Wednesday, August 02, 2006

Kisah Buku (I): Dari Masyarakat Industri ke Masyarakat Informasi

Istilah buku dapat dilihat dari sudut pandang fisik dan fungsional (Encyclopedia Americana Vol. 4/1998: halaman 220). Secara fisik, setiap objek dapat disebut buku jika ia merupakan kumpulan lembaran yang dijilid di satu sisinya dan diberi sampul muka-belakang --sebagai “cover” untuk membuatnya lebih tahan lama. Dalam definisi ini, textbook, novel, Quran dan Bible termasuk dalam kategori buku, sebagaimana juga buku catatan dan buku cek. Jika digunakan secara historis, definisi ini tidak mencakup beberapa cetakan penting yang sebenarnya masuk dalam istilah buku.

Sedangkan secara fungsional, buku kurang lebih didefinisikan sebagai suatu kumpulan bentuk komunikasi grafis yang isinya dibagi-bagi ke dalam beberapa unit dengan tujuan agar tampil sistematik dan menjaga isinya tetap terpelihara dalam waktu lama. Dalam elemen pemeliharaan ini, aspek ‘rekaman’ dari pengalaman, observasi, dan ekspresi kreatif merupakan hal yang membedakan buku dari ragam komunikasi lainnya.

Medium cetak seperti buku sesungguhnya telah mulai ada sejak dahulu kala, meskipun kertas belum lagi ditemukan. Straubhaar dan LaRose (2004), misalnya, menyebutkan tentang karya puisi Illiad dari Yunani pada tahun 800 Sebelum Masehi (S.M.) atau Tale of Genji dari Jepang (abad ke-11 Masehi, ditulis oleh Murasaki Shikibu).

Awal pengembangan tulisan, kertas, dan barang cetakan terjadi di Timur Tengah dan Cina. Orang Cina, misalnya, sudah dapat membuat kertas dari rags (potongan-potongan kain) pada tahun 105 S.M., hingga akhirnya memakai cetakan blok kayu dan lempung yang dapat digerakkan. Orang Korea malah menemukan cetakan logam yang dapat digerakkan (movable metal type) pada tahun 1234.
Kertas menjadi populer di dunia Barat lewat perantara pedagang-pedagang Arab. Proses pencetakan (buku) sudah mulai dikenal, terutama untuk buku-buku agama (kitab suci) dan yang terkait dengan ilmu pengetahuan. Peruntukannya pun terbatas bagi kalangan agamawan, ilmuwan, dan bangsawan. Kemajuan besar-besaran terjadi setelah ditemukannya mesin cetak oleh Johann Gensfleich, atau yang lebih dikenal Johannes Guttenberg di Mainz, Jerman, pada tahun 1445, yang memproduksi Bible. Di Amerika, tercatat ada Bay Psalm Book yang dicetak tahun 1640.

Masyarakat Industri

Menurut Straubhaar dan LaRose (2004), Masyarakat Industri mengacu pada terjadinya Revolusi Industri, yang umumnya dikaitkan dengan penemuan mesin uap. Namun sesungguhnya, pemicu penting menuju era industri tersebut dimulai dengan penemuan di bidang komunikasi, yakni publikasi Bible yang diproduksi dengan mesin cetak pengembangan dari Johannes Guttenberg (1455). Mesin cetak ini merupakan yang pertama kalinya di Eropa yang menggunakan cetak logam yang dapat digerakkan (movable metal type). Penemuan ini secara dramatis meningkatkan kecepatan produksi buku dan mengurangi waktu yang digunakan seperti pada produksi buku sebelumnya (hand-copied book). Jenis hand-copied book ini lama-kelamaan digantikan dengan buku cetakan dengan harga lebih murah dan bersifat massal. Target pembacanya juga makin meluas seiring dengan makin beragamnya jenis buku yang ditulis dan ditawarkan.

Masyarakat Industri dicirikan oleh beberapa hal:

  • Meluasnya produksi massa barang-barang industri dengan menggunakan mesin, yang terpusat di kota-kota besar
  • Migrasi massal dari pedesaan ke kota-kota (urbanisasi)
  • Peralihan dari pekerjaan sektor pertanian kepada pekerjaan di sektor pabrik.
  • Jumlah penduduk kota yang melek huruf seiring kebutuhan bidang pekerjaan yang lebih komplek
  • Munculnya surat kabar untuk kaum urban sebagai sarana untuk mengiklankan produk-produk baru industri
  • Penemuan teknologi baru seperti film, radio, dan televisi sebagai hiburan kaum urban.

Perkembangan Buku dalam Masyarakat Industri

Hingga abad ke-19, buku masih belum dianggap sebagai media untuk massa, karena dibeli dan dibaca terbatas oleh orang-orang yang tingkat pendidikannya lebih tinggi (Potter, 2001). Revolusi industri dan perkembangannya yang terjadi mulai abad ke-18 merupakan penyebab perubahan besar bagi masyarakat dalam hal memperoleh dan mengakses media cetak yang sebelumnya terbatas tersebut. Urbanisasi meningkat pesat. Sebagai contoh di Inggris, pada awal abad ke-19, sekitar 30% warga Inggris hidup di kota, dan 21% di kota yang berpenduduk lebih dari 10.000 jiwa. Pada akhir abad ke-19, 80% dari populasi telah terurbanisasi, dan ada 74 kota dengan populasi lebih dari 50.000 jiwa. Terjadi penurunan 40% jumlah kaum pekerja pria di desa antara tahun 1861-1901 karena beralih ke pekerjaan pabrik di kota-kota. (lihat artikel Caroline Davis: Publishing in an Industrial Age. Oxford Brookes University (http://apm.brookes.ac.uk/ publishing/contexts/industry/content.htm).

Secara perlahan, kelas pekerja mulai berkesempatan mengakses medium cetak sejalan dengan perbaikan pendidikan sekolah dan pendidikan orang dewasa. Juga dengan mulainya berdiri perpustakaan, penyediaan material cetak untuk keagamaan, dan buku-buku murah. Pada masa itu, teknologi industri percetakan makin maju sehingga proses komposisi, percetakan, dan produksi kertas telah berlangsung secara mekanis. Ini berarti memungkinkan dilakukannya produksi secara massal sehingga harga produksi dapat menjadi lebih rendah.

Apalagi dengan ditemukannya proses cetak litografi[2] yang diperkenalkan Alois Snefelder, yang makin mempercepat proses percetakan. Juga ditemukannya mesin cetak kecepatan tinggi (highspeed machine) oleh Friedrich König, kemudian mesin penyusun (composing machine).

Dengan turunnya ongkos percetakan, maka harga jual dapat ditekan menjadi lebih murah. Perluasan khalayak pembaca ini terjadi di Inggris dan Amerika serta Eropa pada umumnya. Di Inggris, pada tahun 1800-1850, ada 95 judul buku yang dipublikasikan tiap tahun. Pada awal abad 20, jumlah ini melonjak berlipat ganda hingga mencapai 600 judul buku per tahun. Upah pekerja yang meningkat membuat penerbit berinisiatif mengeluarkan paperback book (buku murah). Minat baca yang makin tinggi juga menjadi salah satu faktor. Masih di Inggris, perluasan ini dipengaruhi pula oleh meningkatnya pembangunan sarana transportasi seperti kereta api. Pada tahun 1800, dibangun rel kereta api sepanjang 200 mil, meningkat menjadi 6000 mil 30 tahun berikutnya, dan terus berlanjut selama dua dekade berikutnya. Untuk memenuhi kebutuhan membaca ini, didirikan Routledge’s Railway Library, sebagai perpustakaan pertama di atas kereta, yang volume buku koleksinya mencapai 1000 buah.

Pada akhir abad ke-19, didirikan beberapa asosiasi terkait dengan penerbitan buku. Pertama adalah asosiasi perdagangan buku yang berfungsi sebagai kelompok lobby ekonomi dan politik. Selain itu, dibentuk Masyarakat Penulis (The Society of Authors) oleh Walter Besant tahun 1883, yang secara khusus mengajak sesama penulis lebih memedulikan soal hak cipta. Mereka menerbitkan jurnal The Author pada tahun 1890. Dalam kurun waktu sama, berdiri pula Asosiasi Penjual Buku Inggris Raya (The Associated Booksellers) tahun 1895. Mereka berupaya mendekati penerbit dalam rangka memperoleh harga buku dan diskon semenarik mungkin. Jumlah anggota asosiasi yang awalnya 178 terus bertambah hingga mencapai 1150 sekitar empat puluh tahun kemudian (tahun 1934).

Perkembangan industri buku ini sempat terhambat dengan terjadinya Perang Dunia I (1914-1918) akibat kekurangan pasokan kertas dan hilangnya banyak pekerja karena harus berperang. Harga buku meroket kembali. Untuk mengatasinya. Penerbit banyak menggunakan tenaga kaum perempuan. Di perusahaan Ward and Locke, misalnya, jumlah pekerja perempuan meningkat dari hanya satu menjadi 60 orang saat perang[3]

Sementara itu di Amerika Serikat (AS), perluasan buku ke kelas pekerja baru terjadi pada pertengahan abad 20. Alasannya sama, yakni dengan meningkatnya kebutuhan untuk menikmati masa santai yang diisi dengan kegiatan membaca (Rivers, et al., 2003).

Sampai pada akhir abad 19, buku-buku yang beredar di AS diimpor dari Inggris. Ketika ketersediaan kertas makin murah karena percetakan mulai menjamur, buku-buku pun tidak lagi sebatas yang dijilid mewah penuh hiasan serta dijual terbatas untuk kalangan tertentu, melainkan lebih meluas. Buku-buku impor, terutama novel-novel dari Inggris, disalin dan dicetak kembali, yang kadang dijual sebagai suplemen koran.

Secara berangsur, terbentuklah pasar untuk buku, meskipun terbatas untuk buku-buku murah seharga 10 sen. Meskipun hanya salinan dari buku asli, ini sudah cukup untuk memuaskan keinginan membaca banyak orang. Saat itu hak cipta belum terlalu dipentingkan sehingga penerbit AS lebih suka mencetak ulang buku Inggris tanpa membayar royalti, ketimbang mereka mencetak buku baru dengan membayar penulis Amerika. Karena cara ini murah, maka buku-buku Inggris pun beredar cukup banyak, lebih banyak dari buku aslinya di Inggris sendiri.

Penyebaran buku murah secara massal baru mulai terjadi di tahun 1939, ketika tiga penerbit membentuk pocket book yang khusus menyediakan buku-buku ukuran saku dengan format sederhana dan murah (hanya 25 sen). Peminat buku ini ternyata banyak sehingga para penerbit lainnya pun turut membuat buku ukuran saku yang memang mudah dijual di kedai koran, supermarket, stasiun kereta api dan pusat-pusat keramaian lainnya. Dalam 25 tahun pertama keberadaannya, pocket book menerbitkan 3000 judul yang terjual sebanyak satu miliar buku. Ini revolusi pertama.

Revolusi kedua dalam perbukuan AS terjadi pada tahun 1950-an dengan munculnya buku dengan sampul kertas biasa yang murah namun bermutu (paperbacks). Buku ini sedikit lebih mahal daripada edisi sederhana terdahulu, namun memikat minat kalangan terpelajar sehingga ikut mendorong popularitas buku di AS.


Masyarakat Informasi

Masyarakat Informasi, menurut Straubhaar dan LaRose (2004) dicirikan dengan:

  • Pertukaran informasi menjadi kegiatan yang dominan
  • Pekerjaan di bidang informasi menjadi lebih dominan dibandingkan masa pra-pertanian, pertanian, dan industri
  • Komputer hadir sebagai medium dominan yang berguna untuk menciptakan, menyimpan, dan memproses informasi.

Di Amerika Serikat, perubahan dari dominasi pekerjaan di bidang industri ke bidang informasi terjadi tahun 1960. Secara relatif, baru sedikit negara di dunia yang telah mengalami hal serupa, yakni transisi dari masyarakat industri menjadi masyarakat informasi.

Buku dalam Masyarakat Informasi

Pasca Perang Dunia II, cetak offset diperkenalkan dan menghasilkan cetakan lebih cepat, lebih baik kualitasnya, dan ekonomis. Ketika teknologi digital[4] diperkenalkan dan komputer makin memasyarakat, kegiatan type-setting dan lay out yang sebelumnya dilakukan manual atau dengan mesin, kini dapat dengan cepat dilakukan lewat komputer.

Termasuk membuat plat film siap cetak langsung dari komputer. Mesin fotokopi ditemukan dan amat berguna menggantikan mesin cetak offset, khususnya untuk keperluan dalam jumlah kecil. Hal sama berlaku dengan dikembangkannya teknologi cetak laser (laser printer), dikombinasikan dengan pengerjaan halaman cetakan dengan program tertentu di komputer, yang kemudian populer disebut dengan desktop publishing.

Teknologi cetak yang lazim dilakukan untuk hampir seluruh buku dan majalah saat ini adalah Computer to File (CTF), yang halaman per halaman data digital dikonversi menjadi lembar film. Kemudian dibuat plat-nya sebagai acuan cetak. Yang paling mutakhir adalah teknik CTP (Computer to Plate), yakni proses pembuatan image (citra/gambar) pada plat tanpa menggunakan proses pembuatan film fotografi. Citra atau gambar langsung dicetak pada plat langsung dari file komputer. Dengan ini, satu proses yaitu pembuatan film dapat dipotong sehingga mempersingkat waktu pencetakan[5].

Di tahun 1990-an, percetakan digital mulai dikenal, berawal dari diperkenalkannya DocuTech oleh perusahaan Xerox[6]. Mesin ini mirip seperti “mesin fotokopi raksasa”. Tak seperti alat cetak lain yang memerlukan plat, tinta, film, dan sebagainya yang konvensional, mesin cetak DocuTech langsung terhubung dengan monitor komputer sebagai pengontrolnya. Data dapat dikirim dari mana saja, lantas diolah dan diproses oleh seorang operator khusus, kemudian langsung dicetak.

Buku tidak lagi sekadar diterbitkan dalam bentuk cetak, melainkan juga dalam bentuk e-book (electronic book), seiring dengan makin populernya internet. E-book merupakan buku yang ditampilkan pada layar perangkat elektronik khusus (Potter, 2001). Namun e-book dapat juga berupa dokumen buku yang ditampilkan di suatu situs web dalam WWW (world wide web). E-book diperkenalkan pertama kali tahun 1998. Saat itu, perangkat khusus untuk membaca e-book ini hanya terjual kurang dari 10.000 buah. Hingga tahun 1999, telah ada 1500 cerita fiksi dan nonfiksi yang dibuat dalam bentuk e-book.

Dengan e-book dan e-publishing, biaya cetak dapat dikurangi, bahkan dalam kasus di atas dapat didistribusikan secara gratis. Buku ini juga tidak memerlukan tempat penyimpanan yang luas. Pengguna dapat menyimpannya di hard disk komputer. Hanya saja, jika nantinya e-book diluncurkan dengan harga tertentu, kekhawatiran muncul mengenai hak cipta, karena file dapat dikopi tanpa izin. Hal ini masih menjadi perdebatan hingga kini.

