Friday, May 27, 2005
Ingat Kampung Halaman (lanjutan)
Belum lagi kalo kita diundang silih berganti dari satu rumah famili ke rumah famili lain. Yang paling ditunggu-tunggu adalah kalau berkunjung ke rumah bapak dan ibu angkat kami, dipanggil Pak Cuman (nama aslinya Lukman) dan Ibu Betty (asli Yogya, tapi udah lebih batak dari orang batak).......... Mereka tinggal di dalam komplek pasar. Selalu ada kurir yang datang ke rumah nenek, dan menanyakan, apa menu yang diinginkan kalau pas datang ke rumah mereka. Saya dan saudara-saudara biasanya saling berebut menyampaikan 'aspirasi' perut masing-masing.
Jika malam menyambangi kampung, suasana terasa temaram, meski belakangan listrik sudah tersedia. Dulu, belum ada yang memiliki TV, kemudian satu-satu mulai membeli dan memasangnya di halaman rumah, seperti yang dilakukan Pak kades, yang rumahnya pas di sebrang jalan. Dingin menyelubungi seluruh kawasan bebukitan itu. Kami biasanya berkumpul di rumah, minum teh atau kopi, dan berbincang-bincang. Bagi anak laki-laki seperti aku, kesempatan semacam itu biasa dipakai untuk mencuri-curi melinting rokok tradisional (dari daun jagung, diisi dengan sejumput tembakau) dari saku kakek atau paman. Biasanya Mama' langsung menyuruh berhenti, sedangkan Ayah cuma tertawa-tawa. "Biarlah, sekali-sekali," begitu alasannya. Para paman malah dengan semangat mengajari bagaimana melinting dan memasukkan jumput tembakau secara baik dan benar :)
Dan bila malam makin larut, saatnya tidur. Ini tidur paling nikmat, dengan selimut tebal, dan tak jarang lebih dulu didongengi cerita oleh Uwak kami. Tentu, sambil rambut di kepala diucel-ucel, membuat kita makin 'teler' keenakan dan akhirnya tak sadar terpulas.
Kalau bosan, kita bisa minta sepupu memanjat pohon kelapa di siang hari dan memetik buahnya barang dua-tiga butir. Bosan juga? Bisa ikut Uwak laki-laki membuat gula merah dari pohon aren (gula aren). Memasaknya penuh kesabaran, dan dicetak berbentuk bundar dengan cetakan dari pelepah pisang yang sudah dikeringkan. Manisnya, jangan tanya lagi. Dan sangat bergizi. Penuh kalori.
Sering pula kita pergi ke pasar (disebut Pekan, tiap hari Kamis). Di sana ada banyak jajanan tradisional, dengan harga murah. Atau, menemani Uwak berdagang tauge ke provinsi sebelah (Sumatera Barat), tepatnya di Pasar Rao (tempat lahirnya sutradara terkenal, Asrul Sani). Sementara Uwak menjajakan tauge-nya, kita berkeliling pasar sambil bermain hingga letih. Kalau dagangannya laku, Uwak suka membelikanku tebu segar yang sudah dipotong-potong dan ditancapkan di tangkai bambu. Persis makan es krim, tetapi yang ini tebu, saudara-saudara...
Dan ketika esok atau lusa kita akan pulang kembali ke Medan, itu saatnya para paman dan bibi serta sepupu membuatkan oleh-oleh spesial: dodol kacang. Membuatnya dari kelapa dan gula merah (aren), diaduk pelan-pelan, yang lama kelamaan makin berat karena makin mengental. Aku pernah mencoba, bahkan hingga SMA, tetap saja ngos-ngosan dan tidak kuat. Sementara mereka membuatnya begitu santai dan mudah, sambil berbincang dan bersenda gurau.
Ada perasaan sedih tiap kali akan berangkat pulang, menunggu bis yang ditumpangi datang menjemput. Biasanya, dulu hingga SMA, ketika akan berangkat pastilah saku celana saya penuh dengan uang recehan, dari lima ratusan, hingga seribuan. Itu 'persenan' dari nenek, kakek, uwak, paman, dan famili lainnya. Wah, bahagianya (waktu aku lulus dari IPB dan mampir di sana, eh, aku juga masih disangui seperti itu, betapa mereka tidak mau melepas tradisi ini. Jadi malu, ih).
Sekarang, aku cuma bisa mengenang-ngenang semua itu. Entah kapan bisa ke sana lagi, dan menjalani masa-masa bahagia tanpa beban seperti dulu. I miss my village... (ah)
Tuesday, May 24, 2005
Ingat Kampung Halaman
Kompas menulis tentang kehidupan di desa sekitar Gunung Sorik Merapi di Tapanuli Selatan (sekarang masuk wilayah Kabupaten Mandailing Natal atau Madina). Kampung ayah juga di kawasan sana juga, meski lumayan jauh dari Sorik Merapi. Namanya Muara Sipongi, sekitar 22 km dari Kotanopan, 60 kilometeran dari Panyabungan, serta 120 kilometeran dari Padang Sidempuan.
Melihat foto-foto suasana kampung berikut gambaran situasi kehidupan sehari-hari, ah, tak salah lagi. Itu khas yang memang selalu dirasakan, tiap kali mengunjungi dan tinggal di sana. Muara Sipongi, saudara-saudara! Mungkin kota (kecamatan) ini asing di telinga anda. Tapi coba aku sebutkan nama orang-orang ternama ini: Sanusi Pane (sastrawan), Armyn Pane (sastrawan, budayawan, salah satu pendiri HMI), Muhammad Kasim (sastrawan handal), lahir di tempat ini. Adnan Buyung Nasution pun juga kampung asalnya dari Muara Sipongi, kalo tak salah di desa Pakantan.
Kami sekeluarga, dahulu, kerap menyambangi kakek dan nenek (keduanya kini sudah tiada, allahummaghfir lahuma warhamhuma). Entah itu ketika liburan, lebaran, atau kadang kapan saja, ketika rindu itu datang. Aku malah punya pengalaman menarik, ketika baru saja pengumuman kelulusan SD, pagi-pagi buta ayah membangunkanku dan bertanya, “Mau ikut ke kampung? Ayah ada tugas dan lewat sana, nanti kita mampir ke nenek barang sehari-dua,” katanya. Belakangan, aku tahu kalau ajakan itu adalah bentuk hadiah dari beliau, karena aku menjadi juara umum di sekolah. Persiapan kilat pun dilakukan. Mama’ menyiapkan pakaian, baju hangat, dan tak lupa mewanti-wantiku agar jangan membiarkan perut kosong di perjalanan. Dan benar, saking buru-burunya, waktu itu makan pun tak selera lagi. Akibatnya, masuk angin dan mabuk perjalanan, apalagi saat melewati kelok 40, Sibolga (waktu itu jalur nyaman lewat Kisaran belum lagi dibuka). Waktu itu, dari Medan ke Muara Sipongi (atau biasa disebut Morsip) membutuhkan 14 jam perjalanan.
Tetapi tetap saja mengunjungi kampung halamanku itu menjadi sebuah kenikmatan tiada tara. Bayangkanlah. Kampung ini berada di tepi Batang Gadis (nama sungai), yang airnya jernih bukan kepalang. Dinginnya jangan tanya. Aku tak pernah bisa mandi kecuali jarum jam sudah menunjuk angka 11 siang. Saking dinginnya, di permukaan air terlihat kabut yang mengapung-apung hingga tengah hari. Kawanan burung Belibis suka mandi di tepian dekat hutan, dan menghambur berterbangan jika diusik anak-anak yang asik mandi. Kadang, babi hutan suka mengintip di balik dedaunan. Harimau? Satu-dua orang pernah mengaku bertemu. Ayahku juga pernah, dan suka menceritakan pengalaman itu berkali-kali kepada kami, anak-anaknya. Kami selalu suka mendengar cerita itu dan senantiasa terkagum-kagum. Mata kami berbinar-binar kalau cerita tentang harimau, babi hutan, bahkan tentang cerita seram sekali pun, terutama tentang inyik (sebutan sopan untuk harimau) jadi-jadian yang suka terlihat melintasi sungai di tengah malam, dengan seorang nenek berjubah kelabu di atas punggung sang harimau.
Di belakang rumah-rumah penduduk, baik yang di sebelah utara maupun selatan jalan lintas Sumatera, hutan dan semak belukar lebat sudah menyambut. Belukar ini terus menyambung hingga menuju rimba bebukitan. Sinar matahari baru bisa nongol setelah jam 11 karena tertutup bebukitan itu. Jadi, dinginnya sudah terkira, bukan?
Tiap orang bertemankan sarung dan kemul. Pagi-pagi, sehabis subuh, pekerjaan paling nikmat adalah nongkrong di depan rumah sambil berkemul dan ngobrol ngalor ngidul, atau masuk warung dan ngopi atau minum teh, plus ditemani pisang goreng yang rasanya tidak bisa disamai pisang goreng mana pun di dunia. Sumpah!
Sembari ngobrol (orang sana menyebutnya “mahota”), aku dan sanak saudara sebaya dulu sering menghitung bus-bus antarkota dan pulau yang selalu lewat di jalanan kampung. Coba, apa yang tidak ada, mulai dari ALS (Antar Lintas Sumatera), ANS (singkatan dari ANAS, punya orang Padang?), PM Toh, Sibual-buali, Sampagul, hingga Mawar Merah). Entah di mana letak kesenangannya, yang jelas, tiap bus yang lewat selalu kami sambut dengan sorakan dan lambaian tangan. Bangga rasanya menghibur para musafir yang dari dalam mobil tampak tersenyum sambil balas melambai. Kadang, mereka juga berhenti di mesjid jami di tepi sungai dekat jembatan, sekadar membasuh muka dan menunaikan solat.
Mandi di sungai adalah kenikmatan yang lain lagi. Air yang jernih membuat ikan di dasar perairan tampak dengan jelas. Kadang kami main ke daerah larangan, sebutan buat kawasan sungai yang ditetapkan desa sebagai daerah larang ambil, karena ditebar berbagai bibit ikan. Biasanya pada hari kedua atau ketiga lebaran idul fitri, larangan itu diakhiri, dan warga desa boleh mengambil dengan jala, pancing, tombak, dan segala rupa perangkat, dengan membayar sejumlah uang pendaftaran. Uang itu dipakai untuk kepentingan desa. Di sungai larangan ini, kami bawa nasi basi dari rumah nenek. Begitu nasi ditebar di tepi, dan permukaan air ditepuk-tepuk, ikan-ikan beragam jenis muncul mendekat dan berpesta. Jinak-jinak. Pemandangan eksotik apa lagi yang bisa menyainginya?
Ketika ayah memiliki ladang jeruk, kami rela berjalan kaki 2 kilometer menuju ladang itu, mendaki hingga puncak bukit dan membawakan kakek nasi rantang untuk makan siang. Di puncak bukit ada saung, berikut kolam di bawahnya. Untuk cucu-cucunya, kakek suka mengambil ikan mas yang ada di kolam, untuk digulai atau digoreng dan disantap bersama. Yang lucu, di kaki bukit, sebelum masuk ladang jeruk, ada pengumuman unik, ditulis dengan cat putih di papan tipis. Isinya: “Dilarang Mencuri. Kebun Ini Berubat!!” (maksudnya berobat, diberi jampi-jampi yang membuat pencurinya bakal celaka). Kakek yang membuatnya. Konon, dia termasuk tabib atau dukun kampung yang lumayan disegani...
(bersambung, udah menjelang jam 22.30. ngantuk...)
Wednesday, May 18, 2005
Sibuk, Kejutan, Hiburan
Betapa tidak, kesibukan luar biasa karena harus menuntaskan berbagai kerjaan kantor sudah amat menyita waktu dan tenaga. Eh, penelitian malah membuat aku panik, karena makin mendekat ke sini kok makin banyak yang dirasa kurang.
Maka, sungguh aneh ketika pekan lalu, entah kenapa aku ngotot berhenti mengerjakan semuanya sejenak. Ya, sejenak. Sehari saja. Aku ingin mengerjakan yang lain sama sekali. Tidak untuk bermain game, tidak untuk kerjaan kantor, tidak untuk tesis. Go to hell with them! Akhirnya, kugunakan untuk menulis esai tentang Perpustakaan Nasional. Hasilnya aku kirim ke Lomba Menulis tentang Perpustakaan Nasional, pas injury time (deadline tanggal 10 Mei, kirim tanggal 9 Mei siang). Saking injury time-nya, Pak Pos pun nyerah, sehingga harus pake jasa kurir khusus. Kena 20 ribu perak, tetapi puas, karena bisa mengerjakan something different than usual.
