanopan, 60 kilometeran dari Panyabungan, serta 120 kilometeran dari Padang Sidempuan.

Melihat foto-foto suasana kampung berikut gambaran situasi kehidupan sehari-hari, ah, tak salah lagi. Itu khas yang memang selalu dirasakan, tiap kali mengunjungi dan tinggal di sana. Muara Sipongi, saudara-saudara! Mungkin kota (kecamatan) ini asing di telinga anda. Tapi coba aku sebutkan nama orang-orang ternama ini: Sanusi Pane (sastrawan), Armyn Pane (sastrawan, budayawan, salah satu pendiri HMI), Muhammad Kasim (sastrawan handal), lahir di tempat ini. Adnan Buyung Nasution pun juga kampung asalnya dari Muara Sipongi, kalo tak salah di desa Pakantan.

Kami sekeluarga, dahulu, kerap menyambangi kakek dan nenek (keduanya kini sudah tiada, allahummaghfir lahuma warhamhuma). Entah itu ketika liburan, lebaran, atau kadang kapan saja, ketika rindu itu datang. Aku malah punya pengalaman menarik, ketika baru saja pengumuman kelulusan SD, pagi-pagi buta ayah membangunkanku dan bertanya, “Mau ikut ke kampung? Ayah ada tugas dan lewat sana, nanti kita mampir ke nenek barang sehari-dua,” katanya. Belakangan, aku tahu kalau ajakan itu adalah bentuk hadiah dari beliau, karena aku menjadi juara umum di sekolah. Persiapan kilat pun dilakukan. Mama’ menyiapkan pakaian, baju hangat, dan tak lupa mewanti-wantiku agar jangan membiarkan perut kosong di perjalanan. Dan benar, saking buru-burunya, waktu itu makan pun tak selera lagi. Akibatnya, masuk angin dan mabuk perjalanan, apalagi saat melewati kelok 40, Sibolga (waktu itu jalur nyaman lewat Kisaran belum lagi dibuka). Waktu itu, dari Medan ke Muara Sipongi (atau biasa disebut Morsip) membutuhkan 14 jam perjalanan.


Image hosted by Photobucket.comTetapi tetap saja mengunjungi kampung halamanku itu menjadi sebuah kenikmatan tiada tara. Bayangkanlah. Kampung ini berada di tepi Batang Gadis (nama sungai), yang airnya jernih bukan kepalang. Dinginnya jangan tanya. Aku tak pernah bisa mandi kecuali jarum jam sudah menunjuk angka 11 siang. Saking dinginnya, di permukaan air terlihat kabut yang mengapung-apung hingga tengah hari. Kawanan burung Belibis suka mandi di tepian dekat hutan, dan menghambur berterbangan jika diusik anak-anak yang asik mandi. Kadang, babi hutan suka mengintip di balik dedaunan. Harimau? Satu-dua orang pernah mengaku bertemu. Ayahku juga pernah, dan suka menceritakan pengalaman itu berkali-kali kepada kami, anak-anaknya. Kami selalu suka mendengar cerita itu dan senantiasa terkagum-kagum. Mata kami berbinar-binar kalau cerita tentang harimau, babi hutan, bahkan tentang cerita seram sekali pun, terutama tentang inyik (sebutan sopan untuk harimau) jadi-jadian yang suka terlihat melintasi sungai di tengah malam, dengan seorang nenek berjubah kelabu di atas punggung sang harimau.

Di belakang rumah-rumah penduduk, baik yang di sebelah utara maupun selatan jalan lintas Sumatera, hutan dan semak belukar lebat sudah menyambut. Belukar ini terus menyambung hingga menuju rimba bebukitan. Sinar matahari baru bisa nongol setelah jam 11 karena tertutup bebukitan itu. Jadi, dinginnya sudah terkira, bukan?

Tiap orang bertemankan sarung dan kemul. Pagi-pagi, sehabis subuh, pekerjaan paling nikmat adalah nongkrong di depan rumah sambil berkemul dan ngobrol ngalor ngidul, atau masuk warung dan ngopi atau minum teh, plus ditemani pisang goreng yang rasanya tidak bisa disamai pisang goreng mana pun di dunia. Sumpah!

Sembari ngobrol (orang sana menyebutnya “mahota”), aku dan sanak saudara sebaya dulu sering menghitung bus-bus antarkota dan pulau yang selalu lewat di jalanan kampung. Coba, apa yang tidak ada, mulai dari ALS (Antar Lintas Sumatera), ANS (singkatan dari ANAS, punya orang Padang?), PM Toh, Sibual-buali, Sampagul, hingga Mawar Merah). Entah di mana letak kesenangannya, yang jelas, tiap bus yang lewat selalu kami sambut dengan sorakan dan lambaian tangan. Bangga rasanya menghibur para musafir yang dari dalam mobil tampak tersenyum sambil balas melambai. Kadang, mereka juga berhenti di mesjid jami di tepi sungai dekat jembatan, sekadar membasuh muka dan menunaikan solat.

Mandi di sungai adalah kenikmatan yang lain lagi. Air yang jernih membuat ikan di dasar perairan tampak dengan jelas. Kadang kami main ke daerah larangan, sebutan buat kawasan sungai yang ditetapkan desa sebagai daerah larang ambil, karena ditebar berbagai bibit ikan. Biasanya pada hari kedua atau ketiga lebaran idul fitri, larangan itu diakhiri, dan warga desa boleh mengambil dengan jala, pancing, tombak, dan segala rupa perangkat, dengan membayar sejumlah uang pendaftaran. Uang itu dipakai untuk kepentingan desa. Di sungai larangan ini, kami bawa nasi basi dari rumah nenek. Begitu nasi ditebar di tepi, dan permukaan air ditepuk-tepuk, ikan-ikan beragam jenis muncul mendekat dan berpesta. Jinak-jinak. Pemandangan eksotik apa lagi yang bisa menyainginya?

Ketika ayah memiliki ladang jeruk, kami rela berjalan kaki 2 kilometer menuju ladang itu, mendaki hingga puncak bukit dan membawakan kakek nasi rantang untuk makan siang. Di puncak bukit ada saung, berikut kolam di bawahnya. Untuk cucu-cucunya, kakek suka mengambil ikan mas yang ada di kolam, untuk digulai atau digoreng dan disantap bersama. Yang lucu, di kaki bukit, sebelum masuk ladang jeruk, ada pengumuman unik, ditulis dengan cat putih di papan tipis. Isinya: “Dilarang Mencuri. Kebun Ini Berubat!!” (maksudnya berobat, diberi jampi-jampi yang membuat pencurinya bakal celaka). Kakek yang membuatnya. Konon, dia termasuk tabib atau dukun kampung yang lumayan disegani...

(bersambung, udah menjelang jam 22.30. ngantuk...)

Wednesday, May 18, 2005

Sibuk, Kejutan, Hiburan

Allah itu Maha Hebat.

Betapa tidak, kesibukan luar biasa karena harus menuntaskan berbagai kerjaan kantor sudah amat menyita waktu dan tenaga. Eh, penelitian malah membuat aku panik, karena makin mendekat ke sini kok makin banyak yang dirasa kurang.

Maka, sungguh aneh ketika pekan lalu, entah kenapa aku ngotot berhenti mengerjakan semuanya sejenak. Ya, sejenak. Sehari saja. Aku ingin mengerjakan yang lain sama sekali. Tidak untuk bermain game, tidak untuk kerjaan kantor, tidak untuk tesis. Go to hell with them! Akhirnya, kugunakan untuk menulis esai tentang Perpustakaan Nasional. Hasilnya aku kirim ke Lomba Menulis tentang Perpustakaan Nasional, pas injury time (deadline tanggal 10 Mei, kirim tanggal 9 Mei siang). Saking injury time-nya, Pak Pos pun nyerah, sehingga harus pake jasa kurir khusus. Kena 20 ribu perak, tetapi puas, karena bisa mengerjakan something different than usual.

Dan tahu-tahu pengumuman muncul kemarin di situs www.pnri.go.id. Hasilnya, terpilih 3 pemenang utama (Juara I mahasiswa dari Bantul, hebat...hebat, patut diacungi jempol). Selebihnya, kebanyakan kalau nggak dosen, ya petugas perpustakaan di berbagai daerah. Di luar 3 juara, ada 10 Penulis Favorit pilihan Juri. Dan, eeeeeh..... sodara-sodara, namaku kok ada di urutan ke-4 dengan esai yang berjudul 'Menjajakan' Perpustakaan Nasional dan Pengembangan Layanan bagi Khalayak". Itulah hasil kerjaan mendadak, yang sebenarnya lebih untuk mengusir kejenuhan.

Allah sungguh-sungguh Maha Hebat. Dan aku jadi sungguh-sungguh jadi malu pada-Nya. Dia Maha Tahu cara menghibur hamba-Nya. Di sela kesibukan kerja dan kekalangkabutan mengerjakan tesis serta berbagai urusan dunia lainnya itu, berita 'kemenangan kecil' ini amat menyejukkan. Konon, ada hadiah uang dan piagam penghargaan, lho :). But that's not the issue. The issue is: bahwa ketika aku mulai lupa dan lalai, Dia bukannya murka. Sebaliknya, justru menghiburku terus-menerus dengan tetap memberi kesehatan, kekuatan, dan berita gembira seperti ini. Rasanya, betapa tak pantas selama ini aku mengeluhkan kesibukan kerja, kepusingan belajar, dll. Sangat tak patut.

God,thanks a lot.
Engkau sungguh-sungguh Maha Hebat.
Maha Sabar.
Maha Penyayang thd hamba-mu yang 'ndableg' ini.

Thursday, May 12, 2005

McDonaldisasi: Rasional vs Irasional

Inilah contoh konsep rasionalitas demi memburu kemajuan. Yang terjadi justru sebaliknya.

Siapa tak kenal McDonald? Inilah perusahaan yang bergerak di bidang makanan cepat saji (fast food) terdahsyat yang pernah ada di bumi. Setidaknya, jika melihat kemajuan pesat yang dicapainya sejak pertama kali berdiri.