Ada pula yang disebut Print on Demand (POD), yang dapat membuat buku setebal 300 halaman dan dijilid rapi dalam waktu setengah jam setelah data digital buku termasuk dimasukkan. POD muncul merupakan tren cetak sesuai permintaan, yakni mencetak buku dalam jumlah sedikit. Ini dimungkinkan dengan majunya teknologi printer, yang minimal menghasilkan tulisan dengan resolusi 600 dot per inch (dpi). Penerbit merasa lebih aman dengan cara ini, karena tidak harus mencetak banyak dengan resiko tidak terjual. Sebagai contoh, di Amerika tingkat retur buku mencapai 40%. Cara ini juga lebih bersifat personalisasi, yang memanjakan calon pembeli[7].

Ekonomi Buku dan Majalah

Terbitnya buku sampul sederhana (paperback) pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 menjadikan buku dapat dicetak massal dan dan murah. Di Amerika, muncul buku-buku yang sangat laris seperti In the Cold Blood yang memberi penulisnya, Truman Capote, imbalan sebesar US$ 500.000, atau The Source yang memberi pembayaran US$ 700.000 kepada James Michener. Buku-buku yang masuk ke klub-klub baca dijamin memperoleh imbalan minimal sebesar US$ 75.000. Penulis akan makin kaya jika bukunya difilmkan. Bisnis buku pun berkembang pesat, Reynolds mengatakan, “penerbitan menjadi bisnis yang sangat menggiurkan.” (Rivers et al., 2003).

Buku yang sejak era industri mulai terpopulariasi sekaligus makin mengikuti selera pembacanya, terus bersaing dengan media massa lainnya untuk menjangkau pembeli. Industri buku di masa kini beradaptasi menjadi semakin berorientasi pada niche (ceruk) atau segmentasi khusus, yang tiap niche menawarkan jens buku yang berbeda, untuk konsumen yang berbeda pula (Potter, 2001).

Masih menurut Potter (2001), kini ada sekitar 3000 penerbit buku di AS, memproduksi sekitar 65.000 judul setiap tahun (sekitar 2 juta eksemplar). Tiap tahun, sepertiga judul merupakan jenis publikasi massa, 24% adalah jenis trade book, 20% textbook, 10% club edition. Sisanya adalah buku-buku agama, profesional, dan buku khusus[8]. Segmentasi terbesar ada pada buku tradebook dewasa, termasuk di dalamnya fiksi umum dan nonfiksi, buku advis, dan buku manual praktis (how to). Jenis buku seperti ini kebanyakan ada di toko buku di mal-mal.

Sampai tahun 1960, tiap jenis media (termasuk buku) belum banyak mencoba menggabungkan beberapa jenis media sekaligus. Dewasa ini , cakupan, gaya, dan substansi kepemilikan media sudah berubah. Banyak bisnis komunikasi yang berkembang dan meluas ke bidang-bidang lain sehingga membentuk konglomerasi besar. Esquire Inc., misalnya, adalah penerbitan majalah, namun perusahaan lain yang dikuasainya seperti Wide-Light Corp., Rig-a-Lit Inc., White Night Company dan sebagainya, bergerak di bidang yang sama sekali berbeda, yakni mulai jasa kelistrikan, tata lampu, dan sebagainya.

Terjadi merger (konsolidasi), salah satu alasannya adalah desakan untuk memperluas dukungan keuangan. Sebagai contoh, penerbitan majalah jarang mendatangkan keuntungan luar biasa sehingga pemiliknya akan berusaha mencari sumber pendapatan lain, termasuk menerbitkan buku. Alasan kedua adalah memanfaatkan pasar pendidikan yang terus berkjembang. Banyak penerbit kemudian tertarik mencetak buku-buku pelajaran atau teks, memproduksi alat-alat pengajaran, dan sebagainya untuk TK hingga universitas. Alasan ketiga adalah revolusi teknologi yang mengaburkan perbedaan antara berbagai jenis media.

Kini banyak perusahaan media cetak yang bergandengan dengan perusahaan media elektronik. Time Inc. dengan General Electric, atau RCA dengan Random House dan Harcourt, Brace, Jovanovich. Time membeli saham perusahaan film MGM senilai US$ 17,7 juta tahun 1967 atas dasar sebuah laporan yang berjudul Information Technology: An Overview of the 70s. Time Inc. tertarik bukan saja karena MGM adalah sebuah perusahaan film, melainkan juga karena MGM telah mendiversifikasikan produknya mulai dari program acara televisi, rekaman musik, dan sebagainya. Kecenderungan ini, di lain pihak, meresahkan pengawas dari FCC (Federal Communication Commission), Amerika.

Kehadiran internet juga membuat buku harus menyesuaikan diri. Penjualan buku via internet dilakukan pertama kali oleh Amazon.com (Taryadi, 1999), yang dengan efektif menjajakan dari penerbit kepada konsumen tanpa menyimpannya dalam gudang.

****

[1] Editor Tamu INSANI Monthly Islamic Digest (2002-2005), penikmat amatir beragam jenis buku

[2] Litografi berasal dari kata Yunani: lithos=batu, graphein=menulis. Litografi adalah proses cetak secara langsung dengan menggunakan permukaan yang rata, memanfaatkan prinsip saling tolak antara air dan lemak. Untuk mencetak, maka gambar-gambar dan teks harus dituliskan secara terbalik (dari belakang ke muka). Lihat Scheder (1977) : Perihal Cetak-Mencetak, juga http://www.kertasgrafis.com.

[3] Disebutkan dalam artikel Caroline Davis: Early 20th Century Publishing. Oxford Brookes University (http://apm.brookes.ac.uk/ publishing/contexts/20thcent/content.htm

[4] Straubhaar dan LaRose (2004) mengartikan digital sebagai computer readable (mampu dibaca oleh komputer)

[5] Tentang CTP ini dapat dilihat pada situs Kertas Grafis (http://www.kertasgrafis.com); juga Straubhaar dan LaRose (2004) halaman 75.

[6] History; Getting Ready to Speak Digital Esperanto (http://www.dotprint.com)

[7] Dipaparkan oleh Putut Widjanarko dalam Rubrik Selisik (http://www.mizan.com)

[8] Trade book adalah buku dengan sampul keras atau lunak, kebanyakan jenis nonfiksi, dan ada pula jenis fiksi serius. Professional book: buku referensi untuk pendidikan professional seperti buat dokter, pengacara, ilmuwan, manajer, insiinyur, dan lain-lain. Club edition: klub yang mempublikasikan, menjual, dan mendistribusikan buku edisi mereka sendiri ataupun massal, buku professional, dan buku khusus lainnya (Straubhaar dan LaRose, 2004).

Saturday, July 29, 2006

Kamus Pindah Tempat

Ternyata, setelah diposting, banyak yang merespon positif kamus bahasa Medan ini. Bang Rizal Moeis dari Medan malah menyumbang banyak entri (pencorot, pauk, dsb.). "Masih ada 25 lagi, sudah kucatat, sebentar kukirim," janji Bang Rizal. Fitri juga berkali-kali SMS dan memasukkan entri baru (doorsmeer, kembut, dsb).

Akhirnya, saya putuskan membuat satu lagi blog khusus utk kamus ini. Silakan kunjungi blog Kamus Medan (www.kamus-medan.blogspot.com). Dan terus kirim SMS serta entri baru yang Anda temukan.

Tuesday, June 27, 2006

Ini (Bahasa) Medan, Bung!

Awalnya cuma main-main. Di kantor, saya kebetulan suka berbincang ria dengan Fitri, teman satu tim, yang rupanya ketika masih usia TK-SD sempat menetap di Medan. Sama-sama keluarga AURI (TNI-AU) pula! Bedanya, dia tinggal di perumahan perwira di Jl. Garuda, sementara saya tinggal di Komplek Kopasgat (sekarang Paskhas AU).

Tak heran, kami suka bicara dengan menggunakan istilah Medan, yang tak jarang terdengar asing di telinga orang banyak. Beberapa istilah juga diketahui Fuadi, teman se-tim saya juga, yang urang awak itu. Maka, jadilah kami suka bertukar umpan bicara dalam logat Medan, dengan bahasa Medan.

Fuadi rupanya kreatif. Dia coba browsing di internet, dan ternyata ada beberapa blog yang sudah membuat kumpulan (kecil) istilah Medan ini. Kami makin ngakak, misalnya, ketika membaca web-blog Pak Jonru
. Juga, penuturan dari Rini Aisyah. Cocok kali! Kata orang Medan.

“Kenapa nggak buat aja kumpulan (kamus) istilah Bahasa Medan, Mas?” tantang Fuadi pada saya (ini juga salah, kenapa saya dipanggil Mas? Padahal saya kan orang Medan?). Wah, boleh juga. Sejak, itu, setiap ada istilah baru ditemukan (setelah tertawa-tawa ketika mempraktekkan penggunaannya), kata itu langsung saya entri ke dalam panduan ini.

Berikut yang sudah sempat saya susun. Banyak di antaranya diambil dari dua web-blog tersebut di atas. Terima kasih, Mas, Mbak (eh, Bang, Kak..). Banyak juga lainnya yang baru dan mungkin anda baru pertama kali dengar. Susunannya masih acak, tidak mengikuti tata abjad yang baik sebagaimana kamus. Mungkin ntar, kalo ada yang nawarin bikin kamus betulan (hehehe). Serius lho. Fitri juga katanya serius.. Buktinya, meski saya di luar kota, SMS-nya sering masuk, sekadar memberi tahu ada kata baru yang dia ingat.

Kalau anda-anda, misalnya, masih ada kata-kata baru lain, silakan hubungi saya.

Dalam bahasa Medan yang sehat, terdapat jiwa yang kuat…. Ini Medan, Bung!

===

Keterangan:
e (italic) dibaca taling seperti pada ejaan bebek
e biasa dibaca seperti pada ejaan belajar

A
Aci = boleh… nggak/mana aci (nggak boleh..)
Anak muda = jagoan, aktor pemeran utama
Ambal = sajadah
Awak = aku, saya; bisa juga kamu ("sombong kali awak ini", artinya: "sombong banget lu")

Alip = permainan
Alip cendong/benteng = permainan menjaga tiang, sementara lawan berusaha menyentuh tiang tersebut, sambil menghindari kejaran para penjaganya.;
Alip berondok = petak umpet
Angek = dari bahasa Minang (panas) à iri, cemburu, nggak suka
Apek = panggilan buat lelaki Tionghoa yang sudah tua.
Alamak = celetukan; berasal dari Alah, Mak… (aduh, Mak; waduh/Jawa)

B
Bedangkik = hitung-hitungan, pelit
Bocor alus = agak gila
Bang = 1) panggilan umum buat lelaki yang lebih tua (permisi, Bang..); 2) azan (coba kau bang dulu, udah masuk waktu zuhur ni..)
Belacan = terasi
Bonbon/Bombon = permen
Berselemak = berlepotan (ngomong kau kok berselemak gitu?)
Bereng = melirik tajam (Alamak, diberengnya kita); kata serapan dari Batak?
BK = plat kendaraan bermotor (Plat motor di Medan memang BK. "BK motor kau berapa?")

Balen : Minta.. ( Bagi dong?! bahasanya jadi... Balen lah...?!)
Berondok = bersembunyi; ngumpet
Bolong = lobang
Bedogol = bego (bedogol kali kau!)
Berhanyut = pergi ke hulu sungai, lalu menyusuri aliran sungai dengan berenang atau menggunakan pelampung dari ban dalam bekas. (kami beranyut dari gedong johor sampai ke polonia).
Begadang; kerupuk begadang = sejenis kerupuk yang berwarna coklat, biasanya berbentuk segi empat.
Baling/Baleng = rusak, ada yang tidak beres (ban keretanya kutengok baling, la… Udah kau perbaiki?)
Bendol = benjol
Bengap = Babak belur


C
Cakap = ngomong, berbicara (banyak kali cakapnya)
Celit = pelit
Cak = singkatan dari coba… (Cak kau maenkan lagu itu = coba kau maenkan lagu itu)
Cuak = penakut
Cengkunek = lagak, omong kosong (jangan banyak cengkunek lah..)
Cendek = plesetan dari pendek, dangkal/cetek (Airnya cendek kok, nggak usah takut tenggelam lah..)

Cop = ucapan sebagai pertanda minta rehat/istirahat dulu (Aku cop ya, mau ke WC dulu).
Celat = cadel (nggak bisa bilang r)
Cem; Cam = seperti, macam, kayak, biasa dipadukan dengan kata mana (Cemmana jadinya; bagaimana jadinya); lihat kek; kek mana
Cincong = omong, alasan; Jangan banyak cincong = jangan banyak omong
Cekot = julukan buat orang yang lengannya cacat, tidak bisa diluruskan, seperti –maaf—tokoh Gareng di perwayangan).


D
Dongok/dogol/bedogol = bodoh, pandir
Dekak-dekak = abacus, alat hitung Cina dari jajaran kayu (biasanya 10 baris) yang masing-masing jajar terdiri atas 10 bola sebagai satuan hitung.
Deking = beking

Demon = 1) demonstrasi; demo (pak keplor didemon sama warganya sendiri..); 2) hebat, gaya (pembalap itu demon kali, ah..)

E
Enceng = selesai, habis
Ecek-ecek = pura-pura (Ecek-eceknya kita ini pejabat la ya)
Estra = maksudnya ekstra, preview film di televisi atau bioskop (aku belom sempat nonton di bioskop, tapi estranya udah).

F

G
Gacok = jagoannya (mana gacok kau, kita adu)
Guli = kelereng
Getek = genit
Gaprak = dari jawa; hantam kaki dalam sepakbola atau permainan (kakinya digaprak lawan)
Gedabak = besar (gedabak kali badan abang!)
Gerepes = geripis, gigi yang hancur atau terkikis karena banyak makan makanan manis (Itu lah, banyak makan bonbon, akhirnya giginya gerepes semua)
Gecor = besar mulut, ga bisa menyimpan rahasia
Gerot = akronim dari geger otak; merujuk pada orang yang tingkahnya aneh, gila.
Goni botot = julukan buat penjual atau pembeli barang-barang bekas. Mereka berkeliling kampung, membeli kompor rusak, kertas/koran bekas, dsb.

Gelut = berkelahi
Golek-golek = berbaring-baring santai; tidur ayam

H
Hajab = hancur
Hambus = pergi! (jauh-jauh). Kata ini suka dipakai oleh koran Waspada.
Hubar-habir = berantakan, acak-acakan, idem
Honda = sepeda motor (walaupun mereknya bukan Honda, tetap aja disebut honda, hihihi.....)
Ikan laga = maksudnya ikan cupang/ikan aduan (Beta splendens)

J
Jelutung = kayu albasia (yang lunak dan biasa untuk bahan prakarya)


K
Kuaci = bukan kwaci makanan, tapi permainan berupa cetakan plastik yang berbentuk beragam wujud, ada Bruce Lee, kelinci, gajah, mobil, dsb. dipakai utk mainan, juga sebagai barang taruhan.
Kerepak peak = makian, mengacu pada kondisi ancur-ancuran.
Kelen; kelien = kalian
Kau = engkau, anda (tidak dibaca ka-u -- u dalam utang; atau kaw, tetapi di antara keduanya: kauw -- w nya lemah)
Kilik = mirip lego; mendrible bola (dikiliknya bola itu sampai pemain lawan terkecoh)
Kede/kedai = warung
Kede sampah = warung kelontong kecil (bukan warung jualan sampah, hehehe)
Kedan = teman, sohib (Abang ini kedan kita juga)
Kereta = sepeda motor

Kereta Angin = sepeda
Kali = dari pemendekan kata ‘sekali’; berarti banget, sangat ("hebat kali kau!" Artinya, "lu hebat banget deh!")
Kak = panggilan untuk orang (perempuan) yang lebih tua atau dituakan (sama dengan Mbak di Jawa)Kiri = minggir ("Kiri kau!"…, maksudnya: "minggir lu!")

