Thursday, March 31, 2005

Dance With the Ghost

Sebelumnya, tak pernah terpikirkan oleh saya untuk bisa mengunjungi Derawan. Letaknya yang jauh di Kalimantan Timur tidak gampang dijangkau angkutan umum. Cara paling cepat tidak lain menggunakan angkutan udara dari Balikpapan menuju Tanjung Redeb, ibukota Kabupaten Berau, yang makan waktu satu jam perjalanan. Lewat darat? Boleh-boleh saja, tetapi butuh waktu 10 kali lipat!

Secara geografis, Kepulauan Derawan berada di semenanjung utara perairan laut Kabupaten Berau. Di kawasan ini, terdapat 31 pulau kecil, tersebar pada tiga kecamatan pesisir yakni Kecamatan Pulau Derawan, Kecamatan Maratua, dan Kecamatan Biduk-biduk. Yang cukup sering dikunjungi di antara puluhan pulau itu adalah Pulau Panjang, Pulau Semama, Pulau Sangalaki, Pulau Kakaban, Pulau Maratua, dan Pulau Derawan sendiri. Ada pula beberapa gosong karang seperti Muaras, Pinaka, Buliulin, Masimbung, dan Tababinga.

Turun dari pesawat ATR-42 milik Trigana Air di Tanjung Redeb, hawa laut sudah terasa. Kota ini tidak terlalu ramai, dan terkesan amat sederhana. Namun tidak susah untuk mencari makanan. Menjelang sore hari, puluhan warung mulai buka, menjajakan berbagai jenis hidangan yang biasa dijumpai di Jakarta, mulai pecel lele, soto lamongan, hingga ayam bakar. Penjualnya juga banyak dari Jawa.

Dari Tanjung Redeb, perjalanan justru baru dimulai. Untuk mencapai Pulau Derawan, orang masih harus menumpang perahu atau kapal. Paling cepat tentu jika memakai boat dengan dua mesin tempel, menyusuri muara Sungai Berau langsung menuju Laut Sulawesi. Total waktu yang diperlukan untuk mencapai Pulau Derawan dengan boat ini adalah 3 jam.

Kami beruntung karena bisa menumpang boat milik The Nature Conservancy, sebuah lembaga swadaya internasional. Di sepanjang perjalanan, cuaca cukup cerah. Musim angin Barat baru saja lewat, sehingga ombak tidak begitu besar. Jika jeli mengamati, sejak bergerak dari sungai di tengah kota tampak benar perubahan karakteristik ekosistem daratan menuju pesisir dan laut. Air sungai yang coklat perlahan-lahan berubah hijau dan akhirnya biru pekat.

Derawan sang Perawan

Tak ada kata yang bisa menggambarkan keindahan Derawan kecuali satu: menakjubkan. Pulau ini tampak tenang dan hening. Semburat merah jingga petang hari membuat pemandangan menjadi sangat eksotis. Dedaunan nyiur melambai-lambai diterpa angin. Perahu-perahu nelayan mengangguk-angguk digoyang riak air laut yang berangsur pasang. Dan, yang bikin semua ternganga, penyu-penyu hijau (Chelonia mydas) dengan santainya melintas di pantai sambil berenang acuh tak acuh. Kalau beruntung, pelancong juga bisa melihat penyu sisik (Erethmochelys fimbriata). Sementara air yang jernih membuat dasar perairan masih jelas terlihat, berikut ikan karang warna-warni yang berenang-renang lincah.

Kepulauan Derawan dikenal dunia sebagai habitat dan tempat bertelur penyu hijau. Penyu ini mencari makan di padang lamun (sea grass) di perairan dangkal Derawan. Yang memprihatinkan, sudah bertahun-tahun telur penyu sebenarnya dilindungi ini terus diambil, sehingga jumlahnya terus menyusut. Dari delapan pulau tempat penyu hijau biasa bertelur, kini jumlahnya tinggal lima pulau.

Nama Derawan sendiri belum banyak didengar orang sebagai tujuan ekowisata, mengingat letaknya yang jauh tersebut. Akan tetapi, wisatawan sudah mencapai daerah ini sejak 12 tahun silam. Biasanya, wisatawan datang dari manca negara, dan sebagian dari mereka adalah peneliti bidang kelautan. Mereka biasanya memilih berenang, snorkeling, dan menyelam (diving). Di malam hari, kegiatan menyelam banyak diminati, karena konon pemandangan bawah laut di kala malam lebih menawarkan sensasi tersendiri.

Saya sendiri sebenarnya berniat ikut menyelam, meski ini kali pertama mencoba penyelaman malam (night diving). Berenam dengan rekan-rekan lain, kami mengambil lokasi penyelaman tak jauh dari pantai. Penyelaman malam membutuhkan lebih banyak konsentrasi, plus perlengkapan tambahan seperti senter. Sayang, saya hanya sempat menyelam hingga kedalaman tiga meteran, sebelum kemudian terkena squeeze akibat perbedaan tekanan udara di dalam dan luar telinga. Sakit sekali rasanya. Meskipun sudah berusaha melakukan penyetaraan (equalizing), rasa sakit tetap mendera. Harus diakui, sudah lama saya tidak menyelam, sehingga kesiapan fisik dan mental tidak prima. Saya batalkan penyelaman dan memilih menunggu rekan-rekan lainnya di atas perahu.

Dari cerita mereka, pemandangan malam hari di bawah laut Derawan memang amat indah. Selain beragam koral dan ikan warna-warni, penyu hijau juga banyak dijumpai tengah beristirahat. “Ada yang sebesar VW Kodok,” kata seorang rekan. Luar biasa. Saya jadi menyesal tidak bisa ambil bagian. Mudah-mudahan lain kali, batin saya menghibur diri. Pulang dari menyelam, kami berkumpul bersama teman-teman lain di penginapan, makan malam sembari berbincang tentang kondisi sumberdaya pesisir dan laut di daerah ini. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 dinihari, sebelum akhirnya satu-satu undur diri ke peraduan.

Demo Paus

Esok paginya, kami bertolak lagi menuju Pulau Maratua. Butuh waktu sekitar satu jam untuk mencapai pulau ini dari Derawan. Pelancong suka mampir di Maratua sebelum ke pulau lain seperti Sangalaki. Di Maratua, ada danau air asin yang unik dan hutan bakau yang rimbun. Beberapa warga juga membuat perahu, yang menjadi tontonan tersendiri.

Di berbagai lokasi di Kepulauan Derawan dapat dijumpai ekosistem terumbu karang yang amat indah. Tempat yang biasa menjadi menjadi tujuan penyelaman atau snorkeling biasanya di Pulau Kakaban dan Sangalaki. Terumbu karang Derawan terdiri atas karang tepi, karang penghalang, dan karang atol (berbentuk cincin). Atol di kepulauan ini telah terbentuk menjadi pulau, bahkan ada yang menjadi danau air asin, seperti yang ditemukan di Kakaban dan Maratua. Malah, Kakaban membuat jatuh hati para peneliti dari berbagai penjuru dunia karena adanya danau laut purba di tengah-tengah daratannya. Danau ini konon terbentuk sekitar 190 ribu tahun silam, dengan luas 459 hektar. Kedalamannya ditaksir hingga 11 meter.

Dari Maratua, kami menuju Kakaban yang tak berpenghuni. Pulau ini baru saja ditetapkan sebagai Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) oleh pemerintah. Di perjalanan inilah kami bertemu pemandangan luar biasa, yang rasanya tak semua orang beruntung mengalaminya. Di sekitar perairan Kakaban, ratusan ikan besar berenang-renang bergerombol. Menurut salah satu aktivis konservasi yang ikut bersama kami, itu adalah rombongan melon-headed whale (paus kepala melon). Ukurannya mirip dengan lumba-lumba. Mereka berlompatan ke sana ke kemari. Sebagian memilih berenang tenang sambil mencari makanan di sekeliling perairan. Kawasan perairan ini memang menjadi lintasan berbagai jenis Cetacean (ikan paus) dari berbagai tempat. Tak heran, kami menghabiskan waktu setengah jam hanya untuk menyaksikan paus-paus ini beraksi.

Mendekati Kakaban, boat terpaksa lempar sauh agak jauh di tengah, mengingat air masih surut. Untuk menuju danau yang amat aneh di tengah pulau ini, orang harus mendaki bukit yang dengan bantuan tangga-tangga kayu. Banyak di antara tangga kondisinya sudah keropos. Akan tetapi tenaga yang dikeluarkan untuk mendaki itu terbayar begitu melihat danau di sela-sela rimbunan pepohonan. Berada di tepi danau ini serasa berada di suatu tempat di masa silam. Perairannya tenang, sunyi, menimbulkan rasa aneh tersendiri.

Saya mencoba snorkeling di tepian danau air asin ini. Dasar perairannya dipenuhi alga Halimeda, sponges jenis Porifera dan ikan gobi. Dan yang paling terkenal, tidak lain ubur-ubur endemik jenis Cassiopea, yang dengan mudah ditemukan melayang-layang di kolom air, dan beberapa jenis ubur-ubur lainnya.

Keluar dari Kakaban, sebagian rombongan memilih menyelam di titik yang biasa disebut Barracuda Point. Mengacu namanya, di sini penyelam bisa melihat aksi gerombolan ratusan ikan barakuda melakukan gerakan berputar hingga membentuk pusaran vertikal. Tak jarang terlihat pula ikan Napoleon (Napoleon Wrasse), pari, hiu bintik putih (white tip shark), dan lain-lain. Snorkeling di wilayah sini pun cukup memuaskan. Terumbu karang terlihat jelas dari permukaan. Malah, kami bisa melihat rekan-rekan yang tengah menyelam di kedalaman sekitar 5 meter.

Suatu penelitian menunjukkan bahwasanya jumlah terumbu karang yang ditemukan di Derawan mencapai 460 hingga 470 spesies. Adapun ikan karang di kawasan Kepulauan Derawan, termasuk Sangalaki dan Kakaban mencapai 872 spesies. Keanekaragaman hayati Derawan dipercaya cuma kalah oleh kawasan Raja Ampat di Papua. Karena itu, tak heran menyelam menjadi kegiatan yang paling diandalkan. Tiap titik penyelaman kabarnya memberikan tantangan yang berlainan. Saat ini sudah ada tiga perusahaan swasata yang membuka resor penyelaman di Derawan dan sekitarnya.

Bertemu sang Hantu

Puas ber-snorkeling dan menyelam di Kakaban, perjalanan dilanjutkan ke Pulau Sangalaki, yang merupakan Taman Wisata Laut. Di pulau ini terdapat penangkaran penyu untuk konservasi. Perairan di sekitar Sangalaki terkenal subur karena efek mekanisme fisika upwelling (penaikan massa air), sehingga zat hara naik yang mengundang plankton berkumpul. Ikan-ikan pun berkumpul di sana untuk memangsa plankton, seperti Manta atau pari hantu (Manta birostris), Tuna (Thunnus sp.) dan Spannish Mackerel (Scomberomorus spp.). Karena itu, meskipun tidak bisa mendarat di pulau karena air masih surut --khawatir boat kandas—kami justru mengalami sesuatu yang paling heboh hari itu.

Ada belasan, bahkan puluhan ikan besar berenang-renang di permukaan memangsa plankton. Dan saya, seumur hidup, baru kali itu menyaksikan Pari Manta alias Pari Hantu dalam jumlah besar berputar-putar sambil membuka mulutnya, menyaring plankton masuk. Tanpa dikomando, hampir semua yang ada dalam perahu berebutan melompat dari kapal, mencebur ke kedalaman laut untuk melihat dari dekat.

Si Hantu ini ukurannya memang amat besar. Tampangnya menyeramkan, sehingga nama hantu memang cocok buatnya. Ia berenang laksana burung, mengepakkan sirip kanan-kirinya, yang jika dihitung lebarnya bisa mencapai 3 sampai 4 meter lebih. Hebatnya, hewan-hewan ini sama sekali tak terusik dengan kehadiran penyelam atau penggemar snorkeling yang mengikutinya. Malah, penyelam tidak khawatir bila pari ini berenang menuju mereka karena justru si Hantu-lah yang kemudian menyingkir. Sungguh si Hantu nan baik hati!

Di tengah-tengah seliweran belasan Hantu itu, saya memberanikan diri mengikuti salah satu dari mereka. Masya Allah, pari itu berada di atas saya, sehingga tampak detil mulutnya yang membuka dan kepakan siripnya yang begitu lebar. Kalau mungkin, saat itu saya ingin berteriak melampiaskan kesenangan karena bertemu momen seperti itu. Sungguh hewan laut yang luar biasa. Allahu Akbar! Kami menghabiskan waktu sekitar 15 menit bercanda bersama ikan-ikan itu. Seorang wisatawan asing tampak begitu takjub dan matanya berbinar-binar. Begitu naik ke perahu, ia mengacungkan jempolnya dan berujar: ”Incredible...!”

Tak terasa, hari sudah menjelang sore. Kami pun bergegas kembali ke Pulau Derawan, mengisi bahan bakar dan kembali ke Tanjung Redeb. Sepanjang jalan, saya masih terbayang-bayang betapa kayanya negeri ini. Apabila semua itu tak dijaga, dan hanya memperhatikan pembangunan belaka, tanpa memperhatikan kelestarian, maka sang Hantu, barakuda, terumbu karang, hingga makhluk lembut seperti ubur-ubur di kawasan ini bakal tinggal cerita. Semoga tangan-tangan jahil tidak diberi kesempatan merusaknya... (ah)

Friday, March 18, 2005

Empat "Cacat Kecil"

Percaya atau tidak, bagi saya bangsa ini tidak akan pernah maju. Setidaknya sampai 10 tahun mendatang. Bukan mau mendoakan hal buruk. Tetapi semua itu semata karena kesimpulan dari perilaku yang dilakukan masyarakat sendiri.