Adalah Ray Kroc, si pengembang kerajaan McDonald, yang mematenkan metode brilian dalam menjual dan mengembangkan produknya. Cerita awalnya adalah usaha dua bersaudara, Mac dan Dic McDonald, yang membuka restoran di Pasadena, California, tahun 1937. Strategi mereka berjualan adalah menyediakan pelayanan dengan kecepatan tinggi, volume yang besar, dan harga terjangkau. Agar rapi jali dan menghindari kekacauan akibat banyaknya pembeli, dua bersaudara ini menyusun rangkaian menu siap pesan yang amat rinci. Belum lagi model “ban berjalan” ala pabrik untuk kegiatan produksinya. Waktu memasak kentang dan ayam, misalnya, sudah diatur sedemikian rupa, demikian juga pelayanan. Dua bersaudara ini pula yang mula-mula memperkenalkan pekerjaan spesifik untuk tiap pegawai. Ada “grill men” yang khusus memanggang daging, “fry men” yang menggoreng kentang dan ayam, atau “dresser” yang khusus menambahkan ekstra di atas burger dan yang membungkusnya.

Kroc tertarik dengan model bisnis makanan yang dikembangkan dua McDonald itu. Kesempatannya mengembangkan strategi dimulai dengan menjadi mitra dua bersaudara tersebut sebagai agen waralaba sejak 1954. Kroc membuka warung burger sederhana setahun kemudian di San Bernardino, California. Lama-kelamaan, usaha tersebut berkembang, namun McDonald bersaudara masih memegang kendali usaha. Baru setelah Kroc membeli seluruh aset McDonald’s seharga US$ 2,7 juta tahun 1961, ia mulai menciptakan strategi resto yang diimpikannya.

Dan hasilnya, kini McDonald’s –yang popular disebut McD-- sudah memiliki 31 ribu outlet di seluruh dunia yang tersebar di 119 negara. Termasuk di Mekkah! Mereka melayani lebih dari 47 juta pelanggan tiap hari. Pada tahun 1993 alias 11 tahun silam, total penjualan McD mencapai US$23 milyar dengan keuntungan hampir US$ 1.1 milyar. Rata-rata outlet di AS total penjualannya waktu itu kira-kira US$1.6 juta per tahun. Kota Moskow sebagai simbol kekuatan Soviet waktu itu juga ‘ditembus’ McD. Di outlet kota itu, sejumlah 30 ribu burger McD dijual tiap harinya dengan mempekerjakan tak kurang dari 1200 anak muda. Kini, jumlahnya tentu lebih berlipat ganda. McD bahkan menjadi ikon baru kekuatan Amerika di bidang ekonomi.

Inovasi Ray Kroc yang sukses ini mewabah ke mana-mana. Yang Kroc tidak sadari, model bisnisnya tersebut ternyata mempengaruhi sendi-sendi kehidupan manusia di dunia, yang akhirnya dikaji banyak pihak dari berbagai disiplin. Pelaku usaha berlomba-lomba meniru atau mengadaptasi model bisnis McD ke dalam usaha mereka masing-masing.

Prinsip Rasionalisasi

George Ritzer, seorang ahli bidang teori sosial, menulis sebuah buku berjudul “McDonaldization of Society: An Investigation into the Changing Character of Contemporary Social Life” pada tahun 1995. Isinya membahas kesuksesan McD dan pengaruhnya terhadap perubahan karakter dan kehidupan sosial masa kini. Buku ini hingga sekarang menjadi rujukan banyak pihak yang ingin mendiskusikan pengaruh upaya rasionalisasi terhadap hidup manusia.

Wabah McD sesungguhnya berakar dari ide rasionalitas, yang bisa diartikan sebagai penggunaan pikiran untuk menentukan untung-rugi segala sesuatu. Dalam usaha ekonomi, tak pelak orang harus berpikir rasional agar memperoleh keuntungan. Dan upaya rasionalisasi salah satunya adalah melalui birokrasi, yakni dengan membentuk hirarki dan tanggung jawab kerja terstruktur dalam sebuah organisasi. Masing-masing kerja didefinisikan agar tujuan organisasi tercapai, seperti yang diungkap oleh Max Weber, seorang sosiolog Jerman,

Dan itulah yang ditawarkan McDonald’s. Pertama adalah efisiensi atau metode optimal untuk memindahkan orang dari satu titik ke titik lain. McD menerjemahkannya sebagai perubahan secepatnya dari lapar ke kenyang. Maka, orang tak perlu repot berpikir apa yang harus dimakan, atau di mana harus makan. Cukup ke McD, pesan,dan,.. kenyang.

McD menerapkan juga prinsip kalkulabilitas, alias aspek kepastian terukur tentang kuantitas produk yang diperoleh. Semua orang tahu, berapa kocek yang harus dirogoh kalau ingin makan dua potong burger, termasuk besar rotinya. Atau, jika ingin makan yang lebih besar, orang pasti memesan BigMac, bukan yang medium.

Unsur lainnya adalah prediktabilitas. Dalam hal ini, semua orang tahu persis, bahwa produk dan jasa yang mereka beli akan sama di mana pun mereka cari di dunia. Rasa French fries alias kentang goreng di Kalimalang tak ada bedanya dengan yang di California. Demikian juga dengan sistem kerja mereka sudah dapat diprediksi, berapa lama waktu untuk masak, umpamanya.

Sedangkan unsur terakhir adalah kontrol ketat lewat substitusi tenaga manusia kepada teknologi. Jalur produksi yang sudah ditetapkan atau menu yang sudah diatur sehingga orang hanya bisa memesan sesuai menu yang ditetapkan, merupakan contoh dari betapa terkendalinya kegiatan usaha tersebut. Termasuk tentang perilaku dan kerja pegawainya juga distandarisasi.

Semuanya dilakukan dengan tujuan rasional yang ujungnya menghasilkan keuntungan. Dan karena sukses, berbondong-bondonglah orang meniru prinsip di atas. McD menjadi wabah, yang kemudian oleh Ritzer disebut sebagai “McDonaldisasi”. Artinya kira-kira adalah suatu proses masuk dan mendominasinya prinsip-prinsip restoran siap saji ini ke berbagai sektor lain dalam kehidupan masyarakat Amerika, juga dunia.

Untuk urusan perut, Kentucky Fried Chicken, Burger King, Pizza Hut, dan lain-lain boleh dibilang mengikuti jejak McD. Di luar itu, kini berkembang usaha dengan prinsip sama, seperti McDentist (Urusan Dokter Gigi), McDoctor (medis), dan segala Mc lainnya. Media massa pun terimbas. Di Amerika, ada surat kabar USA Today, yang isinya ringkas, sehingga membantu bagi yang sibuk karena mereka cukup membaca berita yang ringkas. Atau, kita semua menggunakan mesin ATM (anjungan tunai mandiri) bukan? Itu tak lain menggunakan empat prinsip tadi. Anda tahu persis apa yang akan anda dapatkan, atau yang bisa diurus oleh ATM.

Rasional versus Irasional

Pertanyaannya, benarkah semua prinsip itu membawa kita ke arah yang lebih baik? Dalam beberapa hal, harus diakui ya. Tapi dalam banyak hal lain, yang terjadi adalah ironi. Manusia jadi kehilangan rasa kemanusiaannya. Hal ini tak mengherankan, karena manusia sesungguhnya hidup bukan hanya dengan rasionalitas, tapi juga nilai-nilai. Dan nilai-nilai tersebut, termasuk di dalamnya keyakinan/iman, bisa jadi yang utama diperjuangkan ketimbang sekadar urusan untung-rugi.

Dalam kasus McDonaldisasi alias “wabah” McDonald’s, semua prinsip demi rasionalisasi tadi pada kenyataannya justru muncul ketidakefisienan. Hal yang diharapkan rasional justru menjadi tidak rasional. Ritzer menyebutnya sebagai ”Irrationality of Rationality" (Irasionalitas dari Rasionalitas).

Kecepatan untuk mengubah lapar menjadi kenyang yang didengungkan, pada kenyataannya malah membuat antrian konsumen yang panjang. Ingin makan segera, malah disuruh menunggu, menyebalkan bukan? Juga antrian di ATM, yang membuat orang stres. Jika satu orang menghabiskan waktu 2 menit, berarti anda butuh waktu 20 menit di antrian kesebelas. Padahal, anda hanya ingin mengecek, apakah kiriman uang dari kantor sudah masuk atau belum. Belum lagi ketika ternyata anda salah pencet, dan kiriman uang masuk ke rekening orang lain. Urusannya jadi panjang: bikin laporan kejadian, hubungi customer service, menanti proses pengecekan, dan berharap uang salah kirim tadi dapat kembali. Jika tidak, anda akan makin frustrasi.

Yang pernah belanja di pusat grosir besar, tentu tahu betapa banyaknya lorong-lorong yang disediakan untuk tiap jenis barang. Alih-alih menyediakan pilihan terbaik bagi konsumen, yang terjadi adalah orang kesal karena harus berputar-putar setiap kali memberi barang yang berbeda. Bandingkan dengan kios tetangga, misalnya, yang tinggal pesan, maka barang datang. Plus, masih bisa ngobrol soal Mulyana Kusuma dan korupsi KPU. Atau, menang mana Liverpool lawan AC Milan. Lebih manusiawi.

Prinsip ala Kroc juga secara nyata mengakibatkan dehumanisasi. Makanan cepat saji pada akhirnya membuat orang tak lagi memikirkan kandungan gizi yang tepat. Belum lagi soal teknologi, dengan membuat bahan produksi secara khusus, misalnya budidaya tanaman secara intensif, tapi mengorbankan lingkungan bahkan kesehatan manusia, seperti yang kini banyak dicemaskan orang.