Keplor = kepala lorong
Kepling = kepala lingkungan
Kongsi : Bagi-bagi, sama rata...
Koyak = robek == celanaku koyak; kukoyak-koyak kertas hasil ujianku
Kek = kayak, biasa dipadukan dengan kata mana (kek mananya kau: bagaimana sih kamu ini);lihat juga cem/cam
Kelir = pinsil warna (kt. benda), mewarnai (kt. kerja)
Kocik = dari bahasa Melayu (?), berarti kecil
Kornel = tendangan pojok/penjuru dalam sepak bola. Plesetan dari “corner” (corner kick)
Kopek = kupas, kelupas (jangan kau kopek lukanya, nanti tambah parah).
Kombur = cakap, banyak omong.
Kondor = kendor, longgar (celanaku kondor, harus dikecilkan)
Kamput = singkatan dari kambing putih, merek minuman keras murahan (si Ucok tenggen gara-gara minum kamput).

L
Lembe = lemah, lemes
Lewong = 1) putus ;(layangan lewong); 2) hilang, raib (Lewong uangku disikat dia…)
Litak = habis, kondisi capek sekali – dari Padang? (Litak kali badanku)
Lorong = gang (kau tinggal di lorong apa)
Ligat = lincah, lihai (ligat kali dia kalo kerja)
Lantak = habis; habisi (dilantaknya semua hidangan itu. Rumah itu dilantak sijago merak
Lengkong = cincau hitam, buat campuran es sirop
Lego = drible bola (Ronaldo jago kali ah nge-lego bola)
Locak = kalah terus menerus (aih mak, locak kawan tu pas main ceki); Batu locak => sejenis permainan dengan batu pipih dengan kelereng atau benda bulat kecil lainnya. Si kalah berusaha melempar kelereng atau bolanya ke dalam lubang sasaran, sementara pemain lainnya berusaha menjauhkan bola itu, atau setidaknya melempar melampaui bola, agar tidak kalah.
Loak = payah (Loak kali kau pun, gitu aja nggak bisa)
Lepoh = bodoh (Lepoh kali, gitu aja nggak bisa)
Lobok = kedodoran, kebesaran (celananya lobok, Mak… bisa dikecilin?)
Lereng = sepeda besar = sepeda janda (e pada “le” dan “reng” dibaca seperti menyebut pada kata lele)
Lengger = plesetan dari tabrak (mati dia dilengger truk)
Langgar = musola (Pak Haji biasa sembayang di langgar)
Limpul = lima puluh (dipakai untuk menyebut uang Rp 50 atau Rp 50.000)

Limrat = lima ratus (dipakai untuk menyebut uang Rp 500 atau Rp 500.000)
Limper = lima perak (dipakai untuk menyebut uang Rp 5. Sekarang uang pecahan ini sudah tidak ada, jadi istilah limper pun mungkin sudah hilang).
Lasak : Banyak gerak, ga bisa diam.
Lencong; tai lencong = tahi ayam yang hijau, bentuknya seperti pucuk es krim menjulang (hueeek..)
Lokal = kelas (si Adi lagi di lokal, belum keluar)
Longoh = bodoh, tolol (dasar longoh, udah tau bahaya bukannya menghindar)
Lepuk = pukul (dilepuk orang sekampung dia)

M
Mentel = genit, centil
Mengkek = manja
Mereng = miring, sering juga disebut mencong
Merling = bercahaya, mengkilap (kalungnya merling kali..)
Motor/montor = mobil
Minyak lampu = minyak tanah
Monza = akronim dari Monginsidi Plaza, tempat jualan pakaian bekas; mengacu pada penyebutan semua jenis barang second/bekas (celana monza ya?)
Merepet = mengomel, marah
Manipol = akronim dari mandailing polit = mandailing pelit /kikir; istilah stereotip suku mandailing, suku di Kab. Tapanuli Selatan. Padahal belum tentu benar.
Melalak = hobinya keluar rumah, ga betah di rumah, sebuah sifat perempuan yang negatif
Mentiko = belagu, sifat orang yang suka merasa paling hebat dan suka cari masalah

Merajuk = ngambeg
Main-main; keluar main-main = Istilah untuk jam istirahat sekolah (“Keluar main-mainnya jam berapa ya?”)
Masuk angin = melempem (khusus buat makanan, kue, atau kerupuk) -- kerupuknya nggak enak, udah masuk angin...


N
Nona = aktris utama (siapa nonanya, Hema Malini?)
Nembak = bukan menembak, atau nembak cewek, tapi istilah untuk makan tapi nggak bayar (si Ucok nembak di warung Kak Ipah).
Ngeten = (dari bahasa Batak?), artinya mengintip

Nokoh = dari tokoh, artinya menipu; berdusta (dia itu nokoh, jangan percaya)

O
Ompa’an = sifat orang yang suka dibaik-baikin
Oyong = terhuyung2x, limbung
ODB = tontonan gratis ala misbar (gerimis bubar); pemutaran film keliling. Biasanya diadakan tiga bulan sekali di asrama-asrama tentara atau polisi. Aslinya dari bahasa Belanda,
Oranje Deli Bioscope Bedrijf, memiliki anggota cukup banyak seperti bioskop Oranje di Jln Veteran/Bali, Deli Jln Perdana, Morning Jln. Surabaya (dulu terkenal sebagai Jln Canton), Orion juga di Jln. Surabaya, Metropole di Kp.Madras Jln. Gajahmada, juga ada bioskop Nusantara di Jln.Puri.

P
Palar = dipaksa-paksain
Pala : Ga seberapa (Contoh :Dia ga pala jahat kali lah sama aku...); dicukup-cukupkan
Pesong = gila, tidak waras
Pukimbek, pukilik = sialan, makian
Pajak = pasar
Perli = menggoda, flirting seseorang utk menjadi pacar (Cantik kali anak gadis wak Alang tu. Kalau kuperli mau nggak dia ya?)
Pasar = jalan raya
Pening = pusing

Paten = hebat
Pinggir = kiri (perintah untuk menyuruh sopir berhenti, biasanya penumpang berkata "pinggir" (bukan "kiri").
Pusing = keliling
Palak : Sebel, marah.
Perei = libur (slang dari free)
Ponten = nilai
PHR = istilah untuk bioskop murahan. Singkatan dari Panggung Hiburan Rakyat (aku dulu suka nonton di PHR Morsip di Jl. Soetomo Ujung, PHR Serdang, dan PHR Bahagia di Jl. Pasar Merah)
Panglong = toko tempat penjualan material bangunan
Porlep = sebutan untuk kuli angkut barang di Polonia atau Pelabuhan Belawan
Paret = maksudnya parit, got
Pakansi = hari libur, liburan
Pakpok = pulang pokok, impas (break event point)
Pekak = tuli (percuma kau teriak, dia orangnya memang pekak)

Pencorot = nomor urut paling akhir, pecundang (di kelas, dia pencorot)
Pauk/Paok = Payah, nggak keren, bodoh (Paok kali pun kau, gitu aja nggak bisa)

Q

R
Rodam = siksa, dimapram (“sebelum dilantik, kami dirodam dulu semalaman)
Raun-raun = jalan-jalan berkeliling (dari bahasa inggris: round-round=keliling-keliling)

RBT = Ojek (RBT adalah singkatan dari Rakyat Banting Tulang :)
Rupanya = ternyata... ( Contoh : di sini kau rupanya! aku cari-cari kemana-mana)
Recok = ribut, berisik
Rol = penggarisan, mistar (kt. benda)

S
Sarap = tidak waras, gila (yang sarap-nya kauw? Kamu gila ya?)
Sedeng = gila, sinting
Senget = tidak waras, gila
Silap = salah, keliru – kalau awak tak silap ---
Simpang = perempatan, atau pertigaan jalan
Selow = slang dari slow (lambat)
Semak = kumuh, berantakan, kacau (semak kali kamar ni… semak muka kau kulihat)
Sepeda Janda = sepeda berpalang ala jaman dulu, suka dipakai ibu-ibu atau buruh kebun…
Setil = gaya, keren (setil kali dia malam ini, mau pergi kenduri ya?)
Sengak = ketus (jangan la sengak gitu cakapnya….)
Somboy = sejenis makanan cina yang populer, dari sejenis buah yang dikeringkan, berwarana merah dan diberi lapisan tepung yang rasanya asin, manis, asam.
Setalen = satuan nilai uang, kira-kira ….. rupiah (dulu masih sering ditemukan jajanan seharga setalen, tapi sekarang tidak lagi).
Sikit = plesetan dari sedikit
Sudako = angkot
Sor = suka, contoh nya, sor kali aku lah ama cewe tu..
Selop = sandal
Setip = penghapusan (kt. benda), menghapus (kt. kerja)
Siap = selesai; done (tugasku udah siap, jadi aku bisa santai sekarang)
Seken = salaman (dari bhs Inggris: shake hand) – kalo cocok, seken dulu kita….

T
Tungkik = teler, cairan di kuping (ih, jijik)
Tumbuk = pukul , kutumbuk kau nanti…
Telekung = mukena
Titi = jembatan (kalo mau ke rumahnya, kau harus lewat titi besar itu, baru sampe)
Tonggek = bokong yang montok
Tepos = lawan tonggek
Tokok; menokok = 1) memalu, memaku (tolong kau tokok dulu paku ini di papan itu); 2) pukul, jitak (ditokoknya kepalaku, Kak, sakit lah)
Tekek = versi jitak yang lain lagi…
Tepung roti = tepung terigu
Tarok = meletakkan (coba kauw tarok tasmu di atas meja)
Teratak = atap tambahan, biasanya dibangun jika ada pesta atau musibah kemalangan di rumah
Terei = dari kata try (inggris), artinya coba (Cak di-terei dulu barang ni…)
Terge = perhatian, peduli, acuh (udah setil habis dandananku, eh nggak di-terge sama dia)

Tekong; Tekongan = menikung; tikungan, simpang jalan (agak nekong kau sikit, biar nggak dilengger mobil; kutunggu kau di tekongan)
Takir = nasi bungkus/kotak yang biasa dibagikan saat kenduri atau tahlilan; lihat juga kata “berkat”
Tukam = melayat, takziah

Toyor = pukul; memukul, tapi dengan cara lain lagi (kayak upper cut, gitu) -- maling itu kena toyor massa.

U
Uwak = (panggilan sopan untuk orang yang sudah tua, semacam bapak/ibu, atau kakek/nenek gitu deh)
Ubi = singkong; ubi rambat = ubi jalar

V

W
Woy = panggilan, seruan buat teman atau sekelompok orang (Woy, di mana kelien?)

X

Y

Z

Saturday, April 01, 2006

Kebumen dan Pencerahan Jiwa

Tugas mendadak ke Kebumen, Jawa Tengah. Saking mendadaknya, saya cuma bawa laptop, sementara pakaian urusan belakang. Penerbangan “red eye” alias flight malam yang separonya ditingkahi guncangan karena cuaca buruk membuat mood saya sempat down. Tiba di Yogya pukul 21.00, langsung saja saya carter taksi ke Kebumen. Hujan amat deras dan suasana di luar kerap kali gelap gulita. Oh sraaaaam..... Tetapi supir taksi Rajawali yang mengantar saya lumayan hebat. “Bapak tidur saja, nanti kalau sudah sampai saya bangunkan,” katanya. Whaa, mana bisa, Mas! Niat baiknya masih belum bisa saya telan 100% (kalau ketemu dia lagi, saya bakal bilang sori..).

Alhamdulillah, akhirnya saya tiba juga di Hotel PATRA dengan selamat, menjelang tengah malam. Diskusi dulu untuk persiapannya dengan Mas Topo. Esok harinya, training media relation buat anggota Bakohumas Kebumen diselenggarakan, dengan fasilitator Mas Topo dan Yudi, dan saya (catatan kaki: saya masih pake baju kemarin!, plus jeroan yang disetel Side B, hahaha…). Lepas makan siang, dengan bantuan supir, saya ngacir sebentar ke ke Rita Swalayan, dan belanja pakaian secukupnya. Baru rasanya lega.

Malam hari, semua temen kantor jalan ke RM Hijau, yang berada di tepi jalan antara Kebumen-Yogya. Enak, kata teman-teman. Kok tahu? “Pokoknya kalau warung di depannya banyak truk parkir, masakannya pasti enak,” kata Mas Topo. Hm, ilmu baru nih… Tetapi memang masakannya lumayan lezat. Murah lagi. Apalagi ada pete segar segala dicampur balado. Tampilannya jadi bak kumpulan pelor hijau berselimut cabai merah yang menggoda lidah…. Uhuy….. Adapun malam kedua, kami cari makan di warung sekitar kota saja.

Mirip dengan kota-kota kabupaten lainnya di Jawa Tengah-Timur, di Kebumen suasana kota terasa lebih tenang, adem. Tidak grasa-grusu seperti Jakarta. Kalau Bogor masih mending, meskipun tetap masih kalah tenang. Maka, dua hari di Kebumen, selain bertugas, juga sekaligus bisa menjadi acara pencerahan jiwa, melihat dunia yang sedikit berbeda.

Apalagi saat pulang ke Yogya. Kami berangkat pagi-pagi, dan di sepanjang jalan pemandangan sawah ladang betul-betul menghibur syaraf mata. Padi menguning, kabut menggantung, hijau pepohonan di kejauhan dan di tepi jalan. Bocah-bocah SD mengayuh sepeda mereka dengan gembira. Dan matahari bersinar lembut buat kami semua. Sungguh pemandangan yang langka didapat.

Sayang sekali, saya hanya sempat menikmati itu sambil jalan. Dan berikutnya, tiga jam kemudian, Jakarta yang pengap sudah kembali menyambut dengan seringai senyumnya. Nasiiib… (ah)

Wednesday, March 29, 2006

Surabaya: "Horor" Kamar 1425

Image hosting by PhotobucketKe Surabaya awal Maret lalu, mengisi satu sesi training buat para DC di 8 provinsi. Materinya: How to Organize Event. Meski singkat, lumayanlah. Para DC juga semangat-semangat.

Di Surabaya, saya enggan ke mana-mana. Terbetik keinginan menelpon Mas Yoyok, kakak ipar saya yang bekerja di kota ini. Tetapi, ah, tidak usahlah, kasihan nanti malah mengganggu. Jadi, saya hanya keluar makan malam ke Tunjungan Plaza, yang bersebelahan dengan Hotel Sheraton tempat menginap. Tempat mangkal biasa, ya di Warung Jawa Timur di lantai 5. Biasanya saya selalu pesan Soto Ambengan dan es cendol. Plus, mie goreng untuk camilan di kamar.

Ngomong-ngomong, saya harus ceritakan kisah “horor” kamar 1425, yang bersebelahan dengan kamar 1424 tempat saya menginap. Dua kamar ini sebenarnya ada connecting door-nya, yang terkunci rapat. Nah, di malam pertama saya menginap, awalnya tidak ada apa-apa. Tetapi tiba-tiba, pukul 04.05 pagi-pagi buta, saya mendengar suara-suara aneh di kamar sebelah. Cukup kedengaran, karena pintu terbuat dari kayu, sehingga suara masih tembus.