Demokrasi? Berjuang sejajar dengan bangsa lain? Mengejar pertumbuhan ekonomi? Ganyang Malaysia? Lawan antek kapitalis? Berantas korupsi?

S**T! Tidak akan pernah. Maaf, itu faktanya.

Persoalannya, bangsa kita lebih suka bercita-cita dan bermimpi menanggulangi hal-hal besar, daripada mengurusi cacat-cacat “kecil”. Padahal, dari yang kecillah kita dapat memahami bagaimana yang besar. Ada banyak cacat-cacat kecil, yang sadar tidak sadar kita selalu lakukan, dan menjadi “habit” alias kebiasaan, yang sejatinya itu adalah perbuatan buruk, teramat buruk. Dan saya selalu benci dengan orang-orang yang masuk golongan ini. Sampai kapan pun.

Silakan Buang Sampah Sembarangan

Betapa saya sering melihat banyak pria dan wanita, usia 20-40an, pakaian licin tersetrika, parlente pokoknya. Mereka kerap tampak duduk manis di kereta, bis, atau menunggu di halte dan stasiun. Tampilannya bergengsi, dan semua adalah cermin mereka sebagai kelas menengah yang membikin hati iri. Tapi lihatlah adegan berikutnya. Entah itu usai makan roti, membuka kulit buah jeruk atau menyobek bungkus majalah, mereka senantiasa melakukan hal “luar biasa”: sampahnya selalu dibuang begitu saja. Seolah sudah sewajarnya, tidak ada rasa aneh, canggung, apalagi bersalah.

Buang sampah sembarangan memang bukan cuma milik orang bawah/kecil yang kumuh dan lusuh. Kaum mentereng seperti di atas pun sama parahnya. Sampah, bagi mereka ini, ya sekadar sampah, yang harus dibuang segera. Celakanya: dibuang ke sembarang tempat. Kalau sudah begini, bagi saya, wajah cantik kinyis-kinyis, atau pria berdasi mahal, langsung jatuh derajatnya, sama seperti sampah, ketika mereka melakukan kebiasaan buruk itu.

The most egoistic person in the world

Kalau ada yang menanyakan kepada saya, siapakah orang paling egois sedunia, saya tidak menjawab George Bush, Tony Blair, atau John Howard. Jawaban paling tepat untuk itu (menurut saya) adalah para perokok, khususnya perokok di tempat umum.

Merokok juga merupakan aktivitas yang saya tidak akan pernah bisa mengerti seumur hidup. Menghisap nikotin dan tar, berikut asap, ditelan lewat mulut, melalui tenggorokan, yang entah berapa juta bakteri nempel di sana, lalu masuk sebagian ke paru-parunya, dan separo lagi mengalir ke saluran hidung (entah kuman dan lendir apa saja yang ada di situ), untuk kemudian dihembuskan ke luar. Dan orang-orang di sekitarnya, yang tidak ada urusan dengannya, tidak pernah menyakitinya, tidak berbuat dosa kepadanya, tiba-tiba dipaksa menyedot asap yang sudah mampir dari mulut, tenggorokan, dan rongga hidungnya yang menjijikkan. Bayangkanlah...

Lebih gila lagi, ketika ditegur, si perokok malah marah, dengan dalih hak asasi. Lho, mana kata hak asasi itu ketika ia menghembuskan asap seenaknya ke khalayak?

Membangun Kerajaan di Jalanan

Tiga hari silam saya seperti biasa naik sepeda motor pagi hari ke stasiun. Di persimpangan Jalan Baru Bogor, saya harus berbelok ke kanan, menuju Cimanggu. Dari arah sana menuju Jalan Baru, kenderaan berderet-deret; macet. Sementara sebaliknya jalur ke sana lebih lengang.

Tahu-tahu ada mobil L-300 mengangkut anak sekolah dengan santainya mengambil jalur itu dari arah Cimanggu. Dapat ditebak, semua kendaraan menuju sana jadi terhambat, dan akhirnya berhadap-hadapan dengan mobil itu (rupanya itu mobil yang mengantar anak sekolahan). Tentu saja tindakan supir gelo ini tidak dapat diterima. Eh, dia malah tanpa rasa bersalah menyuruh semua pengendara jalan pelan-pelan (harusnya dia yang mundur dan minta maaf karena mengambil jalur salah). Waktu saya tegur dia dengan kalimat ia seharusnya tertib, saya dihadiahi sebuah kata yang “indah” berikut wajah penuh amarah (hm, belajar dari mana dia ya, televisi? Saya sering lihat tampang marah seperti itu di hampir setiap sinetron): “MONYET kamu!”

Saudara, yang menegur anda karena kebenaran saja disebut monyet, lalu bagaimana dia mendefinisikan dirinya sendiri? Babi, ulat keket, atau apa?

Jalanan seperti menjadi kerajaan tersendiri bagi setiap orang. Jalanan membuat orang yang salah tiba-tiba menjadi penguasa, dan orang yang taat peraturan tiba-tiba menjadi pesakitan. Mungkin anda pernah mengalami, ketika lampu merah menyala dan semua pengendara antri, tiba-tiba dari arah belakang makian supir menghampiri kita diiringi suara klakson bertubi-tubi, hanya karena meminta kita menerobos jalan, sebab persimpangan lengang. Persoalannya adalah: apakah karena jalanan lengang, maka lampu rambu jalan otomatis tidak perlu diindahkan? Atau, apa guna marka jalan? Gunanya, sudah pasti, untuk dilanggar.

Time is Mine, Not Yours

Kalau semisal anda diundang pengajian pukul 19.30 malam, pukul berapa anda tiba di tempat pengajian? Jawab paling jujur mungkin pukul 20.00. Kenapa? Karena kalau kita datang pukul 19.30, kita bakal disebut sebagai orang paling pandir di dunia, mengingat jam segitu berarti anda lah orang pertama yang hadir.

Lihatlah undangan-undangan rapat dan seminar. Kebanyakan waktu yang tertulis tidak bisa ditepati. Malah sengaja dibuat dengan memasukkan unsur keterlambatan sekian menit sebagai skenario.

Susah bagi banyak dari kita untuk datang tepat waktu, dan meninggalkan yang datang terlambat. Ada seseorang yang pernah terlambat datang di suatu taklim dengan tanpa alasan yang kuat. Ketika ia ditolak masuk ke majelis oleh sang guru, yang muncul adalah reaksi ngambek, tersinggung, dipermalukan, dan marah, lalu tidak pernah lagi menghadiri taklim tersebut. Siapa salah siapa yang benar?

Jangan Pernah Berharap

Lagi-lagi, bagi saya, selama orang-orang Indonesia ini tidak bisa mengubah empat perilaku di atas, maka selamanya jangan pernah berharap kita bisa keluar dari krisis, dan menggapai kemakmuran. Nonsens.

Jangan pernah mengeluh soal penanganan korupsi yang lemah, DPR yang seperti TK, BBM yang naik, harkat bangsa yang terpuruk, atau kemajuan yang malah menjauh. Jangan, jangan pernah mengeluh soal itu. Tanya dulu diri kita masing-masing, apakah empat cacat kecil itu masih kita lakukan atau tidak. Jika masih melakukannya, janganlah lagi mengajukan pertanyaan. Percuma. Anda sama saja dengan mempermalukan diri sendiri. (ah)

Monday, March 14, 2005

Rayuan Pulau Sebesi

Image hosted by Photobucket.comNIAT mengunjungi "pulau bundar" ini sebenarnya sudah terbetik sejak lama. Kesempatan datang pertama kali sewaktu undangan peresmian daerah perlindungan laut (DPL) berbasis masyarakat di Pulau Sebesi datang, beberapa bulan silam. Sayang, waktu itu saya harus bertugas ke Balikpapan, sehingga peluang ini terlewat.

Lama tertunda, kali ini kesempatan kedua datang. Bersama Dr. Budi Wiryawan dan beberapa rekan, saya bertolak ke pulau tersebut pagi-pagi sekali, sehari setelah selesai acara di Bandar Lampung.

Durian dan Telat

Malam sebelum berangkat, rombongan kami dari Bogor menyempatkan diri menyantap durian yang dijajakan di sekitar kota Bandarlampung. Memang, musimnya sudah lewat, tapi tetap saja jajaran buah lezat tersebut di tepian jalan cukup mengundang selera. Lebih-lebih, beberapa rekan sudah melakukan persiapan yang aduhai. Mereka membawa wadah plastik sendiri untuk menempatkan daging buah durian sehingga bisa dibawa pulang, tanpa harus mengangkut buah utuhnya --yang harumnya cukup bikin mabok. Harganya pun terbilang sudah tak murah lagi. Paling rendah 9000 perak, itu pun harus pintar-pintar memilih. Saya dan beberapa teman lebih memilih mencari durian usai kembali dari pulau. Konon, di sepanjang jalan menuju Pelabuhan Canti, Kalianda, beberapa penduduk menjual durian yang langsung jatuh dari pohon.

Sebagaimana direncanakan, esok paginya kami -siap check out dari Hotel Sheraton Bandarlampung. Ada dua mobil yang kami pakai untuk menuju Pelabuhan Canti, sebagai titik tolak menuju Sebesi. Sedangkan rombongan lain memilih melakukan perjalanan ke Desa Pematang Pasir, Lampung Selatan. Awalnya, niatan kuat beberapa di antara kami adalah menjajal lokasi DPL di Pulau Sebesi untuk diselami (diving). Terumbu karang di sana dilaporkan patut dinikmati. Kebetulan, mayoritas dari kami sudah pernah menyelam. Perlengkapan pun, menurut Irfan, Extension Officer di Pulau Sebesi, bisa disediakan.

Tapi mengingat waktu, dan konon arus yang lumayan serius, membuat niat menyelam surut. Yang terbayang kemudian adalah, kami meninjau Sebesi lalu meneruskan perjalanan ke Kepulauan Krakatau, yang memang berdekatan dengan Sebesi. Alternatif ini tampaknya yang paling diminati.

Sayang, kami bergerak agak lambat. Baru setelah lewat pukul 8 pagi kami meninggalkan kota menuju Pelabuhan Canti di Kalianda. Perjalanan ke sana membutuhkan waktu sekitar satu jam. Untung jalanannya lumayan mulus, baik jalan utama yang biasa dilintasi oleh kendaraan yang menuju Jawa atau sebaliknya menuju Sumatera, maupun jalan dari pertigaan Kalianda menuju Canti.

Petai dan Gagal Diving

Image hosted by Photobucket.comSetelah menempuh perjalanan selama lebih kurang satu jam, kami memasuki Pelabuhan Canti. Pelabuhan ini tak besar-besar amat, tapi merupakan tempat yang penting bagi penduduk tersebar dan bermukim di pulau-pulau kecil di Teluk Lampung. Canti menjadi pelabuhan tempat mereka meneruskan perjalanan ke kota untuk berbelanja atau menjual hasil bumi. Bertepatan dengan tibanya kami, sebuah kapal dari Pulau Sebuku baru saja merapat membawa bermacam hasil bumi. Yang paling mencolok adalah puluhan ikat petai yang, ehm, benar-benar mengundang minat. Pasus, rekan saya di kantor, tanpa pikir panjang langsung menawar buah pembangkit selera itu. Murah, seikat petai yang terdiri atas 100 lajur petai dilego seharga Rp 15 ribu.

Samar-samar di kejauhan, tampak bayangan pulau yang menjadi tujuan kami. Kebetulan perahu yang dicarter sudah siap. Namun kabar kurang menggembirakan kami terima dari awak kapal. Mereka menyebut perjalanan menuju Krakatau agak sulit karena arus dan ombak lumayan besar. Laju kapal akan terhambat, apalagi hari sudah menjelang siang. Sedikit saja berpindah ke petang, ombak bisa jadi persoalan serius.

Akhirnya kami sepakat untuk menuju Sebesi saja, dan sisanya, melihat kemungkinan yang tersedia di sana. Kapal mulai melaju menuju Sebesi. Beberapa dari kami lebih memilih duduk di atap kapal karena pemandangan lebih luas dan angin lebih banyak. Cuma, suara mesin yang keluar dari cerobong cukup memekakkan telinga sehingga untuk berbicara kami harus saling teriak.

Kelapa dan Pepes Cumi

Secara geografis, Pulau Sebesi terletak di Teluk Lampung dan merupakan wilayah administratif Desa Tejang Pulau Sebesi, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan. Pulau ini berjarak tepatnya 16 kilometer sebelah Tenggara Pulau Sumatera dengan luas 2620 hektare dan panjang pantai 19,55 kilometer. Desa Tejang terdiri atas 4 dusun yakni Regahan Lada, Segenom, Tejang, dan Gubuk Seng. Terdapat pulau-pulau yang berdekatan dengan Sebesi, baik yang memiliki penghuni maupun tidak seperti Pulau Sebuku, Pulau Umang, dan Pulau Sawo.

Apa yang sebenarnya menarik dari Pulau Sebesi? Sesungguhnya, pulau ini amat potensial karena kaya akan berbagai sumberdaya alam, baik di daratan maupun wilayah pesisir dan lautan, antara lain perkebunan cengkeh, kelapa, hutan, terumbu karang, mangrove, padang lamun (sea grass) dan sebagainya. Letaknya pun cukup dekat dengan kawasan Kepulauan Krakatau, yang sudah terkenal di penjuru dunia sebagai kawasan wisata eksotis.

Banyak wisatawan lokal dan mancanegara tertarik mengunjungi kawasan kepulauan tersebut yang terdiri dari Pulau Sertung, Pulau Anak Krakakatau, Pulau Krakakatau Kecil, dan Pulau Krakatau. Karena dekat dengan Krakatau, Sebesi sering dipakai sebagai tempat persinggahan semalam bagi pelancong yang hendak mengunjungi Krakatau dan sekitarnya. Karena itu pula di Sebesi terdapat sebuah penginapan yang diusahakan oleh perseorangan.