Dan tahu-tahu pengumuman muncul kemarin di situs www.pnri.go.id. Hasilnya, terpilih 3 pemenang utama (Juara I mahasiswa dari Bantul, hebat...hebat, patut diacungi jempol). Selebihnya, kebanyakan kalau nggak dosen, ya petugas perpustakaan di berbagai daerah. Di luar 3 juara, ada 10 Penulis Favorit pilihan Juri. Dan, eeeeeh..... sodara-sodara, namaku kok ada di urutan ke-4 dengan esai yang berjudul 'Menjajakan' Perpustakaan Nasional dan Pengembangan Layanan bagi Khalayak". Itulah hasil kerjaan mendadak, yang sebenarnya lebih untuk mengusir kejenuhan.
Allah sungguh-sungguh Maha Hebat. Dan aku jadi sungguh-sungguh jadi malu pada-Nya. Dia Maha Tahu cara menghibur hamba-Nya. Di sela kesibukan kerja dan kekalangkabutan mengerjakan tesis serta berbagai urusan dunia lainnya itu, berita 'kemenangan kecil' ini amat menyejukkan. Konon, ada hadiah uang dan piagam penghargaan, lho :). But that's not the issue. The issue is: bahwa ketika aku mulai lupa dan lalai, Dia bukannya murka. Sebaliknya, justru menghiburku terus-menerus dengan tetap memberi kesehatan, kekuatan, dan berita gembira seperti ini. Rasanya, betapa tak pantas selama ini aku mengeluhkan kesibukan kerja, kepusingan belajar, dll. Sangat tak patut.
God,thanks a lot.
Engkau sungguh-sungguh Maha Hebat.
Maha Sabar.
Maha Penyayang thd hamba-mu yang 'ndableg' ini.
Thursday, May 12, 2005
McDonaldisasi: Rasional vs Irasional
Siapa tak kenal McDonald? Inilah perusahaan yang bergerak di bidang makanan cepat saji (fast food) terdahsyat yang pernah ada di bumi. Setidaknya, jika melihat kemajuan pesat yang dicapainya sejak pertama kali berdiri.
Adalah Ray Kroc, si pengembang kerajaan McDonald, yang mematenkan metode brilian dalam menjual dan mengembangkan produknya. Cerita awalnya adalah usaha dua bersaudara, Mac dan Dic McDonald, yang membuka restoran di Pasadena, California, tahun 1937. Strategi mereka berjualan adalah menyediakan pelayanan dengan kecepatan tinggi, volume yang besar, dan harga terjangkau. Agar rapi jali dan menghindari kekacauan akibat banyaknya pembeli, dua bersaudara ini menyusun rangkaian menu siap pesan yang amat rinci. Belum lagi model “ban berjalan” ala pabrik untuk kegiatan produksinya. Waktu memasak kentang dan ayam, misalnya, sudah diatur sedemikian rupa, demikian juga pelayanan. Dua bersaudara ini pula yang mula-mula memperkenalkan pekerjaan spesifik untuk tiap pegawai. Ada “grill men” yang khusus memanggang daging, “fry men” yang menggoreng kentang dan ayam, atau “dresser” yang khusus menambahkan ekstra di atas burger dan yang membungkusnya.
Kroc tertarik dengan model bisnis makanan yang dikembangkan dua McDonald itu. Kesempatannya mengembangkan strategi dimulai dengan menjadi mitra dua bersaudara tersebut sebagai agen waralaba sejak 1954. Kroc membuka warung burger sederhana setahun kemudian di San Bernardino, California. Lama-kelamaan, usaha tersebut berkembang, namun McDonald bersaudara masih memegang kendali usaha. Baru setelah Kroc membeli seluruh aset McDonald’s seharga US$ 2,7 juta tahun 1961, ia mulai menciptakan strategi resto yang diimpikannya.
Dan hasilnya, kini McDonald’s –yang popular disebut McD-- sudah memiliki 31 ribu outlet di seluruh dunia yang tersebar di 119 negara. Termasuk di Mekkah! Mereka melayani lebih dari 47 juta pelanggan tiap hari. Pada tahun 1993 alias 11 tahun silam, total penjualan McD mencapai US$23 milyar dengan keuntungan hampir US$ 1.1 milyar. Rata-rata outlet di AS total penjualannya waktu itu kira-kira US$1.6 juta per tahun. Kota Moskow sebagai simbol kekuatan Soviet waktu itu juga ‘ditembus’ McD. Di outlet kota itu, sejumlah 30 ribu burger McD dijual tiap harinya dengan mempekerjakan tak kurang dari 1200 anak muda. Kini, jumlahnya tentu lebih berlipat ganda. McD bahkan menjadi ikon baru kekuatan Amerika di bidang ekonomi.
Inovasi Ray Kroc yang sukses ini mewabah ke mana-mana. Yang Kroc tidak sadari, model bisnisnya tersebut ternyata mempengaruhi sendi-sendi kehidupan manusia di dunia, yang akhirnya dikaji banyak pihak dari berbagai disiplin. Pelaku usaha berlomba-lomba meniru atau mengadaptasi model bisnis McD ke dalam usaha mereka masing-masing.
Prinsip Rasionalisasi
George Ritzer, seorang ahli bidang teori sosial, menulis sebuah buku berjudul “McDonaldization of Society: An Investigation into the Changing Character of Contemporary Social Life” pada tahun 1995. Isinya membahas kesuksesan McD dan pengaruhnya terhadap perubahan karakter dan kehidupan sosial masa kini. Buku ini hingga sekarang menjadi rujukan banyak pihak yang ingin mendiskusikan pengaruh upaya rasionalisasi terhadap hidup manusia.
Wabah McD sesungguhnya berakar dari ide rasionalitas, yang bisa diartikan sebagai penggunaan pikiran untuk menentukan untung-rugi segala sesuatu. Dalam usaha ekonomi, tak pelak orang harus berpikir rasional agar memperoleh keuntungan. Dan upaya rasionalisasi salah satunya adalah melalui birokrasi, yakni dengan membentuk hirarki dan tanggung jawab kerja terstruktur dalam sebuah organisasi. Masing-masing kerja didefinisikan agar tujuan organisasi tercapai, seperti yang diungkap oleh Max Weber, seorang sosiolog Jerman,
Dan itulah yang ditawarkan McDonald’s. Pertama adalah efisiensi atau metode optimal untuk memindahkan orang dari satu titik ke titik lain. McD menerjemahkannya sebagai perubahan secepatnya dari lapar ke kenyang. Maka, orang tak perlu repot berpikir apa yang harus dimakan, atau di mana harus makan. Cukup ke McD, pesan,dan,.. kenyang.
McD menerapkan juga prinsip kalkulabilitas, alias aspek kepastian terukur tentang kuantitas produk yang diperoleh. Semua orang tahu, berapa kocek yang harus dirogoh kalau ingin makan dua potong burger, termasuk besar rotinya. Atau, jika ingin makan yang lebih besar, orang pasti memesan BigMac, bukan yang medium.
Unsur lainnya adalah prediktabilitas. Dalam hal ini, semua orang tahu persis, bahwa produk dan jasa yang mereka beli akan sama di mana pun mereka cari di dunia. Rasa French fries alias kentang goreng di Kalimalang tak ada bedanya dengan yang di California. Demikian juga dengan sistem kerja mereka sudah dapat diprediksi, berapa lama waktu untuk masak, umpamanya.
Sedangkan unsur terakhir adalah kontrol ketat lewat substitusi tenaga manusia kepada teknologi. Jalur produksi yang sudah ditetapkan atau menu yang sudah diatur sehingga orang hanya bisa memesan sesuai menu yang ditetapkan, merupakan contoh dari betapa terkendalinya kegiatan usaha tersebut. Termasuk tentang perilaku dan kerja pegawainya juga distandarisasi.
Semuanya dilakukan dengan tujuan rasional yang ujungnya menghasilkan keuntungan. Dan karena sukses, berbondong-bondonglah orang meniru prinsip di atas. McD menjadi wabah, yang kemudian oleh Ritzer disebut sebagai “McDonaldisasi”. Artinya kira-kira adalah suatu proses masuk dan mendominasinya prinsip-prinsip restoran siap saji ini ke berbagai sektor lain dalam kehidupan masyarakat Amerika, juga dunia.
Untuk urusan perut, Kentucky Fried Chicken, Burger King, Pizza Hut, dan lain-lain boleh dibilang mengikuti jejak McD. Di luar itu, kini berkembang usaha dengan prinsip sama, seperti McDentist (Urusan Dokter Gigi), McDoctor (medis), dan segala Mc lainnya. Media massa pun terimbas. Di Amerika, ada surat kabar USA Today, yang isinya ringkas, sehingga membantu bagi yang sibuk karena mereka cukup membaca berita yang ringkas. Atau, kita semua menggunakan mesin ATM (anjungan tunai mandiri) bukan? Itu tak lain menggunakan empat prinsip tadi. Anda tahu persis apa yang akan anda dapatkan, atau yang bisa diurus oleh ATM.
Rasional versus Irasional
Pertanyaannya, benarkah semua prinsip itu membawa kita ke arah yang lebih baik? Dalam beberapa hal, harus diakui ya. Tapi dalam banyak hal lain, yang terjadi adalah ironi. Manusia jadi kehilangan rasa kemanusiaannya. Hal ini tak mengherankan, karena manusia sesungguhnya hidup bukan hanya dengan rasionalitas, tapi juga nilai-nilai. Dan nilai-nilai tersebut, termasuk di dalamnya keyakinan/iman, bisa jadi yang utama diperjuangkan ketimbang sekadar urusan untung-rugi.
Dalam kasus McDonaldisasi alias “wabah” McDonald’s, semua prinsip demi rasionalisasi tadi pada kenyataannya justru muncul ketidakefisienan. Hal yang diharapkan rasional justru menjadi tidak rasional. Ritzer menyebutnya sebagai ”Irrationality of Rationality" (Irasionalitas dari Rasionalitas).
Kecepatan untuk mengubah lapar menjadi kenyang yang didengungkan, pada kenyataannya malah membuat antrian konsumen yang panjang. Ingin makan segera, malah disuruh menunggu, menyebalkan bukan? Juga antrian di ATM, yang membuat orang stres. Jika satu orang menghabiskan waktu 2 menit, berarti anda butuh waktu 20 menit di antrian kesebelas. Padahal, anda hanya ingin mengecek, apakah kiriman uang dari kantor sudah masuk atau belum. Belum lagi ketika ternyata anda salah pencet, dan kiriman uang masuk ke rekening orang lain. Urusannya jadi panjang: bikin laporan kejadian, hubungi customer service, menanti proses pengecekan, dan berharap uang salah kirim tadi dapat kembali. Jika tidak, anda akan makin frustrasi.
Yang pernah belanja di pusat grosir besar, tentu tahu betapa banyaknya lorong-lorong yang disediakan untuk tiap jenis barang. Alih-alih menyediakan pilihan terbaik bagi konsumen, yang terjadi adalah orang kesal karena harus berputar-putar setiap kali memberi barang yang berbeda. Bandingkan dengan kios tetangga, misalnya, yang tinggal pesan, maka barang datang. Plus, masih bisa ngobrol soal Mulyana Kusuma dan korupsi KPU. Atau, menang mana Liverpool lawan AC Milan. Lebih manusiawi.
Prinsip ala Kroc juga secara nyata mengakibatkan dehumanisasi. Makanan cepat saji pada akhirnya membuat orang tak lagi memikirkan kandungan gizi yang tepat. Belum lagi soal teknologi, dengan membuat bahan produksi secara khusus, misalnya budidaya tanaman secara intensif, tapi mengorbankan lingkungan bahkan kesehatan manusia, seperti yang kini banyak dicemaskan orang.
Dehumanisasi lainnyan adalah hubungan antar-manusia yang kering. Coba, ketika kita memesan suatu menu di depan kassa makanan sebuah restoran. Begitu anda selesai membayar, pelayan dengan senyum mengembang mengatakan, “Terima kasih, selamat menikmati”. Sekilas, ini adalah bentuk keramahan. Tapi di balik itu, sadarkah kita kalau sesungguhnya restoran ingin menyatakan kepada Anda, “Terima kasih, mohon pergi selekasnya, pelanggan lain yang mau membayar sudah menunggu..”. Demikian juga hubungan dengan sesama pekerja di sebuah perusahaan, menjadi kaku dan singkat karena disibukkan dengan pekerjaan masing-masing dan kehilangan waktu untuk bersosialisasi.