Jangan takut dulu, suara-suara aneh itu bukan suara lengkingan ala kuntilanak atau tangisan wanita atau bayi misterius. Suara itu tak lain suara lenguhan perempuan dan lelaki yang sedang ehm.. ehm…. tau kan apa yang kumaksud…. Plus suara-suara keributan ala film BF yang biasa dijajakan di Glodok, hehehe…

Antara kesal, bingung, nggak percaya, penasaran (dan… tentu campur tergoda dong, kwak kwak kwak…..) saya coba “menyimak dengan penuh kekhusyukan” suara-suara itu (kok ya sempat-sempatnya ya?). Beneran lho, dan itu berlangsung hingga pukul 05.00, dengan beberapa jeda antar babak :P

Si penghuni kayaknya nggak sadar kalau kegiatan “extra kurikuler” mereka bisa terdengar oleh penghuni lain seperti saya. Dan, ya Tuhan, apa yang bisa saya lakukan dengan mendengar suara-suara di kamar tetangga seperti itu? Paling-paling dengan terpaksa saya setel acara Kuliah Subuh di sebuah stasiun TV Swasta. Yah, setidaknya ini bisa menurunkan ‘tensi’ kedua belah pihak, baik kamar sebelah maupun saya sendiri, huahahahaha…….

What an unforgetable experience…. (ah)

Monday, March 27, 2006

Cari Wangsit II: Medan, Kabanjahe

Pulang dari Makassar, cuma sempat nginap semalam di rumah. Esok harinya, Sabtu, sudah terbang lagi ke Medan. Rencananya mengikuti lokakarya bidang pendidikan di Kabanjahe, Karo. Kesempatan mampir ke my home sweet home di Karangsari, dan tentu saja bertemu my beloved mom. Hotel tetap di-booking, tapi sedetik pun tidak pernah ditempati, hahaha.

Image hosting by Photobucket
Gambar kiri: Pemandangan sekitar dari Mikie Holiday di pagi hari

Sampai rumah, sudah pasti semua kaget, terutama my mom. Tetapi beliau sekaligus juga girang luar biasa. Yah, kapan lagi sempat mampir kalau bukan pas sedang tugas, atau sengaja cuti lebaran. Meski cuma bermalam, karena esok paginya langsung cabut ke kantor regional Medan, rasanya cukuplah untuk menggembirakan orang tua.

Lebih setengah harian di kantor, lalu kami jalan ke Brastagi. Tempat menginap kami ini lumayan funky, bergaya minimalis. Namanya Hotel Mikie Holiday. Kalau lihat konsep hotelnya, mirip-mirip dengan Hotel Harris di bilangan Tebet.

Image hosting by PhotobucketAcara dua hari berlangsung lancar. Sempat membantu membuatkan siaran pers buat media lokal, sekaligus ambil dokumentasi foto. Eh, saya dapat foto yang lumayan bagus lho, dari sisi fotografi (setidaknya menurut diri sendiri). Angle-nya ada di depan Gedung Zentrum GBKP(?). Kalau lihat sudutnya, tampaknya sih biasa-biasa saja. Hanya, langit kebetulan lagi bagus-bagusnya. Plus, karakter jajaran pohon kering yang dijepret lumayan bagus. Hasilnya ya seperti yang ditampilkan di halaman ini. Bagaimana menurut Anda?

Siang hari, bersama rekan-rekan lain mencoba makan siang di luar, tepatnya di Warung Muslim di dekat Kantor Pemda (Bappeda). Ini rekomendasi Saruhum, DC Karo yang jadi guide dadakan kami. Gulai arsiknya memang “mantap kali” (pinjam omongan “Benu Buloe” di Trans TV). Nasinya juga wangi. Sampai-sampai semua penasaran, apa nama beras yang dipakai. Rupanya pucuk dicinta ulam tiba. Pemasok beras warung tersebut kebetulan datang. Beras yang enak itu jenisnya “Kuku Balam”, dengan merek “Jeruk Madu”. Di Jawa rasanya tidak ada jenis ini.

Image hosting by Photobucket Gambar kiri: Sop buntut Restoran Garuda, Brastagi yang 'mantap kali' itu

Di malam kedua, saya makan malam di Restoran Garuda. Di sini, konon sop buntutnya luar biasa enak (kali ini yang promosi adalah Hamdan, DC Serdang Bedagai). Maka, saya jajal sop yang dimaksud. Eh, beneran. Uenak tenan, kata orang Surabaya. Tak heran, esok malamnya, sesaat sebelum turun ke Medan usai acara, kami datangi lagi restoran ini dan melalap menu serupa. TOP BGT, dah… 100% direkomendasikan.

Pulang ke Medan, saya habiskan dua hari tinggal di rumah, hitung-hitung ambil pengganti libur dari tugas daerah yang sebelumnya. Menu andalan my mom tak lain: rendang, rebus singkong dan pepaya, serta sambal tomat. Rrruarrr biasaaa….

Image hosting by PhotobucketDi rumah, ada kucing peliharaan yang diberi nama Drogba (diambil dari penyerang Chelsea bernomor punggung 15 asal Pantai Gading). Eh, baru ditinggal sejak lebaran, sekarang Drogba ini sudah besarnya bukan main. Tapi tetap saja kelakuan sama, makan, tidur, main. Nangkap tikus? Pikir-pikir dulu… Coba saja lihat tingkahnya di gambar sebelah, saat memain-mainkan tali tustel digital.

Selama dua hari itu juga saya juga banyak curhat dan diskusi dengan my mom dan kakak tentang pekerjaan yang ada sekarang dan tawaran-tawaran baru yang datang. Nasihat mereka lumayan berguna. Sebelum balik ke Jakarta, saya sempatkan pula ziarah ke makam Ayah di pemakaman kampung dekat mesjid. Allahummagh fir lahu warhamhu wa’afihi wa’fu ‘anhu.

Oh ya, tidak lupa saya borong bika Ambon Zulaikha (Hj. Mariani) yang di Jalan Mojopahit, plus roti bolu gulungnya. Juga brownies bikinan kenalan adik saya Iin. Sementara Teteh menitipkan oleh-oleh sirup Terong Belanda dan Kiwi, plus emping Aceh dari Kak Inur (kakak nomor dua di Banda Aceh). Wak Ipah, lain lagi. Dia buatkan bumbu pecel yang jadi andalan warungnya. “Cuma bisa kasih ini,” kata Uwak. Ck..ck..ck. Masih begitu banyak orang yang sayang dan perhatian pada saya dan keluarga. Itu harus disyukuri.

Walhasil, sesampai di rumah di Bogor, banyak orang bertanya-tanya, ini pulang tugas atau pulang cuti lebaran sih? Hahaha.... (ah)

Sunday, March 26, 2006

Cari Wangsit ke Makassar

Di tengah-tengah gundah mempertimbangkan kembali tawaran untuk tetap tinggal di kantor sekarang atau hengkang, tugas ke Makassar tetap dijalankan. Sebenarnya lebih tepat dikatakan bukan tugas, karena saya hadir sebagai peserta pelatihan ToP (Technology of Participation) yang diselenggarakan kantor Sulsel. Hitung-hitung sambil mencari “wangsit” tentang masa depan pekerjaan sendiri.

Image hosting by Photobucket
Foto-foto: Pesisir Makassar dari kamar hotel Quality menjelang malam

Tiba di sana, sedikit ada trouble. Masuk ke Hotel Quality, kok nama tidak terdaftar. Mana hari sudah petang lagi. Akhirnya, kami cabut ke Hotel Imperial Arya Duta. Eh, ada SBY sedang datang karena membuka acara Kongres HMI. Terpaksa harus melewati pemeriksaan berlapis, sebelum akhirnya mendapat kamar. Malamnya, baru ketahuan, kalau Hotel Quality-lah yang salah memasukkan tanggal booking menjadi sebulan ke depan. Pantas saja nama yang sudah dipesan tidak muncul di layar mereka. Merasa bersalah, pihak hotel sampai merasa perlu mengutus orang meminta maaf. Kasihan juga. Tapi bagaimana ya, salah mereka juga sih...

Kang Dedi yang dari kantor Jawa Barat bergabung sebagai observer. Acaranya sendiri cukup lancar, meski ada kesan untuk sesi-sesi awal fasilitator kurang siap. Plus, waktu yang suka molor. Selain itu, semuanya berjalan bagus.

Image hosting by PhotobucketEmpat malam di Makassar, tiga malam di antaranya diisi dengan menyantap ikan bakar dan seafood. Malam kedua bersama kang Dedi saya makan ikan kuwek di sebuah warung di sekitar pantai Losari. Rasanya, biasa saja. Malam berikutnya, Bu Tanti mentraktir. Kang Dedi dan saya jalan bareng suaminya yang dinas di Kodam setempat. Tempat makan yang dipilih adalah Restoran Koang. Boleh juga, dan lumayan puas. Trims ya Bu Tanti...! (sambil menjura dan mengacungkan jempol). Sedangkan malam terakhir, kami menjajal menu di Restoran LaeLae yang konon sudah terkenal. Harganya lumayan murah, padahal kami pesan kuwek, kakap, dan beberapa jenis sayur sekaligus.

Ingat makan di Makassar jadi ingat di Manado. Persis, dengan perbedaan sedikit di sana sini. Tetapi pesta sea food-nya memang bolehlah diulang lagi, kalau kebetulan tugas ke sana lagi. Nyam-nyam. (ah)

Saturday, March 25, 2006

Back to Yogya

Terbang ke Yogya lagi. Senang berjumpa dengan kota yang tentram ini. Agenda: menyelenggarakan pelatihan media relation buat internal team, termasuk para distric coordinator. Sukses, setidaknya menurut peserta dan teman-teman. Bahkan belakangan peserta dari proyek lain, meminta ijin untuk menggunakan konsep dan materi pelatihan, plus teman-teman tim sebagai narasumber. Usai pelatihan hari Selasa, saya masih harus terus di Yogya, mengurusi media program untuk konferensi jaringan pengawas pengadaan barang dan jasa.

Image hosting by Photobucket

foto bareng Ken Wheeler, konsultan
komunikasi dari Virginia, AS, yang ikut jadi observer


Kalau ada yang kurang, barangkali ya soal makan. Mungkin karena dibebani tanggung jawab pelatihan, dan sekaligus memonitoring kegiatan media relation untuk konferensi, sejak Minggu hingga Kamis kegiatan makan tidak sungguh-sungguh dinikmati. Kecuali saat malam Kamis, kami rombongan kecil makan gudeg di kawasan Tugu, sambil lesehan berdiskusi tentang banyak hal. Dengan Mas Topo, sambil naik becak, kami bicara tentang pekerjaan. Lumayan bernas, meski singkat.

Image hosting by Photobucket

Beringharjo, salah satu sudut Yogya

Acara konferensinya sendiri akhirnya berjalan bagus, dan cukup mendapat perhatian media lokal serta nasional. Saya terbang kembali ke Jakarta hari Jumat. Capek. (ah)

Bebek dan Nasi Liwet

Catatan: Ini tulisan yang senantiasa dibuat sepanjang perjalanan tugas, tetapi selalu gagal diposting atas nama kata sibuk...

===

Saat tugas ke Solo, beberapa waktu lalu, saya diajak rekan-rekan untuk mencicipi bebek goreng Pak Slamet di kawasan Tipes, Solo.

Jadi, kami pun meluncur ke sana. Lumayan ramai, dan waktu dari pemesanan hingga hidangan datang cukup lama. Tetapi setelah hidangan datang, wuih, baru terasa bedanya. Lezat, garing, murah lagi. Hanya, tulangnya keras, tidak di-presto. Tetapi tak apalah, masak enggak rela kalau tulang juga nggak perlu ditelan?

Malam kedua, kami tidak sempat ke mana-mana, malah makan di ruang rapat, karena acara cukup padat. Menunya, bebek panggang tulang lunak. Yummy, tidak kalah dengan bebek goreng malam sebelumnya. Cuma, lalapannya pelit banget. Masak hanya timun dua iris. Sial…, eh, alhamdulillah…

Malam ketiga, giliran nasi liwet di Keprabon Kulon, tepatnya di Warung Nasi Liwet Bu Wongso Lemu. Konon ini katanya terkenal. Manalah aku tau? Tapi rupanya, harganya agak mahal. Kata kawan-kawan, mungkin karena kami datang bergaya turis (hehehe). Dan, lucunya, ketika menuju menuju jalan besar untuk pulang, kami bertemu dengan beberapa warung nasi liwet lain Tebak namanya? Sama, Bu Wongso Lemu! Sama atau beda pemilik? Atau itu nama generik? Ijinkan saya menjawabnya dengan kalimat: mana aku tau?


Berhubung sulit mendapat taksi ke hotel, kami akhirnya mencarter angkot. Si Mas sopir dengan baik hati mengantar hingga berhenti tepat di depan lobby. Oh, betapa percaya dirinya kami…

Malam terakhir, saya makan di sekitar Pasar Gede. Namanya sih Nasi Liwet dan Gudeg Mbak Sus. Sederhana, lesehan. Eh, lumayan murah pula.

Tiga hari di Solo, setidaknya kamus wisata kuliner saya nambah dikit. Asyik. (ah)

Friday, March 24, 2006

Dua Bulan Penuh Warna

Banyak yang terjadi dua bulan ini. Dan semuanya adalah hal-hal yang berpengaruh besar dalam hidup, rasanya begitu. Mulai dari rencana resign dari pekerjaan sekarang, yang akhirnya menimbulkan sedikit ”huru-hara”. Rame, seru. Dan setidaknya membuat hidup lebih berwarna :) ... Yang jadi korban adalah blog ini (!). Meski menulis jalan terus, tetapi postingnya itu yang tidak dilakukan setiap saat. Apa boleh buat.

Sementara itu, pekerjaan dan tugas daerah terus berjalan, seolah tak dipengaruhi oleh problem yang tengah terjadi. Bagus juga sih. Dan yang unik, setelah rencana resign awal tersebar, entah dari mana saja datangnya, ada saja tawaran bergabung bekerja. Laris manis ni yee... Termasuk, panggilan dari beberapa aplikasi yang pernah kukirim. GTZ, misalnya, sudah OK dan minta segera bergabung. Tetapi... harus segera pindah markas, dari Jakarta ke Klaten, Jawa Tengah. Mereka mengabulkan, dalam level tertentu, kenaikan gaji, yang kalau dibandingkan berarti 50% lebih besar dari gaji yang ada sekarang. Hmmmm (sembari air liur menetes....). Sekali lagi, setelah berpikir panjang, pertaruhannya memang cukup besar, terutama soal keluarga dan network di Jakarta yang sudah terjalin. Keputusannya, terpaksa ditolak. Bodoh? Bisa jadi.