Dehumanisasi lainnyan adalah hubungan antar-manusia yang kering. Coba, ketika kita memesan suatu menu di depan kassa makanan sebuah restoran. Begitu anda selesai membayar, pelayan dengan senyum mengembang mengatakan, “Terima kasih, selamat menikmati”. Sekilas, ini adalah bentuk keramahan. Tapi di balik itu, sadarkah kita kalau sesungguhnya restoran ingin menyatakan kepada Anda, “Terima kasih, mohon pergi selekasnya, pelanggan lain yang mau membayar sudah menunggu..”. Demikian juga hubungan dengan sesama pekerja di sebuah perusahaan, menjadi kaku dan singkat karena disibukkan dengan pekerjaan masing-masing dan kehilangan waktu untuk bersosialisasi.

Faktor negatif lainnya adalah adanya homogenisasi. Konsumen tidak lagi punya hak meminta hal spesifik kecuali yang sudah tertera di menu. Padahal, apa susahnya menambahkan buah ceri di atas es krim yang kita pesan buat putra-putri. Tapi, karena tidak ada dalam manual, maka permintaan sepele itu tidak akan pernah bisa dikabulkan.

Membeli baju juga bukan lagi seperti masa lalu, pesan ke tukang jahit dan diukur sesuai tubuh. Yang ada, di swalayan tersedia ukuran S, M, L, XL, dan seterusnya. Kalau pas di tubuh, tapi lengannya terlalu panjang, anda tidak bisa protes. Yang bisa dilakukan, pakai dan permak di rumah, atau cari satu yang betul-betul pas sampai ketemu !

Hidup di Era Irasional

Malapetaka-kah hidup di era seperti itu? Belum tentu. Ada banyak cara untuk berkelit dan bertekad hidup tidak dengan “ala McDonald’s” seperti fenomena di atas. Dalam bukunya, Ritzer memberikan beberapa tips (lihat boks) untuk menghindari terjerumus dalam akibat-akibat negatif yang terjadi.

Banyak perusahaan juga memodifikasi model usahanya sehingga tidak terperosok menjadi perusahaan efisien tapi bak robot. Ada banyak kafe, misalnya, yang menyediakan lebih banyak ruang baca, tempat bersantai, atau bermain. Restoran menyediakan layanan bagi pelanggan untuk memilih menu yang disukai, di luar yang sudah tercantum. Majalah dan koran hadir memperbanyak ruang cerpen atau sastra, dan menghindari berita-berita kaku.

Intinya, prinsip-prinsip McDonaldisasi memang bisa diambil seperlunya demi kemajuan. Namun pada saat bersamaan, hidup harus dibuat berwarna agar terhindar dari jebakan irasionalitas, dehumanisasi, atau homogenisasi. Hidup terlalu indah untuk disetir dengan prinsip untung-rugi.

Tips Hidup di era McDonaldisasi

1. Agama tentu pegangan utama. Dengan iman, anda tidak akan mengalami kegoyahan hidup sehari-hari, tahu mana yang harus dikerjakan dan mana yang tidak.


2. Bagi yang mampu, usahakan tidak tinggal di apartemen. Cobalah hidup di lingkungan yang bisa bersosialiasi. Kalau terpaksa hidup di lingkungan apartemen, upayakan tidak menjadi kaum asosial.

3. Daripada membeli di swalayan, mal, atau grosir raksasa, cobalah sesering mungkin belanja di pasar tradisional. Atau belilah buah dari pedagang pinggir jalan. Mahal sedikit tak mengapa, tapi anda membantu mereka dan bebas dari kekakuan ala supermarket.

4. Bersantaplah di resto Padang, atau warung pecel lele, ketimbang di resto siap saji atau resto besar lainnya.

5. Coba menulis untuk keluarga dengan pena dan layanan pos, meski e-mail memungkinkan. Upayakan telepon famili langsung, tidak lewat SMS.

6. Hindari membeli barang-barang impor yang mahal dan tak perlu. Cintai produk dalam negeri.

7. Kalau harus menonton televisi, tontonlah stasiun yang kecil atau yang menawarkan program pendidikan, bukan hiburan film.

8. Daripada membawa liburan anak-anak ke pusat permainan (game), bawalah mereka ke Kebun Raya, atau Taman Margasatwa.

9. Cegah rutinitas sehari-hari. Bikinlah sesuatu dengan cara berbeda setiap hari, bila mungkin. Dan jika bisa dikerjakan sendiri, kerjakan, tak usah menggunakan jasa layanan komersial.

(ah)

Sunday, April 24, 2005

Ke Mana Waktu Berlalu?

Hampir sebulan tidak mengisi blog ini. Fuih... Rasanya waktu berlalu begitu cepat. Dan aku disibukkan oleh berbagai kegiatan serta keperluan. Karena urusannya juga dengan soal tulis-menulis, mau tak mau harus dibuat prioritas.

Kebetulan, aku sedang menyusun tesisku. Dan ini harus jadi perhatian utama. Karena itu, selama 4 hari dua pekan lalu, aku ambil cuti tahunan dari kantor. Aku habiskan dengan meneliti satu per satu edisi majalah yang kujadikan obyek, lalu bertandang empat hari berturut-turut ke kantor redaksinya. Untuk pengumpulan data, rasanya sudah sampai angka 60%.

Urusan kedua, apalagi kalo bukan soal kerjaan. Menumpuk, edit sana-sini, sungguh menyita tenaga. Tetapi karena ini kewajiban, ya harus ditekuni. Baru saja aku menyelesaikan 4 dari 14 halaman laporan bulanan dalam bahasa Indonesia. Yang bahasa Inggris, alhamdulillah sudah kelar sepekan lalu. Lanjutin besok saja di kantor. Capek... (capek atau kebelet mau nerusin maen game? Hehehe...)

Urusan berikutnya, sempat mengikuti tes kerja di tempat baru. Sudah dua kali wawancara. Kayaknya sih lancar. Tetapi setelah berpikir, berdiskusi ulang dengan keluarga, seniorku di kantor, dan sebagainya, aku sudah memutuskan untuk..... tidak melanjutkan proses itu. Padahal, harus diakui, posisinya menantang. Tetapi aku harus memprioritaskan tesis, sampai Agustus mendatang. After that, aku baru punya kebebasan penuh untuk melangkah. So, kayaknya besok Senin aku harus menulis surat untuk tempat baru itu, menyatakan keputusanku. Semoga ini keputusan yang benar, Amin...

Urusan berikutnya, ya blog ini... hehehe. Makanya, sekarang saat tepat untuk setidaknya mengisi sesuatu yang baru. Setidaknya, breaking news untuk diri sendiri (kalau misalnya tidak ada yang baca sekali pun). Tertulis lebih baik daripada tidak tertulis, toh?

Lalu, jadwal ngaji, rencana diskusi di Puncak, dll. kayaknya juga perlu disiapkan. Ini bisa dikerjakan sambil jalan saja.

Lantas, urusan terakhir, adalah menindaklanjuti beberapa kegiatan di luar kerjaan, seperti edit buku dan laporan. Aku punya ide nulis cerpen (gara-gara ngobrol dengan tukang bandrek di sebuah malam berhujan, sepulang dari Lebak Bulus). Seru, bukan? Juga, mau nulis untuk ikut sebuah lomba. Kebetulan ada ide bagus, dan bahannya aku punya. Eksekusi? Pekan depan, sepertinya....

So, begitulah. Selamat bekerja buat diriku sendiri. Tabah ya, nak.... (ah)

Thursday, April 07, 2005

Saatnya Melepas Kepedihan

Selasa lalu, tepat 100 hari pasca bencana tsunami. Air mata belum kering benar, memang. Tetapi hidup harus berlanjut. Di Banda Aceh dan kota-kota lainnya di NAD, hari itu semua orang berkumpul, berzikir, bersimpuh di masjid-masjid dan meunasah, merenungi kembali bagaimana lidah gelombang melibas kehidupan dan masa depan mereka dalam sekejap, membawa lari tanpa permisi orang-orang yang mereka cintai. Selasa lalu, mereka menyapa Tuhan dan berharap Ia memberikan kekuatan untuk semua orang untuk dapat tegak dan berkarya lagi.

Duka memang harus dienyahkan, segera. Namun tetap saja rasa sesak itu masih tinggal. Demikian juga dengan keluarga kami di Medan. Mula-mula, kenangan itu menguak lagi ketika Kak Inur dan Bang Jamil, akhirnya memutuskan untuk menerima semua dengan ikhlas. Bukan berarti sebelumnya mereka tidak ikhlas, bukan. Sejak si bungsu Agi hilang, usaha dan doa tak putus dilakukan seluruh anggota keluarga. Di setiap shalat, aku selalu memanjatkan permohonan, jikalau Allah menakdirkan ia selamat, di manapun ia berada, mudah-mudahan Allah mempertemukan anak ini dengan ayah-ibu dan kakaknya. Sebaliknya, jika Allah berkehendak lain, dan menakdirkan untuk memanggil si bungsu ke haribaan-Nya, maka mudah-mudahan Allah memberi petunjuk, kekuatan, ketabahan, dan kesabaran pada kami, keluarga yang ditinggalkan.

Pekan lalu, datanglah kabar dari adik Bang Jamil di Lhok Nga. Ia bercerita, malam hari sebelumnya ia bermimpi bertemu Agi. Si bungsu tampak sehat, gembira, dan bercahaya. Ketika sang Bibi menanyakan, ke mana saja Agi selama ini dan diajak untuk kembali, keponakanku itu dalam mimpi menjawab, "Agi sudah di surga, Cik (panggilannya buat sang Bibi)." Agi tidak mau kembali, Agi sudah senang di sini." Wahai, betapa gembiranya ia. Ketika bangun, mata sang Bibi sudah basah bersimbah air mata. Demikian juga Kak Inur, Abang, Mama', Teteh dan seluruh keluarga yang kemudian mendengar cerita itu. Adakah ini pertanda dari-Nya? Wallahu 'alam...