Faktor negatif lainnya adalah adanya homogenisasi. Konsumen tidak lagi punya hak meminta hal spesifik kecuali yang sudah tertera di menu. Padahal, apa susahnya menambahkan buah ceri di atas es krim yang kita pesan buat putra-putri. Tapi, karena tidak ada dalam manual, maka permintaan sepele itu tidak akan pernah bisa dikabulkan.
Membeli baju juga bukan lagi seperti masa lalu, pesan ke tukang jahit dan diukur sesuai tubuh. Yang ada, di swalayan tersedia ukuran S, M, L, XL, dan seterusnya. Kalau pas di tubuh, tapi lengannya terlalu panjang, anda tidak bisa protes. Yang bisa dilakukan, pakai dan permak di rumah, atau cari satu yang betul-betul pas sampai ketemu !
Hidup di Era Irasional
Malapetaka-kah hidup di era seperti itu? Belum tentu. Ada banyak cara untuk berkelit dan bertekad hidup tidak dengan “ala McDonald’s” seperti fenomena di atas. Dalam bukunya, Ritzer memberikan beberapa tips (lihat boks) untuk menghindari terjerumus dalam akibat-akibat negatif yang terjadi.
Banyak perusahaan juga memodifikasi model usahanya sehingga tidak terperosok menjadi perusahaan efisien tapi bak robot. Ada banyak kafe, misalnya, yang menyediakan lebih banyak ruang baca, tempat bersantai, atau bermain. Restoran menyediakan layanan bagi pelanggan untuk memilih menu yang disukai, di luar yang sudah tercantum. Majalah dan koran hadir memperbanyak ruang cerpen atau sastra, dan menghindari berita-berita kaku.
Intinya, prinsip-prinsip McDonaldisasi memang bisa diambil seperlunya demi kemajuan. Namun pada saat bersamaan, hidup harus dibuat berwarna agar terhindar dari jebakan irasionalitas, dehumanisasi, atau homogenisasi. Hidup terlalu indah untuk disetir dengan prinsip untung-rugi.
Tips Hidup di era McDonaldisasi
1. Agama tentu pegangan utama. Dengan iman, anda tidak akan mengalami kegoyahan hidup sehari-hari, tahu mana yang harus dikerjakan dan mana yang tidak.
2. Bagi yang mampu, usahakan tidak tinggal di apartemen. Cobalah hidup di lingkungan yang bisa bersosialiasi. Kalau terpaksa hidup di lingkungan apartemen, upayakan tidak menjadi kaum asosial.
3. Daripada membeli di swalayan, mal, atau grosir raksasa, cobalah sesering mungkin belanja di pasar tradisional. Atau belilah buah dari pedagang pinggir jalan. Mahal sedikit tak mengapa, tapi anda membantu mereka dan bebas dari kekakuan ala supermarket.
4. Bersantaplah di resto Padang, atau warung pecel lele, ketimbang di resto siap saji atau resto besar lainnya.
5. Coba menulis untuk keluarga dengan pena dan layanan pos, meski e-mail memungkinkan. Upayakan telepon famili langsung, tidak lewat SMS.
6. Hindari membeli barang-barang impor yang mahal dan tak perlu. Cintai produk dalam negeri.
7. Kalau harus menonton televisi, tontonlah stasiun yang kecil atau yang menawarkan program pendidikan, bukan hiburan film.
8. Daripada membawa liburan anak-anak ke pusat permainan (game), bawalah mereka ke Kebun Raya, atau Taman Margasatwa.
9. Cegah rutinitas sehari-hari. Bikinlah sesuatu dengan cara berbeda setiap hari, bila mungkin. Dan jika bisa dikerjakan sendiri, kerjakan, tak usah menggunakan jasa layanan komersial.
(ah)
Sunday, April 24, 2005
Ke Mana Waktu Berlalu?
Kebetulan, aku sedang menyusun tesisku. Dan ini harus jadi perhatian utama. Karena itu, selama 4 hari dua pekan lalu, aku ambil cuti tahunan dari kantor. Aku habiskan dengan meneliti satu per satu edisi majalah yang kujadikan obyek, lalu bertandang empat hari berturut-turut ke kantor redaksinya. Untuk pengumpulan data, rasanya sudah sampai angka 60%.
Urusan kedua, apalagi kalo bukan soal kerjaan. Menumpuk, edit sana-sini, sungguh menyita tenaga. Tetapi karena ini kewajiban, ya harus ditekuni. Baru saja aku menyelesaikan 4 dari 14 halaman laporan bulanan dalam bahasa Indonesia. Yang bahasa Inggris, alhamdulillah sudah kelar sepekan lalu. Lanjutin besok saja di kantor. Capek... (capek atau kebelet mau nerusin maen game? Hehehe...)
Urusan berikutnya, sempat mengikuti tes kerja di tempat baru. Sudah dua kali wawancara. Kayaknya sih lancar. Tetapi setelah berpikir, berdiskusi ulang dengan keluarga, seniorku di kantor, dan sebagainya, aku sudah memutuskan untuk..... tidak melanjutkan proses itu. Padahal, harus diakui, posisinya menantang. Tetapi aku harus memprioritaskan tesis, sampai Agustus mendatang. After that, aku baru punya kebebasan penuh untuk melangkah. So, kayaknya besok Senin aku harus menulis surat untuk tempat baru itu, menyatakan keputusanku. Semoga ini keputusan yang benar, Amin...
Urusan berikutnya, ya blog ini... hehehe. Makanya, sekarang saat tepat untuk setidaknya mengisi sesuatu yang baru. Setidaknya, breaking news untuk diri sendiri (kalau misalnya tidak ada yang baca sekali pun). Tertulis lebih baik daripada tidak tertulis, toh?
Lalu, jadwal ngaji, rencana diskusi di Puncak, dll. kayaknya juga perlu disiapkan. Ini bisa dikerjakan sambil jalan saja.
Lantas, urusan terakhir, adalah menindaklanjuti beberapa kegiatan di luar kerjaan, seperti edit buku dan laporan. Aku punya ide nulis cerpen (gara-gara ngobrol dengan tukang bandrek di sebuah malam berhujan, sepulang dari Lebak Bulus). Seru, bukan? Juga, mau nulis untuk ikut sebuah lomba. Kebetulan ada ide bagus, dan bahannya aku punya. Eksekusi? Pekan depan, sepertinya....
So, begitulah. Selamat bekerja buat diriku sendiri. Tabah ya, nak.... (ah)
Thursday, April 07, 2005
Saatnya Melepas Kepedihan
Duka memang harus dienyahkan, segera. Namun tetap saja rasa sesak itu masih tinggal. Demikian juga dengan keluarga kami di Medan. Mula-mula, kenangan itu menguak lagi ketika Kak Inur dan Bang Jamil, akhirnya memutuskan untuk menerima semua dengan ikhlas. Bukan berarti sebelumnya mereka tidak ikhlas, bukan. Sejak si bungsu Agi hilang, usaha dan doa tak putus dilakukan seluruh anggota keluarga. Di setiap shalat, aku selalu memanjatkan permohonan, jikalau Allah menakdirkan ia selamat, di manapun ia berada, mudah-mudahan Allah mempertemukan anak ini dengan ayah-ibu dan kakaknya. Sebaliknya, jika Allah berkehendak lain, dan menakdirkan untuk memanggil si bungsu ke haribaan-Nya, maka mudah-mudahan Allah memberi petunjuk, kekuatan, ketabahan, dan kesabaran pada kami, keluarga yang ditinggalkan.
Pekan lalu, datanglah kabar dari adik Bang Jamil di Lhok Nga. Ia bercerita, malam hari sebelumnya ia bermimpi bertemu Agi. Si bungsu tampak sehat, gembira, dan bercahaya. Ketika sang Bibi menanyakan, ke mana saja Agi selama ini dan diajak untuk kembali, keponakanku itu dalam mimpi menjawab, "Agi sudah di surga, Cik (panggilannya buat sang Bibi)." Agi tidak mau kembali, Agi sudah senang di sini." Wahai, betapa gembiranya ia. Ketika bangun, mata sang Bibi sudah basah bersimbah air mata. Demikian juga Kak Inur, Abang, Mama', Teteh dan seluruh keluarga yang kemudian mendengar cerita itu. Adakah ini pertanda dari-Nya? Wallahu 'alam...
Entah kenapa, sesaat sebelum gempa mengguncang Nias dan Medan (malam Senin), sang kakak, Nurul Amalina, 7, juga tiba-tiba teringat akan si adik. Ia jatuh sakit, menangis, dan bertanya, mengapa adik lama sekali ditemukan. Ibunya tak kuasa menjawab, mereka cuma bisa bertangis-tangisan, seraya mengajak Alin Kecil untuk membuka al Quran, dan mengaji bersama. Dan ketika kabar mimpi sang bibi sampai padanya, Alin kembali bertanya, kenapa adik sudah bisa ada di surga. "Padahal, adik kan bandel kalau disuruh sholat," kata sang kakak dengan lugu.
Alin memang kakak yang rajin sholat. Tahukah kalian, selama lima hari ia hilang ketika tsunami melanda, ia tidak kehilangan solat sekali pun. Di tengah pengungsian, di antara ribuan orang yang tak ia kenal, di antara kebingungan karena orang tua dan adiknnya tidak jelas kabar berita, Alin tetap solat, meski tanpa mukena, tanpa wudhu. Ketika ditanya kenapa ia tetap solat, Alin menjawab, "Kata Mama', solat tidak boleh tinggal, nanti berdosa..." Aku yang mendengar cerita itu jadi gundah, antara ingin senyum dan menangis.
Ia juga tampaknya harus mendapat perhatian khusus, karena kini sering marah-marah tidak karuan, setiap orang sekarang menjadi pelampiasannya. "Ada sesuatu yang mengganjal hatinya dan sukar dikeluarkan," kata Ibunya. Syukurlah, al Quran menjadi obat mujarab, ia selalu patuh dan tenang setiap kali usai mengaji. Sekarang, ia dibelikan sepeda, dan kegembiraannya mulai muncul. Bersama teman-teman barunya, Alin punya hobi baru, berkeliling komplek dengan sepedanya. Akan tetapi, suatu saat, aku merasa perlu untuk menyarankan perlunya memakai jasa psikiater demi menjaga kestabilan jiwanya.
Dan keluargaku akhirnya memutuskan untuk mengadakan pengajian, memanggil anak yatim, dan berkirim doa pada si kecil Agi. Kami menutup satu buku kecil padat, berisi cerita dan sejarah hebat tentang seorang bocah yang cerdas, pendiam, tetapi amat sayang pada ibu, kakak, nenek, dan ayah cut-nya. Seorang bocah yang ketika ditanya cita-citanya, ia menjawab ingin menjadi tentara (mengapa banyak anak Aceh punya cita-cita seperti ini? Ibunya, ketika mendengar cita-cita si anak, dengan arif mengamini lalu menambah komentar, "Asal jadi tentara yang baik ya, Nak...")
Kami menutup buku tentangnya, sekali-kali bukan untuk melupakannya. Bagaimanapun, ia tetap akan tinggal di lubuk hati kami yang paling dalam. Ini saat untuk melepas kesedihan, mengikhlaskannya untuk kembali ke pangkuan Rabbul "Izzati. Aku amat yakin, ia kini sedang bergembira melayang-layang di taman surga, mendoakan tak henti orang tuanya, sedikit dari orang tua terhebat yang pernah aku kenal.
Allahummagh fir lahu, warhamhu, wa'afihi, wa'fu 'anhu... Selamat jalan, Nak.... (ah)
Thursday, March 31, 2005
Dance With the Ghost
Secara geografis, Kepulauan Derawan berada di semenanjung utara perairan laut Kabupaten Berau. Di kawasan ini, terdapat 31 pulau kecil, tersebar pada tiga kecamatan pesisir yakni Kecamatan Pulau Derawan, Kecamatan Maratua, dan Kecamatan Biduk-biduk. Yang cukup sering dikunjungi di antara puluhan pulau itu adalah Pulau Panjang, Pulau Semama, Pulau Sangalaki, Pulau Kakaban, Pulau Maratua, dan Pulau Derawan sendiri. Ada pula beberapa gosong karang seperti Muaras, Pinaka, Buliulin, Masimbung, dan Tababinga.
Turun dari pesawat ATR-42 milik Trigana Air di Tanjung Redeb, hawa laut sudah terasa. Kota ini tidak terlalu ramai, dan terkesan amat sederhana. Namun tidak susah untuk mencari makanan. Menjelang sore hari, puluhan warung mulai buka, menjajakan berbagai jenis hidangan yang biasa dijumpai di Jakarta, mulai pecel lele, soto lamongan, hingga ayam bakar. Penjualnya juga banyak dari Jawa.