So, akhirnya sementara semua kembali seperti biasa, setelah bertemu bos dan kedua belah pihak menyepakati beberapa hal. Bekerja masih di tempat sama, gaji sama (hehehe), problem yang sama. Entah perubahan apa yang dapat terjadi dalam 3, 4, atau 6 bulan ke depan, sebagaimana yang dijanjikan. Let see... dan nothing to loose saja. Dengan begitu semuanya lebih ringan terasa. (ah)

Thursday, February 16, 2006

Majalah (Bag. 2): Indonesia Punya Cerita

Sejarah majalah di Indonesia erat dengan pergerakan kebangsaan

PADA akhir abad ke-19, di Indonesia (waktu itu Hindia Belanda) mulai tampak ada penerbitan pers yang bercorak dan berdasar pada suatu program politik, Karangan yang disajikan bersikap kritis terhadap politik kolonial Belanda di Hindia Belanda. Muncullah majalah yang dikenal dengan nama Bondsblad, terbit 1897. Majalah ini membawa suara Indische Bond, perkumpulan kaum Indo-Belanda, yang memperjuangkan Hindia Belanda sebagai tanah airnya serta mengusahakan perlakuan yang sama bagi mereka dalam bidang politik. Selain Bondsblad, terbit juga Jong Indie, yang didirikan oleh Mr. Th. Thomas, seorang ahli hukum di Batavia.

Pada awal abad 20, muncul organisasi pergerakan kemerdekaan seperti Boedi Oetomo, Sarekat Islam dan Indische Partij. Mereka butuh corong untuk menyampaikan program organisasi. Boedi Oetomo menerbitkan Majalah Retno Doemilah dalam bahasa Melayu Jawa, dan Soeara Goeroe. Tahun 1907 di Bandung terbit Majalah Medan Prijaji yang dipimpin RM Tirtoadisoerjo, yang sebelumnya menerbitkan Majalah Soenda Berita.

Di masa-masa itulah terbit banyak majalah, yang kebanyakan isunya mengenai pergerakan kemerdekaan. Akhir 1910, Douwes Dekker menerbitkan majalah dwi mingguan Het Tijdschrift yang sangat radikal pembahasan politiknya dengan menyerukan aksi melawan kolonial. Pada tahun 1913, giliran Tjipto Mangoenkoesoemo menerbitkan Majalah De Indier. RM Soewardi Soerjaningrat mendirikan Hindia Poetra, memakai bahasa pengantar Belanda. Majalah ini berubah menjadi Indonesia Merdeka, yang kemudian terbit dalam dua bahasa. Peredarannya sangat luas, hingga ke Jerman, India, Mesir, Malaya, dan Prancis. Pembacanya mulai dari guru, kalangan swasta, mahasiswa, pejabat belanda dan Indonesia, redaksi surat kabar, dan sebagainya.

Balai Poestaka, salah satu penerbit tertua, juga menerbitkan beberapa majalah untuk rakyat, antara lain Majalah Pandji Poestaka, Majalah Kedjawen dan Parahijangan, majalah anak-anak berbahasa Melayu Taman Kanak-Kanak, dan yang berbahasa Jawa Taman Botjah. Majalah-majalah lain yang terbit dalam kurun ini antara lain: Fikiran Rakjat milik Partai Nasional Indonesia (PNI), dan Daulat Ra’jat(diterbitkan Bung Hatta). Lalu, muncul pula Majalah Weekblad Sin Po tahun 1923 yang merupakan terbitan grup Sin Po. Di majalah mingguan ini pula naskah lagu Indonesia Raya ciptaan WR Supratman untuk pertama kalinya dimunculkan.

Tercatat, hinggga tahun 1920-an, sudah ada 127 majalah dan surat kabar. Setelah era ini, masih ada lagi majalah tri wulanan De Chineesche Revue (1927), Timboel (membahas soal budaya, tahun 1930-an), hingga Pedoman Masjarakat yang terbit di Medan (diasuh HAMKA), serta Pandji Islam. Dari segi bisnis, disebutkan bahwa mutu kebanyakan majalah masih amat rendah, mengingat situasi yang tak memungkinkan perolehan iklan waktu itu.

Di jaman Jepang, ada Majalah Djawa Baroe, Pandji Poestaka, Pradjoerit, Keboedajaan Timoer, dan Panggoeng Giat Gembira. Kebanyakan isinya ketat mengikuti ketentuan penguasa Jepang. Semua majalah ini berhenti terbit seiring dengan takluknya Jepang kepada Sekutu tahun 1945. Memasuki masa kemerdekaan, terbit Majalah Pantja Raja (Desember 1945), Menara Merdeka di Ternate, dan Pedoman, majalah tengah bulanan. Yang terakhir disebut ini merupakan majalah stensilan, berisi suara kaum Republiken menentang Belanda. Ada pula Majalah Pesat yang didirikan Sajuti Melik dan terbit di Jogyakarta.

Selama lebih sepuluh tahun pasca kemerdekaan (1950-an), tercatat jumlah mingguan dan majalah berkala yang beredar sebanyak 226 judul, sementara surat kabar berbahasa Indonesia 67 judul, bahasa Belanda 11 judul, dan Cina 15 judul.

Majalah Modern Lokal

Perkembangan dan petumbuhan majalah, dekade pasca 1970-an semakin unik dan canggih. Majalah mulai menuju spesifikasi. Penerbitan majalah lambat laun mengubah dirinya menjadi bagian dari bisnis pers. Perubahan tersebut dilakukan antara lain dengan membuat pembahasan isi yang lebih mendalam daripada koran. Mereka pun melengkapi diri dengan gambar sampul yang berwarna, sejalan dengan memasyarakatnya teknologi cetak offset warna. Karyawan termasuk reporternya mulai mengikuti sebagaimana layaknya sebuah perusahaan. Majalah Tempo merupakan salah satu contoh majalah berita mingguan yang tumbuh dan berkembang pesat serta relatif minim pesaing, setelah wafatnya majalah Ekspress.

Beberapa majalah juga mengambil segmentasi yang lebih spesifik dan sempat populer, antara lain Aktuil, yang mengambil jalur musik dan seni. Mulai pula muncul majalah di bidang interior, otomotif, kedirgantaraan, manajemen, bisnis, komputer, dan sebagainya, di luar segmentasi yang berdasarkan jenis kelamin dan usia.

Pada masa ini terdapat pula kecenderungan masuknya pengusaha besar bekerja sama dengan pemiik SIUPP (Surat Ijin Usaha Penerbitan Pers) atau pekerja pers untuk mendirikan majalah baru atau menghidupkan majalah yang kolaps, seperti Majalah Anda Bisa, Aneka Ria, Info Bank, dan Prospek. ‘Pemain’nya adalah Sutrisno Bachir. Majalah olahraga Sportif tahun 1981 yang didanai oleh Bob Hasan, pengusaha kayu, demikian juga Gatra pada akhir tahun 1994. Sementara Popular didukung oleh Aburizal Bakrie, Vista oleh Suryo Paloh, dan Sinar oleh Ir. Ciputra. Pengusaha Sukamdani Sahid Gitosardjono dan beberapa rekannya memodali terbitnya Indonesia Business Weekly, dan A. Latief dikabarkan menyokong Majalah Proaktif. Perubahan yang cukup siginifikan ini juga menimbulkan problem baru yakni kekhawatiran kekuatan pengawasan media akibat adanya conflict of interest dari pemilik modal.

Sebelumnya, sempat pula dikenal praktik perubahan nama dengan membeli SIT (Surat Ijin Terbit), misalnya Fokus (dari SIT Flamboyan), Bombom (dari Violeta), Intan (dari Prestasi), Ria Kuis (dari Tokoh), dan Srikandi ( dari Contessa Asah Otak). Tahun 1989, tercatat jumlah majalah yang terbit berjumlah 107 buah, dengan sirkulasi total 3. 623.000 eksemplar.

Pada masa pasca reformasi 1998, SIUPP akhirnya dihapuskan. Sejak itu, jumlah penerbitan pers di Indonesia membengkak drastis. Tahun 2000, diperkirakan penerbitan pers mencapai sekitar 1.800 sampai 2.000, namun benar-benar operasional diperkirakan tidak lebih dari 800 penerbitan.

Majalah dan Investigasi

Jurnalisme muckcracking, yang pada awal perkembangannya banyak mengungkap skandal-skandal besar seperti korupsi, pelanggaran hak asasi, dan sebagainya, di dalam negeri lebih dikenal dengan sebutan jurnalisme investigasi atau istilah lunak lainnya, indepth reporting (reportase mendalam). Pers cetak yang dikenal luas sebagai pengusung jurnalisme ini adalah koran Indonesia Raya yang dipimpin Mochtar Lubis. Koran ini sempat dibredel tujuh kali hingga akhirnya dihentikan penerbitannya tahun 1974.

Majalah Tempo sebelum bredel 1994 beberapa kali pernah menuliskan laporan yang bersifat investigasi, antara lain tentang kerusuhan Tanjungpriok, pembelian kapal bekas RI dari Jerman, dan sebagainya. Peliputan investigatif tampaknya mulai dipakai wartawan secara serius pada dekade 1990-an. Dan sejak reformasi bergulir tahun 1998, pelaporan investigatif banyak mendapat tempat dengan memberitakan kasus-kasus korupsi. Majalah yang dengan eksplisit memberi judul investigasi pada liputan mereka antara lain dwi-mingguan Tajuk, yang terbit tahun 1996. Tajuk menyatakan diri sebagai majalah berita, investigasi, dan entertainment. Sedangkan Tempo, setelah terbit kembali Oktober 1998, memuat rubrik tetap Investigasi, yang pada edisi pertama menelusuri soal pemerkosaan perempuan keturuan Cina pada kerusuhan Mei 1998.

Ragam Majalah

Era kebebasan pers di jaman Reformasi membawa pengaruh pada usaha penerbitan majalah. Berbagai penemuan majalah baru semakin marak bermunculan di pasar. Dari data yang ada, majalah di Indonesia dikategorikan berdasarkan segmentasi khalayak pembacanya (lihat boks), misalnya majalah Bisnis dan Ekonomi, majalah Sastra dan Budaya, majalah Wanita, majalah Pria, majalah Berita, majalah Umum/Keluarga, majalah Remaja, majalah Anak, majalah Film, Musik, dan Televisi (entertainment), majalah Olahraga, majalah Agama, majalah Komputer, majalah Hobi, dan lain-lain

Masuknya negara-negara dunia ke dalam era globalisasi memberi pemgaruh signifikan dengan penerbitan majalah di Indonesia. Pihak asing mulai tertarik menanamkan modalnya di bidang pers, sebaliknya pengusaha dalam negeri berkesempatan mencari lahan media asing untuk dapat diterbitkan dengan gaya lokal.

Berbagai ijin waralaba (franchise) dari media mancanegara mulai tumbuh, seperti Cosmopolitan, F1, Golf Digest, Bazaar, Seventeen, Her World, Mens Health, Parent’s Guide Business Week, Komputeraktif!, dan lain-lain. Peredaran pers asing dan pendirian perwakilan perusahaan pers asing di Indonesia ini diatur dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku yaitu UU No.40 th.1999 tentang Pers.

Era Internet

Era digital dan munculnya internet mempengaruhi majalah dalam menampilkan isinya maupun proses pengolahan berita mereka. Secara isi, banyak majalah kini tampil secara online untuk dibaca publik. Gatra dapat disebut sebagai salah satu yang mempelopori, yakni dengan Gatra Information Service (GIS) tahun 1995. Saat ini, hampir tiap majalah memiliki versi online. Beberapa menampilkan layanan interaktif seperti polling, yang tidak dimuat dalam versi cetaknya. Umumnya, majalah online juga menampilkan berita-berita terkini, baik yang dikutip dari kantor berita lain ataupun yang diliput oleh reporternya sendiri seperti Tempo News Room.

Sedangkan proses peliputan berita hingga sampai ke redaksi dan tata letak juga mengalami perubahan. Sekita tahun 1995, wartawan mulai mengenal pengiriman naskah secara elektronik, yang dilakukan oleh beberapa media besar. Tahun-tahun selanjutnya, baik naskah maupun gambar mulai kerap dikirim dari lapangan dengan bantuan e-mail, telepon seluler, kamera digital, atau penerima foto digital lewat satelit.

Bredel dan Kebebasan Pers

Saat diberlakukannya politik liberal tahun 1950-an, media massa mulai rajin megritik pemerintah. Vonis bredel sendiri sesungguhnya sudah ada sejak jaman kolonial dengan diterapkannya Persbreidel Ordonnantie tahun 1931. Pada tahun 1954, PWI dan SPS berhasil mendesakkan tuntutan agar pemerintah menghapus peraturan peninggalan kolonial tersebut. Sebagai gantinya, pada akhir tahun 1960, penerbitan pers wajib mengajukan permohonan SIT (Surat Ijin Terbit). Pada masa ini sejumlah penerbitan berhenti beroperasi karena situasi politik, antara lain majalah Sastra pimpinan HB Jassin. Sementara media pro PKI mulai muncul.

Pembredelan 12 penerbitan pers juga terjadi akibat kasus Peristiwa Malari, 1974. Setelah itu, secara umum sejak tahun 1979 hingga 1984 sedikitnya ada empat majalah yang dicabut SIT-nya yakni Matahari, Tempo, Topik, dan Expo. Juga beberapa kali teguran dan peringatan karena ada majalah dianggap memberitakan hal yang tidak menguntungkan atau pun menampilkan pornografi. Tahun 1994, dengan alasan berbeda-beda, pemerintah membredel majalah Tempo, Editor dan tabloid Detik. Empat tahun kemudian, Tempo terbit kembali.

(ahmad husein, dari berbagai sumber)

Wednesday, February 15, 2006

Pasang Surut Majalah

Inilah jenis bacaan yang takkan pernah mati


KETIKA membaca sebuah majalah, pernahkah terpikirkan oleh anda mengapa bacaan berformat seperti ini bisa muncul? Jika ingin tahu, majalah sesungguhnya memiliki sejarah panjang yang amat menarik.

Asal Usul Majalah

Oleh beberapa ahli, majalah didefinisikan sebagai kumpulan berita, artikel, cerita, iklan, dan sebagainya, yang dicetak dalam lembaran kertas ukuran kuarto atau folio dan dijilid dalam bentuk buku, serta diterbitkan secara berkala, seperti seminggu sekali, dua minggu sekali atau sebulan sekali. Ada pula yang membatasi pengertian majalah sebagai media cetak yang terbit secara berkala, tapi bukan terbit setiap hari. Media cetak itu haruslah bersampul, setidak-tidaknya punya wajah, dan dirancang secara khusus. Selain itu, media cetak itu dijilid atau sekurang-kurangnya memiliki sejumlah halaman tertentu. Bentuknya harus berformat tabloid, atau saku, atau format konvensional sebagaimana format majalah yang kita kenal selama ini.

Menurut suatu literatur, majalah pertama terbit di Inggris tahun 1731 yaitu Gentleman Magazine. Majalah ini berisi berbagai topik tentang sastra, politik, biografi, dan kritisisme. Kelak, ia menjadi contoh karakter umum majalah yang biasa dijumpai hingga kini, misalnya berisi humor, esai politik, sastra, musik, teater, hingga kabar orang-orang ternama. Sepuluh tahun sesudahnya, muncul majalah pertama di Amerika Serikat.