Dari Pelabuhan Canti ini, Pulau Sebesi dan Krakatau sama-sama dapat dicapai dengan waktu tempuh masing-masing sekitar 1 dan 2 jam. Selain itu, pulau ini juga bisa dicapai melalui Cilegon (Banten) dengan menggunakan perahu motor yang biasa mengangkut kelapa atau kopra. Terdapat tiga fasilitas dermaga yang menghubungkan dusun desa dengan daerah luar Sebesi. Ketiga dermaga tersebut terletak masing-masing di desa Inpres, Segenom, dan Regahan Lada. Di dusun Inpres terdapat kantor syahbandar, namun belum aktif sehingga digunakan sebagai pusat informasi pesisir oleh masyarakat setempat.

Sebesi punya bentuk unik; bundar. Dari kejauhan, wujudnya cukup gagah, dengan bukit yang menjulang tinggi, dan tubuh pulau yang tertutupi dengan pohon kelapa menghijau. Buah itu memang banyak terdapat di Sebesi sehingga sering diolah menjadi kopra dan diangkut ke Banten atau Sumatera. Sebagian daratan pulau ini tersusun dari endapan gunung api muda dan merupakan daratan perbukitan. Bukit yang tertinggi di Pulau Sebesi mencapai 884 meter dari permukaan laut berbentuk kerucut yang memiliki tiga puncak.

Selain terdapat pemandangan terumbu karang yang indah, juga terdapat potensi lainnya seperti perikanan, kehutanan, pertanian/perkebunan yang dapat dikembangkan untuk menunjang peningkatan kesejahteraan penduduk setempat. Sebagai contoh, Sebesi terkenal dengan hasil cumi-cuminya. Biasanya, musim tangkap cumi-cumi mulai berlangsung dari bulan November sampai Februari. Ada juga ikan Selar yang banyak terdapat sekitar Juli - Oktober.

Kami tiba pukul 11.00 langsung beristirahat. Rupanya, warga desa, terutama kelompok masyarakat yang selama ini dibina sudah menyiapkan segalanya, termasuk makan siang yang menunya cukup dahsyat. "Pepes cumi-cumi sini cukup dikenal kelezatannya," kata Dr. Budi, berpromosi. Dan ucapannya tidak salah. Menu ikan bakar, pepes cumi, dan lalapan sudah cukup membuat kami semua menambah porsi dengan sendirinya. Belum lagi sajian kelapa muda yang langsung dipetik dari pohon.

Problem dan Belajar

Penduduk Sebesi berjumlah 471 KK atau 2.015 jiwa. Jumlah ini belum termasuk penduduk tidak tetap yang sebagian besar berprofesi sebagai buruh kelapa. Penduduk Pulau Sebesi pada awal sejarahnya merupakan pendatang yang bekerja sebagai buruh di kebun kelapa milik tuan tanah. Mereka berdatangan sejak tahun 1913. Namun lama kelamaan para buruh tersebut mendapat bagian menanami tanah kosong, yang akhirnya membentuk kelompok yang kemudian menjadi sebuah desa yang dipusatkan di desa Inpres.

Selama ini, masyarakat di wilayah pesisir dan lautan Pulau Sebesi mengalami banyak problem pelik, baik di bidang pendidikan, sosial ekonomi, dan lingkungan. Tingkat pendidikan, misalnya, masih amat rendah. Fasilitas yang ada di Pulau Sebesi baru terbatas Sekolah Dasar Negeri yang terletak di Dusun Inpres, Madrasah Ibtidaiyah di Dusun Segenom, dan program Kejar Paket B (setingkat SMP) di Di Dusun Tejang Inpres.

Taraf ekonomi masyarakat juga masih rendah. Dengan tingkat pendidikan yang terbatas, masyarakat tidak mengerti bagaimana cara mengelola sumberdaya alam dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan. Apalagi penduduk luar pulau ikut andil melakukan eksploitasi sumberdaya pesisir dan laut di wilayah Sebesi. Ini ditunjukkan antara lain dengan dengan rusaknya kondisi terumbu karang di sekeliling pulau karena berbagai praktik penangkapan ikan dengan bom dan racun. Walhasil, tangkapan ikan yang nelayan setempat peroleh terus berkurang dari tahun ke tahun.

Mata pencaharian penduduk di sini sebagian besar adalah petani dan nelayan. Nelayan Sebesi terkonsentrasi di Dusun Regahan Lada, Tejang, dan Segenom. Sebagian besar nelayan tersebut merupakann pendatang dari Jawa Barat dan sebagian lagi Bugis. Mereka menangkap ikan dengan cara yang masih tradisional, karena pengetahuan tentang alat tangkap yang lebih maju masih terbatas. Hidup mereka boleh dikatakan amat bergantung pada kemurahan dan kekayaan sumberdayan alam di sekitarnya. Akibatnya, jika sumberdaya itu rusak sedikit saja, maka akan berpengaruh besar terhadap kehidupan mereka.

Masalah yang dihadapi penduduk Pulau Sebesi tampaknya merupakan problem umum yang terjadi pada hampir masyarakat di pulau-pulau kecil di wilayah Indonesia. Cukup ironis juga, mengingat Pulau Sebesi dapat dikatakan tak jauh letaknya dari ibukota propinsi dan negara.

Syukur, dalam upaya mengembalikan kondisi terumbu karang yang telah rusak di Pulau Sebesi, umpamanya, warga bergiat belajar membuat daerah perlindungan laut (DPL) berbasis masyarakat. Merekalah yang mengelola dan mengawasi DPL ini. Selain itu, penduduk mendapat bekal pengetahuan untuk pengelolaan sumberdaya pesisir mereka lewat berbagai penyuluhan, pelatihan, dan kegiatan lainnya.

Daerah Perlindungan Laut atau marine sanctuary sendiri adalah kawasan laut yang ditetapkan dan diatur sebagai daerah “larang ambil”. Secara permanen, kawasan ini tertutup untuk berbagai aktivitas pemanfaatan yang bersifat ekstraktif/pengambilan. Cara ini diyakini efektif dalam mengurangi kerusakan ekosistem pesisir yaitu dengan melindungi habitat penting di wilayah pesisir, khususnya ekosistem terumbu karang. Selain itu DPL juga penting bagi masyarakat setempat sebagai salah satu cara meningkatkan produksi perikanan (terutama ikan yang berasosiasi dengan terumbu karang), memperoleh pendapatan tambahan melalui kegiatan penyelaman wisata bahari, dan pemberdayaan masyarakat dalam perencanaan dan pengelolaan sumberdaya mereka.

Masyarakat desa menegakkan sebuah aturan yang mesti dipatuhi bersama. Aturan itu disusun bersama oleh masyarakat dengan tujuan melindungi terumbu karang yang ada dalam wilayah DPL. Mereka pun membentuk kelompok yang berfungsi mengelola DPL. Untuk berjaga-jaga, mereka berusaha melakukan penangkapan terhadap nelayan perusak yang melakukan aktifitas merusak seperti membom , bius, trawl, dan lain-lain.

Snorkeling dan Kram

Image hosted by Photobucket.comUsai bersantap, kami bertolak menuju Dusun Regahan Lada. Kendaraannya adalah ojek, yang harus berliku-liku menyusuri jalan setapak dan semak belukar. Hanya ada satu lajur jalan yang lumayan bagus, meski tetap berdebu, yang melintasi kantor kepala desa.

Pantai di Regahan Lada lumayan indah, berpasir putih. Tahu-tahu saja, muncul lagi tawaran untuk melakuka snorkeling (berenang di permukaan dengan menggunakan masker/snorkel) di DPL yang selama ini sudah dibentuk dan dikelola oleh masyarakat. Kebetulan, terdapat dua perahu klotok milik badan pengelola yang bisa dimanfaatkan. Repotnya, karena tak mengira harus berbasah-basah, saya tidak membawa salinan baju sama sekali. Tapi tawaran ini rasanya sulit ditolak.

Akhirnya, kami berlima, termasuk Dr. Budi Wiryawan, naik ke perahu dan menuju DPL di kawasan Sianas. Tak jauh, sekitar 5 menit dari pantai. Dari penelitian yang dilakukan sebelumnya, diketahu bahwa sepanjang pantai Sebesi ditumbuhi terumbu karang yang indah dan menarik hati. Terumbu karang ini dapat ditemukan sampai kedalaman 10 meter dari permukaan laut.

Luas areal terumbu karang itu total mencapai 58,8 hektare, yang terdiri dari tutupan karang hidup seluas 31,6 hektare, dan sisanya 27,3 hektare berupa karang mati (pecahan karang). Lokasi DPL sendiri ada di 4 kawasan dengan luas kurang lebih 20 hektare, masing-masing di Sianas, Pulau Sawo, Pulau Umang, dan Kayu Duri.

Perairannya cukup jernih. Malah pandangan tanpa bantuan apapun bisa menembus ke bawah. Karangnya cukup rapat dan warna-warni, bagus sekali. Hanya saja, jumlah ikan kelihatan tak terlalu berlimpah. Begitupun, pemandangan ini cukup spektakuler.

Saya turun dari perahu dan langsung melakukan satu putaran sambil melihat-lihat situasi. Karang-karangnya cukup bagus dan dalam kondisi baik. Di sana-sini, ikan Kakaktua (Scarus sp) tampak bersliweran. Ikan jenis ini memang merupakan langganan penghuni terumbu karang. Ikan giru (clown fish, Amphiprion sp) juga banyak terlihat. Indra, rekan saya lainnya yang ikut ber-snorkeling, menunjuk ke satu titik dan berkata, "Platax!". Rupanya ia menemukan Platax sp atau ikan bendera, yang bentuknya sekilas mirip bawal, dengan tubuh pipih dan badan berwarna kuning.

Sekali-sekali, saya melakukan skin diving, yakni masuk ke dalam air dengan tegak lurus dan menyelam mendekati terumbu, untuk menikmati dari dekat pemandangan yang luar biasa ini. Meskipun sensasinya kalah dibandingkan menyelam, snorkeling di kawasan DPL ini cukup menghibur dan memuaskan saya.

Melihat kekayaan alam yang sedemikian bagus, didukung dengan hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan, sesungguhnya potensi sumberdaya alam yang terdapat di pulau ini dapat dikembangkan/dikelola sebagai obyek wisata yang cukup menarik. Khususnya untuk kawasan wilayah pesisir atau pulau kecil di Propinsi Lampung, ia menjadi sarana untuk dapat menenunjang PAD (Pendapatan Asli Daerah). Imbas positifnya akan mengena kepada peningkatan taraf hidup rakyat, yang dapat mengambil keuntungan dari kegiatan pariwisata (ekoturisme) yang dijalankan. Entah kapan ini dapat diwujudkan.

Seperti biasa, saya kena kram dan harus bersusah payah menaiki perahu yang bodinya cukup sempit. Arus di perairan tersebut sore itu lumayan membuat kami harus rajin mengayuh fin agar tidak terdorong ke arah yang tak dikehendaki. Setelah sekitar 1 jam menjelajahi kawasan tersebut, kami memutuskan pulang.

Pulang dan Masuk Angin

Resiko pertama yang harus saya hadapi setelah snorkeling adalah, menahan dingin karena tak punya pakaian pengganti. Setelah mandi, baju kaos yang saya gunakan untuk snorkeling harus saya kenakan kembali, demikian juga dengan celana panjang yang basah kuyup. Kami kembali menuju Canti pukul 4 sore. Saya baru dapat bertukar pakaian kering dalam perjalanan menuju Bakauheni. Akibatnya, dapat ditebak, masuk angin! Kepala pusing dan badan meriang. Untung, setelah mengisi perut, plus jamu anti masuk angin, kondisi saya lumayan pulih.

Bagaimanapun, saya beruntung bisa melihat Pulau Sebesi dengan segenap potensi, kondisi, dan problem yang dihadapinya. Agaknya, ini merupakan kondisi dan problem umum yang dihadapi masyarakat pulau-pulau kecil di Nusantara. Sebuah pekerjaan rumah buat kita semua, yang konon punya nenek moyang para pelaut.... (ah)

Friday, March 04, 2005

Republik (Kereta) Indonesia...

Hmm... Kereta Api. Moda angkutan darat ini termasuk yang paling banyak menemani hidup saya sejak mulai mencari nafkah di Jakarta. Murah, meriah, meski penuh perjuangan dan doa.

Kalo situ mau mandi sauna di spa tapi ndak punya uang, saya sarankan naik KRL ekonomi Bogor-Jakarta aja, ditanggung mirip kok. Malah ada bonusnya segala.
Coba, mana ada ruang sauna di spa yang tiba-tiba bisa lewat bapak separuh baya sambil bawa selebaran sumbangan mesjid: "Assalaaaamu'alaikum...dst...dst." Atau, mana ada di spa lewat tukang tahu yang suka bikin gerr penumpang satu gerbong karena teriak: "Tahu, tahu sumedang, beli 10 bonus cabe...." Kadang-kadang ada juga tukang jual buah yang bualannya bikin bingung: "Apel Bandung, apel Bandung, murah meriah buat ibu-ibu di dapur..." Karena penasaran, ada yang nanya apel bandung itu yang seperti apa. Si tukang dagang dengan enaknya buka keranjangnya. Apa itu? Tomat, saudara-saudara... Norak nggak sih? Atau, kadang nongol juga anak kecil seraya pegang kerecekan dari tutup botol sambil bernyanyi merem-melek niruin Ariel Peter Pan (eh, ini yang mbuntingin anak orang itu ya? Tobatlah, bung): "Ada apaaa denganmuuu..??"