Entah kenapa, sesaat sebelum gempa mengguncang Nias dan Medan (malam Senin), sang kakak, Nurul Amalina, 7, juga tiba-tiba teringat akan si adik. Ia jatuh sakit, menangis, dan bertanya, mengapa adik lama sekali ditemukan. Ibunya tak kuasa menjawab, mereka cuma bisa bertangis-tangisan, seraya mengajak Alin Kecil untuk membuka al Quran, dan mengaji bersama. Dan ketika kabar mimpi sang bibi sampai padanya, Alin kembali bertanya, kenapa adik sudah bisa ada di surga. "Padahal, adik kan bandel kalau disuruh sholat," kata sang kakak dengan lugu.

Alin memang kakak yang rajin sholat. Tahukah kalian, selama lima hari ia hilang ketika tsunami melanda, ia tidak kehilangan solat sekali pun. Di tengah pengungsian, di antara ribuan orang yang tak ia kenal, di antara kebingungan karena orang tua dan adiknnya tidak jelas kabar berita, Alin tetap solat, meski tanpa mukena, tanpa wudhu. Ketika ditanya kenapa ia tetap solat, Alin menjawab, "Kata Mama', solat tidak boleh tinggal, nanti berdosa..." Aku yang mendengar cerita itu jadi gundah, antara ingin senyum dan menangis.

Ia juga tampaknya harus mendapat perhatian khusus, karena kini sering marah-marah tidak karuan, setiap orang sekarang menjadi pelampiasannya. "Ada sesuatu yang mengganjal hatinya dan sukar dikeluarkan," kata Ibunya. Syukurlah, al Quran menjadi obat mujarab, ia selalu patuh dan tenang setiap kali usai mengaji. Sekarang, ia dibelikan sepeda, dan kegembiraannya mulai muncul. Bersama teman-teman barunya, Alin punya hobi baru, berkeliling komplek dengan sepedanya. Akan tetapi, suatu saat, aku merasa perlu untuk menyarankan perlunya memakai jasa psikiater demi menjaga kestabilan jiwanya.

Dan keluargaku akhirnya memutuskan untuk mengadakan pengajian, memanggil anak yatim, dan berkirim doa pada si kecil Agi. Kami menutup satu buku kecil padat, berisi cerita dan sejarah hebat tentang seorang bocah yang cerdas, pendiam, tetapi amat sayang pada ibu, kakak, nenek, dan ayah cut-nya. Seorang bocah yang ketika ditanya cita-citanya, ia menjawab ingin menjadi tentara (mengapa banyak anak Aceh punya cita-cita seperti ini? Ibunya, ketika mendengar cita-cita si anak, dengan arif mengamini lalu menambah komentar, "Asal jadi tentara yang baik ya, Nak...")

Kami menutup buku tentangnya, sekali-kali bukan untuk melupakannya. Bagaimanapun, ia tetap akan tinggal di lubuk hati kami yang paling dalam. Ini saat untuk melepas kesedihan, mengikhlaskannya untuk kembali ke pangkuan Rabbul "Izzati. Aku amat yakin, ia kini sedang bergembira melayang-layang di taman surga, mendoakan tak henti orang tuanya, sedikit dari orang tua terhebat yang pernah aku kenal.

Allahummagh fir lahu, warhamhu, wa'afihi, wa'fu 'anhu... Selamat jalan, Nak.... (ah)

Thursday, March 31, 2005

Dance With the Ghost

Sebelumnya, tak pernah terpikirkan oleh saya untuk bisa mengunjungi Derawan. Letaknya yang jauh di Kalimantan Timur tidak gampang dijangkau angkutan umum. Cara paling cepat tidak lain menggunakan angkutan udara dari Balikpapan menuju Tanjung Redeb, ibukota Kabupaten Berau, yang makan waktu satu jam perjalanan. Lewat darat? Boleh-boleh saja, tetapi butuh waktu 10 kali lipat!

Secara geografis, Kepulauan Derawan berada di semenanjung utara perairan laut Kabupaten Berau. Di kawasan ini, terdapat 31 pulau kecil, tersebar pada tiga kecamatan pesisir yakni Kecamatan Pulau Derawan, Kecamatan Maratua, dan Kecamatan Biduk-biduk. Yang cukup sering dikunjungi di antara puluhan pulau itu adalah Pulau Panjang, Pulau Semama, Pulau Sangalaki, Pulau Kakaban, Pulau Maratua, dan Pulau Derawan sendiri. Ada pula beberapa gosong karang seperti Muaras, Pinaka, Buliulin, Masimbung, dan Tababinga.

Turun dari pesawat ATR-42 milik Trigana Air di Tanjung Redeb, hawa laut sudah terasa. Kota ini tidak terlalu ramai, dan terkesan amat sederhana. Namun tidak susah untuk mencari makanan. Menjelang sore hari, puluhan warung mulai buka, menjajakan berbagai jenis hidangan yang biasa dijumpai di Jakarta, mulai pecel lele, soto lamongan, hingga ayam bakar. Penjualnya juga banyak dari Jawa.

Dari Tanjung Redeb, perjalanan justru baru dimulai. Untuk mencapai Pulau Derawan, orang masih harus menumpang perahu atau kapal. Paling cepat tentu jika memakai boat dengan dua mesin tempel, menyusuri muara Sungai Berau langsung menuju Laut Sulawesi. Total waktu yang diperlukan untuk mencapai Pulau Derawan dengan boat ini adalah 3 jam.

Kami beruntung karena bisa menumpang boat milik The Nature Conservancy, sebuah lembaga swadaya internasional. Di sepanjang perjalanan, cuaca cukup cerah. Musim angin Barat baru saja lewat, sehingga ombak tidak begitu besar. Jika jeli mengamati, sejak bergerak dari sungai di tengah kota tampak benar perubahan karakteristik ekosistem daratan menuju pesisir dan laut. Air sungai yang coklat perlahan-lahan berubah hijau dan akhirnya biru pekat.

Derawan sang Perawan

Tak ada kata yang bisa menggambarkan keindahan Derawan kecuali satu: menakjubkan. Pulau ini tampak tenang dan hening. Semburat merah jingga petang hari membuat pemandangan menjadi sangat eksotis. Dedaunan nyiur melambai-lambai diterpa angin. Perahu-perahu nelayan mengangguk-angguk digoyang riak air laut yang berangsur pasang. Dan, yang bikin semua ternganga, penyu-penyu hijau (Chelonia mydas) dengan santainya melintas di pantai sambil berenang acuh tak acuh. Kalau beruntung, pelancong juga bisa melihat penyu sisik (Erethmochelys fimbriata). Sementara air yang jernih membuat dasar perairan masih jelas terlihat, berikut ikan karang warna-warni yang berenang-renang lincah.

Kepulauan Derawan dikenal dunia sebagai habitat dan tempat bertelur penyu hijau. Penyu ini mencari makan di padang lamun (sea grass) di perairan dangkal Derawan. Yang memprihatinkan, sudah bertahun-tahun telur penyu sebenarnya dilindungi ini terus diambil, sehingga jumlahnya terus menyusut. Dari delapan pulau tempat penyu hijau biasa bertelur, kini jumlahnya tinggal lima pulau.

Nama Derawan sendiri belum banyak didengar orang sebagai tujuan ekowisata, mengingat letaknya yang jauh tersebut. Akan tetapi, wisatawan sudah mencapai daerah ini sejak 12 tahun silam. Biasanya, wisatawan datang dari manca negara, dan sebagian dari mereka adalah peneliti bidang kelautan. Mereka biasanya memilih berenang, snorkeling, dan menyelam (diving). Di malam hari, kegiatan menyelam banyak diminati, karena konon pemandangan bawah laut di kala malam lebih menawarkan sensasi tersendiri.

Saya sendiri sebenarnya berniat ikut menyelam, meski ini kali pertama mencoba penyelaman malam (night diving). Berenam dengan rekan-rekan lain, kami mengambil lokasi penyelaman tak jauh dari pantai. Penyelaman malam membutuhkan lebih banyak konsentrasi, plus perlengkapan tambahan seperti senter. Sayang, saya hanya sempat menyelam hingga kedalaman tiga meteran, sebelum kemudian terkena squeeze akibat perbedaan tekanan udara di dalam dan luar telinga. Sakit sekali rasanya. Meskipun sudah berusaha melakukan penyetaraan (equalizing), rasa sakit tetap mendera. Harus diakui, sudah lama saya tidak menyelam, sehingga kesiapan fisik dan mental tidak prima. Saya batalkan penyelaman dan memilih menunggu rekan-rekan lainnya di atas perahu.

Dari cerita mereka, pemandangan malam hari di bawah laut Derawan memang amat indah. Selain beragam koral dan ikan warna-warni, penyu hijau juga banyak dijumpai tengah beristirahat. “Ada yang sebesar VW Kodok,” kata seorang rekan. Luar biasa. Saya jadi menyesal tidak bisa ambil bagian. Mudah-mudahan lain kali, batin saya menghibur diri. Pulang dari menyelam, kami berkumpul bersama teman-teman lain di penginapan, makan malam sembari berbincang tentang kondisi sumberdaya pesisir dan laut di daerah ini. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 dinihari, sebelum akhirnya satu-satu undur diri ke peraduan.

Demo Paus

Esok paginya, kami bertolak lagi menuju Pulau Maratua. Butuh waktu sekitar satu jam untuk mencapai pulau ini dari Derawan. Pelancong suka mampir di Maratua sebelum ke pulau lain seperti Sangalaki. Di Maratua, ada danau air asin yang unik dan hutan bakau yang rimbun. Beberapa warga juga membuat perahu, yang menjadi tontonan tersendiri.

Di berbagai lokasi di Kepulauan Derawan dapat dijumpai ekosistem terumbu karang yang amat indah. Tempat yang biasa menjadi menjadi tujuan penyelaman atau snorkeling biasanya di Pulau Kakaban dan Sangalaki. Terumbu karang Derawan terdiri atas karang tepi, karang penghalang, dan karang atol (berbentuk cincin). Atol di kepulauan ini telah terbentuk menjadi pulau, bahkan ada yang menjadi danau air asin, seperti yang ditemukan di Kakaban dan Maratua. Malah, Kakaban membuat jatuh hati para peneliti dari berbagai penjuru dunia karena adanya danau laut purba di tengah-tengah daratannya. Danau ini konon terbentuk sekitar 190 ribu tahun silam, dengan luas 459 hektar. Kedalamannya ditaksir hingga 11 meter.