Namun sumber lain seperti Encyclopedia Americana menyebutkan, majalah dalam bentuk sebagai sisipan dari suratkabar sudah terbit sejak 1665 di Prancis, yakni Le Journal de savants. Majalah periodik ini berisi berita penting dari berbagai buku dan penulis, komentar seni, filsafat, dan iptek. Di Inggris, ada majalah Tatler yang terbit singkat tahun 1709-1711, demikian juga The Spectator (1711-1712). Gentleman’s Magazine sendiri lebih pas disebut sebagai majalah umum pertama yang tampil lebih modern, dan bertahan cukup lama hingga 1901.

Guttenberg sebagai Pemicu

Dunia cetak-mencetak mulai mengalami kemajuan tak henti-henti sejak dikembangannya mesin cetak oleh Johannes Guttenberg tahun 1455. Mesin cetak ini merupakan yang pertama kalinya di Eropa yang menggunakan cetak logam yang dapat digerakkan (movable metal type). Secara dramatis, penemuan ini meningkatkan kecepatan produksi barang cetakan, termasuk buku dan majalah. Mesin cetak juga mengurangi waktu yang digunakan dalam produksi buku dan majalah sebelumnya.

Di Amerika, majalah merupakan media cetak yang terbit belakangan setelah buku dan suratkabar. Hingga tahun 1800-an, tak satu pun majalah yang terbit sanggup bertahan lebih dari 14 bulan. Sampai tahun 1890, majalah-majalah terkemuka di Amerika seperti Harper’s, Century, dan Scribner’s ditujukan untuk kaum minoritas, yakni warga masyarakat yang kaya, agamawan, bangsawan, dan ilmuwan. Perubahan khalayak dari kalangan tertentu ke masyarakat luas, bagi majalah terjadi 50 tahun lebih lambat daripada koran. Isi majalahnya pun jauh dari selera, daya tangkap, dan kepentingan orang kebanyakan. Majalah-majalah yang beredar pada masa itu seperti Atlantic dan Harper’s masih penuh dengan artikel-artikel yang akan memusingkan orang kebanyakan.

Di masa ini, telah ada mesin cetak, kereta api, dan telegram untuk mengirim-menerima berita. Mesin-mesin cetak rintisan Guttenberg mulai berubah ke mesin cetak Columbia. Sampai 1825, media cetak di AS masih menggunakan mesin cetak silinder bertenaga uap yang hanya bisa mencetak 2000 eksemplar per jam. Penggunaan mesin silinder ganda hanya dapat menaikkan produksi dua kali lipat. Baru setelah mesin cetak putar tenaga listrik digunakan, koran-koran bisa mencetak 20.000 eksemplar per jam.

Teknologi dan Peliputan

Kemajuan teknologi juga memudahkan peliputan dan pemberitaan. Naskah dan foto-foto berita bisa dikirimkan jauh lebih cepat. Pada awal abad ke-19, berita dari Inggris baru bisa dibaca di AS 36 hari kemudian. Pada tahun 1838, selisih waktunya tinggal tiga, lalu dua minggu. Sejak adanya telegram, berita di Inggris bisa langsung diketahui di AS.

Sebelumnya, penerbit media cetak juga harus cekatan mengumpulkan berita dari berbagai tempat. Kadang mereka harus mengirim reporternya dengan kapal uap, kereta kuda atau kudanya sendiri, demi mempercepat perolehan berita. Dengan telegram, koran Patriot edisi 25 Mei 1844 dapat menjadi yang pertama memuat berita tentang aksi di Kongres. Ketika terjadi perang saudara, minat publik tentang peristiwa itu sangar besar, sehingga penerbitan media (koran) mengirimkan pasukan reporternya ke lapangan agar dapat langsung mengirimnya ke redaksi untuk dicetak. Mesin-mesin tambahan baru pun dibuat.

Kemajuan ini berlanjut, sejalan dengan perbaikan kondisi sosial yang terjadi akibat revolusi industri. Di kurun 1800-an itu, menurut Straubhaar dan LaRose (2004), tingkat pendidikan makin baik. Dengan meningkatnya upah, banyak penduduk pindah ke kota-kota untuk bekerja di bidang-bidang industri. Kelas menengah kota pun terbentuk. Harga majalah makin murah karena skala ekonomi yang makin besar, makin canggihnya teknologi cetak, dan meningkatnya permintaan. Efek positifnya adalah mempercepat penyebaran buku dan majalah hingga menjadi massal.

Penyebaran teknik cetak foto (photoengraving) sejak akhir abad 19 memudahkan dan mempercepat reproduksi aspek seni koran dan majalah. Biayanya pun menjadi lebih murah jika dibandingkan dengan teknik lama yang masih menggunakan batangan-batangan kayu, zincograph, dan pelat-pelat baja.

Perubahan Besar


Perubahan besar dalam industri majalah terjadi pada tahun 1890-an, ketika S.S. McClure, Frank Musey, Cyrus Curtis, dan sejumlah penerbit lain mulai mengubah industri penerbitan majalah secara revolusioner. Mereka melihat adanya ratusan ribu calon pelanggan yang belum terlayani oleh majalah yang ada. Mereka juga melihat bahwa iklan akan memainkan peranan penting dalam perekonomian AS.

Maka, para tokoh ini menciptakan majalah yang isinya sesuai dengan selera dan kepentingan orang banyak. Munsey’s dan McClure’s mulai menyajikan liputan olahraga di Harvard yang disusul dengan artikel olahraga umum, tulisan tentang perang, lagu-lagu populer, para pesohor (selebritis), dan sebagainya. Curtis lalu menerbitkan majalah khusus kaum ibu, Ladies’ Home Journal, yang kemudian menjadi majalah pertama yang mencapai tiras 1 juta. Majalah-majalah khusus seni dan arsitektur, kesehatan, dan sebagainya segera ikut bermunculan.Terjadilah fenomena yang disebut dengan popularisasi dan segmentasi isi.

Para penerbit majalah juga berusaha menekan harga agar bisa terjangkau oleh orang kebanyakan. Pada tahun 1893, Frank Munsey menjual Munsey’s seharga 10 sen, jauh lebih murah daripada majalah lain. Iklan menjadi kian penting daripada harga majalah. Curtis kemudian bahkan menurunkan harga majalahnya menjadi 5 sen, lebih murah daripada harga kertas majalahnya sendiri.

Isi populer dan harga murah itu sukses menjaring banyak pembeli, sehingga pengiklan pun tertarik. Kerugian akibat harga yang lebih murah daripada biaya produksi ditutup oleh penghasilan dari iklan. Redistribusi pendapatan memunculkan kelas menengah yang daya belinya lebih baik, dan mereka merupakan pasar potensial aneka produk massal yang dapat dijaring melalui iklan di majalah. Hal ini juga mendorong penerbit untuk berusaha membidik pembeli yang homogen guna memudahkan segmentasi iklan.

Dulu, untuk mempercepat reproduksi majalah mempekerjakan banyak seniman yang masing-masing membuat sebagian gambar yang lalu disatukan sebelum digunakan sebagai materi cetakan. Teknik cetak foto modern jelas serba lebih mudah. Pengiriman foto juga gampang dilakukan sejak adanya kamera saku dan jasa pencetakan dan pengiriman foto kilat sejak 1935.

Jika sebelumnya produk bacaan (cetak) dan aksesnya hanya tersedia bagi kalangan tertentu, maka belakangan produk-produk tersebut dapat diproduksi lebih banyak dan menyebar ke pembaca yang lebih luas. Terbitan koran dan majalah juga termasuk yang harus berusaha keras menyesuaikan diri dengan kondisi-kondisi baru ini. Banyak majalah raksasa yang tertekan, Tidak sedikit mingguan atau bulanan yang sudah puluhan tahun terbit dan berjangkauan luas akhirnya terpaksa tutup.

Majalah yang mampu bertahan umumnya yang bersifat khusus, seperti majalah khusus wisata (Sunset), olahraga (Sport Illustrated), hobi perahu layar (Yachting), penggemar acara televisi (TV Guide), atau berita-berita ilmiah (Scientific American). Majalah-majalah yang meliput segala hal (pusparagam) seperti Collier’s dan Saturday Evening Post, sudah bukan zamannya lagi, bahkan juga bagi yang awalnya begitu terkenal seperti Life dan Look. Sekarang adalah zaman majalah-majalah khusus.

Para penerbit buku Amerika, yang menelurkan lebih dari 35.000 judul setiap tahunnya, menjadi kian berorientasi bisnis, bukan saja karena peluang keuntungannya sangat besar jika bukunya menjadi best seller, namun juga pengutamaan pendidikan menjadikan buku kian dibutuhkan. Penerbitan yang semula dikelola secara santai oleh “orang-orang terhormat” berubah menjadi bisnis konglomerasi.

Selama lebih 10 tahun terakhir, ada perubahan jelas antara genre majalah, yang tengah muncul dan yang masih ada. Gambaran readership dari Mediamark Research, mengindikasikan bahwa sejak tahun 1995, ketika majalah genre-genre lain mengalami peningkatan secara finansial, majalah-majalah berita tetap stagnan, dalam arti jumlah halaman iklan yang mereka jual. Mungkin ini terkait dengan majalah berita, yang tidak seperti majalah lainnya, tidak banyak didukung dengan paket penjualan buku-buku.

Iklan dalam Majalah

Peran iklan di media masa sudah terlihat sejak masa Perang Saudara di Amerika. Akan tetapi porsinya yang signifikan sebagai sumber dana mulai terlihat sejak tahun 1890-an, ketika muncul majalah-majalah berskala nasional yang berharga murah namun bersirkulasi tinggi. Memasuki paruh kedua abad 20, peran iklan sudah dominan, namun masih cukup banyak penerbit yang menolak atau membatasi penerimaan iklan karena khawatir akan mempengaruhi isi terbitannya.

Seorang agen iklan muda bernama George P. Rowell suatu ketika mendekati penerbit Harper’s Weekly yang sudah memuat iklan kliennya guna mengetahui jumlah sirkulasinya. Pihak penerbit merasa tersinggung dan menolak iklan yang sama pada edisi berikutnya. Fletcher Harper, pemiliknya, bahkan pernah menolak tawaran US$ 18.000 untuk memuat iklan mesin jahit di halaman belakang majalahnya selama setahun. Harper merasa iklan itu tidak layak, dan ia membutuhkan halaman belakang majalahnya untuk mempromosikan bukunya sendiri.

Pada masa itu sedikit saja majalah yang mencari iklan secara aktif. Satu dari yang sedikit itu adalah Century, majalah prestisius yang beredar di kalangan berada dan terpelajar. Agresivitasnya dalam mencari iklan selama 1870-an dan 1880-an turut mengikis keengganan penerbit majalah terhadap iklan. Di tahun 1890-an, Frank Mursey yang sudah disebut sebelumnya, berjasa menerapkan praktik penerbitan majalah standar. Ia memasang harga lebih rendah daripada biaya produksi majalahnya sendiri, dan kekurangannya itu ia tutupi dengan iklan. Praktik ini kemudian ditiru oleh para penerbit lainnya.

Standarisasi dan Imitasi

Dalam perkembangannya, isi, gaya bahasa, dan format antara majalah-majalah sejenis –misalnya majalah busana, majalah sastra, atau majalah mingguan— menjadi sangat mirip. Standarisasi ini merupakan dampak tak terelakkan dari industrialisasi media, mekanisasi, urbanisasi, dan redistribusi pendapatan. Media telah berubah dari seni menjadi industri yang harus menggunakan teknik-teknik produksi massal.

Lama-kelamaan, pengasuh majalah harus mengikuti jenis artikel yang sudah terbukti diminati pembaca, dan ia sama sekali tidak bisa leluasa memilih menurut penilaiannya sendiri. Karakter majalah harus disesuaikan dengan selera pasar. Walter Hines Page, misalnya, pernah mengasuh majalah Forum pada 1187-1895. Ia mengejutkan semua stafnya karena menyusun langsung daftar isi majalahnya sekian bulan ke muka, dan langsung menentukan jenis-jenis artikel yang harus dicari. Ia melakukan semua ini cukup dengan menyimak artikel apa saja yang sudah terbukti diminati pembaca. Praktik seperti ini kini sudah lazim di hampir semua majalah.

Imitasi dan peniruan juga terjadi dalam proses standarisasi majalah. Setiap gagasan yang sukses akan segera beramai-ramai ditiru. Pada tahun 1922, seorang pemuda bernama DeWitt Wallace senang membaca semua majalah yang ada, lalu memilih dan menghimpun artikel-artikel yang dianggapnya paling baik atau menarik. Dari kebiasaan ini, timbul ide untuk menerbitkan sebuah majalah ringkas yang hanya memuat artikel-artikel bermutu. Maka lahirlah Reader’s Digest, yang sampai sekarang merupakan majalah dengan tiras terbanyak di seluruh dunia. Tidak lama berselang, sekian banyak majalah sejenis bermunculan sehingga istilah digest merujuk ke jenis majalah seperti itu. Kalau ada jenis majalah baru, misalnya khusus memuat cerita-cerita detektif, pengakuan pribadi, berita hangat, majalah khusus yang memuat foto-foto menarik, majalah petualangan, dan sebagainya, yang meraih sukses maka sekian banyak tiruannya akan segera menyerbu. (ah)

Tuesday, January 10, 2006

Hikayat Para Pengembara

Tahu fenomena mudik lebaran? Barangkali, Anda malah salah satu yang setia melakukannya setiap tahun. Tidak peduli kaya-miskin, tua-muda, lelaki-wanita, semuanya berbondong-bondong menempuh jarak ratusan hingga ribuan kilometer demi bisa kembali ke kampung halaman. “Ritual tahunan” itu seolah menjadi kewajiban bagi banyak orang.

Di dunia fauna, kejadian “mudik” sesungguhnya banyak terjadi. Ada banyak spesies hewan di alam yang keterikatannya kepada tempat asal amat tinggi. Tentu saja, motif perpindahannya berbeda-beda. Dan ini menajdikan fenomena tersebut sebagai bahan penelitian menarik bagi para peneliti sejak puluhan tahun silam.

Tengok saja, misalnya, burung pelikan. Di daerah dengan empat musim, menjelang datangnya musim dingin, burung-burung ini berbondong-bondong terbang menuju daerah dan perairan yang lebih hangat. Yang dicari adalah ruang lebih nyaman untuk tempat tumbuh dan dewasanya anak-anak mereka, juga ketersediaan sumberdaya makanan yang berlimpah, yakni ikan, yang banyak terdapat di perairan bersuhu hangat. Kelak, setelah anak-anak pelikan menjadi cukup dewasa, mereka pulang kembali ke daerah asalnya, yang sudah memasuki musim semi atau panas. Mereka tinggal di sana hingga musim gugur. Lalu, upacara tahunan migrasi dan mudik terulang kembali.

Konon, migrasi burung ini amat terbantu dengan kondisi bumi yang merupakan sebuah medan magnet super-raksasa. Para hewan merasakan manfaatnya. Antara dua kutub bumi merupakan medan magnet yang kekuatannya bervariasi. Burung yang ‘pindah rumah’ sementara, dalam kenyataannya tidak pernah mengalami kesalahan menuju lokasi yang mereka tuju. Padahal mereka terbang malam hari, atau pada saat cuaca tak bersahabat sekali pun.