Ya, ada apa denganmu PT KAI? Sejak dahulu jaman kereta kotak-kotak, hingga masuk KRL biru Holec (orang-orang bilangnya si Komo, ntah kenapa, aku tak tahu...), Pakuan ex Jepang, sampai made in dewe keluaran Madiun, rasanya layanan tidak berubah. Tak manusiawi. Penuh sesak, manusia identik dengan sarden kaleng. Bedanya, "sarden-sarden" ini harus bayar duit tiket.

KRL juga zona rawan pelecehan seksual bagi para perempuan. Juga zona enak untuk selingkuh, lho....! Saya pernah tau, satu ketika, pagi-pagi, ketika KRL ekonomi mau "take off" (cie, bahasanya) dari setatsiun Mbogor, eh ada seorang ibu naik dan langsung ke satu gerbong. Di sana, di hadapan seorang wanita karir (bukan carrier) yang molegh bin geboy, itu ibu langsung damprat, "Dasar perempuan %$%@(*$ (sensorrr....). Selidik punya selidik, itu perempuan kantoran rupanya selalu pulang-pergi ke Jakarta bareng suami si ibu, plus beberapa karyawan lain. Istilahnya, mereka bikin geng, lah. Ada yang rela beliin tiket, nge-tek tempat duduk, dan sebangsanya. Dan setan nggak milih tempat, biar KRL ekonomi juga, kalau ada yang bisa digoda, why not (kecuali setan di KitKat 'kali ya, bisa ada gencatan senjata sama malaikat). Dan karena sering bareng-bareng, cin-ka (singkatan dari Cinta Ka Er El, sejenis Cinlok alias cinta lokasi) akhirnya terbentuk. Dan keluarga jadi berantakan....

Dan jangan salah, KRL juga sarang copet, terutama KRL ekonomi. Modusnya primitif punya, nempel sana-nempel sini, terutama pas brenti di stasiun, terus embat tas orang. Yang agak pinter pake cara nyilet. Yang rada sadis ya seperti kejadian copet/todong yang menewaskan lulusan anyar UI itu, baru-baru ini.

Di KRL pula ada praktik mafia terselubung, mulai dari yang kelas kambing sampe yang eksekutif. ada petugas karcis yang selalu bilang tiket dengan nomor duduk udah abis. Tetapi begitu ada nona asoy geboy yang modal rok di atas dengkul lemah gemulai sambil main mata nanya tiket, eh, dari balik laci adaaaa aja tiket bernomor kursi. Asem deh... Atau, gerombolan penumpang tertentu suka nongkrong di gerbong sekian, tidak beli tiket. Begitu kondektur datang, nah ada jubir khususnya. Cukup kumpulin duit separo harga (kadang cuma seperempat harga), tinggal di-mangsupin ke sakunya pak kondektur. Awww, rejeki di tengah krismon, siapa yang nolak? Termasuk juga di KRL Eksekutif, praktik sama berlangsung. Pak kondektur yang kayak gini, biasanya baru berlagak alim kalau ada sidak dari Polsuska (polisi khusus KA). Demikian juga masinis, udah tau di stasiun tertentu ndak boleh berhenti, eh, cukup bayar 2000 perak, itu KA yang sudah punya jadwal tegas, bisa aja brenti semaunya, nurunin penumpang... Ck...ck..ck..

Kadang-kadang, ada kondektur yang tegas. Kagak peduli orang parlente atau kumuh, asal nggak punya tiket, dia giring itu orang ke stasiun terdekat, diturunkan dengan tidak hormat. Nah, saya angkat jempol buat kondektur kayak gini...

Sering kali gangguan tidak datang dari dalam, tapi dari luar. Entah sudah berapa kereta yang kacanya bolong-bolong dilempar batu oleh orang yang tak bertanggung jawab. Atau anak-anak sekolah yang nyelonong masuk stasiun dan naik ke atap KRL, dengan risiko "wassalam" disengat listrik.

Pokoknya, semuanya yang nyeleneh2x ada di kereta. Persis seperti kehidupan sehari-hari di Indonesia. Kehidupan di kereta api dan stasiun itu adalah miniatur kehidupan negara ini. Persis sama: ada bad guys, ada good guys, ada intrik, ada tragedi. Dan saya, cuma satu dari sekian ribu orang yang statusnya di dalam kereta dan di dalam negara persis sama: jadi penumpang, tergencet, dan tidak ada yang peduli.... Masih syukur, sekarang saya naik KRL Eksekutif. Tetapi tiap kali melihat KRL Ekonomi melintas, saya merasa seakan ikut terjepit dan terengah-engah.

Saya yakin, persoalan ini bisa dipecahkan. Salah satunya, kalo Pak SBY kebetulan nge-warnet, atau surfing di istana negara malam ini, lalu iseng masuk blognya sayah di http://duamata.blogspot.com ini, dan baca artikel ini. Kayaknya, siapa tau, besok pagi keluar maklumat presiden: BBM batal dinaikkan, pemerintah akan membuat lebih banyak KRL eksekutif buat rakyat kecil, dan pemberantasan korupsi dimulai dari tubuh PT KAI.... Huebaaat.... Dan (mungkin lagi), lusanya SBY muncul di depan pintu rumah saya di Cimanggu, malam-malam, menyamar sebagai tukang ojek, lalu berbisik: "Eh, bagaimana kalau malam ini kita survey ke tempat pembuangan sampah?" Sudah pasti saya bakal tersipu malu dan mengangguk sambil berujar, "Ah, Bapak bisa aja..." (ah)

**menyongsong kenaikan harga BBM, perkenankan saya berucap: kaciaaaaan deh, kita....**

Sunday, February 27, 2005

Welcome to the Hell Week!

Akhir pekan yang padat. Temen2x wartawan udah berangkat ke Balikpapan pagi tadi. Selanjutnya urusan Ibex dkk di kantor sana mendampingi. I hope everything is running well...

Sementara pekan depan beberapa kegiatan menanti, semuanya top priority... Really a hell week! Waaakkks... Departemen Kelautan dan Perikanan minta re-print beberapa buku panduan. Sudah diestimasi biayanya. Terserah my boss, lah.. Kalau dia oke ya jalan, kalau nggak ya tinggal call balik and say, "Sorry, we have no budget..." Plus, harus merampungkan beberapa laporan, edit dan panggil designer utk mulai layout buku portfolio livelihood program, Sulut. Dan, meneruskan rencana program magang mahasiswa. Udah lama tak terurus. Harus segera diumumkan siapa yang berhak ikut magang di kantor-kantor daerah.

Rabu ini aku juga harus maju untuk seminar rancangan penelitian program magisterku. Aku ambil topik pengelolaan media cetak, khususnya peran freelance writer/editor dalam sebuah penerbitan. Termasuk langka sih, topiknya, konon. Mudah-mudahan "tidak dibantaiii...." Amiiin..

My friend Zulfi kirim e-mail dan naskah 3 bab dari bukunya tentang pemberdayaan karyawan. Aku diminta menjadi editor. Hmmm, bolehlah. Sekali-sekali ngedit buku manajemen, setelah berkali-kali ngedit buku jenis ilmiah populer, hitung-hitung variasi kerja/hobi (tapi lain kali jangan cuma ngedit, mbok ya bikin buku.... I'm thinking of it.. It's only about time). Hari ini sudah 6 halaman yang dikerjakan. This book needs much editing and revision... Tapi kata Zulfi, dia rela bukunya diobrak-abrik. Bahagia banget kalau penulisnya udah pasrah tak berdaya begitu... hahaha....

Dan malam ini, sudah menjelang pukul 22.oo. Ditemani Scorpion's "Under the Same Sun" kerjaan harus dikelarkan sedikit. Abis itu tidur (hey, as a Chelski's fans, how about Chelsea vs Liverpool match, tonight or tomorrow?)

Besok hingga sepekan ini, energiku harus dialokasikan setepat dan seketat mungkin...




Friday, February 25, 2005

Dari Resepsi sampai Laundry

Siang ini habis Jumatan, sedang nunggu temen2x dari beberapa media yang mau ikut "adventure" ke Teluk Adang dan Teluk Apar di Pasir, Kalimantan Timur...

Sembari nunggu, eh ingat postingan di blog Gembull ttg missunderstanding situation (gathering~katering, dan sebangsanya itu hehehe). Saya kok jadi pengen nulis tentang kisah-kisah 'kepleset lidah' atau "nggak matching" komunikasi seperti itu....

Nah, setelah tak pikir-pikir, setidaknya ada 4 cerita beginian yang saya pernah tahu/alami. Ini ndak bohong-bohongan. Bukan sulap, bukan sihir. Serieus, fakta, histori.

Kisah 1. Resepsi Kita Berbeda

Kategori: Fakta (sahih)
Setting: Ruang tamu kos mahasiswa, diskusi para aktivis (cie...)
Waktu/Tempat: Masa taon 1991-1992/Darmaga, Bogor


Sebut saja si tokoh namanya Badu. Ceritanya, kita sedang diskusi tentang perkembangan politik Islam di tanah air. Waktu itu dalam diskusi mencuatlah wacana tentang pentingnya masuk ke dalam sistem atau bermain di luar sistem.

Nah, Badu angkat bicara menanggapi soal ini. "Kalau saya pikir, itu tergantung dari resepsi yang kita adakan sendiri. Sepanjang kita memiliki resepsi bahwa di dalam lebih bisa berperan, silakan. Tetapi jika berjuang di luar pemerintahan dianggap lebih aman, resepsi semacam itu juga sah saja..., " ujarnya.

Semua orang manggut-manggut, nggak jelas karena kagum atau nggak ngerti. Tetapi para senior yang duduk di barisan belakang saling memandang dengan mimik bingung, lalu dahi berkerut. Resepsi, siapa yang mau bikin acara walimahan, nih? Satu, dua, tiga, lima, sepuluh detik.... baru senyum kita mengembang dan terkikik-kikik geli (tapi ndak boleh ditampakkan. Lha senior, jaga imej doong).

Yah, ternyata Badu dan kita agak berbeda paham tentang kata resepsi, eh, persepsi.

==

Kisah 2. Mas Parlan

Kategori: Fakta (mendekati sahih)
Setting: Ruang Dosen Pembimbing S1
Waktu/Tempat: 1992-1993/Wet Lab, Biotrop, Tajur, Bogor


Rekan saya sedang konsultasi skripsi dengan ibu dosen pembimbing kami di ruangannya, Ibu dosen ini dikenal lumayan “killer” (tapi sebenarnya baik kok…). Di saat sama, ada mahasiswa angkatan di bawah (kami angkatan 25, dia angkatan 26) yang baru mulai penelitian. Sebut namanya Amin. Si Amin ini disuruh ibu dosen membiakkan bakteri Aeromonas hydrophila untuk bahan risetnya.

Ketika lagi asyik ngobrol, Amin ngetuk pintu. “Bu, maaf, jumlah bakterinya berapa yang mau di-stok, dan caranya gimana?,” tanya Amin, sopan sekali.

“Bikin sejuta, 10 juta, dan 100 juta. Caranya, bandingkan dengan Mc Farland,” ujar si ibu dosen. Mc Farland adalah rangkaian tabung berisi larutan khusus yang biasa dipakai untuk memperkirakan jumlah bakteri dengan cara membandingkan kepekatan larutannya.

Si Amir mengangguk, dan menutup pintu lagi. Lantas, 5, 10, 15, 20, 30 menit. Amir ketuk pintu lagi dan dengan takut-takut bertanya,

“Maaf lagi, Bu…. Saya sudah mau membandingkan, tapi masih ndak ketemu dengan Mas Parlan-nya. Kalau boleh tahu, Mas Parlan yang angkatan berapa, Bu?”

Ibu Dosen: ??? (bingung, dahi berkerut, tangan meremas-remas gelisah – ah, ini fiktif)

Rekan saya: ??? (sok mikir keras, siapa Mas Parlan yang dimaksud)…

Sekian detik kemudian, ruangan itu heboh dengan tawa dan cekikikan.

Amin terlalu stress dan tegang, sehingga pendengarannya sulit membedakan antara Mc Farland dengan Mas Parlan….

==

Kisah 3. Tawon

Kategori: Fakta (sahih)
Setting: Wawancara dengan Narasumber Pengusaha Obat Tradisional
Waktu/Tempat: 1993-1994/Suatu tempat di Madura

Kali ini yg mengalami adalah rekan Iqbal Setyarso, semasa masih menjadi reporter majalah Kartini. Ketika tugas ke Madura, dia wawancara dengan seorang pengusaha jamu tradisional di –kalau ndak salah—daerah Bangkalan.

Cerita punya cerita, semua sudut rumah dan produk jamu-nya dilihat oleh Iqbal. Termasuk produk yang jadi andalan si pengusaha kecil ini, yaitu madu lebah hutan aseli.. Tiba saat wawancara, Iqbal bertanya dengan serius.

“Jadi, seperti produk madu hutan ini, bapak semua yang produksi ya?,” tanya Iqbal, serius.

Apa jawab si bapak?

(dengan logat Madura yang khas itu): “Oh..oh, ndak.. ndak begitu, Mas. Kalo madu ini, yang mbuat ya tawonnya ….. (dengan mimik lebih serius, sumpah…!!)

Iqbal: %#%*()(*& (dalam hati)

Pertanyaannya: Iqbal yg salah nanya, atau si bapak yg terlalu sensitif..?

===

Kisah 4. Laundry Buku

Kategori: Fakta (sahih, suwwer…)
Setting: Sekelompok pemuda alumnus IPB tengah diskusi tentang proyek sambilan…
Waktu/Tempat: 1994-1995/rumah kos-kosan Gunung Batu, Bogor


Nama tokohnya terpaksa diganti, supaya ndak marah. Sebut aja Anto. Jadi kita sedang ngumpul ngobrolin kerjaan sambilan, ya istilah kerennya mroyek, gitu. Ada buku keluaran salah satu penerbit akan diluncurkan dan teman2x dapat kesempatan ngurusin acaranya.