Dari Maratua, kami menuju Kakaban yang tak berpenghuni. Pulau ini baru saja ditetapkan sebagai Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) oleh pemerintah. Di perjalanan inilah kami bertemu pemandangan luar biasa, yang rasanya tak semua orang beruntung mengalaminya. Di sekitar perairan Kakaban, ratusan ikan besar berenang-renang bergerombol. Menurut salah satu aktivis konservasi yang ikut bersama kami, itu adalah rombongan melon-headed whale (paus kepala melon). Ukurannya mirip dengan lumba-lumba. Mereka berlompatan ke sana ke kemari. Sebagian memilih berenang tenang sambil mencari makanan di sekeliling perairan. Kawasan perairan ini memang menjadi lintasan berbagai jenis Cetacean (ikan paus) dari berbagai tempat. Tak heran, kami menghabiskan waktu setengah jam hanya untuk menyaksikan paus-paus ini beraksi.

Mendekati Kakaban, boat terpaksa lempar sauh agak jauh di tengah, mengingat air masih surut. Untuk menuju danau yang amat aneh di tengah pulau ini, orang harus mendaki bukit yang dengan bantuan tangga-tangga kayu. Banyak di antara tangga kondisinya sudah keropos. Akan tetapi tenaga yang dikeluarkan untuk mendaki itu terbayar begitu melihat danau di sela-sela rimbunan pepohonan. Berada di tepi danau ini serasa berada di suatu tempat di masa silam. Perairannya tenang, sunyi, menimbulkan rasa aneh tersendiri.

Saya mencoba snorkeling di tepian danau air asin ini. Dasar perairannya dipenuhi alga Halimeda, sponges jenis Porifera dan ikan gobi. Dan yang paling terkenal, tidak lain ubur-ubur endemik jenis Cassiopea, yang dengan mudah ditemukan melayang-layang di kolom air, dan beberapa jenis ubur-ubur lainnya.

Keluar dari Kakaban, sebagian rombongan memilih menyelam di titik yang biasa disebut Barracuda Point. Mengacu namanya, di sini penyelam bisa melihat aksi gerombolan ratusan ikan barakuda melakukan gerakan berputar hingga membentuk pusaran vertikal. Tak jarang terlihat pula ikan Napoleon (Napoleon Wrasse), pari, hiu bintik putih (white tip shark), dan lain-lain. Snorkeling di wilayah sini pun cukup memuaskan. Terumbu karang terlihat jelas dari permukaan. Malah, kami bisa melihat rekan-rekan yang tengah menyelam di kedalaman sekitar 5 meter.

Suatu penelitian menunjukkan bahwasanya jumlah terumbu karang yang ditemukan di Derawan mencapai 460 hingga 470 spesies. Adapun ikan karang di kawasan Kepulauan Derawan, termasuk Sangalaki dan Kakaban mencapai 872 spesies. Keanekaragaman hayati Derawan dipercaya cuma kalah oleh kawasan Raja Ampat di Papua. Karena itu, tak heran menyelam menjadi kegiatan yang paling diandalkan. Tiap titik penyelaman kabarnya memberikan tantangan yang berlainan. Saat ini sudah ada tiga perusahaan swasata yang membuka resor penyelaman di Derawan dan sekitarnya.

Bertemu sang Hantu

Puas ber-snorkeling dan menyelam di Kakaban, perjalanan dilanjutkan ke Pulau Sangalaki, yang merupakan Taman Wisata Laut. Di pulau ini terdapat penangkaran penyu untuk konservasi. Perairan di sekitar Sangalaki terkenal subur karena efek mekanisme fisika upwelling (penaikan massa air), sehingga zat hara naik yang mengundang plankton berkumpul. Ikan-ikan pun berkumpul di sana untuk memangsa plankton, seperti Manta atau pari hantu (Manta birostris), Tuna (Thunnus sp.) dan Spannish Mackerel (Scomberomorus spp.). Karena itu, meskipun tidak bisa mendarat di pulau karena air masih surut --khawatir boat kandas—kami justru mengalami sesuatu yang paling heboh hari itu.

Ada belasan, bahkan puluhan ikan besar berenang-renang di permukaan memangsa plankton. Dan saya, seumur hidup, baru kali itu menyaksikan Pari Manta alias Pari Hantu dalam jumlah besar berputar-putar sambil membuka mulutnya, menyaring plankton masuk. Tanpa dikomando, hampir semua yang ada dalam perahu berebutan melompat dari kapal, mencebur ke kedalaman laut untuk melihat dari dekat.

Si Hantu ini ukurannya memang amat besar. Tampangnya menyeramkan, sehingga nama hantu memang cocok buatnya. Ia berenang laksana burung, mengepakkan sirip kanan-kirinya, yang jika dihitung lebarnya bisa mencapai 3 sampai 4 meter lebih. Hebatnya, hewan-hewan ini sama sekali tak terusik dengan kehadiran penyelam atau penggemar snorkeling yang mengikutinya. Malah, penyelam tidak khawatir bila pari ini berenang menuju mereka karena justru si Hantu-lah yang kemudian menyingkir. Sungguh si Hantu nan baik hati!

Di tengah-tengah seliweran belasan Hantu itu, saya memberanikan diri mengikuti salah satu dari mereka. Masya Allah, pari itu berada di atas saya, sehingga tampak detil mulutnya yang membuka dan kepakan siripnya yang begitu lebar. Kalau mungkin, saat itu saya ingin berteriak melampiaskan kesenangan karena bertemu momen seperti itu. Sungguh hewan laut yang luar biasa. Allahu Akbar! Kami menghabiskan waktu sekitar 15 menit bercanda bersama ikan-ikan itu. Seorang wisatawan asing tampak begitu takjub dan matanya berbinar-binar. Begitu naik ke perahu, ia mengacungkan jempolnya dan berujar: ”Incredible...!”

Tak terasa, hari sudah menjelang sore. Kami pun bergegas kembali ke Pulau Derawan, mengisi bahan bakar dan kembali ke Tanjung Redeb. Sepanjang jalan, saya masih terbayang-bayang betapa kayanya negeri ini. Apabila semua itu tak dijaga, dan hanya memperhatikan pembangunan belaka, tanpa memperhatikan kelestarian, maka sang Hantu, barakuda, terumbu karang, hingga makhluk lembut seperti ubur-ubur di kawasan ini bakal tinggal cerita. Semoga tangan-tangan jahil tidak diberi kesempatan merusaknya... (ah)

Friday, March 18, 2005

Empat "Cacat Kecil"

Percaya atau tidak, bagi saya bangsa ini tidak akan pernah maju. Setidaknya sampai 10 tahun mendatang. Bukan mau mendoakan hal buruk. Tetapi semua itu semata karena kesimpulan dari perilaku yang dilakukan masyarakat sendiri.

Demokrasi? Berjuang sejajar dengan bangsa lain? Mengejar pertumbuhan ekonomi? Ganyang Malaysia? Lawan antek kapitalis? Berantas korupsi?

S**T! Tidak akan pernah. Maaf, itu faktanya.

Persoalannya, bangsa kita lebih suka bercita-cita dan bermimpi menanggulangi hal-hal besar, daripada mengurusi cacat-cacat “kecil”. Padahal, dari yang kecillah kita dapat memahami bagaimana yang besar. Ada banyak cacat-cacat kecil, yang sadar tidak sadar kita selalu lakukan, dan menjadi “habit” alias kebiasaan, yang sejatinya itu adalah perbuatan buruk, teramat buruk. Dan saya selalu benci dengan orang-orang yang masuk golongan ini. Sampai kapan pun.

Silakan Buang Sampah Sembarangan

Betapa saya sering melihat banyak pria dan wanita, usia 20-40an, pakaian licin tersetrika, parlente pokoknya. Mereka kerap tampak duduk manis di kereta, bis, atau menunggu di halte dan stasiun. Tampilannya bergengsi, dan semua adalah cermin mereka sebagai kelas menengah yang membikin hati iri. Tapi lihatlah adegan berikutnya. Entah itu usai makan roti, membuka kulit buah jeruk atau menyobek bungkus majalah, mereka senantiasa melakukan hal “luar biasa”: sampahnya selalu dibuang begitu saja. Seolah sudah sewajarnya, tidak ada rasa aneh, canggung, apalagi bersalah.

Buang sampah sembarangan memang bukan cuma milik orang bawah/kecil yang kumuh dan lusuh. Kaum mentereng seperti di atas pun sama parahnya. Sampah, bagi mereka ini, ya sekadar sampah, yang harus dibuang segera. Celakanya: dibuang ke sembarang tempat. Kalau sudah begini, bagi saya, wajah cantik kinyis-kinyis, atau pria berdasi mahal, langsung jatuh derajatnya, sama seperti sampah, ketika mereka melakukan kebiasaan buruk itu.

The most egoistic person in the world

Kalau ada yang menanyakan kepada saya, siapakah orang paling egois sedunia, saya tidak menjawab George Bush, Tony Blair, atau John Howard. Jawaban paling tepat untuk itu (menurut saya) adalah para perokok, khususnya perokok di tempat umum.

Merokok juga merupakan aktivitas yang saya tidak akan pernah bisa mengerti seumur hidup. Menghisap nikotin dan tar, berikut asap, ditelan lewat mulut, melalui tenggorokan, yang entah berapa juta bakteri nempel di sana, lalu masuk sebagian ke paru-parunya, dan separo lagi mengalir ke saluran hidung (entah kuman dan lendir apa saja yang ada di situ), untuk kemudian dihembuskan ke luar. Dan orang-orang di sekitarnya, yang tidak ada urusan dengannya, tidak pernah menyakitinya, tidak berbuat dosa kepadanya, tiba-tiba dipaksa menyedot asap yang sudah mampir dari mulut, tenggorokan, dan rongga hidungnya yang menjijikkan. Bayangkanlah...