Jenis burung Robin, umpamanya, jika ditaruh di kandang persis sebelum masa berangkat migrasi, posisi bertenggernya ternyata menghadap tujuan yang diinginkan. Para ahli bilang, selain tanda-tanda dari langit, burung menggunakan kemampuannya mendeteksi medan magnet di sekitarnya. Jika medan ini kacau, mereka kehilangan orientasi. Karena itulah, ketika belasan tahun lalu sekelompok burung pelikan tahu-tahu nyasar ke Indonesia dan memenuhi pantai-pantai kita, kekacauan magnet bumi itu bisa jadi merupakan penyebabnya. Wallahu a’lam.

Lebih gigih

Dibanding manusia, perjalanan hewan-hewan tersebut dari menetas hingga melakukan perjalanan besarnya ternyata lebih teratur, konsisten, dan lebih gigih. Kalau mudik ala manusia separah-parahnya menguras uang di kantong, fauna ini justru menantang mara bahaya menuju tempat asalnya, untuk setor nyawa. Mati.

Salmon Atlantik adalah salah satu contoh. Ikan ini dikenal sebagai pengembara dunia. Ikan ini termasuk jenis anadromous, yang berpijah di air tawar, tapi menghabiskan sebagian hidupnya di laut. Deskripsi ilmiah tentang perjalanan Salmon Atlantik sejak usai memijah, hidup di laut, hingga kembali ke hulu untuk memijah, telah didokumentasikan sejak tahun 1700-an. Begitu pun, tetap saja banyak hal yang belum diketahui.

Wilayah bersejarah salmon ini meliputi Samudera Atlantik Utara dan anak-anak sungainya dari Ungava Bay ke Danau Ontario, menuju Selatan ke Connecticut di Amerika, dari Laut Putih Rusia, ke Portugal menuju pesisir atau pantai-pantai Eropa. Sayangnya, banyak perjalanan ini yang sudah mulai berkurang, atau bahkan punah. Namun, perjalanan eksotik salmon masih bisa ditemui di sungai-sungai di kawasan Irlandia, Inggis, Kanada, Kepualauan Faroe, Islandia, Norwegia, Finlandia, Rusia, Prancis, Spanyol, Kanada, dan Amerika Serikat.

Parr, Smolt, Turun Gunung

Salmon banyak mengalami perubahan tahapan dan ciri selama siklus hidupnya. Saat memijah di hulu-hulu sungai, telur –telurnya yang seukuran kacang ijo akan dilepaskan oleh betina dan di sarang-sarang di tepi sungai, pada musim gugur. Beberapa jenis salmon betina biasanya menggali sarang dengan ekornya, meletakkan telur di sarang tersebut. Tiap sarang berisi 500 hingga 1200 butir telur. Hanya 20 sampai 100 butir yang bertahan menetas menjadi larva dan ikan muda.

Pada awal musim semi, ribuan larva salmon (alevin) muncul. Ukurannya sekitar 2 sentimeter. Mereka bertahan hidup dengan kantong kuning telur di perutnya, yang lazim disebut yolk salk. Fungsi kantong ini adalah sebagai penyedia sumber makanan selama usia larva. Untuk menghindari pemangsa alami di perairan, makhluk kecil lemah itu bersembunyi di balik bebatuan. Dan ketika kantung kuning telur itu habis, ikan-ikan muda itu mulai berjuang menuju ruang air yang lebih luas. Mereka tinggal hingga ikan muda (fry) hingga mencapai panjang 8 sentimeter.

Jika para salmon mulai memiliki tanda khas vertikal di bagian punggungnya, itu artinya mereka masuk tahapan parr. Tanda parr –terdapat di punggung di sepanjang sisi tubuh dan berwarna gelap-- berfungsi sebagai alat kamuflase dari pandangan pemangsa atau predator. Kumpulan parr ini tetap tinggal di sungai selama 2 hingga 6 tahun, tergantung temperatur dan suplai pakan yang tersedia.

Ketika ikan-ikan ini sudab mencapai panjang 12 sampai 24 sentimeter, mereka mulai menjalani transformasi musim seminya menjadi smolt. Tanda parr yang tadinya jelas tampak, kni berganti menjadi tanda keperakan. Jangan salah, ini justru menjadi alat kamuflase yang lebih sempurna untuk hidup mereka di laut nantinya. Sistem internal tubuhnya pun mulai perlahan beradaptasi terhadap air laut asin. Dan akhirnya, gerombolan ikan ini memulai perjalanan panjangnya, ‘turun gunung’ menuju laut sebagai tempat mencari makan dan kehidupan baru mereka. Berdasarkan perhitungan peneliti, hanya dua persen salmon yang menetas dan bertahan hidup hingga dewasa.

Mudik dan Mati

Di laut bebas, mereka tumbuh pesat dengan memakan udang-udangan dan ikan kecil. Meski demikian, salmon juga mesti pintar-pintar berkelit menghindari predator seperti ikan carnivora yang lebih besar, dan mamalia laut lainnya.

Setelah hidup 1-2 tahun di laut, mereka menjalani kembali melakoni perjalanan ziarah ke tanah leluhur, ke anak sungai di hulu tempat asal mereka. Inilah yang menakjubkan. Betapa tidak. Para salmon kembali dengan tepat ke tempat asal mereka menetas. Tidak ada yang keliru atau nyasar, misalnya salmon asal anak sungai A mudik ke anak sungai B.

Dan perjalanan pulang ini betul-betul melelahkan serta penuh mara bahaya. Ikan-ikan itu harus menempuh jarak tak kurang dari 4000 kilometer dari laut bebas menuju hulu. Jika mereka pulang ke hulu saat musim dingin berlangsung di lautan, mereka disebut grilse. Salmon atlantik akan memasuki sungai sekitar bulan April dan November, menapaki jalan ke hulu, mampu melompati rintangan hingga 3 meter tingginya, termasuk air terjun dan riam.

Banyak di antara ikan itu yang “gugur” di tengah jalan, karena dimangsa hewan darat, ditangkapi manusia, atau kena penyakit. Karena itu pula, di beberapa negara, ditetapkan larangan menangkap salmon sepanjang jalur pulang-perginya. Sisanya yang bertahan, bisa mencapai hulu sungai, kampung halaman mereka, dan memijah pada akhir musim gugur. Yang lebih mengharukan, usai menunaikan tugas mulianya –meneruskan rantai keturunan-- mereka pun mati.


Ada beberapa populasi yang tak sempat ke laut selama hidupnya. Mereka tertahan di danau-danau dan sistem sungai di area yang berbatasan dengan Laut Utara. Ikan-ikan ini tetap mengikuti siklus hidup sebagaimana salmon yang bermigrasi ke laut, kecuali bahwa daerah migrasinya adalah antara areal pencarian makanan (feeding ground di perairan dalam danau menuju perairan tempat memijah di daerah yang lebih dangkal. Ukuran rata-rata dewasanya 20-60 sentimeter, dengan berat kurang dari 4 kilogram,

Mudik ke Laut

Sebaliknya, ada ikan yang menjalani mudiknya menuju laut. Sidat atau disebut juga moa atau eel (Anguila sp), merupakan ikan menyerupai belut sawah, tapi mempunyai sirip dan ekor.

Beberapa jenis ikan ini, yang dikenal sebagai ikan pengembara, merampungkan sebagian siklus hidupnya di air tawar atau sekitar pantai. Musim pemijahannya dipercaya dilakukan pada musim semi. Misalnya sidat di Laut Sargasso, antara Bermuda dan Bahama. Sidat betina bisa membawa hingga 10 juta telur, yang nantinya berkembang menjadi larva yang disebut leptocephalus. Larva-larva ini bermigrasi ke pesisir Eropa mengikuti arus samudera. Perjalanannya menghabiskan waktu hinga 12 bulan. Larva berenang dengan kecepatan antara 1 hingga 5 mil per jam.

Saat mencapai Eropa, mereka berubah menjadi tahapan sidat kaca (glass eel). Mereka memasuki perairan tawar selama musim semi dan puncak migrasinya terjadi ketika pasang naik bulan April dan Mei. Saat itu, sidat muda itu berubah warna menjadi lebih gelap, dan dengan memanfaatkan arus pasang naik mereka tercegah dari terseret arus surut. Soalnya, kalau ini terjadi, sidat-sidat ini akan menjadi santapan lezat bagi nelayan pencari sidat dan predator lainnya.

Ada sidat yang tinggal dan hidup menetap di perairan payau. Di situ mereka makan dan tumbuh, sementara yang lain bermigrasi pulang-pergi menuju atau dari perairan tawar sepanjang hidupnya. Sidat hidup dekat dasar sungai dan danau. Mereka bermigrasi dengan pelan ke hulu. Selama periode ini, biasanya mereka disebut sebagai sidat kuning atau coklat, mengacu warnanya tubuhnya. Sidat jantan umumnya hidup di tempat yang lebih rendah, sementara betina kebanyakan mampu bergerak jauh ke hulu.

Untuk bertahan dan tumbuh, sidat memangsa invertebrata. Individu yang lebih besar ukurannya bisa pula memangsa ikan-ikan kecil. Walau bukti ilmiah tidak ditemukan, sidat biasanya suka dituduh sebagai hewan yang memangsa telur dan larva salmon. Yang jantan tinggal di perairan tawar 7 hingga 12 tahun sampai tingkat matang kelamin, dengan ukuran tubuh mencapai 26 sentimeter. Sidat betina tinggal lebih lama, 9 hingga 16 tahun, dengan ukuran lebih besar, sekitar 46 sentimeter. Hewan ini dapat hidup dan tumbuh lebih panjang hingga mencapai semeter.

Saat sudah matang kelamin, mereka berubah warna menjadi biru/perak (dikenal dengan sebutan sidat perak). Kemudian sidat-sidat bermigrasi kembali ke laut selama musim gugur. Kegelapan malam atau cuaca yang buruk malah justru membantu mudiknya mereka lebih lancar, tanpa gangguan pemangsa.

Begitu sampai di Laut Sargasso, sidat-sidat memijah dan akhirnya mati. Larva dan anak sidatlah yang kelak mengulangi lagi jejak induk dan para leluhurnya: lahir di laut, mengembara ke sungai, dan akhirnya kembali ke laut. Kematian yang indah dan penuh makna...(ah)

Friday, December 23, 2005

Menguak Misteri Lamun

Bicara soal kekayaan alam laut, asosiasi kita biasanya langsung tertuju pada terumbu karang, yang kerap disebut sebagai “hutan laut”. Terumbu karang sudah lazim dikenal keindahan warna-warni karangnya, berikut ikan dan hewan lain yang hidup di kawasan tersebut. Atau, ada juga yang langsung menunjuk hutan bakau atau mangrove. Ini berupa tanaman khas di kawasan pesisir, yang akarnya menghujam ke perairan dan menjadi tempat berlindung serta mencari makan banyak hewan.

Bagaimana dengan padang lamun? Dari namanya saja, sebagian besar orang bertanya-tanya, jenis kehidupan apa gerangan padang lamun ini. Mengapa disebut padang lamun, apakah ada di Indonesia? Dan yang terpenting, sejauh mana perannya bagi manusia dan kehidupan laut?

Hutan Hijau yang Beradaptasi

Bagi yang belum pernah mengenal lamun, tanaman yang biasa disebut seagrass ini merupakan tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang sudah sepenuhnya menyesuaikan diri hidup terbenam di dalam laut. Karena kemampuan adaptasinya, tumbuhan ini mampu hidup di lingkungan laut atau medium air asin. Disebut padang lamun, karena ia tumbuh dalam satu kawasan luas, yang jika dilihat mirip dengan bentangan padang rumput di darat.

Tanaman lamun bisa hidup normal dalam keadaan terbenam, dan mempunyai sistem perakaran jangkar (rhizoma) yang berkembang baik. Mengingat pada dasarnya tak berbeda dengan tanaman darat, maka lamun punya keunikan yaitu memiliki bunga dan buah yang kemudian berkembang menjadi benih. Semuanya dilakukan dalam keadaan terbenam di perairan laut. Hal inilah yang menjadi perbedaan nyata lamun dengan tumbuhan yang hidup terbenam di laut lainnya seperti makro-alga atau rumput laut (seaweed).

Untuk bisa hidup normal, akar tanaman lamun cukup kuat menghujam ke dasar perairan tempat tumbuh. Akar ini tidak berfungsi penting dalam pengambilan air –sebagaimana tanaman darat-- karena daun dapat menyerap nutrien (zat gizi) secara langsung dari dalam air lat. Tudung akarnya dapat menyerap nutrien dan melakukan fiksasi nitrogen. Sementara itu, untuk menjaga agar tubuhnya tetap mengapung dalam kolom air, lamun dilengkapi dengan rongga udara.

Lamun tumbuh subur terutama di daerah terbuka pasang surut dan perairan pantai yang dasarnya bisa berupa lumpur, pasir, kerikil, dan patahan karang mati, dengan kedalaman hingga empat meter. Malah di perairan yang sangat jernih, beberapa jenis lamun ditemukan tumbuh di kedalaman 8 hingga 15 meter.


Di daratan kita sering melihat, misalnya, hutan pinus. Sejauh mata memandang, hutan tersebut melulu diisi dengan pinus. Di tempat lain, ada pula hutan yang berisi aneka ragam jenis pohon. Demikian juga halnya dengan padang lamun, Di suatu tempat, ia dapat berbentuk vegetasi tunggal, tersusun atas satu jenis lamun yang tumbuh membentuk padang lebat. Sementara di tempat lain, ada vegetasi campuran yang terdiri dari dua hingga dua belas jenis lamun yang tumbuh bersama-sama.

Spesies lamun yang biasanya tumbuh dengan vegetasi tunggal adalah Thalassia hemprichii, Enhalus acoroides, Halophila ovalis, Halodule uninervis, Cymodocea serrulata, dan Thalassodendron ciliatum.

Kaya Sumber Daya

Sebagaimana terumbu karang, padang lamun menjadi menarik karena wilayahnya sering menjadi tempat berkumpul berbagai flora dan fauna akuatik lain dengan berbagai tujuan dan kepentingan. Di padang lamun juga hidup alga (rumput laut), kerang-kerangan (moluska), beragam jenis ekinodermata (teripang-teripangan), udang, dan berbagai jenis ikan.

Ikan-ikan amat senang tinggal di padang lamun. Ada jenis ikan yang sepanjang hayatnya tinggal di padang lamun, termasuk untuk berpijah (berkembang biak). Beberapa jenis lain memilih tinggal sejak usia muda (juvenil) hingga dewasa, kemudian pergi untuk berpijah di tempat lain. Ada juga yang hanya tinggal selama juvenil. Sebagian lagi memilih tinggal hanya sesaat. Suatu penelitian menunjukkan, jumlah ikan bernilai ekonomis penting yang ditemukan di kawasan padang lamun relatif kecil. Itu berarti bahwa padang lamun lebih merupakan daerah perbesaran bagi ikan-ikan tersebut.

Dari sekian banyak hewan laut, penyu hijau (Chelonia mydas) dan ikan duyung atau dugong (Dugong dugon) adalah dua hewan ‘pencinta berat’ padang lamun. Boleh dikatakan, dua hewan ini amat bergantung pada lamun. Hal ini tak lain karena tumbuhan tersebut merupakan sumber makanan penyu hijau dan dugong. Penyu hijau biasanya menyantap jenis lamun Cymodoceae, Thalassia, dan Halophila. Sedangkan dugong senang memakan jenis Poisidonia dan Halophila. Dugong mengkonsumsi lamun terutama bagian daun dan akar rimpangnya (rhizoma) karena dua bagian ini memiliki kandungan nitrogen cukup tinggi.