Waktu masuk pembicaraan tentang teknis acara, Anto ini bicara serius (serius lho, dia bicaranya serius, tidak dibuat-buat).

“Jadi, sebaiknya penetapan tempat untuk laundry ini harus ditentukan dengan teliti, supaya orang ndak kesulitan menghadirinya. Dan juga, biasanya, kalau laundry buku seperti ini kita baiknya mengundang temen-temen wartawan. Buku-buku yang baru di-laundry kan paling pas kalau mau diresensi di media….”

Adegan berulang: semua melongo, dahi berkerut2x, saling pandang. Mau peluncuran buku di tempat laundry? Atau maksudnya buku-buku itu di-laundry? Apa nggak rusak? Trus, skian detik kemudian, semua ngakak tidak ketulungan.

Mas Anto, kalau buku jelas nggak boleh di-laundry. Tetapi kalau kain kotor, nah itu bisa di-launching…….

"Bertemu" Tuhan di Bawah Sana (Part 2.)

Menuju kedalaman laut. Bertemu banyak makhluk baru


HARI SABTU, kami bertemu di Pier 15 Marina, Ancol. Pelancong yang akan berangkat ke Kepulauan Seribu tampak padat, terlebih yang sama dengan kami, ingin ke Pulau Kotok. Pulau ini dapat ditempuh dengan boat dalam waktu 1 jam. Pulau Kotok dikenal karena formasi karangnya masih cukup lumayan dibandingkan tempat lain di Kepulauan Seribu. Jarak pandangnya (visibility) cukup lumayan, berkisar 8 hingga 15 meter. Arusnya pun tak galak. Ikannya amat bervariasi.

Wilayah Kepulauan Seribu (jumlah sesungguhnya adalah 110 pulau) yang tersebar di utara Jakarta memang merupakan tempat populer bagi para penyelam, terutama yang tidak sempat pergi jauh ke Bunaken atau Bali. Saat akhir pekan, sentra-sentra selam di beberapa pulau di sana penuh sesak oleh pengunjung, termasuk Pulau Kotok. Setidaknya, hari itu, ada dua boat --masing-masing dipenuhi lebih 30 penumpang-- yang menuju ke sana.

Pulau Kotok, dengan resort yang dikenal dengan nama Alam Raya Kotok (dulu Kul-Kul Kotok), memiliki puluhan bungalow, dari yang hanya dilengkapi kipas angin hingga yang ber-AC. Modelnya tradisional dan eksotik. Di sekeliling bungalow, adalah hutan yang lebat dan dari kejauhan tampak pantai yang menggoda. Berbagai jenis burung dengan santainya melintas di depan teras rumah. Kalau beruntung, anda bertemu dengan kawanan biawak yang suka berjemur malas di tepi pantai, untuk kemudian terbirit-birit masuk ke hutan begitu melihat rombongan manusia. Ada juga beberapa biawak yang ternyata sudah akrab 'bersosialisasi' dengan pengunjung, Jam datangnya pun istimewa, yakni pukul 12.00, tepat pada saat makan siang. Pelayan di sana seolah sudah hafal, dengan memberikan biawak tersebut sisa-sisa tulang ayam. Para turis mancanegara rupanya terhibur dengan kehadiran biawak-biawak 'gaul' tersebut.

Di Pulau Kotok, orang bisa menyelam dan snorkeling menikmati keindahan bawah lautnya. Yang enggan berbasah-basah, bisa duduk dan berjemur di dermaga sambil menikmati sunrise atau sunset. Saat sarapan pagi, saya malah sempat melihat seekor ikan Pari Totol Biru (Blue Spotted Stingray) mampir mendekati restoran apung. Warnanya yang coklat terang, dengan bintik-bintik biru di sekujur tubuhnya, menjadikan pari ini amat cantik. Ia tengah mencari makan, tampaknya. Namun jangan salah, pari ini punya sengat yang berbahaya di ekornya. Sekali kena, ya tahu rasa, bisa panas dingin dan harus dilarikan ke rumah sakit. Itu masih beruntung ketimbang kalau kita bertemu dengan ikan Lepu Tembaga (Stone Fish) yang berwajah 'jelek' dan suka bersembunyi di dasar perairan berpasir. Sengatannya bisa membuat nyawa melayang. Ia setara dengan bahaya bisa ular laut.

Kami semua cuma berdoa agar tidak bertemu dan berurusan dengan makhluk semacam ini. Walaupun demikian, sesungguhnya hewan-hewan ini takkan menganggu, bahkan cenderung menghindar jika bertemu manusia, termasuk hiu. Dalam kenyataannya, mayoritas kasus serangan hewan laut disebabkan karena ulah 'provokasi' manusia. Hewan-hewan itu hanya menunjukkan reaksi defensifnya. Untuk itu, kami sudah dibekali tips jika harus bertemu, misalnya hiu, di bawah air.

"Bertemu" Tuhan

Tak lama setelah tiba dan menaruh tas di bungalow, kami berkumpul di dermaga. Proses persiapan yang sama kami lakukan. Karena telah berlatih beberapa kali, lama-lama kami cukup terbiasa dan hafal urut-urutan pemasangan dan pemeriksaannya. Tapi tak dapat dipungkiri, wajah tegang berbaur dengan lekas-lekas ingin menikmati dunia bawah air, tampak pada kami semua. Untuk penyelaman pertama dan kedua, lokasinya tepat di depan dermaga. Kali ini, instruktur memasang pelampung dan tali sebagai alat bantu. Pada penyelaman berikutnya, pelampung dan tali ini tak digunakan lagi.

Satu-persatu kami masuk ke air dan berkumpul di titik pelampung. Sebelum masuk, kami kembali berlatih ketrampilan memulihkan kram kaki, yang sering terjadi pada setiap penyelam. Begitu semuanya siap, kode turun diberikan dan satu-persatu kami melakukan deflate. Detik-detik ini adalah waktu yang tak dapat dilupakan, terutama oleh saya. Begitu masker membelah permukaan dan turun senti demi senti, yang ada hanyalah perasaan campur-aduk tak terperi. Takjub bukan kepalang dengan pengalaman pertama ini, sekaligus was-was dengan apa yang bakal ditemui dan dilakukan di bawah sana.

Seperti biasa, saya mengalami squeeze lagi. Kali ini di kedalaman 3 meter. Tapi entah kenapa, saya lebih tenang. Abi, yang tepat di bawah saya, dengan bahasa isyarat mengajak untuk terus turun hingga kedalaman 6 meter. Kepadanya saya berikan kode telapak tangan yang dibuka menghadap ke bawah dan digoyang-goyangkan ke kiri-kanan, berikut kode menunjuk telinga. "I'm squeezing..." Ia memaklumi. Dengan sedikit melakukan kick (kayuhan) pada fin, saya terdorong sedikit ke atas, berhenti sejenak dan melakukan ekualisasi. Sukses. Telinga tak mengalami problem. Saya turun lagi, dan masih kena beberapa kali. Tapi ekualisasi terus-menerus akhirnya membuat segalanya beres. Kami semua berkumpul di kedalaman tersebut sambil memegang tali.

Begitu kode diberikan, perlahan-lahan dengan masih memegang tali kami menyusuri jalan terus menuju ke 7, 8, 9 meter,.... Gila, pikir saya, sambil berkali-kali melirik SPG (Submersible Pressure Gauge) alias alat penunjuk tekanan bawah air, yang akhirnya menunjukkan kedalaman 10 meter! Reflek, saya mengingat lagi pelajaran yang diberikan: bernafas dalam dan rileks, jangan sekali-kali menahannya, dan cek lagi SPG. Aman, tekanan tabung penuh saya (3000 psi atau 200 bar) saat di permukaan, kini mulai turun, tapi masih amat sangat memadai. Jika jarum masuk zona merah, yakni 500 psi ke bawah, barulah kita patut waspada dan biasanya segera memberi tahu buddy dengan kode mengepalkan tangan kanan di dada. Artinya: Udara saya menipis. Biasanya saat itu juga keputusan naik ke permukaan akan diambil, setelah melakukan STELA (Sign, Time, Elevation, Look Around, and Ascent -- Beri tanda, Cek waktu, Lihat sudut dengan tangan kanan di atas, Lihat sekeliling, dan Naik).

Di kedalaman itulah kami sekali lagi mempraktikkan apa-apa yang sudah diajarkan di kolam. Yang paling utama adalah fin pivot, yakni menjaga dan mengontrol daya apung agar dapat menyelam selincah ikan tanpa harus tenggelam atau malah naik mengapung. Sambil menunggu giliran, saya melihat pemandangan sekeliling. Subhanallah, indah bukan kepalang. Kecerahan dan jarak pandang dalam air cukup bagus, sekitar 7 meter, dengan suhu 28 derajat Celcius. Karang-karang warna-warni duduk di tempatnya, melambai-lambai menyapa kami. Merah, kuning, jingga, ungu. Dahsyat. Saya sampai tercenung. Sementara ikan-ikan kecil berenang-renang dengan gembira di sekitar kami tanpa rasa takut. Yang paling banyak ditemukan dan cukup saya kenal semasa kuliah adalah Ikan Kakatua atau Parrot Fish (Scarus sp) dari keluarga Scaridae. Ada pula ikan iseng menggigiti kaki saya, karena kebetulan tak terlindungi wet suit atau pakaian selam khusus.

Selain tes fin pivot, kami juga mempraktekkan mask clearing, dan latihan kekurangan udara dan meminta udara lewat octopus (regulator cadangan) milik buddy. Semuanya berjalan lancar sampai akhirnya instruktur memberi kode kepada kami untuk mengikutinya berjalan-jalan. Ah, ini dia, jalan-jalan!

Maka dimulailah petualangan pertama saya di bawah air. Kami bergerak tenang menyusuri slope yang dipenuhi beragam jenis terumbu karang. Jenis-jenis Acropora, Lili laut dan (kemungkinan) karang jenis Goniastrea, yang berbentuk seperti bongkahan batu, berdiri kokoh. Luar biasa indahnya. Padahal, menurut para penyelam yang sudah biasa berkelana ke berbagai situs penyelaman, terumbu karang di Kepulauan Seribu kalah jauh. Batin saya berkata, "Di sini saya 'melihat' Tuhan Yang Maha Agung lewat segala ciptaannya yang sempurna."

Meskipun demikian, kami tetap harus hati-hati karena ada satu hewan yang selalu tampak di mana-mana. Ia tak lain adalah Bulu Babi atau Sea Urchin. Hewan ini masuk bangsa Holothuridea. Bentuknya bulat dengan duri tajam di sekujur tubuhnya seperti landak. Jenisnya bermacam-macam. Yang kami temui selama penyelaman konon dari jenis Diademe setosum, yang berciri hitam dan berduri panjang. Kalau durinya yang mengandung bahan kapur kena kulit, ia akan menghujam dan tak bisa dikeluarkan begitu saja. Sakitnya lumayan. Yang lebih berbahaya, bongkahan kapur dari duri tersebut bisa terbawa aliran darah dan menyumbatnya sehingga berakibat fatal. Begitupun, jangan salah, dagingnya terkenal enak dimakan, teruma kelenjar kelaminnya (gonadia).

Total jenderal, kami menghabiskan waktu sekitar 35 menit di bawah air dengan kedalaman maksimum 11 meter sambil menikmati pemandangan yang ada. Puas dengan itu, kami segera naik perlahan. Kecepatan naik tidak boleh lebih dari 18 meter per menit. Sebelum menyudahi penyelaman pertama, kami mempraktekkan cara membawa rekan yang kelelahan di permukaan, kemudian istirahat makan siang. Penyelaman kedua dilanjutkan satu jam setelah makan siang. Setiap kali usai menyelam, setiap orang harus mengisi buku log-nya. Untuk penyelaman repetitif (dilakukan berulang lebih dari sekali dalam sehari), ada beberapa perhitungan yang harus diketahui lewat tabel selam yang disediakan. Perhitungan ini berguna untuk mengetahui berapa lama kita dapat menyelam berikutnya dan pada kedalaman maksimum berapa agar terhindar dari dekompresi nitrogen.

Penyelaman kedua dilakukan lebih dangkal, pada kedalaman 8 meter. Hanya saja, waktunya lebih lama, sekitar 40 menit. Kali ini kami lebih banyak mempraktikkan beberapa ketrampilan, seperti melakukan naik ke permukaan secara darurat jika udara di tabung habis dan tak ada buddy yang tampak. Caranya adalah dengan Berenang Naik Darurat secara Terkontrol atau CESA (Controlled Emergency Swimming Ascent). Udara sisa yang kita punyai dikeluarkan perlahan-lahan sambil terus naik sampai ke permukaan.

Hari pertama dilalui dengan sukses. Yang menarik, saat berjalan-jalan sebentar sebelum naik, tiba-tiba instruktur memberi isyarat dan menunjuk sesuatu di kejauhan. Karena masker saya penuh dengan embun, saya tak bisa melihat dengan jelas. Setelah melakukan mask clearing, barulah saya sadar apa yang ditunjuknya. Masya Allah! Nun jauh di sana, pada jarak sekitar 5 meter, schooling (segerombolan) ikan Bendera (Platax sp.) yang mirip bawal, dengan warna kuning dan cukup besar tengah asyik santai di atas karang. Kami nikmati pemandangan spektakuler tersebut beberapa saat, dan kemudian melanjutkan perjalanan menyusuri wilayah terumbu karang yang luas ini.

Saya mengakhiri hari itu dengan rasa puas. Kalaupun ada gangguan, itu adalah telinga saya yang kemasukan air laut. Rasanya sungguh tak nyaman.