Dari Tanjung Redeb, perjalanan justru baru dimulai. Untuk mencapai Pulau Derawan, orang masih harus menumpang perahu atau kapal. Paling cepat tentu jika memakai boat dengan dua mesin tempel, menyusuri muara Sungai Berau langsung menuju Laut Sulawesi. Total waktu yang diperlukan untuk mencapai Pulau Derawan dengan boat ini adalah 3 jam.
Kami beruntung karena bisa menumpang boat milik The Nature Conservancy, sebuah lembaga swadaya internasional. Di sepanjang perjalanan, cuaca cukup cerah. Musim angin Barat baru saja lewat, sehingga ombak tidak begitu besar. Jika jeli mengamati, sejak bergerak dari sungai di tengah kota tampak benar perubahan karakteristik ekosistem daratan menuju pesisir dan laut. Air sungai yang coklat perlahan-lahan berubah hijau dan akhirnya biru pekat.
Derawan sang Perawan
Kepulauan Derawan dikenal dunia sebagai habitat dan tempat bertelur penyu hijau. Penyu ini mencari makan di padang lamun (sea grass) di perairan dangkal Derawan. Yang memprihatinkan, sudah bertahun-tahun telur penyu sebenarnya dilindungi ini terus diambil, sehingga jumlahnya terus menyusut. Dari delapan pulau tempat penyu hijau biasa bertelur, kini jumlahnya tinggal lima pulau.
Nama Derawan sendiri belum banyak didengar orang sebagai tujuan ekowisata, mengingat letaknya yang jauh tersebut. Akan tetapi, wisatawan sudah mencapai daerah ini sejak 12 tahun silam. Biasanya, wisatawan datang dari manca negara, dan sebagian dari mereka adalah peneliti bidang kelautan. Mereka biasanya memilih berenang, snorkeling, dan menyelam (diving). Di malam hari, kegiatan menyelam banyak diminati, karena konon pemandangan bawah laut di kala malam lebih menawarkan sensasi tersendiri.
Saya sendiri sebenarnya berniat ikut menyelam, meski ini kali pertama mencoba penyelaman malam (night diving). Berenam dengan rekan-rekan lain, kami mengambil lokasi penyelaman tak jauh dari pantai. Penyelaman malam membutuhkan lebih banyak konsentrasi, plus perlengkapan tambahan seperti senter. Sayang, saya hanya sempat menyelam hingga kedalaman tiga meteran, sebelum kemudian terkena squeeze akibat perbedaan tekanan udara di dalam dan luar telinga. Sakit sekali rasanya. Meskipun sudah berusaha melakukan penyetaraan (equalizing), rasa sakit tetap mendera. Harus diakui, sudah lama saya tidak menyelam, sehingga kesiapan fisik dan mental tidak prima. Saya batalkan penyelaman dan memilih menunggu rekan-rekan lainnya di atas perahu.
Dari cerita mereka, pemandangan malam hari di bawah laut Derawan memang amat indah. Selain beragam koral dan ikan warna-warni, penyu hijau juga banyak dijumpai tengah beristirahat. “Ada yang sebesar VW Kodok,” kata seorang rekan. Luar biasa. Saya jadi menyesal tidak bisa ambil bagian. Mudah-mudahan lain kali, batin saya menghibur diri. Pulang dari menyelam, kami berkumpul bersama teman-teman lain di penginapan, makan malam sembari berbincang tentang kondisi sumberdaya pesisir dan laut di daerah ini. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 dinihari, sebelum akhirnya satu-satu undur diri ke peraduan.
Demo Paus
Di berbagai lokasi di Kepulauan Derawan dapat dijumpai ekosistem terumbu karang yang amat indah. Tempat yang biasa menjadi menjadi tujuan penyelaman atau snorkeling biasanya di Pulau Kakaban dan Sangalaki. Terumbu karang Derawan terdiri atas karang tepi, karang penghalang, dan karang atol (berbentuk cincin). Atol di kepulauan ini telah terbentuk menjadi pulau, bahkan ada yang menjadi danau air asin, seperti yang ditemukan di Kakaban dan Maratua. Malah, Kakaban membuat jatuh hati para peneliti dari berbagai penjuru dunia karena adanya danau laut purba di tengah-tengah daratannya. Danau ini konon terbentuk sekitar 190 ribu tahun silam, dengan luas 459 hektar. Kedalamannya ditaksir hingga 11 meter.
Dari Maratua, kami menuju Kakaban yang tak berpenghuni. Pulau ini baru saja ditetapkan sebagai Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) oleh pemerintah. Di perjalanan inilah kami bertemu pemandangan luar biasa, yang rasanya tak semua orang beruntung mengalaminya. Di sekitar perairan Kakaban, ratusan ikan besar berenang-renang bergerombol. Menurut salah satu aktivis konservasi yang ikut bersama kami, itu adalah rombongan melon-headed whale (paus kepala melon). Ukurannya mirip dengan lumba-lumba. Mereka berlompatan ke sana ke kemari. Sebagian memilih berenang tenang sambil mencari makanan di sekeliling perairan. Kawasan perairan ini memang menjadi lintasan berbagai jenis Cetacean (ikan paus) dari berbagai tempat. Tak heran, kami menghabiskan waktu setengah jam hanya untuk menyaksikan paus-paus ini beraksi.
Saya mencoba snorkeling di tepian danau air asin ini. Dasar perairannya dipenuhi alga Halimeda, sponges jenis Porifera dan ikan gobi. Dan yang paling terkenal, tidak lain ubur-ubur endemik jenis Cassiopea, yang dengan mudah ditemukan melayang-layang di kolom air, dan beberapa jenis ubur-ubur lainnya.
Keluar dari Kakaban, sebagian rombongan memilih menyelam di titik yang biasa disebut Barracuda Point. Mengacu namanya, di sini penyelam bisa melihat aksi gerombolan ratusan ikan barakuda melakukan gerakan berputar hingga membentuk pusaran vertikal. Tak jarang terlihat pula ikan Napoleon (Napoleon Wrasse), pari, hiu bintik putih (white tip shark), dan lain-lain. Snorkeling di wilayah sini pun cukup memuaskan. Terumbu karang terlihat jelas dari permukaan. Malah, kami bisa melihat rekan-rekan yang tengah menyelam di kedalaman sekitar 5 meter.
Suatu penelitian menunjukkan bahwasanya jumlah terumbu karang yang ditemukan di Derawan mencapai 460 hingga 470 spesies. Adapun ikan karang di kawasan Kepulauan Derawan, termasuk Sangalaki dan Kakaban mencapai 872 spesies. Keanekaragaman hayati Derawan dipercaya cuma kalah oleh kawasan Raja Ampat di Papua. Karena itu, tak heran menyelam menjadi kegiatan yang paling diandalkan. Tiap titik penyelaman kabarnya memberikan tantangan yang berlainan. Saat ini sudah ada tiga perusahaan swasata yang membuka resor penyelaman di Derawan dan sekitarnya.
Bertemu sang Hantu
Ada belasan, bahkan puluhan ikan besar berenang-renang di permukaan memangsa plankton. Dan saya, seumur hidup, baru kali itu menyaksikan Pari Manta alias Pari Hantu dalam jumlah besar berputar-putar sambil membuka mulutnya, menyaring plankton masuk. Tanpa dikomando, hampir semua yang ada dalam perahu berebutan melompat dari kapal, mencebur ke kedalaman laut untuk melihat dari dekat.
Si Hantu ini ukurannya memang amat besar. Tampangnya menyeramkan, sehingga nama hantu memang cocok buatnya. Ia berenang laksana burung, mengepakkan sirip kanan-kirinya, yang jika dihitung lebarnya bisa mencapai 3 sampai 4 meter lebih. Hebatnya, hewan-hewan ini sama sekali tak terusik dengan kehadiran penyelam atau penggemar snorkeling yang mengikutinya. Malah, penyelam tidak khawatir bila pari ini berenang menuju mereka karena justru si Hantu-lah yang kemudian menyingkir. Sungguh si Hantu nan baik hati!
Di tengah-tengah seliweran belasan Hantu itu, saya memberanikan diri mengikuti salah satu dari mereka. Masya Allah, pari itu berada di atas saya, sehingga tampak detil mulutnya yang membuka dan kepakan siripnya yang begitu lebar. Kalau mungkin, saat itu saya ingin berteriak melampiaskan kesenangan karena bertemu momen seperti itu. Sungguh hewan laut yang luar biasa. Allahu Akbar! Kami menghabiskan waktu sekitar 15 menit bercanda bersama ikan-ikan itu. Seorang wisatawan asing tampak begitu takjub dan matanya berbinar-binar. Begitu naik ke perahu, ia mengacungkan jempolnya dan berujar: ”Incredible...!”
Tak terasa, hari sudah menjelang sore. Kami pun bergegas kembali ke Pulau Derawan, mengisi bahan bakar dan kembali ke Tanjung Redeb. Sepanjang jalan, saya masih terbayang-bayang betapa kayanya negeri ini. Apabila semua itu tak dijaga, dan hanya memperhatikan pembangunan belaka, tanpa memperhatikan kelestarian, maka sang Hantu, barakuda, terumbu karang, hingga makhluk lembut seperti ubur-ubur di kawasan ini bakal tinggal cerita. Semoga tangan-tangan jahil tidak diberi kesempatan merusaknya... (ah)
Friday, March 18, 2005
Empat "Cacat Kecil"
Demokrasi? Berjuang sejajar dengan bangsa lain? Mengejar pertumbuhan ekonomi? Ganyang Malaysia? Lawan antek kapitalis? Berantas korupsi?
S**T! Tidak akan pernah. Maaf, itu faktanya.
Persoalannya, bangsa kita lebih suka bercita-cita dan bermimpi menanggulangi hal-hal besar, daripada mengurusi cacat-cacat “kecil”. Padahal, dari yang kecillah kita dapat memahami bagaimana yang besar. Ada banyak cacat-cacat kecil, yang sadar tidak sadar kita selalu lakukan, dan menjadi “habit” alias kebiasaan, yang sejatinya itu adalah perbuatan buruk, teramat buruk. Dan saya selalu benci dengan orang-orang yang masuk golongan ini. Sampai kapan pun.
Silakan Buang Sampah Sembarangan
Betapa saya sering melihat banyak pria dan wanita, usia 20-40an, pakaian licin tersetrika, parlente pokoknya. Mereka kerap tampak duduk manis di kereta, bis, atau menunggu di halte dan stasiun. Tampilannya bergengsi, dan semua adalah cermin mereka sebagai kelas menengah yang membikin hati iri. Tapi lihatlah adegan berikutnya. Entah itu usai makan roti, membuka kulit buah jeruk atau menyobek bungkus majalah, mereka senantiasa melakukan hal “luar biasa”: sampahnya selalu dibuang begitu saja. Seolah sudah sewajarnya, tidak ada rasa aneh, canggung, apalagi bersalah.
Buang sampah sembarangan memang bukan cuma milik orang bawah/kecil yang kumuh dan lusuh. Kaum mentereng seperti di atas pun sama parahnya. Sampah, bagi mereka ini, ya sekadar sampah, yang harus dibuang segera. Celakanya: dibuang ke sembarang tempat. Kalau sudah begini, bagi saya, wajah cantik kinyis-kinyis, atau pria berdasi mahal, langsung jatuh derajatnya, sama seperti sampah, ketika mereka melakukan kebiasaan buruk itu.
The most egoistic person in the world
Kalau ada yang menanyakan kepada saya, siapakah orang paling egois sedunia, saya tidak menjawab George Bush, Tony Blair, atau John Howard. Jawaban paling tepat untuk itu (menurut saya) adalah para perokok, khususnya perokok di tempat umum.
Merokok juga merupakan aktivitas yang saya tidak akan pernah bisa mengerti seumur hidup. Menghisap nikotin dan tar, berikut asap, ditelan lewat mulut, melalui tenggorokan, yang entah berapa juta bakteri nempel di sana, lalu masuk sebagian ke paru-parunya, dan separo lagi mengalir ke saluran hidung (entah kuman dan lendir apa saja yang ada di situ), untuk kemudian dihembuskan ke luar. Dan orang-orang di sekitarnya, yang tidak ada urusan dengannya, tidak pernah menyakitinya, tidak berbuat dosa kepadanya, tiba-tiba dipaksa menyedot asap yang sudah mampir dari mulut, tenggorokan, dan rongga hidungnya yang menjijikkan. Bayangkanlah...
Lebih gila lagi, ketika ditegur, si perokok malah marah, dengan dalih hak asasi. Lho, mana kata hak asasi itu ketika ia menghembuskan asap seenaknya ke khalayak?