Lebih gila lagi, ketika ditegur, si perokok malah marah, dengan dalih hak asasi. Lho, mana kata hak asasi itu ketika ia menghembuskan asap seenaknya ke khalayak?

Membangun Kerajaan di Jalanan

Tiga hari silam saya seperti biasa naik sepeda motor pagi hari ke stasiun. Di persimpangan Jalan Baru Bogor, saya harus berbelok ke kanan, menuju Cimanggu. Dari arah sana menuju Jalan Baru, kenderaan berderet-deret; macet. Sementara sebaliknya jalur ke sana lebih lengang.

Tahu-tahu ada mobil L-300 mengangkut anak sekolah dengan santainya mengambil jalur itu dari arah Cimanggu. Dapat ditebak, semua kendaraan menuju sana jadi terhambat, dan akhirnya berhadap-hadapan dengan mobil itu (rupanya itu mobil yang mengantar anak sekolahan). Tentu saja tindakan supir gelo ini tidak dapat diterima. Eh, dia malah tanpa rasa bersalah menyuruh semua pengendara jalan pelan-pelan (harusnya dia yang mundur dan minta maaf karena mengambil jalur salah). Waktu saya tegur dia dengan kalimat ia seharusnya tertib, saya dihadiahi sebuah kata yang “indah” berikut wajah penuh amarah (hm, belajar dari mana dia ya, televisi? Saya sering lihat tampang marah seperti itu di hampir setiap sinetron): “MONYET kamu!”

Saudara, yang menegur anda karena kebenaran saja disebut monyet, lalu bagaimana dia mendefinisikan dirinya sendiri? Babi, ulat keket, atau apa?

Jalanan seperti menjadi kerajaan tersendiri bagi setiap orang. Jalanan membuat orang yang salah tiba-tiba menjadi penguasa, dan orang yang taat peraturan tiba-tiba menjadi pesakitan. Mungkin anda pernah mengalami, ketika lampu merah menyala dan semua pengendara antri, tiba-tiba dari arah belakang makian supir menghampiri kita diiringi suara klakson bertubi-tubi, hanya karena meminta kita menerobos jalan, sebab persimpangan lengang. Persoalannya adalah: apakah karena jalanan lengang, maka lampu rambu jalan otomatis tidak perlu diindahkan? Atau, apa guna marka jalan? Gunanya, sudah pasti, untuk dilanggar.

Time is Mine, Not Yours

Kalau semisal anda diundang pengajian pukul 19.30 malam, pukul berapa anda tiba di tempat pengajian? Jawab paling jujur mungkin pukul 20.00. Kenapa? Karena kalau kita datang pukul 19.30, kita bakal disebut sebagai orang paling pandir di dunia, mengingat jam segitu berarti anda lah orang pertama yang hadir.

Lihatlah undangan-undangan rapat dan seminar. Kebanyakan waktu yang tertulis tidak bisa ditepati. Malah sengaja dibuat dengan memasukkan unsur keterlambatan sekian menit sebagai skenario.

Susah bagi banyak dari kita untuk datang tepat waktu, dan meninggalkan yang datang terlambat. Ada seseorang yang pernah terlambat datang di suatu taklim dengan tanpa alasan yang kuat. Ketika ia ditolak masuk ke majelis oleh sang guru, yang muncul adalah reaksi ngambek, tersinggung, dipermalukan, dan marah, lalu tidak pernah lagi menghadiri taklim tersebut. Siapa salah siapa yang benar?

Jangan Pernah Berharap

Lagi-lagi, bagi saya, selama orang-orang Indonesia ini tidak bisa mengubah empat perilaku di atas, maka selamanya jangan pernah berharap kita bisa keluar dari krisis, dan menggapai kemakmuran. Nonsens.

Jangan pernah mengeluh soal penanganan korupsi yang lemah, DPR yang seperti TK, BBM yang naik, harkat bangsa yang terpuruk, atau kemajuan yang malah menjauh. Jangan, jangan pernah mengeluh soal itu. Tanya dulu diri kita masing-masing, apakah empat cacat kecil itu masih kita lakukan atau tidak. Jika masih melakukannya, janganlah lagi mengajukan pertanyaan. Percuma. Anda sama saja dengan mempermalukan diri sendiri. (ah)

Monday, March 14, 2005

Rayuan Pulau Sebesi

Image hosted by Photobucket.comNIAT mengunjungi "pulau bundar" ini sebenarnya sudah terbetik sejak lama. Kesempatan datang pertama kali sewaktu undangan peresmian daerah perlindungan laut (DPL) berbasis masyarakat di Pulau Sebesi datang, beberapa bulan silam. Sayang, waktu itu saya harus bertugas ke Balikpapan, sehingga peluang ini terlewat.

Lama tertunda, kali ini kesempatan kedua datang. Bersama Dr. Budi Wiryawan dan beberapa rekan, saya bertolak ke pulau tersebut pagi-pagi sekali, sehari setelah selesai acara di Bandar Lampung.

Durian dan Telat

Malam sebelum berangkat, rombongan kami dari Bogor menyempatkan diri menyantap durian yang dijajakan di sekitar kota Bandarlampung. Memang, musimnya sudah lewat, tapi tetap saja jajaran buah lezat tersebut di tepian jalan cukup mengundang selera. Lebih-lebih, beberapa rekan sudah melakukan persiapan yang aduhai. Mereka membawa wadah plastik sendiri untuk menempatkan daging buah durian sehingga bisa dibawa pulang, tanpa harus mengangkut buah utuhnya --yang harumnya cukup bikin mabok. Harganya pun terbilang sudah tak murah lagi. Paling rendah 9000 perak, itu pun harus pintar-pintar memilih. Saya dan beberapa teman lebih memilih mencari durian usai kembali dari pulau. Konon, di sepanjang jalan menuju Pelabuhan Canti, Kalianda, beberapa penduduk menjual durian yang langsung jatuh dari pohon.

Sebagaimana direncanakan, esok paginya kami -siap check out dari Hotel Sheraton Bandarlampung. Ada dua mobil yang kami pakai untuk menuju Pelabuhan Canti, sebagai titik tolak menuju Sebesi. Sedangkan rombongan lain memilih melakukan perjalanan ke Desa Pematang Pasir, Lampung Selatan. Awalnya, niatan kuat beberapa di antara kami adalah menjajal lokasi DPL di Pulau Sebesi untuk diselami (diving). Terumbu karang di sana dilaporkan patut dinikmati. Kebetulan, mayoritas dari kami sudah pernah menyelam. Perlengkapan pun, menurut Irfan, Extension Officer di Pulau Sebesi, bisa disediakan.

Tapi mengingat waktu, dan konon arus yang lumayan serius, membuat niat menyelam surut. Yang terbayang kemudian adalah, kami meninjau Sebesi lalu meneruskan perjalanan ke Kepulauan Krakatau, yang memang berdekatan dengan Sebesi. Alternatif ini tampaknya yang paling diminati.

Sayang, kami bergerak agak lambat. Baru setelah lewat pukul 8 pagi kami meninggalkan kota menuju Pelabuhan Canti di Kalianda. Perjalanan ke sana membutuhkan waktu sekitar satu jam. Untung jalanannya lumayan mulus, baik jalan utama yang biasa dilintasi oleh kendaraan yang menuju Jawa atau sebaliknya menuju Sumatera, maupun jalan dari pertigaan Kalianda menuju Canti.

Petai dan Gagal Diving

Image hosted by Photobucket.comSetelah menempuh perjalanan selama lebih kurang satu jam, kami memasuki Pelabuhan Canti. Pelabuhan ini tak besar-besar amat, tapi merupakan tempat yang penting bagi penduduk tersebar dan bermukim di pulau-pulau kecil di Teluk Lampung. Canti menjadi pelabuhan tempat mereka meneruskan perjalanan ke kota untuk berbelanja atau menjual hasil bumi. Bertepatan dengan tibanya kami, sebuah kapal dari Pulau Sebuku baru saja merapat membawa bermacam hasil bumi. Yang paling mencolok adalah puluhan ikat petai yang, ehm, benar-benar mengundang minat. Pasus, rekan saya di kantor, tanpa pikir panjang langsung menawar buah pembangkit selera itu. Murah, seikat petai yang terdiri atas 100 lajur petai dilego seharga Rp 15 ribu.

Samar-samar di kejauhan, tampak bayangan pulau yang menjadi tujuan kami. Kebetulan perahu yang dicarter sudah siap. Namun kabar kurang menggembirakan kami terima dari awak kapal. Mereka menyebut perjalanan menuju Krakatau agak sulit karena arus dan ombak lumayan besar. Laju kapal akan terhambat, apalagi hari sudah menjelang siang. Sedikit saja berpindah ke petang, ombak bisa jadi persoalan serius.

Akhirnya kami sepakat untuk menuju Sebesi saja, dan sisanya, melihat kemungkinan yang tersedia di sana. Kapal mulai melaju menuju Sebesi. Beberapa dari kami lebih memilih duduk di atap kapal karena pemandangan lebih luas dan angin lebih banyak. Cuma, suara mesin yang keluar dari cerobong cukup memekakkan telinga sehingga untuk berbicara kami harus saling teriak.

Kelapa dan Pepes Cumi

Secara geografis, Pulau Sebesi terletak di Teluk Lampung dan merupakan wilayah administratif Desa Tejang Pulau Sebesi, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan. Pulau ini berjarak tepatnya 16 kilometer sebelah Tenggara Pulau Sumatera dengan luas 2620 hektare dan panjang pantai 19,55 kilometer. Desa Tejang terdiri atas 4 dusun yakni Regahan Lada, Segenom, Tejang, dan Gubuk Seng. Terdapat pulau-pulau yang berdekatan dengan Sebesi, baik yang memiliki penghuni maupun tidak seperti Pulau Sebuku, Pulau Umang, dan Pulau Sawo.