Peran Terabaikan

Tak ada satu pun jenis tumbuhan dan hewan di dunia ini yang diciptakan Allah tanpa memiliki fungsi dan peran. Begitu pula padang lamun, di alam berfungsi sebagai penghasil detritus (sampah) dan zat hara yang berguna sebagai makanan bagi makhluk hidup laut lainnya. Detritus daun lamun yang tua diuraikan (dekomposisi) oleh sekumpulan hewan dan jasad renik yang hidup di dasar perairan, seperti teripang, kerang, kepiting, dan bakteri. Hasil penguraian ini berupa nutrien yang tercampur atau terlarut di dalam air. Nutrien ini tidak hanya bermanfaat bagi tumbuhan lamun, melainkan juga bermanfaat untu pertumbuhan fitoplankton, dan selanjutnya zooplankton, dan juvenil ikan/udang.

Di sisi lain, tanaman lamun mampu mengikat sedimen dan menstabilkan substrat yang lunak. Sebagian hewan memanfaatkan lamun sebagai tempat berlindung, mencari makan, tumbuh besar, dan memijah. Juntaian dedaunan lamun juga berguna menjadi tudung pelindung dari sengatan matahari bagi penghuni ekosistem ini.

Indonesia Sarang Lamun

Di Indonesia, lamun yang ditemukan terdiri atas tujuh marga (genera). Dari 20 jenis lamun yang dijumpai di perairan Asia Tenggara, 12 di antaranya dijumpai di Indonesia. Penyebaran padang lamun di Indonesia cukup luas, mencakup hampir seluruh perairan Nusantara yakni Jawa, Sumatera, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara, dan Irian Jaya. Dari seluruh jenis, jenis Thalassia hemprichii merupakan yang paling dominan di Indonesia.

Keanekaragaman hayati lamun yang paling tinggi ada di perairan Teluk Flores dan Lombok, masing-masing ada 11 spesies. Jika dibandingkan, maka keanekaragaman hayati lamun di perairan Indonesia bagian timur ternyata lebih tinggi dibandingkan dengan bagian barat. Hal ini diduga karena posisi daerah bagian timur yang lebih dekat dengan pusat penyebaran lamun di perairan Indo Pasifik, yaitu Filipina (16 jenis) dan Australia Barat yang memiliki 17 jenis.

Padang lamun memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan bagi berbagai kepentingan, misalnya sebagai tempat kegiatan budidaya laut berbagai jenis ikan, kerang-kerangan dan tiram. Karena pemandangannya yang tak kalah eksotik dibandingkan terumbu karang, padang lamun bisa dijadikan tempat rekreasi atau pariwisata. Ia juga bisa diolah sebagai umber pupuk hijau.

Rentan Kerusakan

Sayangnya, ekosistem ini amat rentan terhadap kemerosotan lingkungan yang diakibatkan kegiatan manusia. Di kawasan pantai, manusia melakukan pengerukan dan pengurugan demi pembangunan pemukiman pantai, indusri, dan saluran navigasi. Ini mengakibatkan rusak totalnya padang lamun. Perusakan habitat di lokasi pembuangan hasil pengerukan akhirnya terjadi. Di samping itu, terdapat dampak sekunder pada perairan laut yaitu meningkatnya kekeruhan air, dan terlapisnya insang hewan air oleh lumpur dan tanah hasil pengerukan. Hewan-hewan air tersiksa dan akhirnya mati.

Ancaman juga datang dari pencemaran limbah industri, terutama logam berat dan senyawa organoklorin. Dua jenis bahan berbahaya ini mengakibatkan terjadinya akumulasi (penumpukan kandungan) logam berat padang lamun melalui proses yang disebut magnifikasi biologis. Persis seperti proses penumpukan kandungan merkuri yang menimpa kerang-kerangan di Teluk Jakarta.

Selain itu, tindakan manusia yang suka membuang sampah sembarangan ke laut mengakibatkan turunnya kandungan oksigen terlarut di kawasan padang lamun, serta dapat menimbulkan eutrofikasi (peningkatan kesuburan plankton). Hal ini bisa memancing meledaknya pertumbuhan perifiton, sejenis organisme yang hidup menempel di organisme lain. Perifiton yang banyak menempel membuat daun lamun kesulitan menyerap sinar matahari untuk proses fotosintesisnya. Kejadian serupa terjadi jika terjadi pencemaran minyak yang melapisi permukaan daun lamun.

Ada pula pencemaran limbah pertanian -terutama pestisida- yang mematikan hewan-hewan yang hidup di padang lamun. Pupuk yang masuk ke perairan laut di mana padang lamun terbentang juga memancing timbulnya eutrofikasi.

Padang lamun mungkin kurang populer dibandingkan dengan jenis ekosistem laut lainnya. Tetapi dengan mengetahui peran dan kegunaannya bagi alam dan manusia, kita bisa memahami betapa mengerikannya jika padang lamun juga dirusak dan berkurang habitat hidupnya. (ah)

Sunday, November 20, 2005

Kembali ke Alam

Image hosted by Photobucket.comPekan-pekan terakhir sebelum libur lebaran lalu, saya kedatangan adik dan kakak ipar, yang bergiat di Federasi Serikat Petani Indonesia (FSPI). Sembari melepas kangen, ada kegiatan lain yang cukup menarik minat saya dan istri. Kebetulan, lembaga yang peduli dengan nasib petani ini punya perhatian lebih terhadap sistem pertanian yang ramah lingkungan. Salah satunya, dengan mengembangkan pertanian organik.

Di Bogor, mereka membuka lahan percobaan di kawasan Darmaga, Kampus IPB. Tepatnya sih, di belakang gudang DOLOG Bogor. Maka, Minggu sore tanggal 23 Oktober lalu, kami berempat meluncur ke lahan yang luasnya kurang lebih 7000 meter persegi tersebut.

Apa itu Pertanian Organik?

Image hosted by Photobucket.comMengutip dari beberapa situs di internet, pertanian organik merupakan sistem pertanian yang mempromosikan mutu lingkungan, sosial dan slogan ekonomi dalam memproduksi pangan dan serat. Intinya, sistem ini memberikan penghargaan terhadap kapasitas alami tanaman, hewan dan kondisi lokal, yang bertujuan untuk mengoptimalkan kualitas aspek pertanian dan lingkungan, dan pengendalian penggunaan pupuk sintetis, pestisida dan bahan-bahan farmasi. Pertanian organik secara dramatis mengurangi masukan luar (external input) pertanian.

Yang pernah saya baca, peningkatan produksi dan kesehatan tanaman untuk pertanian model ini berbeda dengan yang dilakukan oleh sistem intensifikasi yang sekarang lazim dilakukan. Untuk sistem organik, peningkatannya dilakukan dengan rotasi tanam, tumpang sari, penanaman varietas yang tepat, pengendalian hama secara biologis, daur ulang nutrisi dan tindakan lainnya.Di dunia saat ini, luas lahan yang bersertifikat pertanian organik diperkirakan mencapai 25 juta hektar. Ada kemungkinan bahwa terdapat 10-20 juta hektar lahan lainnya yang tidak bersertifikat pertanian organik, terutama di negara-negara berkembang (terutama di Amerika Latin), yang sering berkenaan sebagai pertanian ekologi (agro-ecology). Di beberapa negara berkembang, banyak petani yang mempraktikkan salah satu jenis pertanian tradisional yang tidak mengandalkan dan mengijinkan penggunaan masukan (input) yang dibeli. Di sebuah situs diungkap, bahwa di Uganda dan Tanzania rata-rata penggunaan pupuk kimia sintetis adalah kurang dari 1 kg per hektar per tahun. Ini artinya banyak lahan tidak pernah dipupuk.


Image hosted by Photobucket.comSesungguhnya, pertanian organik bukan soal tren atau gaya-gayaan. Basis pengembangan pertanian ini sebenarnya bisa ditarik secara lebih “ideologis”, yakni betapa sesuatu yang alami tengah dipinggirkan oleh artificial semacam pertanian intensif yang tampak mampu memberi keuntungan berlimpah, namun menyimpan sejuta ancaman di belakangnya. Sebut saja pola hama-penyakit yang juga berubah, penggunaan pupuk dan pestisida yang menggila dan mengganggu keseimbangan alam, hingga yang paling menyentuh kepentingan petani: penciptaan ketergantungan mereka pada pupuk dan pestisida buatan pabrik.

Selada, Kangkung, Bayam
Image hosted by Photobucket.com
Letak ladang itu tidak jauh dari rumah, tepatnya ke arah kampus IPB. Yang segera tampak ketika menyusuri pematang ladang pertanian organik ini adalah warna hijau segar selada dan bayam, yang mendominasi beberapa blok tanaman di sebelah selatan ladang. Tanamannya gemuk-gemuk, sehat, dan mengundang decak kagum. Di blok lainnya ada kangkung siap panen. Lalu ada blok berisikan jagung yang baru berbuah, deretan cabai merah, hingga sawi cesin dan kemangi. Nun di sebelah utara, ada beberapa blok dijadikan kolam ikan nila.

Ladang percobaan ini dikelola beberapa tenaga muda lulusan IPB. Mereka tampak berbaur dengan para pekerja lokal di saung yang berdiri tepat di tepi ladang. “Mereka juga kalau malam biasa tidur di situ,” kata adik saya. Hebat. Dalam hati saya agak malu juga. Saya sarjana perikanan, jurusan budidaya pula. Praktik lapang saya di semester akhir dahulu mengambil topik pembibitan dan pembesaran ikan hias air tawar. Sedangkan topik skripsi adalah meneliti bakteri Aeromonas hydrophila yang kerap menyerang ikan budidaya air tawar. Tapi, bujubuneng –kata Mandra- saya menjerumuskan diri ke dunia pers, lalu akhirnya di bidang komunikasi, hingga kini. Masih syukur (!) tiga tahun belakangan saya masih bersinggungan dengan dunia perikanan, tatkala bekerja di proyek pengelolaan sumberdaya pesisir alias CRMP.

Hasil pertanian organik di ladang percobaan ini bahkan sudah mulai dijual secara lokal. Jangan heran, saya dan istri adalah penggemar dan pelanggan tetap. Mereka melepas hasil panen ke sebuah kios milik seorang Ibu di Pasar Yasmin. Pasokannya juga lumayan teratur, sepekan sekali, terutama untuk produk kangkung, bayam, dan kemangi.

Panen Euy…


Image hosted by Photobucket.comTentu, saya dan istri tidak sekadar melihat. Oleh Bang Henry, kami ditawari untuk memanen beberapa jenis tanaman. Maka, kami memetik kangkung, selada, dan bayam. Di blok kacang tanah, saya tak tahan untuk mencoba melihat hasilnya. Tinggal cabut, maka kumpulan kacang tanah segar hasil panen langsung ditumpuk di baskom. Jumlah sayur yang kami ambil cuImage hosted by Photobucket.comkup banyak. Soalnya, mau dibagi-bagikan ke beberapa teman di komplek. Sekalian promosi untuk back to nature, boleh toh? Hitung-hitung jadi voluntary publicist buat gerakan ini.

Sekadar informasi, di Sumatera Utara kampung saya sendiri, pengembangan pertanian organik juga pesat dilakukan oleh FSPI ini. Mereka punya Green Shop tempat memasarkan produk-produk dari ladang pertanian bebas pestisida yang mereka fasilitasi.

Organik di Siantar


Yang menyenangkan lagi, saya berkesempatan sekali lagi mengunjungi lahan pengembangan pertanian organik di Sumatera Utara, tepatnya di pinggiran Kota Pematang Siantar. Ceritanya, saat mudik lebaran, kami sekeluarga sempat berwisata ke Danau Toba. Ketika dalam perjalanan pulang ke Medan, abang ipar saya mengajak kami untuk singgah di pertanian organik yang dikelola oleh Jandri Damanik. Beliau ini alumnus FISIP-USU, tapi segera jatuh hati dengan sistem pertanian organik, dan sempat belajar khusus tentang hal tersebut ke Jepang.

Di ladang seluas sekitar setengah hektar tersebut, pemandangan spektakuler yang pertama kali menyambut adalah ratusan bibit ikan mas merah yang berenang-renang di kolam. Wuih… Kami disambut oleh Jandri (yang punya kebiasaan unik, bicara dengan anak balitanya dalam bahasa Inggris agar si bocah sekalian belajar). Ia mengembangkan juga pembuatan pupuk bokashi, yang mencampurkan beberapa jenis tanaman dan pupuk kandang.

Image hosted by Photobucket.comImage hosted by Photobucket.com Image hosted by Photobucket.com
Image hosted by Photobucket.com
COba lihat! Ikan-ikan yang sehat, bibit tomat, tomat muda, dan pupuk bokashi di ladang....

Di bukit sebelah rumahnya, ada sepetak tanah tempat memelihara ayam. Lalu di atasnya, lahan yang tengah dipersiapkan untuk menanam beberapa jenis sayuran. Saya melihat bibit-bibit tomat yang tengah disiapkan untuk dipindah. Hanya saja, dari segi sistematisasinya, lahan di Darmaga sudah lebih tertata. Kami sempat pula mengambil beberapa paket beras organik sebagai oleh-oleh ke Medan.

Sebenarnya, ada satu tempat lagi yang saya penasaran ingin mengunjunginya, yaitu lahan pertanian organik yang dikelola Hiro, pemuda asal Jepang, di kawasan Berastagi, Tanah Karo. Hiro juga sudah teratur mengirimkan hasil panennya ke Medan untuk dijual. Mungkin lain kali, kalau ada kesempatan, saya ingin mendatangi lahannya tersebut.

Saatnya Dikampanyekan

Produk pertanian organik lokal sendiri, dari yang saya baca di koran, kini mengalami lonjakan peningkatan pangsa pasar nasional. Di harian Pikiran Rakyat, disebutkan oleh Asosiasi Pelaku Agrobisnis Pertanian Organik (Aspaindo), peningkatan itu mencapai 60 persen selama beberapa bulan terakhir. Ini terutama terjadi di sejumlah pasar modern di Bandung dan Jakarta. Tak tanggung-tanggung, permintaan pasar itu dua sampai tiga kali lipat bertambah.

Itu berita bagus. Hanya, sistem pertanian organik hendaknya bertujuan tidak sekadar mengikuti selera pasar. Lebih penting dari itu, kesejahteraan petani kecil, kesadaran untuk mencegah dominasi pemodal melalui penyediaan pupuk pabrik dan pestisida, dan pelestarian lingkungan alam, hendaknya justru dijadikan sasaran utama.

Dari jalan-jalan ke dua lokasi pertanian organik itu, saya jadi makin kesengsem dan suatu saat mungkin akan lebih serius mengkampanyekannya. Namun, setidaknya, jika anda ingin mengetahui soal sistem pertanian ramah lingkungan ini lebih lanjut, dan bagaimana ia dapat membantu memberdayakan petani, silakan kontak kantor FSPI yang ada di Mampang XIV No. 5 (
www.fspi.or.id). Yang ada di sekitar Bogor, silakan datang ke Pasar Yasmin, tepatnya Kios Pa Tani (singkatan dari Pasar Tani), yang dikelola oleh Ibu Ginting. Di sana, insya-allah, tiap minggu pasokan sayur organik dan beras ada disediakan. (ah)