Membangun Kerajaan di Jalanan
Tiga hari silam saya seperti biasa naik sepeda motor pagi hari ke stasiun. Di persimpangan Jalan Baru Bogor, saya harus berbelok ke kanan, menuju Cimanggu. Dari arah sana menuju Jalan Baru, kenderaan berderet-deret; macet. Sementara sebaliknya jalur ke sana lebih lengang.
Tahu-tahu ada mobil L-300 mengangkut anak sekolah dengan santainya mengambil jalur itu dari arah Cimanggu. Dapat ditebak, semua kendaraan menuju sana jadi terhambat, dan akhirnya berhadap-hadapan dengan mobil itu (rupanya itu mobil yang mengantar anak sekolahan). Tentu saja tindakan supir gelo ini tidak dapat diterima. Eh, dia malah tanpa rasa bersalah menyuruh semua pengendara jalan pelan-pelan (harusnya dia yang mundur dan minta maaf karena mengambil jalur salah). Waktu saya tegur dia dengan kalimat ia seharusnya tertib, saya dihadiahi sebuah kata yang “indah” berikut wajah penuh amarah (hm, belajar dari mana dia ya, televisi? Saya sering lihat tampang marah seperti itu di hampir setiap sinetron): “MONYET kamu!”
Saudara, yang menegur anda karena kebenaran saja disebut monyet, lalu bagaimana dia mendefinisikan dirinya sendiri? Babi, ulat keket, atau apa?
Jalanan seperti menjadi kerajaan tersendiri bagi setiap orang. Jalanan membuat orang yang salah tiba-tiba menjadi penguasa, dan orang yang taat peraturan tiba-tiba menjadi pesakitan. Mungkin anda pernah mengalami, ketika lampu merah menyala dan semua pengendara antri, tiba-tiba dari arah belakang makian supir menghampiri kita diiringi suara klakson bertubi-tubi, hanya karena meminta kita menerobos jalan, sebab persimpangan lengang. Persoalannya adalah: apakah karena jalanan lengang, maka lampu rambu jalan otomatis tidak perlu diindahkan? Atau, apa guna marka jalan? Gunanya, sudah pasti, untuk dilanggar.
Time is Mine, Not Yours
Kalau semisal anda diundang pengajian pukul 19.30 malam, pukul berapa anda tiba di tempat pengajian? Jawab paling jujur mungkin pukul 20.00. Kenapa? Karena kalau kita datang pukul 19.30, kita bakal disebut sebagai orang paling pandir di dunia, mengingat jam segitu berarti anda lah orang pertama yang hadir.
Lihatlah undangan-undangan rapat dan seminar. Kebanyakan waktu yang tertulis tidak bisa ditepati. Malah sengaja dibuat dengan memasukkan unsur keterlambatan sekian menit sebagai skenario.
Susah bagi banyak dari kita untuk datang tepat waktu, dan meninggalkan yang datang terlambat. Ada seseorang yang pernah terlambat datang di suatu taklim dengan tanpa alasan yang kuat. Ketika ia ditolak masuk ke majelis oleh sang guru, yang muncul adalah reaksi ngambek, tersinggung, dipermalukan, dan marah, lalu tidak pernah lagi menghadiri taklim tersebut. Siapa salah siapa yang benar?
Jangan Pernah Berharap
Lagi-lagi, bagi saya, selama orang-orang Indonesia ini tidak bisa mengubah empat perilaku di atas, maka selamanya jangan pernah berharap kita bisa keluar dari krisis, dan menggapai kemakmuran. Nonsens.
Jangan pernah mengeluh soal penanganan korupsi yang lemah, DPR yang seperti TK, BBM yang naik, harkat bangsa yang terpuruk, atau kemajuan yang malah menjauh. Jangan, jangan pernah mengeluh soal itu. Tanya dulu diri kita masing-masing, apakah empat cacat kecil itu masih kita lakukan atau tidak. Jika masih melakukannya, janganlah lagi mengajukan pertanyaan. Percuma. Anda sama saja dengan mempermalukan diri sendiri. (ah)
Monday, March 14, 2005
Rayuan Pulau Sebesi
Lama tertunda, kali ini kesempatan kedua datang. Bersama Dr. Budi Wiryawan dan beberapa rekan, saya bertolak ke pulau tersebut pagi-pagi sekali, sehari setelah selesai acara di Bandar Lampung.
Durian dan Telat
Malam sebelum berangkat, rombongan kami dari Bogor menyempatkan diri menyantap durian yang dijajakan di sekitar kota Bandarlampung. Memang, musimnya sudah lewat, tapi tetap saja jajaran buah lezat tersebut di tepian jalan cukup mengundang selera. Lebih-lebih, beberapa rekan sudah melakukan persiapan yang aduhai. Mereka membawa wadah plastik sendiri untuk menempatkan daging buah durian sehingga bisa dibawa pulang, tanpa harus mengangkut buah utuhnya --yang harumnya cukup bikin mabok. Harganya pun terbilang sudah tak murah lagi. Paling rendah 9000 perak, itu pun harus pintar-pintar memilih. Saya dan beberapa teman lebih memilih mencari durian usai kembali dari pulau. Konon, di sepanjang jalan menuju Pelabuhan Canti, Kalianda, beberapa penduduk menjual durian yang langsung jatuh dari pohon.
Sebagaimana direncanakan, esok paginya kami -siap check out dari Hotel Sheraton Bandarlampung. Ada dua mobil yang kami pakai untuk menuju Pelabuhan Canti, sebagai titik tolak menuju Sebesi. Sedangkan rombongan lain memilih melakukan perjalanan ke Desa Pematang Pasir, Lampung Selatan. Awalnya, niatan kuat beberapa di antara kami adalah menjajal lokasi DPL di Pulau Sebesi untuk diselami (diving). Terumbu karang di sana dilaporkan patut dinikmati. Kebetulan, mayoritas dari kami sudah pernah menyelam. Perlengkapan pun, menurut Irfan, Extension Officer di Pulau Sebesi, bisa disediakan.
Tapi mengingat waktu, dan konon arus yang lumayan serius, membuat niat menyelam surut. Yang terbayang kemudian adalah, kami meninjau Sebesi lalu meneruskan perjalanan ke Kepulauan Krakatau, yang memang berdekatan dengan Sebesi. Alternatif ini tampaknya yang paling diminati.
Sayang, kami bergerak agak lambat. Baru setelah lewat pukul 8 pagi kami meninggalkan kota menuju Pelabuhan Canti di Kalianda. Perjalanan ke sana membutuhkan waktu sekitar satu jam. Untung jalanannya lumayan mulus, baik jalan utama yang biasa dilintasi oleh kendaraan yang menuju Jawa atau sebaliknya menuju Sumatera, maupun jalan dari pertigaan Kalianda menuju Canti.
Petai dan Gagal Diving
Samar-samar di kejauhan, tampak bayangan pulau yang menjadi tujuan kami. Kebetulan perahu yang dicarter sudah siap. Namun kabar kurang menggembirakan kami terima dari awak kapal. Mereka menyebut perjalanan menuju Krakatau agak sulit karena arus dan ombak lumayan besar. Laju kapal akan terhambat, apalagi hari sudah menjelang siang. Sedikit saja berpindah ke petang, ombak bisa jadi persoalan serius.
Akhirnya kami sepakat untuk menuju Sebesi saja, dan sisanya, melihat kemungkinan yang tersedia di sana. Kapal mulai melaju menuju Sebesi. Beberapa dari kami lebih memilih duduk di atap kapal karena pemandangan lebih luas dan angin lebih banyak. Cuma, suara mesin yang keluar dari cerobong cukup memekakkan telinga sehingga untuk berbicara kami harus saling teriak.
Kelapa dan Pepes Cumi
Secara geografis, Pulau Sebesi terletak di Teluk Lampung dan merupakan wilayah administratif Desa Tejang Pulau Sebesi, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan. Pulau ini berjarak tepatnya 16 kilometer sebelah Tenggara Pulau Sumatera dengan luas 2620 hektare dan panjang pantai 19,55 kilometer. Desa Tejang terdiri atas 4 dusun yakni Regahan Lada, Segenom, Tejang, dan Gubuk Seng. Terdapat pulau-pulau yang berdekatan dengan Sebesi, baik yang memiliki penghuni maupun tidak seperti Pulau Sebuku, Pulau Umang, dan Pulau Sawo.
Apa yang sebenarnya menarik dari Pulau Sebesi? Sesungguhnya, pulau ini amat potensial karena kaya akan berbagai sumberdaya alam, baik di daratan maupun wilayah pesisir dan lautan, antara lain perkebunan cengkeh, kelapa, hutan, terumbu karang, mangrove, padang lamun (sea grass) dan sebagainya. Letaknya pun cukup dekat dengan kawasan Kepulauan Krakatau, yang sudah terkenal di penjuru dunia sebagai kawasan wisata eksotis.
Banyak wisatawan lokal dan mancanegara tertarik mengunjungi kawasan kepulauan tersebut yang terdiri dari Pulau Sertung, Pulau Anak Krakakatau, Pulau Krakakatau Kecil, dan Pulau Krakatau. Karena dekat dengan Krakatau, Sebesi sering dipakai sebagai tempat persinggahan semalam bagi pelancong yang hendak mengunjungi Krakatau dan sekitarnya. Karena itu pula di Sebesi terdapat sebuah penginapan yang diusahakan oleh perseorangan.
Dari Pelabuhan Canti ini, Pulau Sebesi dan Krakatau sama-sama dapat dicapai dengan waktu tempuh masing-masing sekitar 1 dan 2 jam. Selain itu, pulau ini juga bisa dicapai melalui Cilegon (Banten) dengan menggunakan perahu motor yang biasa mengangkut kelapa atau kopra. Terdapat tiga fasilitas dermaga yang menghubungkan dusun desa dengan daerah luar Sebesi. Ketiga dermaga tersebut terletak masing-masing di desa Inpres, Segenom, dan Regahan Lada. Di dusun Inpres terdapat kantor syahbandar, namun belum aktif sehingga digunakan sebagai pusat informasi pesisir oleh masyarakat setempat.
Sebesi punya bentuk unik; bundar. Dari kejauhan, wujudnya cukup gagah, dengan bukit yang menjulang tinggi, dan tubuh pulau yang tertutupi dengan pohon kelapa menghijau. Buah itu memang banyak terdapat di Sebesi sehingga sering diolah menjadi kopra dan diangkut ke Banten atau Sumatera. Sebagian daratan pulau ini tersusun dari endapan gunung api muda dan merupakan daratan perbukitan. Bukit yang tertinggi di Pulau Sebesi mencapai 884 meter dari permukaan laut berbentuk kerucut yang memiliki tiga puncak.
Selain terdapat pemandangan terumbu karang yang indah, juga terdapat potensi lainnya seperti perikanan, kehutanan, pertanian/perkebunan yang dapat dikembangkan untuk menunjang peningkatan kesejahteraan penduduk setempat. Sebagai contoh, Sebesi terkenal dengan hasil cumi-cuminya. Biasanya, musim tangkap cumi-cumi mulai berlangsung dari bulan November sampai Februari. Ada juga ikan Selar yang banyak terdapat sekitar Juli - Oktober.
Kami tiba pukul 11.00 langsung beristirahat. Rupanya, warga desa, terutama kelompok masyarakat yang selama ini dibina sudah menyiapkan segalanya, termasuk makan siang yang menunya cukup dahsyat. "Pepes cumi-cumi sini cukup dikenal kelezatannya," kata Dr. Budi, berpromosi. Dan ucapannya tidak salah. Menu ikan bakar, pepes cumi, dan lalapan sudah cukup membuat kami semua menambah porsi dengan sendirinya. Belum lagi sajian kelapa muda yang langsung dipetik dari pohon.
Problem dan Belajar
Penduduk Sebesi berjumlah 471 KK atau 2.015 jiwa. Jumlah ini belum termasuk penduduk tidak tetap yang sebagian besar berprofesi sebagai buruh kelapa. Penduduk Pulau Sebesi pada awal sejarahnya merupakan pendatang yang bekerja sebagai buruh di kebun kelapa milik tuan tanah. Mereka berdatangan sejak tahun 1913. Namun lama kelamaan para buruh tersebut mendapat bagian menanami tanah kosong, yang akhirnya membentuk kelompok yang kemudian menjadi sebuah desa yang dipusatkan di desa Inpres.