Apa yang sebenarnya menarik dari Pulau Sebesi? Sesungguhnya, pulau ini amat potensial karena kaya akan berbagai sumberdaya alam, baik di daratan maupun wilayah pesisir dan lautan, antara lain perkebunan cengkeh, kelapa, hutan, terumbu karang, mangrove, padang lamun (sea grass) dan sebagainya. Letaknya pun cukup dekat dengan kawasan Kepulauan Krakatau, yang sudah terkenal di penjuru dunia sebagai kawasan wisata eksotis.

Banyak wisatawan lokal dan mancanegara tertarik mengunjungi kawasan kepulauan tersebut yang terdiri dari Pulau Sertung, Pulau Anak Krakakatau, Pulau Krakakatau Kecil, dan Pulau Krakatau. Karena dekat dengan Krakatau, Sebesi sering dipakai sebagai tempat persinggahan semalam bagi pelancong yang hendak mengunjungi Krakatau dan sekitarnya. Karena itu pula di Sebesi terdapat sebuah penginapan yang diusahakan oleh perseorangan.

Dari Pelabuhan Canti ini, Pulau Sebesi dan Krakatau sama-sama dapat dicapai dengan waktu tempuh masing-masing sekitar 1 dan 2 jam. Selain itu, pulau ini juga bisa dicapai melalui Cilegon (Banten) dengan menggunakan perahu motor yang biasa mengangkut kelapa atau kopra. Terdapat tiga fasilitas dermaga yang menghubungkan dusun desa dengan daerah luar Sebesi. Ketiga dermaga tersebut terletak masing-masing di desa Inpres, Segenom, dan Regahan Lada. Di dusun Inpres terdapat kantor syahbandar, namun belum aktif sehingga digunakan sebagai pusat informasi pesisir oleh masyarakat setempat.

Sebesi punya bentuk unik; bundar. Dari kejauhan, wujudnya cukup gagah, dengan bukit yang menjulang tinggi, dan tubuh pulau yang tertutupi dengan pohon kelapa menghijau. Buah itu memang banyak terdapat di Sebesi sehingga sering diolah menjadi kopra dan diangkut ke Banten atau Sumatera. Sebagian daratan pulau ini tersusun dari endapan gunung api muda dan merupakan daratan perbukitan. Bukit yang tertinggi di Pulau Sebesi mencapai 884 meter dari permukaan laut berbentuk kerucut yang memiliki tiga puncak.

Selain terdapat pemandangan terumbu karang yang indah, juga terdapat potensi lainnya seperti perikanan, kehutanan, pertanian/perkebunan yang dapat dikembangkan untuk menunjang peningkatan kesejahteraan penduduk setempat. Sebagai contoh, Sebesi terkenal dengan hasil cumi-cuminya. Biasanya, musim tangkap cumi-cumi mulai berlangsung dari bulan November sampai Februari. Ada juga ikan Selar yang banyak terdapat sekitar Juli - Oktober.

Kami tiba pukul 11.00 langsung beristirahat. Rupanya, warga desa, terutama kelompok masyarakat yang selama ini dibina sudah menyiapkan segalanya, termasuk makan siang yang menunya cukup dahsyat. "Pepes cumi-cumi sini cukup dikenal kelezatannya," kata Dr. Budi, berpromosi. Dan ucapannya tidak salah. Menu ikan bakar, pepes cumi, dan lalapan sudah cukup membuat kami semua menambah porsi dengan sendirinya. Belum lagi sajian kelapa muda yang langsung dipetik dari pohon.

Problem dan Belajar

Penduduk Sebesi berjumlah 471 KK atau 2.015 jiwa. Jumlah ini belum termasuk penduduk tidak tetap yang sebagian besar berprofesi sebagai buruh kelapa. Penduduk Pulau Sebesi pada awal sejarahnya merupakan pendatang yang bekerja sebagai buruh di kebun kelapa milik tuan tanah. Mereka berdatangan sejak tahun 1913. Namun lama kelamaan para buruh tersebut mendapat bagian menanami tanah kosong, yang akhirnya membentuk kelompok yang kemudian menjadi sebuah desa yang dipusatkan di desa Inpres.

Selama ini, masyarakat di wilayah pesisir dan lautan Pulau Sebesi mengalami banyak problem pelik, baik di bidang pendidikan, sosial ekonomi, dan lingkungan. Tingkat pendidikan, misalnya, masih amat rendah. Fasilitas yang ada di Pulau Sebesi baru terbatas Sekolah Dasar Negeri yang terletak di Dusun Inpres, Madrasah Ibtidaiyah di Dusun Segenom, dan program Kejar Paket B (setingkat SMP) di Di Dusun Tejang Inpres.

Taraf ekonomi masyarakat juga masih rendah. Dengan tingkat pendidikan yang terbatas, masyarakat tidak mengerti bagaimana cara mengelola sumberdaya alam dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan. Apalagi penduduk luar pulau ikut andil melakukan eksploitasi sumberdaya pesisir dan laut di wilayah Sebesi. Ini ditunjukkan antara lain dengan dengan rusaknya kondisi terumbu karang di sekeliling pulau karena berbagai praktik penangkapan ikan dengan bom dan racun. Walhasil, tangkapan ikan yang nelayan setempat peroleh terus berkurang dari tahun ke tahun.

Mata pencaharian penduduk di sini sebagian besar adalah petani dan nelayan. Nelayan Sebesi terkonsentrasi di Dusun Regahan Lada, Tejang, dan Segenom. Sebagian besar nelayan tersebut merupakann pendatang dari Jawa Barat dan sebagian lagi Bugis. Mereka menangkap ikan dengan cara yang masih tradisional, karena pengetahuan tentang alat tangkap yang lebih maju masih terbatas. Hidup mereka boleh dikatakan amat bergantung pada kemurahan dan kekayaan sumberdayan alam di sekitarnya. Akibatnya, jika sumberdaya itu rusak sedikit saja, maka akan berpengaruh besar terhadap kehidupan mereka.

Masalah yang dihadapi penduduk Pulau Sebesi tampaknya merupakan problem umum yang terjadi pada hampir masyarakat di pulau-pulau kecil di wilayah Indonesia. Cukup ironis juga, mengingat Pulau Sebesi dapat dikatakan tak jauh letaknya dari ibukota propinsi dan negara.

Syukur, dalam upaya mengembalikan kondisi terumbu karang yang telah rusak di Pulau Sebesi, umpamanya, warga bergiat belajar membuat daerah perlindungan laut (DPL) berbasis masyarakat. Merekalah yang mengelola dan mengawasi DPL ini. Selain itu, penduduk mendapat bekal pengetahuan untuk pengelolaan sumberdaya pesisir mereka lewat berbagai penyuluhan, pelatihan, dan kegiatan lainnya.

Daerah Perlindungan Laut atau marine sanctuary sendiri adalah kawasan laut yang ditetapkan dan diatur sebagai daerah “larang ambil”. Secara permanen, kawasan ini tertutup untuk berbagai aktivitas pemanfaatan yang bersifat ekstraktif/pengambilan. Cara ini diyakini efektif dalam mengurangi kerusakan ekosistem pesisir yaitu dengan melindungi habitat penting di wilayah pesisir, khususnya ekosistem terumbu karang. Selain itu DPL juga penting bagi masyarakat setempat sebagai salah satu cara meningkatkan produksi perikanan (terutama ikan yang berasosiasi dengan terumbu karang), memperoleh pendapatan tambahan melalui kegiatan penyelaman wisata bahari, dan pemberdayaan masyarakat dalam perencanaan dan pengelolaan sumberdaya mereka.

Masyarakat desa menegakkan sebuah aturan yang mesti dipatuhi bersama. Aturan itu disusun bersama oleh masyarakat dengan tujuan melindungi terumbu karang yang ada dalam wilayah DPL. Mereka pun membentuk kelompok yang berfungsi mengelola DPL. Untuk berjaga-jaga, mereka berusaha melakukan penangkapan terhadap nelayan perusak yang melakukan aktifitas merusak seperti membom , bius, trawl, dan lain-lain.

Snorkeling dan Kram

Image hosted by Photobucket.comUsai bersantap, kami bertolak menuju Dusun Regahan Lada. Kendaraannya adalah ojek, yang harus berliku-liku menyusuri jalan setapak dan semak belukar. Hanya ada satu lajur jalan yang lumayan bagus, meski tetap berdebu, yang melintasi kantor kepala desa.

Pantai di Regahan Lada lumayan indah, berpasir putih. Tahu-tahu saja, muncul lagi tawaran untuk melakuka snorkeling (berenang di permukaan dengan menggunakan masker/snorkel) di DPL yang selama ini sudah dibentuk dan dikelola oleh masyarakat. Kebetulan, terdapat dua perahu klotok milik badan pengelola yang bisa dimanfaatkan. Repotnya, karena tak mengira harus berbasah-basah, saya tidak membawa salinan baju sama sekali. Tapi tawaran ini rasanya sulit ditolak.

Akhirnya, kami berlima, termasuk Dr. Budi Wiryawan, naik ke perahu dan menuju DPL di kawasan Sianas. Tak jauh, sekitar 5 menit dari pantai. Dari penelitian yang dilakukan sebelumnya, diketahu bahwa sepanjang pantai Sebesi ditumbuhi terumbu karang yang indah dan menarik hati. Terumbu karang ini dapat ditemukan sampai kedalaman 10 meter dari permukaan laut.

Luas areal terumbu karang itu total mencapai 58,8 hektare, yang terdiri dari tutupan karang hidup seluas 31,6 hektare, dan sisanya 27,3 hektare berupa karang mati (pecahan karang). Lokasi DPL sendiri ada di 4 kawasan dengan luas kurang lebih 20 hektare, masing-masing di Sianas, Pulau Sawo, Pulau Umang, dan Kayu Duri.

Perairannya cukup jernih. Malah pandangan tanpa bantuan apapun bisa menembus ke bawah. Karangnya cukup rapat dan warna-warni, bagus sekali. Hanya saja, jumlah ikan kelihatan tak terlalu berlimpah. Begitupun, pemandangan ini cukup spektakuler.