Menyelam Lagi dan Lulus

Esok harinya, penyelaman ketiga dilakukan agak jauh dari pulau, tepatnya di Gosong Kotok Kecil. Untuk mencapai lokasi itu, kami menggunakan boat. Berbeda dengan kemarin, penyelaman tidak lagi menggunakan bantuan tali dan pelampung sebagai tanda. Penyelaman betul-betul bebas. Kami turun ke hingga kedalaman 12 meter dan belajar menggunakan kompas, sebagai sebuah ketrampilan yang wajib diketahui. Kecerahan dalam air dan arus relatif sama dengan kemarin.

Saya diuji melakukan hovering, melayang-layang di kolom air dengan memanfaatkan hembusan dan tarikan nafas sebagai kontrolnya. Sukses. Kali ini, saya beruntung menemukan hewan lain yang sebenarnya sering saya baca laporannya di kantor, namun belum pernah melihatnya langsung. Hewan itu adalah Bintang Laut Berduri atau Crown of Thorn Starfish (Acanthaster planci). Hewan ini punya kegemaran unik, memakan karang. Jika jumlahnya membengkak dan tak terkontrol, ia bisa membahayakan keberadaan terumbu. Saya biarkan hewan ini menggeliat dan meneruskan perjalanan.

Seperti kemarin, kami kembali dihidangkan pemandangan yang bukan main mempesona. Dua kali pula saya bertemu dengan kerang raksasa atau yang sering disebut Kima (Tridacna sp). Katupnya langsung merapat ketika tangan kami bergerak di atasnya. Dan, aha..., tahu-tahu saja ada hewan melata kecil dengan tubuh warni-warni, persis motif batik, melintas. Saya tak dapat memperkirakan ukuran persisnya, mengingat di dalam air suatu obyek mengalami pembesaran 25%. Hewan itu adalah flat worm (cacing pipih). Kelak setelah kembali ke Jakarta, saya dapat menduga kalau jenis cacing ini adalah Pseudoceros sp. Entahlah. Yang pasti, dengan ornamen tubuhnya yang meriah, cacing itu melambai-lambai berenang di kolom air. Lucu dan eksotis. Lalu, yang tak kalah populer dan sempat kami pergoki adalah ikan Badut atau Giru (Amphiprion sp), yang berukuran kecil berwarna putih-oranye. Ini jenis ikan yang populer disebut orang sebagai ikan Nemo.

Bagi saya, penyelaman ketiga ini adalah penyelaman terbaik dan ter-enjoy yang saya alami. Mungkin karena situasi emosional saya yang sudah stabil, rasa kekhawatiran yang makin tipis, dan semangat keingintahuan yang besar. Begitu usai penyelaman ketiga, kami langsung pulang, mengganti tabung udara, dan langsung cabut lagi dengan boat, kali ini menuju Gosong Munggu. Bersama kami bergabung tiga penyelam lain. Seorang di antaranya, kemudian saya tahu dari situs internet bernama Budhi, ternyata pernah mengalami penyelaman di Lampung dan terseret arus hingga terkatung-katung antara Merak dan Bakauheni selama 28 jam. Ck..ck..ck..

Di Gosong Munggu, arus tampaknya lebih terasa dibandingkan sebelumnya. Kami sampai harus terhempas-hempas saat berada di permukaan air, demikian pula saat usai penyelaman. Di Munggu ini pula kami mencapai kedalaman tertinggi, yakni 15 meter. Hanya saja, penyelaman cukup singkat, sekitar 25 menit. Selain, mungkin, karena arus (saya sampai terseret dari kedalaman sekitar 12 meter sampai ke 3 meter, sebelum mencoba turun dan kehilangan jejak buddy saya sejenak), juga karena rombongan kami tak utuh lagi. Seorang rekan ternyata tertinggal dan sesuai prosedur, setelah satu menit mencari tak bertemu, ia memutuskan naik ke atas. Demikian pula kami. Syukur, di atas jumlah peserta dihitung lagi dan lengkap. Sebagai penghibur, saya dan beberapa rekan lain melakukan snorkeling dan mempraktekkan skin diving (menyelam dengan hanya perlengkapan snorkel). Skin diving inilah yang kerap saya lakukan jika berkunjung ke berbagai kawasan pesisir di nusantara, jika kebetulan tengah bertugas.

Lepas tengah hari, kami kembali ke dermaga dan makan siang. Setelah mengisi buku log penyelaman, akhirnya saya dan rekan-rekan dinyatakan lulus dan mendapatkan kartu sementara sertifikat sebagai Open Water Diver. Kartu aslinya akan dikirim langsung dari kantor cabang PADI di Australia jika selesai diproses. Kami memperoleh pula badge dari PADI dengan tulisan Open Water Diver. Saya sudah berencana akan menjahitnya di jaket saya (khusus soal ini, kelak jaket dengan badge kebanggaan itu akhirnya saya hadiahkan ke Dadang, seorang pengungsi korban tsunami di posko bantuan bencana di Banda Aceh --- kisah lengkap perjalanan ke Banda Aceh silakan baca di arsip ya....).

Lepas senja, kami kembali ke Marina, dan berpisah. Kepada kami semua, instruktur menyampaikan pesan singkat saja: "Keep Diving!..." Tentu, saya sudah tak sabar untuk 'bertemu' lagi dengan Sang Pencipta lewat terumbu karang dan ikan-ikan ciptaan-Nya yang menawan itu. Lain waktu, janji saya dalam hati, saya akan turun lagi ke bawah air....

(AH)

Wednesday, February 23, 2005

"Bertemu" Tuhan di Bawah Sana (Part 1.)

Notes: ini catatan my "new adventure" beberapa waktu lalu. Sudah agak lama, dan pernah dimuat di sebuah majalah. Enjoy it...

BEGITU mendapat kabar kepastian mengikuti kursus menyelam (scuba diving), reaksi pertama saya justru panik dan khawatir. Pertama, sungguh mati, ini pengalaman pertama mengikuti kursus untuk kegiatan bawah air. Scuba diving, bah! Yang saya tahu cuma menyelam sekian detik di kali atau kolam renang. Selebihnya, ya berenang santai. Kedua, saya makin stres karena sebelum kursus pun sudah disodori tetek-bengek pernyataan kesehatan, lengkap surat keterangan dokter. Isinya, menyatakan kita sehat, cukup fit mengikuti kegiatan tersebut dan tidak menderita jantung, masalah pendengaran (THT), dan seabreg persyaratan lainnya. Ketiga, ada syarat harus bisa berenang 200 meter nonstop.

Ini dia! Terus-terang, saya sudah tidak pernah menyentuh kolam renang sejak setahun silam. Begitu resahnya saya, sehingga dua hari sebelum kursus dimulai, saya mengajak sahabat karib saya ke sebuah kolam renang di sekitar kota, pagi-pagi buta. Tujuannya, tak lain mencoba sendiri kemampuan renang yang sudah lama tak terpakai. Hasilnya sungguh mengecewakan.. :( Saya cuma tahan berenang nonstop hingga 140 meter. Rasa nggak pede pun semakin menggunung.

Teori, Gampang

Namun, suka tak suka, hari pertama kursus akhirnya datang juga. Kami berdelapan, dengan dibimbing dua orang instruktur dari Bubbles Divers, Jakarta. Dua-duanya cukup ramah dan komunikatif. Sebelum dimulai, mereka menyebarkan lembar pernyataan yang wajib diisi, tentang kesehatan diri dan persetujuan segala resiko yang bisa saja terjadi pada olahraga ini.

Kursus yang kami ikuti adalah Open Water Divers (terjemahan harfiahnya Penyelam Perairan Terbuka). Ini adalah tahap pertama kemampuan selam bersertifikat yang diselenggarakan PADI (Professional Association Dive Instructors), organisasi pelatihan selam terbesar di dunia yang berpusat di Amerika. Prasyarat untuk mendapatkan sertifikat/lisensi OWD ini adalah minimal berusia 15 tahun dan familiar dengan dunia air. Peserta harus menyelesaikan 5 modul. Tiap modul (1 hingga 4) diakhiri dengan menyelesaikan 10 soal kuis dengan nilai minimal 80%. Sedangkan setelah modul 5 beres, peserta harus mengikuti kuis akhir 50 soal, dan nilai minimal untuk bisa lulus adalah 75%. Selain itu, peserta harus mengikuti Confined Water Diving, yakni praktik selam di kolam renang dengan segenap tekniknya. Baru kemudian dilakukan penyelaman sebenarnya di perairan terbuka (laut).

Dengan lisensi OWD, seorang penyelam dapat melakukan diving di manapun di dunia di perairan dengan kedalaman maksimum 18 meter dan perairan dengan ketinggian maksimum 300 meter di atas permukaan laut. Seseorang harus mempunyai ketrampilan khusus lewat pelatihan khusus pula apabila ingin menyelam lebih dari itu. OWD berbeda dengan kursus scuba diving biasa. Seorang scuba diver hanya diizinkan menyelam hingga kedalaman 12 meter, itu pun harus senantiasa ditemani oleh instruktur. Setelah OWD, penyelam bisa saja langsung mengikuti kursus untuk tingkatan Advance OWD, yang mengizinkan kedalaman maksimum hingga 30 meter. Di atasnya, ada Rescue Diver, Specialty Diver, hingga Dive Master. Di setiap selang tingkatan, ada banyak kursus peningkatan ketrampilan yang dapat diambil seperti First Aid (P3K).

Pelajaran tiap modul tidak begitu sulit, apalagi dibantu dengan video tutorial yang amat bagus. Setiap usai pemutaran video, instruktur membahas lebih lanjut diselingi tanya jawab. Lalu, kuis 10 soal. Rata-rata semua dapat melampaui skor minimum yang ditetapkan. Jawaban yang salah dibahas kembali letak kekeliruannya. Saya dan rekan lainnya sukses melampaui ujian tulis terakhir yang diberikan. Hanya dua teman yang akhirnya harus mengulang sebelum kemudian dinyatakan lulus.

Mahal dan Mengapung

Sebagaimana namanya, SCUBA adalah singkatan dari Self Contained Underwater Breathing Apparatus atau secara populer diartikan sebagai perangkat bernafas di bawah air. Tak seperti kebanyakan bayangan orang, belajar dan menguasai selam tidak harus cuma jatah atlet dengan ketrampilan hebat. Orang biasa pun ternyata bisa. Hanya saja, kebugaran fisik tetap merupakan penentu kenyamanan dan keselamatan dalam kegiatan ini.

Menyelam juga disebut-sebut sebagai olahraga mahal. Hal tersebut tidak sepenuhnya salah. Lihat saja, baju selam (wet suit), yang terbuat dari bahan neopren dengan ketebalan bervariasi (3 milimeter, 5 milimeter) harganya sudah sekitar Rp 1 juta. Belum masker/snorkel yang ratusan ribu berikut fin (kaki katak). Jaket selam atau BCD (buoyance control device) malah berharga jutaan. Tetapi patut diingat bahwa tingkat kemahalan tersebut setara dengan tingkat keselamatan yang dijamin dalam olahraga yang termasuk beresiko ini. Untuk tabung, yang berisi nitrox (nitrogen dan oksigen seperti yang kita hirup sehari-hari), bisa disewa dengan harga pengisian bervariasi, belasan hingga puluhan ribu perak.

Dalam menyelam, paling tidak ada tiga prinsip yang mau tak mau harus dipahami sebelum seseorang melakukannya. Salah satunya adalah memahami prinsip buoyancy alias daya apung. Dalam selam dikenal istilah positive buoyancy (mengapung), neutral buoyancy (tidak tenggelam tapi tidak mengapung), dan negative buoyancy (tenggelam). Prinsip ini amat penting karena dengan demikian seorang penyelam tahu kapan dan bagaimana ia harus turun ke bawah air, menyelam laksana ikan, atau harus mengapung di permukaan.

Pengaturan buoyancy ini bisa dilakukan dengan 4 cara. Pertama dengan menggunakan jaket selam atau BCD sebagai alat pengendali daya apung. BCD dapat diisi udara lewat tombol inflator yang dihubungkan ke tabung udara. Jika berada di permukaan air dan ingin menghemat tenaga, biasanya BCD diisi penuh sehingga pemakainya akan terapung tanpa harus bersusah payah mengayuh. Buoyancy juga bisa dikendalikan lewat pemasangan atau pencopotan pemberat. Yang sederhana berupa ikat pinggang dengan lempeng besi yang kiloan yang dapat ditambah. Jika terlalu cepat tenggelam, besi dapat dikurangi. Atau bisa pula menggunakan kombinasi dua-duanya. Sedang cara terakhir adalah dengan memanfaatkan paru-paru kita sebagai alat pemberian Tuhan. Jika kita menarik nafas, secara otomatis udara dalam paru-paru terisi dan kita perlahan akan terapung. Sebaliknya, jika nafas dihembuskan, secara perlahan kita akan tenggelam.

Waspada Tekanan dan Buddy

Hal kedua yang patut diwaspadai penyelam adalah soal tekanan (pressure). Dalam air, tekanan amat berpengaruh, karena semakin bertambah kedalaman, maka semakin kuat tekanan mendera. Di permukaan air (0 meter), misalnya, tekanan udara yang ada 1 atmosfer (atm). Begitu turun menjadi 10 meter (33 kaki), tekanan bertambah dua kali lipat menjadi 2 atm. Pada kedalaman 20 meter (66 kaki), tekanan menjadi 3 atm, dan di 30 meter (99 kaki) menjadi 4 atm. Demikian juga dengan kerapatan udara (air density), dengan perubahan kedalaman yang sama, ia bertambah hingga 4 kali dan seterusnya. Sebaliknya, dengan perubahan kedalaman tersebut, volume udara justru semakin berkurang.