Selama ini, masyarakat di wilayah pesisir dan lautan Pulau Sebesi mengalami banyak problem pelik, baik di bidang pendidikan, sosial ekonomi, dan lingkungan. Tingkat pendidikan, misalnya, masih amat rendah. Fasilitas yang ada di Pulau Sebesi baru terbatas Sekolah Dasar Negeri yang terletak di Dusun Inpres, Madrasah Ibtidaiyah di Dusun Segenom, dan program Kejar Paket B (setingkat SMP) di Di Dusun Tejang Inpres.
Taraf ekonomi masyarakat juga masih rendah. Dengan tingkat pendidikan yang terbatas, masyarakat tidak mengerti bagaimana cara mengelola sumberdaya alam dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan. Apalagi penduduk luar pulau ikut andil melakukan eksploitasi sumberdaya pesisir dan laut di wilayah Sebesi. Ini ditunjukkan antara lain dengan dengan rusaknya kondisi terumbu karang di sekeliling pulau karena berbagai praktik penangkapan ikan dengan bom dan racun. Walhasil, tangkapan ikan yang nelayan setempat peroleh terus berkurang dari tahun ke tahun.
Mata pencaharian penduduk di sini sebagian besar adalah petani dan nelayan. Nelayan Sebesi terkonsentrasi di Dusun Regahan Lada, Tejang, dan Segenom. Sebagian besar nelayan tersebut merupakann pendatang dari Jawa Barat dan sebagian lagi Bugis. Mereka menangkap ikan dengan cara yang masih tradisional, karena pengetahuan tentang alat tangkap yang lebih maju masih terbatas. Hidup mereka boleh dikatakan amat bergantung pada kemurahan dan kekayaan sumberdayan alam di sekitarnya. Akibatnya, jika sumberdaya itu rusak sedikit saja, maka akan berpengaruh besar terhadap kehidupan mereka.
Masalah yang dihadapi penduduk Pulau Sebesi tampaknya merupakan problem umum yang terjadi pada hampir masyarakat di pulau-pulau kecil di wilayah Indonesia. Cukup ironis juga, mengingat Pulau Sebesi dapat dikatakan tak jauh letaknya dari ibukota propinsi dan negara.
Syukur, dalam upaya mengembalikan kondisi terumbu karang yang telah rusak di Pulau Sebesi, umpamanya, warga bergiat belajar membuat daerah perlindungan laut (DPL) berbasis masyarakat. Merekalah yang mengelola dan mengawasi DPL ini. Selain itu, penduduk mendapat bekal pengetahuan untuk pengelolaan sumberdaya pesisir mereka lewat berbagai penyuluhan, pelatihan, dan kegiatan lainnya.
Daerah Perlindungan Laut atau marine sanctuary sendiri adalah kawasan laut yang ditetapkan dan diatur sebagai daerah “larang ambil”. Secara permanen, kawasan ini tertutup untuk berbagai aktivitas pemanfaatan yang bersifat ekstraktif/pengambilan. Cara ini diyakini efektif dalam mengurangi kerusakan ekosistem pesisir yaitu dengan melindungi habitat penting di wilayah pesisir, khususnya ekosistem terumbu karang. Selain itu DPL juga penting bagi masyarakat setempat sebagai salah satu cara meningkatkan produksi perikanan (terutama ikan yang berasosiasi dengan terumbu karang), memperoleh pendapatan tambahan melalui kegiatan penyelaman wisata bahari, dan pemberdayaan masyarakat dalam perencanaan dan pengelolaan sumberdaya mereka.
Masyarakat desa menegakkan sebuah aturan yang mesti dipatuhi bersama. Aturan itu disusun bersama oleh masyarakat dengan tujuan melindungi terumbu karang yang ada dalam wilayah DPL. Mereka pun membentuk kelompok yang berfungsi mengelola DPL. Untuk berjaga-jaga, mereka berusaha melakukan penangkapan terhadap nelayan perusak yang melakukan aktifitas merusak seperti membom , bius, trawl, dan lain-lain.
Snorkeling dan Kram
Pantai di Regahan Lada lumayan indah, berpasir putih. Tahu-tahu saja, muncul lagi tawaran untuk melakuka snorkeling (berenang di permukaan dengan menggunakan masker/snorkel) di DPL yang selama ini sudah dibentuk dan dikelola oleh masyarakat. Kebetulan, terdapat dua perahu klotok milik badan pengelola yang bisa dimanfaatkan. Repotnya, karena tak mengira harus berbasah-basah, saya tidak membawa salinan baju sama sekali. Tapi tawaran ini rasanya sulit ditolak.
Akhirnya, kami berlima, termasuk Dr. Budi Wiryawan, naik ke perahu dan menuju DPL di kawasan Sianas. Tak jauh, sekitar 5 menit dari pantai. Dari penelitian yang dilakukan sebelumnya, diketahu bahwa sepanjang pantai Sebesi ditumbuhi terumbu karang yang indah dan menarik hati. Terumbu karang ini dapat ditemukan sampai kedalaman 10 meter dari permukaan laut.
Luas areal terumbu karang itu total mencapai 58,8 hektare, yang terdiri dari tutupan karang hidup seluas 31,6 hektare, dan sisanya 27,3 hektare berupa karang mati (pecahan karang). Lokasi DPL sendiri ada di 4 kawasan dengan luas kurang lebih 20 hektare, masing-masing di Sianas, Pulau Sawo, Pulau Umang, dan Kayu Duri.
Perairannya cukup jernih. Malah pandangan tanpa bantuan apapun bisa menembus ke bawah. Karangnya cukup rapat dan warna-warni, bagus sekali. Hanya saja, jumlah ikan kelihatan tak terlalu berlimpah. Begitupun, pemandangan ini cukup spektakuler.
Saya turun dari perahu dan langsung melakukan satu putaran sambil melihat-lihat situasi. Karang-karangnya cukup bagus dan dalam kondisi baik. Di sana-sini, ikan Kakaktua (Scarus sp) tampak bersliweran. Ikan jenis ini memang merupakan langganan penghuni terumbu karang. Ikan giru (clown fish, Amphiprion sp) juga banyak terlihat. Indra, rekan saya lainnya yang ikut ber-snorkeling, menunjuk ke satu titik dan berkata, "Platax!". Rupanya ia menemukan Platax sp atau ikan bendera, yang bentuknya sekilas mirip bawal, dengan tubuh pipih dan badan berwarna kuning.
Sekali-sekali, saya melakukan skin diving, yakni masuk ke dalam air dengan tegak lurus dan menyelam mendekati terumbu, untuk menikmati dari dekat pemandangan yang luar biasa ini. Meskipun sensasinya kalah dibandingkan menyelam, snorkeling di kawasan DPL ini cukup menghibur dan memuaskan saya.
Melihat kekayaan alam yang sedemikian bagus, didukung dengan hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan, sesungguhnya potensi sumberdaya alam yang terdapat di pulau ini dapat dikembangkan/dikelola sebagai obyek wisata yang cukup menarik. Khususnya untuk kawasan wilayah pesisir atau pulau kecil di Propinsi Lampung, ia menjadi sarana untuk dapat menenunjang PAD (Pendapatan Asli Daerah). Imbas positifnya akan mengena kepada peningkatan taraf hidup rakyat, yang dapat mengambil keuntungan dari kegiatan pariwisata (ekoturisme) yang dijalankan. Entah kapan ini dapat diwujudkan.
Seperti biasa, saya kena kram dan harus bersusah payah menaiki perahu yang bodinya cukup sempit. Arus di perairan tersebut sore itu lumayan membuat kami harus rajin mengayuh fin agar tidak terdorong ke arah yang tak dikehendaki. Setelah sekitar 1 jam menjelajahi kawasan tersebut, kami memutuskan pulang.
Pulang dan Masuk Angin
Resiko pertama yang harus saya hadapi setelah snorkeling adalah, menahan dingin karena tak punya pakaian pengganti. Setelah mandi, baju kaos yang saya gunakan untuk snorkeling harus saya kenakan kembali, demikian juga dengan celana panjang yang basah kuyup. Kami kembali menuju Canti pukul 4 sore. Saya baru dapat bertukar pakaian kering dalam perjalanan menuju Bakauheni. Akibatnya, dapat ditebak, masuk angin! Kepala pusing dan badan meriang. Untung, setelah mengisi perut, plus jamu anti masuk angin, kondisi saya lumayan pulih.
Bagaimanapun, saya beruntung bisa melihat Pulau Sebesi dengan segenap potensi, kondisi, dan problem yang dihadapinya. Agaknya, ini merupakan kondisi dan problem umum yang dihadapi masyarakat pulau-pulau kecil di Nusantara. Sebuah pekerjaan rumah buat kita semua, yang konon punya nenek moyang para pelaut.... (ah)
Friday, March 04, 2005
Republik (Kereta) Indonesia...
Kalo situ mau mandi sauna di spa tapi ndak punya uang, saya sarankan naik KRL ekonomi Bogor-Jakarta aja, ditanggung mirip kok. Malah ada bonusnya segala. Coba, mana ada ruang sauna di spa yang tiba-tiba bisa lewat bapak separuh baya sambil bawa selebaran sumbangan mesjid: "Assalaaaamu'alaikum...dst...dst." Atau, mana ada di spa lewat tukang tahu yang suka bikin gerr penumpang satu gerbong karena teriak: "Tahu, tahu sumedang, beli 10 bonus cabe...." Kadang-kadang ada juga tukang jual buah yang bualannya bikin bingung: "Apel Bandung, apel Bandung, murah meriah buat ibu-ibu di dapur..." Karena penasaran, ada yang nanya apel bandung itu yang seperti apa. Si tukang dagang dengan enaknya buka keranjangnya. Apa itu? Tomat, saudara-saudara... Norak nggak sih? Atau, kadang nongol juga anak kecil seraya pegang kerecekan dari tutup botol sambil bernyanyi merem-melek niruin Ariel Peter Pan (eh, ini yang mbuntingin anak orang itu ya? Tobatlah, bung): "Ada apaaa denganmuuu..??"
KRL juga zona rawan pelecehan seksual bagi para perempuan. Juga zona enak untuk selingkuh, lho....! Saya pernah tau, satu ketika, pagi-pagi, ketika KRL ekonomi mau "take off" (cie, bahasanya) dari setatsiun Mbogor, eh ada seorang ibu naik dan langsung ke satu gerbong. Di sana, di hadapan seorang wanita karir (bukan carrier) yang molegh bin geboy, itu ibu langsung damprat, "Dasar perempuan %$%@(*$ (sensorrr....). Selidik punya selidik, itu perempuan kantoran rupanya selalu pulang-pergi ke Jakarta bareng suami si ibu, plus beberapa karyawan lain. Istilahnya, mereka bikin geng, lah. Ada yang rela beliin tiket, nge-tek tempat duduk, dan sebangsanya. Dan setan nggak milih tempat, biar KRL ekonomi juga, kalau ada yang bisa digoda, why not (kecuali setan di KitKat 'kali ya, bisa ada gencatan senjata sama malaikat). Dan karena sering bareng-bareng, cin-ka (singkatan dari Cinta Ka Er El, sejenis Cinlok alias cinta lokasi) akhirnya terbentuk. Dan keluarga jadi berantakan....
Dan jangan salah, KRL juga sarang copet, terutama KRL ekonomi. Modusnya primitif punya, nempel sana-nempel sini, terutama pas brenti di stasiun, terus embat tas orang. Yang agak pinter pake cara nyilet. Yang rada sadis ya seperti kejadian copet/todong yang menewaskan lulusan anyar UI itu, baru-baru ini.
Di KRL pula ada praktik mafia terselubung, mulai dari yang kelas kambing sampe yang eksekutif. ada petugas karcis yang selalu bilang tiket dengan nomor duduk udah abis. Tetapi begitu ada nona asoy geboy yang modal rok di atas dengkul lemah gemulai sambil main mata nanya tiket, eh, dari balik laci adaaaa aja tiket bernomor kursi. Asem deh... Atau, gerombolan penumpang tertentu suka nongkrong di gerbong sekian, tidak beli tiket. Begitu kondektur datang, nah ada jubir khususnya. Cukup kumpulin duit separo harga (kadang cuma seperempat harga), tinggal di-mangsupin ke sakunya pak kondektur. Awww, rejeki di tengah krismon, siapa yang nolak? Termasuk juga di KRL Eksekutif, praktik sama berlangsung. Pak kondektur yang kayak gini, biasanya baru berlagak alim kalau ada sidak dari Polsuska (polisi khusus KA). Demikian juga masinis, udah tau di stasiun tertentu ndak boleh berhenti, eh, cukup bayar 2000 perak, itu KA yang sudah punya jadwal tegas, bisa aja brenti semaunya, nurunin penumpang... Ck...ck..ck..