Saya turun dari perahu dan langsung melakukan satu putaran sambil melihat-lihat situasi. Karang-karangnya cukup bagus dan dalam kondisi baik. Di sana-sini, ikan Kakaktua (Scarus sp) tampak bersliweran. Ikan jenis ini memang merupakan langganan penghuni terumbu karang. Ikan giru (clown fish, Amphiprion sp) juga banyak terlihat. Indra, rekan saya lainnya yang ikut ber-snorkeling, menunjuk ke satu titik dan berkata, "Platax!". Rupanya ia menemukan Platax sp atau ikan bendera, yang bentuknya sekilas mirip bawal, dengan tubuh pipih dan badan berwarna kuning.

Sekali-sekali, saya melakukan skin diving, yakni masuk ke dalam air dengan tegak lurus dan menyelam mendekati terumbu, untuk menikmati dari dekat pemandangan yang luar biasa ini. Meskipun sensasinya kalah dibandingkan menyelam, snorkeling di kawasan DPL ini cukup menghibur dan memuaskan saya.

Melihat kekayaan alam yang sedemikian bagus, didukung dengan hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan, sesungguhnya potensi sumberdaya alam yang terdapat di pulau ini dapat dikembangkan/dikelola sebagai obyek wisata yang cukup menarik. Khususnya untuk kawasan wilayah pesisir atau pulau kecil di Propinsi Lampung, ia menjadi sarana untuk dapat menenunjang PAD (Pendapatan Asli Daerah). Imbas positifnya akan mengena kepada peningkatan taraf hidup rakyat, yang dapat mengambil keuntungan dari kegiatan pariwisata (ekoturisme) yang dijalankan. Entah kapan ini dapat diwujudkan.

Seperti biasa, saya kena kram dan harus bersusah payah menaiki perahu yang bodinya cukup sempit. Arus di perairan tersebut sore itu lumayan membuat kami harus rajin mengayuh fin agar tidak terdorong ke arah yang tak dikehendaki. Setelah sekitar 1 jam menjelajahi kawasan tersebut, kami memutuskan pulang.

Pulang dan Masuk Angin

Resiko pertama yang harus saya hadapi setelah snorkeling adalah, menahan dingin karena tak punya pakaian pengganti. Setelah mandi, baju kaos yang saya gunakan untuk snorkeling harus saya kenakan kembali, demikian juga dengan celana panjang yang basah kuyup. Kami kembali menuju Canti pukul 4 sore. Saya baru dapat bertukar pakaian kering dalam perjalanan menuju Bakauheni. Akibatnya, dapat ditebak, masuk angin! Kepala pusing dan badan meriang. Untung, setelah mengisi perut, plus jamu anti masuk angin, kondisi saya lumayan pulih.

Bagaimanapun, saya beruntung bisa melihat Pulau Sebesi dengan segenap potensi, kondisi, dan problem yang dihadapinya. Agaknya, ini merupakan kondisi dan problem umum yang dihadapi masyarakat pulau-pulau kecil di Nusantara. Sebuah pekerjaan rumah buat kita semua, yang konon punya nenek moyang para pelaut.... (ah)

Friday, March 04, 2005

Republik (Kereta) Indonesia...

Hmm... Kereta Api. Moda angkutan darat ini termasuk yang paling banyak menemani hidup saya sejak mulai mencari nafkah di Jakarta. Murah, meriah, meski penuh perjuangan dan doa.

Kalo situ mau mandi sauna di spa tapi ndak punya uang, saya sarankan naik KRL ekonomi Bogor-Jakarta aja, ditanggung mirip kok. Malah ada bonusnya segala.
Coba, mana ada ruang sauna di spa yang tiba-tiba bisa lewat bapak separuh baya sambil bawa selebaran sumbangan mesjid: "Assalaaaamu'alaikum...dst...dst." Atau, mana ada di spa lewat tukang tahu yang suka bikin gerr penumpang satu gerbong karena teriak: "Tahu, tahu sumedang, beli 10 bonus cabe...." Kadang-kadang ada juga tukang jual buah yang bualannya bikin bingung: "Apel Bandung, apel Bandung, murah meriah buat ibu-ibu di dapur..." Karena penasaran, ada yang nanya apel bandung itu yang seperti apa. Si tukang dagang dengan enaknya buka keranjangnya. Apa itu? Tomat, saudara-saudara... Norak nggak sih? Atau, kadang nongol juga anak kecil seraya pegang kerecekan dari tutup botol sambil bernyanyi merem-melek niruin Ariel Peter Pan (eh, ini yang mbuntingin anak orang itu ya? Tobatlah, bung): "Ada apaaa denganmuuu..??"

Ya, ada apa denganmu PT KAI? Sejak dahulu jaman kereta kotak-kotak, hingga masuk KRL biru Holec (orang-orang bilangnya si Komo, ntah kenapa, aku tak tahu...), Pakuan ex Jepang, sampai made in dewe keluaran Madiun, rasanya layanan tidak berubah. Tak manusiawi. Penuh sesak, manusia identik dengan sarden kaleng. Bedanya, "sarden-sarden" ini harus bayar duit tiket.

KRL juga zona rawan pelecehan seksual bagi para perempuan. Juga zona enak untuk selingkuh, lho....! Saya pernah tau, satu ketika, pagi-pagi, ketika KRL ekonomi mau "take off" (cie, bahasanya) dari setatsiun Mbogor, eh ada seorang ibu naik dan langsung ke satu gerbong. Di sana, di hadapan seorang wanita karir (bukan carrier) yang molegh bin geboy, itu ibu langsung damprat, "Dasar perempuan %$%@(*$ (sensorrr....). Selidik punya selidik, itu perempuan kantoran rupanya selalu pulang-pergi ke Jakarta bareng suami si ibu, plus beberapa karyawan lain. Istilahnya, mereka bikin geng, lah. Ada yang rela beliin tiket, nge-tek tempat duduk, dan sebangsanya. Dan setan nggak milih tempat, biar KRL ekonomi juga, kalau ada yang bisa digoda, why not (kecuali setan di KitKat 'kali ya, bisa ada gencatan senjata sama malaikat). Dan karena sering bareng-bareng, cin-ka (singkatan dari Cinta Ka Er El, sejenis Cinlok alias cinta lokasi) akhirnya terbentuk. Dan keluarga jadi berantakan....

Dan jangan salah, KRL juga sarang copet, terutama KRL ekonomi. Modusnya primitif punya, nempel sana-nempel sini, terutama pas brenti di stasiun, terus embat tas orang. Yang agak pinter pake cara nyilet. Yang rada sadis ya seperti kejadian copet/todong yang menewaskan lulusan anyar UI itu, baru-baru ini.

Di KRL pula ada praktik mafia terselubung, mulai dari yang kelas kambing sampe yang eksekutif. ada petugas karcis yang selalu bilang tiket dengan nomor duduk udah abis. Tetapi begitu ada nona asoy geboy yang modal rok di atas dengkul lemah gemulai sambil main mata nanya tiket, eh, dari balik laci adaaaa aja tiket bernomor kursi. Asem deh... Atau, gerombolan penumpang tertentu suka nongkrong di gerbong sekian, tidak beli tiket. Begitu kondektur datang, nah ada jubir khususnya. Cukup kumpulin duit separo harga (kadang cuma seperempat harga), tinggal di-mangsupin ke sakunya pak kondektur. Awww, rejeki di tengah krismon, siapa yang nolak? Termasuk juga di KRL Eksekutif, praktik sama berlangsung. Pak kondektur yang kayak gini, biasanya baru berlagak alim kalau ada sidak dari Polsuska (polisi khusus KA). Demikian juga masinis, udah tau di stasiun tertentu ndak boleh berhenti, eh, cukup bayar 2000 perak, itu KA yang sudah punya jadwal tegas, bisa aja brenti semaunya, nurunin penumpang... Ck...ck..ck..

Kadang-kadang, ada kondektur yang tegas. Kagak peduli orang parlente atau kumuh, asal nggak punya tiket, dia giring itu orang ke stasiun terdekat, diturunkan dengan tidak hormat. Nah, saya angkat jempol buat kondektur kayak gini...

Sering kali gangguan tidak datang dari dalam, tapi dari luar. Entah sudah berapa kereta yang kacanya bolong-bolong dilempar batu oleh orang yang tak bertanggung jawab. Atau anak-anak sekolah yang nyelonong masuk stasiun dan naik ke atap KRL, dengan risiko "wassalam" disengat listrik.

Pokoknya, semuanya yang nyeleneh2x ada di kereta. Persis seperti kehidupan sehari-hari di Indonesia. Kehidupan di kereta api dan stasiun itu adalah miniatur kehidupan negara ini. Persis sama: ada bad guys, ada good guys, ada intrik, ada tragedi. Dan saya, cuma satu dari sekian ribu orang yang statusnya di dalam kereta dan di dalam negara persis sama: jadi penumpang, tergencet, dan tidak ada yang peduli.... Masih syukur, sekarang saya naik KRL Eksekutif. Tetapi tiap kali melihat KRL Ekonomi melintas, saya merasa seakan ikut terjepit dan terengah-engah.

Saya yakin, persoalan ini bisa dipecahkan. Salah satunya, kalo Pak SBY kebetulan nge-warnet, atau surfing di istana negara malam ini, lalu iseng masuk blognya sayah di http://duamata.blogspot.com ini, dan baca artikel ini. Kayaknya, siapa tau, besok pagi keluar maklumat presiden: BBM batal dinaikkan, pemerintah akan membuat lebih banyak KRL eksekutif buat rakyat kecil, dan pemberantasan korupsi dimulai dari tubuh PT KAI.... Huebaaat.... Dan (mungkin lagi), lusanya SBY muncul di depan pintu rumah saya di Cimanggu, malam-malam, menyamar sebagai tukang ojek, lalu berbisik: "Eh, bagaimana kalau malam ini kita survey ke tempat pembuangan sampah?" Sudah pasti saya bakal tersipu malu dan mengangguk sambil berujar, "Ah, Bapak bisa aja..." (ah)

**menyongsong kenaikan harga BBM, perkenankan saya berucap: kaciaaaaan deh, kita....**