Apa konsekuensinya? Di dalam air, kita bisa merasakan dan memahani perubahan yang terjadi dan pengaruhnya bagi tubuh, baik saat turun ke bawah permukaan maupun naik. Jika turun dan naik permukaan dilakukan secara tergesa-gesa --meski cuma semeter-- bila tidak memahami prinsip ini, alamat seorang penyelam akan mengalami persoalan yang menyebabkan kecelakaan fatal, bahkan kematian. Apalagi dengan memakai udara dari SCUBA, paru-paru disuplai udara pengganti sehingga bentuknya tetap normal meski di kedalaman. Jika naik ke permukaan dengan cepat, maka paru-paru yang normal itu akan menggembung dengan cepat dan akan seperti balon udara yang dipompa terus-menerus hingga akhirnya pecah! Karena itu pula, prinsip utama lainnya dalam menyelam adalah "breathe continuously and never hold breath" (bernafaslah dengan normal dan jangan sekali-kali menahannya). Sebagai pemula, tentu saya manggut-manggut dengan penjelasan tersebut. Secara ilmiah, keterangan itu 100% tak dapat disangkal. Kami semua diam-diam menghafal prinsip itu, supaya jangan terlupakan saat mulai praktik menyelam.

Prinsip lainnya apalagi kalau bukan buddy system. Dalam menyelam, seseorang hendaknya tidak sekali-kali melakukannya seorang diri tanpa seorang teman. Justru inilah prinsip universal menyelam. Banyak alasan pentingnya teman (buddy) dalam meyelam, antara lain kepraktisan, keselamatan, dan lebih enjoy. Jadi, kalau melihat sebuah film yang menggambarkan penyelam rekreasi berada di bawah air seorang diri, kemungkinan besar pembuatnya tak tahu aturan khas menyelam!

Di Kolam Renang

Esok jarinya, confined water diving di kolam renang dimulai. Deg-degan, tentu saja. Yang lebih bikin down adalah dimulainya tes berenang nonstop 200 meter. Ketika turun ke air dan menempati lintasan masing-masing, rasanya campur aduk. Seorang rekan sudah 'memprovokasi' dengan memulai renang dengan gaya bebas. Akhirnya, bismillah, dengan memberanikan diri saya memulai dan mengatur strategi agar tak memforsir tenaga di 100 meter awal. Lima puluh, tujuh puluh lima, seratus meter, semuanya kelihatan aman. Namun memasuki 125 meter alias di tengah-tengah lintasan, badan sudah mulai nyeri, tenaga mulai habis. Waduh, gawat ... Tapi saya masih bertahan sampai ke 150 meter. Dan detik demi detik di 50 meter terakhir tak ubahnya bagaikan siksaan yang tak terperi. Akhirnya, finish...

Cuma, ada risiko yang harus ditanggung. Begitu naik dari kolam, mata berkunang-kunang. Rasanya ingin langsung menggeletak. Saat itu, baru saya merasa menyesal tidak pernah melakukan olahraga dengan teratur. Tapi, toh, 'prestasi' saya tak jelek-jelek amat dibanding beberapa teman, misalnya, yang harus mencuri-curi nafas di tiap 50 meter... hehehe. Penderitaan itu ditambah lagi dengan keharusan tes mengapung selama 10 menit di akhir sesi hari pertama.

Kali ini, Abi instruktur kami yang ambil peran menjelaskan segala sesuatu mengenai perlengkapan menyelam dan cara memasangnya. Dari mulai memegang regulator, mendirikan tabung, memasang yoke ke tabung secara benar, semua diperagakan. Salah pasang, hasilnya bisa berabe. Benarlah kata orang, olahraga menyelam justru menyedot perhatian dan konsentrasi sejak persiapan, bukan hanya ketika di bawah air. BCD, misalnya, harus terasa cocok dan pas di badan, tak boleh kesempitan dan kelonggaran, jika tak mau kena masalah kelak. Pemberat pun harus diukur dengan cara tertentu, dan berbeda antara di air tawar dengan laut. Bahkan detik terakhir sebelum mencebur ke kolam, masing-masing harus mengecek kesiapannya bersama rekan (buddy) yang ditunjuk. Buddy inilah teman seia sekata, sehidup semati di dalam air. Bila terjadi sesuatu di dalam air, maka motto yang harus dipegang adalah "Solve everything under water" (Bereskan segera di dalam air), karena tindakan naik ke permukaan malah menandakan kepanikan dan dapat membahayakan jiwa.

Turun ke bawah air untuk pertama kali --meski cuma di kolam renang-- tetap saja membuat dada berdebar-debar. Gugup, setengah stres, bercampur rasa ingin tahu yang membuncah. Memakai pemberat, BCD, lalu fin, masker, cek persiapan, semua oke. Kami belajar turun ke air dengan berbagai cara, dari duduk di tepi kolam, dengan melangkah (giant straight), hingga back roll (berguling ke belakang). Instruktur memberi kode SORT-D (Sign, Orientation, exchange snorkle to Regulator, Time, and Descent-- Beri tanda, Orientasi arah penyelaman, Tukar snorkel ke regulator, Cek Waktu, dan Turun), kami pun perlahan-lahan bergerak ke bawah dengan men-deflate inflator di tangan kiri. Pemandangan permukaan berganti menjadi pemandangan bawah air, sementara kami terus turun menuju kedalaman 3 meter.

Celaka, Squeeze!!

Ketika turun, tekanan udara yang berubah juga berpengaruh pada telinga, demikian pula saat naik. Karena tekanan bertambah, telinga akan terasa seperti tertusuk-tusuk. Hal ini tidak boleh terjadi, dan kalaupun terjadi tidak boleh dibiarkan. Tekanan itu akan mendera telinga, sinus, dan mempengaruhi pula masker kita. Tanda-tandanya adalah perasaan menjadi tak nyaman pada telinga atau pada masker.Gejala ini disebut squeeze, yakni ketika tekanan udara di luar melebihi tekanan udara dalam telinga/tubuh. Squeeze juga terjadi pada masker sehingga masker terasa menekan wajah. Saya mengalaminya saat confined water diving pertama. Usai menyelam, di sekeliling wajah tercetak bekas masker yang mendera kulit. Saat naik, kejadian sama juga dapat terjadi, disebut dengan reverse block.

Syukur, ada cara mengatasinya, yakni sering-sering melakukan equalization atau ekualisasi (penyetaraan tekanan). Caranya relatif gampang, dengan menelan ludah sehingga udara mendorong tekanan dari dalam ke luar (balance), atau dengan memencet hidung lalu mendorong udara, menggerak-gerakkan rahang ke kanan-kiri, atau menelan ludah berulang kali. Kegiatan ini, meski kelihatan sepele, merupakan tindakan yang harus sesering dan sedini mungkin dilakukan selama menyelam, meski perbedaan kedalamannya cuma semeter. Jika squeeze terjadi dan ekualisasi gagal dilakukan, bisa berakibat gawat. Rasa sakit akan menghantam. Jika sudah begitu, yang dapat dilakukan adalah berhenti sejenak dan naik satu meter ke atas, ekualisasi, lalu mencoba turun kembali. Begitu juga sebaliknya ketika akan naik ke atas. Bila ketika turun ekualisasi terus-menerus gagal dan rasa sakit terus menyerang, apa boleh buat, satu-satunya cara adalah menghentikan penyelaman! Jika dipaksakan, kita bisa cedera seperti mengalami pecahnya gendang telinga, dan menyebabkan vertigo (kehilangan koordinasi).

Saya sedikit frustrasi karena mengalami squeeze berkali-kali. Tak heran, karena saya baru saja sembuh dari pilek. Pilek membuat proses penyeimbangan tak berhasil karena ada cairan yang menyumbat, sehingga ekualisasi tak sempurna atau malah gagal sama sekali. Meskipun jarang terjadi, gigi berlubang bisa menyebabkan hal sama, karena tekanan ke dalam rongga tersebut akan memberikan pengaruh. Demikian pula dengan memakai penutup kepala yang ketat atau penutup telinga (ear plug). Karena itu, jika sedang pilek, seseorang dianjurkan tidak melakukan penyelaman demi keselamatannya.

Beruntung, saya kemudian menemukan pemecahannya. Karena menyemburkan nafas dari hidung dengan membuka sedikit masker merupakan sebuah cara untuk mengatasi squeeze pada masker, saya melakukannya. Ternyata, setiap kali selesai melakukan hal tersebut, ekualisasi saya menjadi lebih mudah dan berhasil. Karuan saja, cara ini saya pakai seterusnya. Dan, surprise, saya sudah berada di kedalaman 3 meter. Suara yang terdengar paling nyata adalah tarikan dan hembusan nafas dari mulut dan regulator saya berikut suara dari gelembung air yang keluar berkejar-kejaran ke permukaan.

Fantastis. Sejenak, saya harus membiasakan diri dengan pemandangan di sekitar dasar kolam. Rekan-rekan lain sudah berkumpul dan duduk dengan melipat kedua lutut. Rangkaian pelajaran pun dimulai, dari belajar melepas masker, mencari bantuan pernafasan kepada buddy, fin pivot (mempertahankan buoyancy di tengah kolom air dengan mengatur inflator dan nafas sehingga yang menyentuh dasar hanya fin kita), melepas BCD di dalam dan mengenakannya kembali, dan lain-lain. Tak terasa, dua hari di kolam, saya sudah melahap seluruh praktik yang diajarkan. Hari kedua di kolam, kami mencoba ke kedalaman 5 meter. Sukses. Kami sempat berjalan-jalan di bawah, berlatih seolah-olah sudah berada di antara rimbunan terumbu karang di lautan.

"Kita siap berangkat ke Pulau Kotok!" seru Abi.... (to be continued)

Tuesday, February 22, 2005

Bapak, Ibu, Awas Dampak Media (TV)...!

Kekerasan, kriminalitas, dan perilaku antisosial kini makin populer karena media massa

Kakak ipar saya, yang tinggal di sebuah kota kecil di Jawa Timur, bercerita dengan mimik cemas. Anaknya yang baru duduk di bangku Taman Kanak-Kanak suatu hari, tanpa ada angin dan hujan, melontarkan pertanyaan yang menyentak. “Bunda, kalau bunuh diri itu kan bisa dengan menyilet tangan, kan?” tanyanya dengan lugu sambil mempraktikkan caranya. Selidik punya selidik, si anak bercerita kalau teman-temannya di sekolah pun sering beraksi main “bunuh diri-bunuh dirian” dengan cara bergaya seolah menyilet nadi di tangan, kemudian ambruk ke tanah. Mereka mengaku sering melihat adegan itu di televisi.


Cerita itu tampaknya sejalan dengan ramainya kasus kanak-kanak dan remaja mengakhiri hidup dengan bunuh diri, atau setidaknya mencoba bunuh diri. Baru-baru ini seorang anak bunuh diri di Tangerang, karena diminta ibunya tidak melanjutkan sekolah akibat ketiadaan biaya. Dulu, ada Linda Utami, yang nekad gantung diri di kamar tidur rumahnya di Jalan Nipah, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Ia baru berusia 15 tahun, duduk di kelas II SLTP. Penyebabnya, malu diejek temen-temennya karena tidak naik kelas. Atau, Nurdin bin Adas yang baru berumur 12 tahun. Warga Kampung Cikareo, Desa Salakuray, Garut, itu ditemukan tewas tergantung di plafon dapur rumah kakaknya. Konon, Nurdin tak kuat menahan kerinduan kepada almarhumah ibunya. Masih kurang? Ada Nazar Ali Julian, 13 tahun. Anak yang dikenal rajin dan tergolong pandai ini rajin ke masjid, shalat, dan puasa Senin-Kamis. Tetapi suatu ketika ia masuk ke dapur, mengambil pisau dan menusuk perutnya berulang kali hingga bersimbah darah. Ia kesepian karena orang tuanya bekerja di luar negeri.

Selain bunuh diri, muncul pula kasus perbuatan tak senonoh kepada lawan jenis oleh kanak-kanak dan remaja. Juga mencuri kecil-kecilan, minum-minuman keras, sikap agresif dan penuh kekerasan, hingga penggunaan narkoba dan pembunuhan. Kebanyakan dari mereka, ketika diusut dan ditanya asa-muasal ide melakukan kejahatan atau perbuatan asosial lainnya tersebut menjawab, karena sering menonton hal sama di televisi. Untuk orang dewasa, efeknya sudah lebih dahulu banyak diketahui. Banyak pelaku kejahatan, misalnya, mengaku mendapat ilham merampok dari tayangan televisi atau pemberitaan di majalah.

Memang, kejahatan dan kekerasan yang terjadi tidak melulu karena efek media. Ada banyak faktor lain yang berpengaruh, mulai dari tingkat pendidikan, pendapatan, kondisi geografis, dan sebagainya. Akan tetapi, media tetap punya andil yang tidak kecil.

Efek Media

Di sekeliling masyarakat kini banyak bertaburan jenis media komunikasi yang dengan gampang menghujani setiap individu dengan berbagai ragam informasi, mulai dari televisi, radio, surat kabar, majalah, hingga internet, hingga peralatan komunikasinya seperti ponsel dan komputer. Langsung atau tidak, hal itu akan berpengaruh terhadap penggunanya.

Di kalangan praktisi komunikasi, hal itu dikenal populer sebagai efek dari media. Pakar komunikasi Yoseph Straubhaar dan Robert LaRose, misalnya, menjelaskan efek media sebagai perubahan dalam pengetahuan (kognisi), sikap, emosi, atau perilaku yang merupakan hasil dari terpaan (eksposure) media massa.