Kadang-kadang, ada kondektur yang tegas. Kagak peduli orang parlente atau kumuh, asal nggak punya tiket, dia giring itu orang ke stasiun terdekat, diturunkan dengan tidak hormat. Nah, saya angkat jempol buat kondektur kayak gini...
Sering kali gangguan tidak datang dari dalam, tapi dari luar. Entah sudah berapa kereta yang kacanya bolong-bolong dilempar batu oleh orang yang tak bertanggung jawab. Atau anak-anak sekolah yang nyelonong masuk stasiun dan naik ke atap KRL, dengan risiko "wassalam" disengat listrik.
Pokoknya, semuanya yang nyeleneh2x ada di kereta. Persis seperti kehidupan sehari-hari di Indonesia. Kehidupan di kereta api dan stasiun itu adalah miniatur kehidupan negara ini. Persis sama: ada bad guys, ada good guys, ada intrik, ada tragedi. Dan saya, cuma satu dari sekian ribu orang yang statusnya di dalam kereta dan di dalam negara persis sama: jadi penumpang, tergencet, dan tidak ada yang peduli.... Masih syukur, sekarang saya naik KRL Eksekutif. Tetapi tiap kali melihat KRL Ekonomi melintas, saya merasa seakan ikut terjepit dan terengah-engah.
Saya yakin, persoalan ini bisa dipecahkan. Salah satunya, kalo Pak SBY kebetulan nge-warnet, atau surfing di istana negara malam ini, lalu iseng masuk blognya sayah di http://duamata.blogspot.com ini, dan baca artikel ini. Kayaknya, siapa tau, besok pagi keluar maklumat presiden: BBM batal dinaikkan, pemerintah akan membuat lebih banyak KRL eksekutif buat rakyat kecil, dan pemberantasan korupsi dimulai dari tubuh PT KAI.... Huebaaat.... Dan (mungkin lagi), lusanya SBY muncul di depan pintu rumah saya di Cimanggu, malam-malam, menyamar sebagai tukang ojek, lalu berbisik: "Eh, bagaimana kalau malam ini kita survey ke tempat pembuangan sampah?" Sudah pasti saya bakal tersipu malu dan mengangguk sambil berujar, "Ah, Bapak bisa aja..." (ah)
**menyongsong kenaikan harga BBM, perkenankan saya berucap: kaciaaaaan deh, kita....**
Sunday, February 27, 2005
Welcome to the Hell Week!
Sementara pekan depan beberapa kegiatan menanti, semuanya top priority... Really a hell week! Waaakkks... Departemen Kelautan dan Perikanan minta re-print beberapa buku panduan. Sudah diestimasi biayanya. Terserah my boss, lah.. Kalau dia oke ya jalan, kalau nggak ya tinggal call balik and say, "Sorry, we have no budget..." Plus, harus merampungkan beberapa laporan, edit dan panggil designer utk mulai layout buku portfolio livelihood program, Sulut. Dan, meneruskan rencana program magang mahasiswa. Udah lama tak terurus. Harus segera diumumkan siapa yang berhak ikut magang di kantor-kantor daerah.
Rabu ini aku juga harus maju untuk seminar rancangan penelitian program magisterku. Aku ambil topik pengelolaan media cetak, khususnya peran freelance writer/editor dalam sebuah penerbitan. Termasuk langka sih, topiknya, konon. Mudah-mudahan "tidak dibantaiii...." Amiiin..
My friend Zulfi kirim e-mail dan naskah 3 bab dari bukunya tentang pemberdayaan karyawan. Aku diminta menjadi editor. Hmmm, bolehlah. Sekali-sekali ngedit buku manajemen, setelah berkali-kali ngedit buku jenis ilmiah populer, hitung-hitung variasi kerja/hobi (tapi lain kali jangan cuma ngedit, mbok ya bikin buku.... I'm thinking of it.. It's only about time). Hari ini sudah 6 halaman yang dikerjakan. This book needs much editing and revision... Tapi kata Zulfi, dia rela bukunya diobrak-abrik. Bahagia banget kalau penulisnya udah pasrah tak berdaya begitu... hahaha....
Dan malam ini, sudah menjelang pukul 22.oo. Ditemani Scorpion's "Under the Same Sun" kerjaan harus dikelarkan sedikit. Abis itu tidur (hey, as a Chelski's fans, how about Chelsea vs Liverpool match, tonight or tomorrow?)
Besok hingga sepekan ini, energiku harus dialokasikan setepat dan seketat mungkin...
Friday, February 25, 2005
Dari Resepsi sampai Laundry
Sembari nunggu, eh ingat postingan di blog Gembull ttg missunderstanding situation (gathering~katering, dan sebangsanya itu hehehe). Saya kok jadi pengen nulis tentang kisah-kisah 'kepleset lidah' atau "nggak matching" komunikasi seperti itu....
Nah, setelah tak pikir-pikir, setidaknya ada 4 cerita beginian yang saya pernah tahu/alami. Ini ndak bohong-bohongan. Bukan sulap, bukan sihir. Serieus, fakta, histori.
Kisah 1. Resepsi Kita Berbeda
Kategori: Fakta (sahih)
Setting: Ruang tamu kos mahasiswa, diskusi para aktivis (cie...)
Waktu/Tempat: Masa taon 1991-1992/Darmaga, Bogor
Sebut saja si tokoh namanya Badu. Ceritanya, kita sedang diskusi tentang perkembangan politik Islam di tanah air. Waktu itu dalam diskusi mencuatlah wacana tentang pentingnya masuk ke dalam sistem atau bermain di luar sistem.
Nah, Badu angkat bicara menanggapi soal ini. "Kalau saya pikir, itu tergantung dari resepsi yang kita adakan sendiri. Sepanjang kita memiliki resepsi bahwa di dalam lebih bisa berperan, silakan. Tetapi jika berjuang di luar pemerintahan dianggap lebih aman, resepsi semacam itu juga sah saja..., " ujarnya.
Semua orang manggut-manggut, nggak jelas karena kagum atau nggak ngerti. Tetapi para senior yang duduk di barisan belakang saling memandang dengan mimik bingung, lalu dahi berkerut. Resepsi, siapa yang mau bikin acara walimahan, nih? Satu, dua, tiga, lima, sepuluh detik.... baru senyum kita mengembang dan terkikik-kikik geli (tapi ndak boleh ditampakkan. Lha senior, jaga imej doong).
Yah, ternyata Badu dan kita agak berbeda paham tentang kata resepsi, eh, persepsi.
==
Kisah 2. Mas Parlan
Kategori: Fakta (mendekati sahih)
Setting: Ruang Dosen Pembimbing S1
Waktu/Tempat: 1992-1993/Wet Lab, Biotrop, Tajur, Bogor
Rekan saya sedang konsultasi skripsi dengan ibu dosen pembimbing kami di ruangannya, Ibu dosen ini dikenal lumayan “killer” (tapi sebenarnya baik kok…). Di saat sama, ada mahasiswa angkatan di bawah (kami angkatan 25, dia angkatan 26) yang baru mulai penelitian. Sebut namanya Amin. Si Amin ini disuruh ibu dosen membiakkan bakteri Aeromonas hydrophila untuk bahan risetnya.
Ketika lagi asyik ngobrol, Amin ngetuk pintu. “Bu, maaf, jumlah bakterinya berapa yang mau di-stok, dan caranya gimana?,” tanya Amin, sopan sekali.
“Bikin sejuta, 10 juta, dan 100 juta. Caranya, bandingkan dengan Mc Farland,” ujar si ibu dosen. Mc Farland adalah rangkaian tabung berisi larutan khusus yang biasa dipakai untuk memperkirakan jumlah bakteri dengan cara membandingkan kepekatan larutannya.
Si Amir mengangguk, dan menutup pintu lagi. Lantas, 5, 10, 15, 20, 30 menit. Amir ketuk pintu lagi dan dengan takut-takut bertanya,
“Maaf lagi, Bu…. Saya sudah mau membandingkan, tapi masih ndak ketemu dengan Mas Parlan-nya. Kalau boleh tahu, Mas Parlan yang angkatan berapa, Bu?”
Ibu Dosen: ??? (bingung, dahi berkerut, tangan meremas-remas gelisah – ah, ini fiktif)
Rekan saya: ??? (sok mikir keras, siapa Mas Parlan yang dimaksud)…
Sekian detik kemudian, ruangan itu heboh dengan tawa dan cekikikan.
Amin terlalu stress dan tegang, sehingga pendengarannya sulit membedakan antara Mc Farland dengan Mas Parlan….
==
Kisah 3. Tawon
Kategori: Fakta (sahih)
Setting: Wawancara dengan Narasumber Pengusaha Obat Tradisional
Waktu/Tempat: 1993-1994/Suatu tempat di Madura
Kali ini yg mengalami adalah rekan Iqbal Setyarso, semasa masih menjadi reporter majalah Kartini. Ketika tugas ke Madura, dia wawancara dengan seorang pengusaha jamu tradisional di –kalau ndak salah—daerah Bangkalan.
Cerita punya cerita, semua sudut rumah dan produk jamu-nya dilihat oleh Iqbal. Termasuk produk yang jadi andalan si pengusaha kecil ini, yaitu madu lebah hutan aseli.. Tiba saat wawancara, Iqbal bertanya dengan serius.
“Jadi, seperti produk madu hutan ini, bapak semua yang produksi ya?,” tanya Iqbal, serius.
Apa jawab si bapak?
(dengan logat Madura yang khas itu): “Oh..oh, ndak.. ndak begitu, Mas. Kalo madu ini, yang mbuat ya tawonnya ….. (dengan mimik lebih serius, sumpah…!!)
Iqbal: %#%*()(*& (dalam hati)
Pertanyaannya: Iqbal yg salah nanya, atau si bapak yg terlalu sensitif..?
===
Kisah 4. Laundry Buku
Kategori: Fakta (sahih, suwwer…)
Setting: Sekelompok pemuda alumnus IPB tengah diskusi tentang proyek sambilan…
Waktu/Tempat: 1994-1995/rumah kos-kosan Gunung Batu, Bogor
Nama tokohnya terpaksa diganti, supaya ndak marah. Sebut aja Anto. Jadi kita sedang ngumpul ngobrolin kerjaan sambilan, ya istilah kerennya mroyek, gitu. Ada buku keluaran salah satu penerbit akan diluncurkan dan teman2x dapat kesempatan ngurusin acaranya.
Waktu masuk pembicaraan tentang teknis acara, Anto ini bicara serius (serius lho, dia bicaranya serius, tidak dibuat-buat).
“Jadi, sebaiknya penetapan tempat untuk laundry ini harus ditentukan dengan teliti, supaya orang ndak kesulitan menghadirinya. Dan juga, biasanya, kalau laundry buku seperti ini kita baiknya mengundang temen-temen wartawan. Buku-buku yang baru di-laundry kan paling pas kalau mau diresensi di media….”
Adegan berulang: semua melongo, dahi berkerut2x, saling pandang. Mau peluncuran buku di tempat laundry? Atau maksudnya buku-buku itu di-laundry? Apa nggak rusak? Trus, skian detik kemudian, semua ngakak tidak ketulungan.
Mas Anto, kalau buku jelas nggak boleh di-laundry. Tetapi kalau kain kotor, nah itu bisa di-launching…….
"Bertemu" Tuhan di Bawah Sana (Part 2.)
Wilayah Kepulauan Seribu (jumlah sesungguhnya adalah 110 pulau) yang tersebar di utara Jakarta memang merupakan tempat populer bagi para penyelam, terutama yang tidak sempat pergi jauh ke Bunaken atau Bali. Saat akhir pekan, sentra-sentra selam di beberapa pulau di sana penuh sesak oleh pengunjung, termasuk Pulau Kotok. Setidaknya, hari itu, ada dua boat --masing-masing dipenuhi lebih 30 penumpang-- yang menuju ke sana.
Pulau Kotok, dengan resort yang dikenal dengan nama Alam Raya Kotok (dulu Kul-Kul Kotok), memiliki puluhan bungalow, dari yang hanya dilengkapi kipas angin hingga yang ber-AC. Modelnya tradisional dan eksotik. Di sekeliling bungalow, adalah hutan yang lebat dan dari kejauhan tampak pantai yang menggoda. Berbagai jenis burung dengan santainya melintas di depan teras rumah. Kalau beruntung, anda bertemu dengan kawanan biawak yang suka berjemur malas di tepi pantai, untuk kemudian terbirit-birit masuk ke hutan begitu melihat rombongan manusia. Ada juga beberapa biawak yang ternyata sudah akrab 'bersosialisasi' dengan pengunjung, Jam datangnya pun istimewa, yakni pukul 12.00, tepat pada saat makan siang. Pelayan di sana seolah sudah hafal, dengan memberikan biawak tersebut sisa-sisa tulang ayam. Para turis mancanegara rupanya terhibur dengan kehadiran biawak-biawak 'gaul' tersebut.