Untuk meneliti efek ini, banyak cara dan metode yang telah ditempuh oleh para pakar. Ada yang menggunakan model pemikiran deduktif, yakni prediksi tentang dampak media dari teori-teori tentang perilaku dan budaya manusia, kemudian secara empirik menguji prediksi ini lewat pengamatan yang sistematis. Sebaliknya, penelitian induktif melakukan observasi terlebih dulu, baru kemudian memunculkan teori.

Ada pula pendekatan administratif versus kritikal. Riset administratif menggunakan institusi media sebagai obyek dan mendokumentasikan penggunaan serta efek yang dihasilkan oleh media tersebut. Sementara riset kritikal mengkritisi institusi media itu dari perspektif cara melayani kelompok-kelompok sosial dominan dalam masyarakat. Di sisi lain, dikenal penelitian kuantitatif versus kualitatif. Metode kuantitatif menghitung penemuan yang ada dan menganalisis hubungan secara statistik antara variabel independen dan dependen. Adapun metode kualitatif dilakukan anara lain dengan mempelajari simbol-simbol dalam konten/isi media atau mengamati perilaku dalam setting alami.

Salah satu jenis penelitian adalah dengan analisis isi media. Ini merupakan deskripsi kuantitatif terhadap isi media dengan sampel sistematik isi media tersebut. Peneliti melakukan pendefinisian obyektif untuk mengklasifikasikan kata-kata dalam media, gambar, dan tema yang diangkat. Analisis isi ini menghasilkan profil detil media yang diteliti dan mengidentifikasi kecenderungan isinya dari waktu ke waktu. Yang terkenal, misalnya, analisis isi mengenai tayangan kekerasan di TV oleh Federman (1998), yang meneliti program 23 TV kabel di Amerika selama tiga musim penyiaran.

Selain contoh-contoh di atas, ada pula riset eksperimental yang melakukan studi tentang efek media dalam bentuk uji coba. Biasanya ini dilakukan dengan menguji suatu kelompok kecil dengan tampilan media dengan kandungan isi tertentu. Albert Bandura pada tahun 1965 meneliti anak usia prasekolah dengan mempertontonkan mereka adegan seorang aktor cilik yang agresif memukuli boneka model. Ia lalu melihat respon subyek penelitian. Hasilnya, setelah tayangan selesai dan kanak-kanak itu bermain dengan boneka yang sama, tindakan agresif serupa mereka perlihatkan dengan memukuli boneka tersebut

Dalam teorinya, dampak media dapat dilihat dari berbagai pendekatan. Yang paling terkenal adalah teori Jarum Suntik (hypothermic needle) yang juga disebut sebagai model peluru (bullet theory). Teori ini menyatakan bahwa pengaruh kuat media massa itu sama halnya seperti peluru atau jarum suntik yang diinjeksikan kepada audiens. Jika penonton menyaksikan tayangan aksi perampokan, di benaknya akan tertancap dengan dalam bentuk aksi tersebut. Contoh lain adalah iklan shampoo. Dengan berbagai eksploitasi keunggulan dan iming-iming, maka iklan ini akan melekat di benak penonton. Walhasil, ketika mereka belanja dan melihat produk tersebut, mereka langsung ingat keunggulan yang digembar-gemborkan, lalu membelinya.

Barangkali banyak di antara kita yang mengalami bagaimana anak-anak menjadi takut ke kamar mandi di waktu malam, atau menjerit histeris saat mati lampu. Dalam bayangan mereka, di dalam situasi seperti itu pastilah ada makhluk gaib yang akan mendatangi. Pemahaman ini muncul akibat tayangan yang mereka saksikan. Pandangan sang anak tentang suatu hal di dunia nyata mengadopsi apa yang disampaikan oleh televisi. Teori ini disebut dengan teori kultivasi.

Agenda Setting dan Katarsis

Suatu ketika, koran-koran, radio, dan televisi ramai-ramai meliput tentang perseteruan antara “Ratu Ngebor” Inul Daratista dengan “Raja Dangdut” Rhoma Irama. Begitu gencarnya, sehingga penonton atau pembaca punya kesimpulan dalam benaknya bahwa perseteruan itu benar-benar hal penting dan patut diketahui khalayak. Padahal, sesungguhnya, apa sih nilai berita tentang perseteruan seseorang yang mencari nafkah dengan menjual bokongnya? Tetapi karena semua media memuatnya, maka khalayak lama-kelamaan menganggap masalah ini memang pantas diangkat.

Contoh di atas adalah salah satu konsep yang disebut agenda setting. Dalam konsep ini, pemahaman audiens dalam menerima suatu berita berproses. Mereka menganggap suatu kabar menjadi penting karena cenderung mengikuti apa yang media massa liput dan anggap penting.

Berlawanan dengan beberapa teori di atas, ada Hipotesis Katarsis yang menyatakan bahwa tayangan dan berita seks serta kekerasan pada media sesungguhnya memiliki efek positif. Menurut hipotesis ini, berita tersebut memungkinkan orang merasa lebih rileks dan terhibur lewat perantaraan dunia fantasi. Misalnya, menurut teori ini, kalau anda suntuk tidak mendapat pekerjaan, atau uang di kantor cekak, lalu membaca berita syur di koran atau majalah, setidaknya anda akan lupa dengan problem yang tengah hinggap (hehehe, teori gile, tapi saya kutip supaya semua tahu, ada teori macam begini).

Perilaku Antisosial

Yang dimaksud dengan perilaku antisosial adalah perilaku yang berlawanan dengan norma-norma sosial yang berlaku. Media amat berperan menampilkan tayangan yang mengakibatkan adanya perubahan perilaku tersebut, antara lain. Salah satu yang paling dikhawatirkan adalah tayangan kekerasan. Efek kekerasan, khususnya dari tayangan televisi, menarik banyak minat peneliti, terutama efek pada anak-anak. Ini dikarenakan anak-anak sukar membedakan antara tayangan film dan kejadian sehari-hari di alam nyata.

Seorang kenalan di Bogor bercerita bagaimana ia kini mencegah anaknya menonton film kartun “Tom and Jerry”. Pasalnya, si anak sering melakukan tindakan berbahaya dengan berusaha melompat dari atas lemari atau meja ke lantai. Ia rupanya ingin meniru adegan Tom sang kucing yang jatuh terhempas lalu gepeng, kemudian kembali seperti sedia kala.

Ada pula perilaku prasangka, seksisme, rasialisme, dan segala bentuk intoleransi lainnya yang kerap dipromosikan media. Tayangan media kerap mendorong pen-stereotipe-an, terbentuknya generalisasi terhadap sekelompok orang tertentu akibatnya kurangnya informasi. Stereotipe ini bisa berbahaya jika mereka yang dipengaruhi akan terasionalisasi hingga bertindak tidak adil pada kelompok lain. Orang negro, misalnya, diidentikkan dengan pemalas dan suka bertindak kriminal. Orang Amerika Latin digambarkan senang berpakaian norak. Orang kulit putih biasanya cerdas dan kuat. Sementara di dalam negeri, orang Batak terlanjur diasosiasikan bersuara keras, tidak tahu sopan santun, dan berprofesi sebagai, maaf, tukang copet. Sementara Cina diidentikkan dengan manusia licik dan tukang mengeruk untung. Banyak contoh stereotipe lain, seperti penggambaran bahwa wanita itu lemah dan pasif, sementara pria itu kuat dan agresif.

Khusus media televisi, terdapat suatu hasil penelitian yang menarik antara menonton TV dengan prestasi di sekolah. Meski tidak terlalu kuat, diduga ada sedikit hubungan negatif antara keduanya. Remaja yang banyak menonton TV cenderung kurang berprestasi di sekolah dibandingkan rekannya yang sedikit menonton. Dari sebuah studi pada lebih dari 600 siswa kelas 6 hingga 9 di Amerika, diketahui bahwa pada penggemar berat TV memiliki skor tes kosa kata dan bahasa yang cenderung lebih rendah dibandingkan rekannya yang sedikit menonton.

Seks dan Media

Perilaku antisiosial lain yang juga mengancam khalayak adalah tentang masalah seksual. Seks dalam media menjadi isu hangat sejak tahun 1920-an, terutama di Amerika Serikat, setelah adanya skandal seks di Hollywood. Jika dulu Hollywood, yang menjadi pusat perfilman Amerika, ketat dalam sensor dan mencegah adanya perilaku seks, pada dekade terakhir ini tingkat tayangan pornografi melesat tinggi lewat majalah, TV, video, dan internet. Pada saat sama, norma-norma sosial perlahan mulai permisif dan mentoleransi hal-hal semacam itu. Penelitian menunjukkan, pria yang terekspose materi pornografi ternyata bersikap dan perilaku negatif terhadap wanita. Bukankah sudah kerap muncul berita bahwa seorang lelaki berbuat tidak senonoh pada perempuan karena alasan terangsang sehabis menonton film porno?

Tindakan penyalahgunaan obat-obatan juga menjadi masalah pelik saat ini. Ini terjadi lewat penayangan iklan atau program yang menyertakan obat-obatan, minuman keras, rokok, dan sebagainya. Barang semacam ini, meski beberapa dilarang tayang langsung dalam iklan, mempengaruhi pemirsa untuk konsumtif dan mencobanya.

Komputer, Antisosial

Dampak komputer sebagai media baru ini, juga internet, tak kalah seriusnya. Salah satunya adalah perilaku antisosial, misalnya yang ditimbulkan akibat permainan video game yang banyak berisi adegan kekerasan. Internet juga membawa materi pornografi yang dapat diakses bebas oleh setiap pengguna (pada kesempatan lain, saya akan postingkan tulisan khusus mengenai video game, menarik kok... hik hik hik, promosi ni yee).

Para ahli kini banyak meneliti gejala “computer anxiety”, yaitu dampak karena penggunaan komputer yang berlebihan, yang dikenal pula dengan nama cyberphobia dan computerphobia. Gejala ini berupa ketakutan akan computer karena berbagai efek buruk dari penggunaannya. Sebaliknya, ada pula yang kecanduan internet (internet addict), yakni orang penggila berat penggunaan internet. Ia menjadi tidak bisa lepas dari komputer, berulang kali mengecek e-mail, dan khawatir ditinggal teman-temannya di komunitas maya tersebut.. Malah di Amerika kini ada yang kecanduan akan judi online (online gambling addict).

Perilaku Prososial

Begitu pun, tidak berarti media komunikasi saat ini punya efek buruk 100 persen. Sesungguhnya, media tersebut juga menyediakan sarana agar penonton atau pembaca dapat dipengaruhi untuk berperilaku prososial, yakni perilaku yang memiliki nilai sosial dan dianjurkan, merupakan kebalikan dari antisosial.

Televisi dapat digunakan salah satunya sebagai wadah kampanye informasi yang memanfaatkan teknik kehumasan dan periklanan untuk memperkenalkan dan memasyarakatkan perilaku prososial. Kampanye ini dapat menggunakan social marketing sebagai suatu pendekatan komunikasi yang terpadu. Misalnya, memperbanyak tayangan ceramah dan siraman rohani seperti acara Aa Gym, diharapkan bisa menarik perhatian pemirsa dan membuat mereka menikmati isinya. Ajakan hidup sehat di surat kabar dan anjuran menanam sejuta pohon dalam rangka Hari Lingkungan juga merupakan salah satu keuntungan yang diperoleh dari adanya media.

Media massa seperti TV juga dapat digunakan sebagai sarana pendidikan jarak jauh (distance education). Ini sudah banyak dilakukan di luar negeri. Tujuannya, tak lain untuk membuat pendidikan menjadi lebih dapat diakses oleh berbagai kalangan yang tak punya kesempatan belajar di sekolah atau tempat kursus. Di Indonesia, hal itu sudah dilakukan dalam skala tertentu, misalnya lewat program panduan masak-memasak di televisi. Atau, tips dan trik merawat komputer di lembar khusus surat kabar harian, dan lain-lain. Bahkan di internet, kini hadir apa yang disebut virtual university.

Bahkan iklan-iklan, yang disebut sebelumnya ‘meracuni’ pikiran penonton, masih punya sisi positif. Setidaknya, dengan banyaknya iklan, konsumen menjadi lebih peduli terhadap adanya produk-produk alternatif yang menciptakan persaingan bagi produk yang sudah ada, sehingga membuat harga terdorong turun.

Efek lainnya

Penggunaan TV ternyata dapat menurunkan keterlibatan masyarakat, karena orang lebih suka duduk di depan layar kaca daripada harus hadir di rapat kelurahan, misalnya. Masyarakat virtual di internet juga bisa menggantikan hubungan tatap muka yang selama ini terjadi, sehingga orang mulai malas berkunjung. “Toh bisa chatting di internet, atau kirim SMS,” kilah sebagian orang.

Internet dalam beberapa hal mengakibatkan depresi dan isolasi sosial bagi para penggilanya. Tetapi hal ini masih menjadi perdebatan hangat. Pasalnya, survei lain mengatakan bahwa internet ternyata tidak punya dampak siginifikan pada keterlibatan sosial nyata. Artinya, para netter tidak harus menjadi seseorang yang asosial, mengingat mereka tidak saja menciptakan teman di dunia cyber, tapi juga mengubah teman cyber-nya menjadi teman dalam dunia nyata.

Dari segi kesehatan dan lingkungan, penelitian menyebutkan pengaruh menonton TV terhadap kegemukan bagi anak. Juga, film kartun yang aneka warna menyala membuat sindrom pada penglihatan anak dan membuat mereka tak sadar serta tak terkontrol dalam sesaat. Demikian juga radiasi VLF (very low frequency) dari alat-alat elektronik bisa menimbulkan ancaman kesehatan. Radiasi telepon portabel/ponsel disebut-sebut dapat menimbulkan kanker otak, juga radiasi elektromagnetik sistem microwave dan satelit mempengaruhi kesehatan jaringan tubuh. Sementara penggunaan komputer yang sering dapat menimbulkan cedera dan stres. (ahmad husein)