Kami semua cuma berdoa agar tidak bertemu dan berurusan dengan makhluk semacam ini. Walaupun demikian, sesungguhnya hewan-hewan ini takkan menganggu, bahkan cenderung menghindar jika bertemu manusia, termasuk hiu. Dalam kenyataannya, mayoritas kasus serangan hewan laut disebabkan karena ulah 'provokasi' manusia. Hewan-hewan itu hanya menunjukkan reaksi defensifnya. Untuk itu, kami sudah dibekali tips jika harus bertemu, misalnya hiu, di bawah air.
"Bertemu" Tuhan
Tak lama setelah tiba dan menaruh tas di bungalow, kami berkumpul di dermaga. Proses persiapan yang sama kami lakukan. Karena telah berlatih beberapa kali, lama-lama kami cukup terbiasa dan hafal urut-urutan pemasangan dan pemeriksaannya. Tapi tak dapat dipungkiri, wajah tegang berbaur dengan lekas-lekas ingin menikmati dunia bawah air, tampak pada kami semua. Untuk penyelaman pertama dan kedua, lokasinya tepat di depan dermaga. Kali ini, instruktur memasang pelampung dan tali sebagai alat bantu. Pada penyelaman berikutnya, pelampung dan tali ini tak digunakan lagi.
Satu-persatu kami masuk ke air dan berkumpul di titik pelampung. Sebelum masuk, kami kembali berlatih ketrampilan memulihkan kram kaki, yang sering terjadi pada setiap penyelam. Begitu semuanya siap, kode turun diberikan dan satu-persatu kami melakukan deflate. Detik-detik ini adalah waktu yang tak dapat dilupakan, terutama oleh saya. Begitu masker membelah permukaan dan turun senti demi senti, yang ada hanyalah perasaan campur-aduk tak terperi. Takjub bukan kepalang dengan pengalaman pertama ini, sekaligus was-was dengan apa yang bakal ditemui dan dilakukan di bawah sana.
Seperti biasa, saya mengalami squeeze lagi. Kali ini di kedalaman 3 meter. Tapi entah kenapa, saya lebih tenang. Abi, yang tepat di bawah saya, dengan bahasa isyarat mengajak untuk terus turun hingga kedalaman 6 meter. Kepadanya saya berikan kode telapak tangan yang dibuka menghadap ke bawah dan digoyang-goyangkan ke kiri-kanan, berikut kode menunjuk telinga. "I'm squeezing..." Ia memaklumi. Dengan sedikit melakukan kick (kayuhan) pada fin, saya terdorong sedikit ke atas, berhenti sejenak dan melakukan ekualisasi. Sukses. Telinga tak mengalami problem. Saya turun lagi, dan masih kena beberapa kali. Tapi ekualisasi terus-menerus akhirnya membuat segalanya beres. Kami semua berkumpul di kedalaman tersebut sambil memegang tali.
Di kedalaman itulah kami sekali lagi mempraktikkan apa-apa yang sudah diajarkan di kolam. Yang paling utama adalah fin pivot, yakni menjaga dan mengontrol daya apung agar dapat menyelam selincah ikan tanpa harus tenggelam atau malah naik mengapung. Sambil menunggu giliran, saya melihat pemandangan sekeliling. Subhanallah, indah bukan kepalang. Kecerahan dan jarak pandang dalam air cukup bagus, sekitar 7 meter, dengan suhu 28 derajat Celcius. Karang-karang warna-warni duduk di tempatnya, melambai-lambai menyapa kami. Merah, kuning, jingga, ungu. Dahsyat. Saya sampai tercenung. Sementara ikan-ikan kecil berenang-renang dengan gembira di sekitar kami tanpa rasa takut. Yang paling banyak ditemukan dan cukup saya kenal semasa kuliah adalah Ikan Kakatua atau Parrot Fish (Scarus sp) dari keluarga Scaridae. Ada pula ikan iseng menggigiti kaki saya, karena kebetulan tak terlindungi wet suit atau pakaian selam khusus.
Selain tes fin pivot, kami juga mempraktekkan mask clearing, dan latihan kekurangan udara dan meminta udara lewat octopus (regulator cadangan) milik buddy. Semuanya berjalan lancar sampai akhirnya instruktur memberi kode kepada kami untuk mengikutinya berjalan-jalan. Ah, ini dia, jalan-jalan!
Maka dimulailah petualangan pertama saya di bawah air. Kami bergerak tenang menyusuri slope yang dipenuhi beragam jenis terumbu karang. Jenis-jenis Acropora, Lili laut dan (kemungkinan) karang jenis Goniastrea, yang berbentuk seperti bongkahan batu, berdiri kokoh. Luar biasa indahnya. Padahal, menurut para penyelam yang sudah biasa berkelana ke berbagai situs penyelaman, terumbu karang di Kepulauan Seribu kalah jauh. Batin saya berkata, "Di sini saya 'melihat' Tuhan Yang Maha Agung lewat segala ciptaannya yang sempurna."
Meskipun demikian, kami tetap harus hati-hati karena ada satu hewan yang selalu tampak di mana-mana. Ia tak lain adalah Bulu Babi atau Sea Urchin. Hewan ini masuk bangsa Holothuridea. Bentuknya bulat dengan duri tajam di sekujur tubuhnya seperti landak. Jenisnya bermacam-macam. Yang kami temui selama penyelaman konon dari jenis Diademe setosum, yang berciri hitam dan berduri panjang. Kalau durinya yang mengandung bahan kapur kena kulit, ia akan menghujam dan tak bisa dikeluarkan begitu saja. Sakitnya lumayan. Yang lebih berbahaya, bongkahan kapur dari duri tersebut bisa terbawa aliran darah dan menyumbatnya sehingga berakibat fatal. Begitupun, jangan salah, dagingnya terkenal enak dimakan, teruma kelenjar kelaminnya (gonadia).
Total jenderal, kami menghabiskan waktu sekitar 35 menit di bawah air dengan kedalaman maksimum 11 meter sambil menikmati pemandangan yang ada. Puas dengan itu, kami segera naik perlahan. Kecepatan naik tidak boleh lebih dari 18 meter per menit. Sebelum menyudahi penyelaman pertama, kami mempraktekkan cara membawa rekan yang kelelahan di permukaan, kemudian istirahat makan siang. Penyelaman kedua dilanjutkan satu jam setelah makan siang. Setiap kali usai menyelam, setiap orang harus mengisi buku log-nya. Untuk penyelaman repetitif (dilakukan berulang lebih dari sekali dalam sehari), ada beberapa perhitungan yang harus diketahui lewat tabel selam yang disediakan. Perhitungan ini berguna untuk mengetahui berapa lama kita dapat menyelam berikutnya dan pada kedalaman maksimum berapa agar terhindar dari dekompresi nitrogen.
Hari pertama dilalui dengan sukses. Yang menarik, saat berjalan-jalan sebentar sebelum naik, tiba-tiba instruktur memberi isyarat dan menunjuk sesuatu di kejauhan. Karena masker saya penuh dengan embun, saya tak bisa melihat dengan jelas. Setelah melakukan mask clearing, barulah saya sadar apa yang ditunjuknya. Masya Allah! Nun jauh di sana, pada jarak sekitar 5 meter, schooling (segerombolan) ikan Bendera (Platax sp.) yang mirip bawal, dengan warna kuning dan cukup besar tengah asyik santai di atas karang. Kami nikmati pemandangan spektakuler tersebut beberapa saat, dan kemudian melanjutkan perjalanan menyusuri wilayah terumbu karang yang luas ini.
Saya mengakhiri hari itu dengan rasa puas. Kalaupun ada gangguan, itu adalah telinga saya yang kemasukan air laut. Rasanya sungguh tak nyaman.
Menyelam Lagi dan Lulus
Esok harinya, penyelaman ketiga dilakukan agak jauh dari pulau, tepatnya di Gosong Kotok Kecil. Untuk mencapai lokasi itu, kami menggunakan boat. Berbeda dengan kemarin, penyelaman tidak lagi menggunakan bantuan tali dan pelampung sebagai tanda. Penyelaman betul-betul bebas. Kami turun ke hingga kedalaman 12 meter dan belajar menggunakan kompas, sebagai sebuah ketrampilan yang wajib diketahui. Kecerahan dalam air dan arus relatif sama dengan kemarin.
Saya diuji melakukan hovering, melayang-layang di kolom air dengan memanfaatkan hembusan dan tarikan nafas sebagai kontrolnya. Sukses. Kali ini, saya beruntung menemukan hewan lain yang sebenarnya sering saya baca laporannya di kantor, namun belum pernah melihatnya langsung. Hewan itu adalah Bintang Laut Berduri atau Crown of Thorn Starfish (Acanthaster planci). Hewan ini punya kegemaran unik, memakan karang. Jika jumlahnya membengkak dan tak terkontrol, ia bisa membahayakan keberadaan terumbu. Saya biarkan hewan ini menggeliat dan meneruskan perjalanan.
Seperti kemarin, kami kembali dihidangkan pemandangan yang bukan main mempesona. Dua kali pula saya bertemu dengan kerang raksasa atau yang sering disebut Kima (Tridacna sp). Katupnya langsung merapat ketika tangan kami bergerak di atasnya. Dan, aha..., tahu-tahu saja ada hewan melata kecil dengan tubuh warni-warni, persis motif batik, melintas. Saya tak dapat memperkirakan ukuran persisnya, mengingat di dalam air suatu obyek mengalami pembesaran 25%. Hewan itu adalah flat worm (cacing pipih). Kelak setelah kembali ke Jakarta, saya dapat menduga kalau jenis cacing ini adalah Pseudoceros sp. Entahlah. Yang pasti, dengan ornamen tubuhnya yang meriah, cacing itu melambai-lambai berenang di kolom air. Lucu dan eksotis. Lalu, yang tak kalah populer dan sempat kami pergoki adalah ikan Badut atau Giru (Amphiprion sp), yang berukuran kecil berwarna putih-oranye. Ini jenis ikan yang populer disebut orang sebagai ikan Nemo.
Di Gosong Munggu, arus tampaknya lebih terasa dibandingkan sebelumnya. Kami sampai harus terhempas-hempas saat berada di permukaan air, demikian pula saat usai penyelaman. Di Munggu ini pula kami mencapai kedalaman tertinggi, yakni 15 meter. Hanya saja, penyelaman cukup singkat, sekitar 25 menit. Selain, mungkin, karena arus (saya sampai terseret dari kedalaman sekitar 12 meter sampai ke 3 meter, sebelum mencoba turun dan kehilangan jejak buddy saya sejenak), juga karena rombongan kami tak utuh lagi. Seorang rekan ternyata tertinggal dan sesuai prosedur, setelah satu menit mencari tak bertemu, ia memutuskan naik ke atas. Demikian pula kami. Syukur, di atas jumlah peserta dihitung lagi dan lengkap. Sebagai penghibur, saya dan beberapa rekan lain melakukan snorkeling dan mempraktekkan skin diving (menyelam dengan hanya perlengkapan snorkel). Skin diving inilah yang kerap saya lakukan jika berkunjung ke berbagai kawasan pesisir di nusantara, jika kebetulan tengah bertugas.
Lepas tengah hari, kami kembali ke dermaga dan makan siang. Setelah mengisi buku log penyelaman, akhirnya saya dan rekan-rekan dinyatakan lulus dan mendapatkan kartu sementara sertifikat sebagai Open Water Diver. Kartu aslinya akan dikirim langsung dari kantor cabang PADI di Australia jika selesai diproses. Kami memperoleh pula badge dari PADI dengan tulisan Open Water Diver. Saya sudah berencana akan menjahitnya di jaket saya (khusus soal ini, kelak jaket dengan badge kebanggaan itu akhirnya saya hadiahkan ke Dadang, seorang pengungsi korban tsunami di posko bantuan bencana di Banda Aceh --- kisah lengkap perjalanan ke Banda Aceh silakan baca di arsip ya....).
Lepas senja, kami kembali ke Marina, dan berpisah. Kepada kami semua, instruktur menyampaikan pesan singkat saja: "Keep Diving!..." Tentu, saya sudah tak sabar untuk 'bertemu' lagi dengan Sang Pencipta lewat terumbu karang dan ikan-ikan ciptaan-Nya yang menawan itu. Lain waktu, janji saya dalam hati, saya akan turun lagi ke bawah air....
(AH)