Tugas mendadak ke Kebumen, Jawa Tengah. Saking mendadaknya, saya cuma bawa laptop, sementara pakaian urusan belakang. Penerbangan “red eye” alias flight malam yang separonya ditingkahi guncangan karena cuaca buruk membuat mood saya sempat down. Tiba di Yogya pukul 21.00, langsung saja saya carter taksi ke Kebumen. Hujan amat deras dan suasana di luar kerap kali gelap gulita. Oh sraaaaam..... Tetapi supir taksi Rajawali yang mengantar saya lumayan hebat. “Bapak tidur saja, nanti kalau sudah sampai saya bangunkan,” katanya. Whaa, mana bisa, Mas! Niat baiknya masih belum bisa saya telan 100% (kalau ketemu dia lagi, saya bakal bilang sori..).
Alhamdulillah, akhirnya saya tiba juga di Hotel PATRA dengan selamat, menjelang tengah malam. Diskusi dulu untuk persiapannya dengan Mas Topo. Esok harinya, training media relation buat anggota Bakohumas Kebumen diselenggarakan, dengan fasilitator Mas Topo dan Yudi, dan saya (catatan kaki: saya masih pake baju kemarin!, plus jeroan yang disetel Side B, hahaha…). Lepas makan siang, dengan bantuan supir, saya ngacir sebentar ke ke Rita Swalayan, dan belanja pakaian secukupnya. Baru rasanya lega.
Malam hari, semua temen kantor jalan ke RM Hijau, yang berada di tepi jalan antara Kebumen-Yogya. Enak, kata teman-teman. Kok tahu? “Pokoknya kalau warung di depannya banyak truk parkir, masakannya pasti enak,” kata Mas Topo. Hm, ilmu baru nih… Tetapi memang masakannya lumayan lezat. Murah lagi. Apalagi ada pete segar segala dicampur balado. Tampilannya jadi bak kumpulan pelor hijau berselimut cabai merah yang menggoda lidah…. Uhuy….. Adapun malam kedua, kami cari makan di warung sekitar kota saja.
Mirip dengan kota-kota kabupaten lainnya di Jawa Tengah-Timur, di Kebumen suasana kota terasa lebih tenang, adem. Tidak grasa-grusu seperti Jakarta. Kalau Bogor masih mending, meskipun tetap masih kalah tenang. Maka, dua hari di Kebumen, selain bertugas, juga sekaligus bisa menjadi acara pencerahan jiwa, melihat dunia yang sedikit berbeda.
Apalagi saat pulang ke Yogya. Kami berangkat pagi-pagi, dan di sepanjang jalan pemandangan sawah ladang betul-betul menghibur syaraf mata. Padi menguning, kabut menggantung, hijau pepohonan di kejauhan dan di tepi jalan. Bocah-bocah SD mengayuh sepeda mereka dengan gembira. Dan matahari bersinar lembut buat kami semua. Sungguh pemandangan yang langka didapat.
Sayang sekali, saya hanya sempat menikmati itu sambil jalan. Dan berikutnya, tiga jam kemudian, Jakarta yang pengap sudah kembali menyambut dengan seringai senyumnya. Nasiiib… (ah)
Saturday, April 01, 2006
Wednesday, March 29, 2006
Surabaya: "Horor" Kamar 1425
Di Surabaya, saya enggan ke mana-mana. Terbetik keinginan menelpon Mas Yoyok, kakak ipar saya yang bekerja di kota ini. Tetapi, ah, tidak usahlah, kasihan nanti malah mengganggu. Jadi, saya hanya keluar makan malam ke Tunjungan Plaza, yang bersebelahan dengan Hotel Sheraton tempat menginap. Tempat mangkal biasa, ya di Warung Jawa Timur di lantai 5. Biasanya saya selalu pesan Soto Ambengan dan es cendol. Plus, mie goreng untuk camilan di kamar.
Ngomong-ngomong, saya harus ceritakan kisah “horor” kamar 1425, yang bersebelahan dengan kamar 1424 tempat saya menginap. Dua kamar ini sebenarnya ada connecting door-nya, yang terkunci rapat. Nah, di malam pertama saya menginap, awalnya tidak ada apa-apa. Tetapi tiba-tiba, pukul 04.05 pagi-pagi buta, saya mendengar suara-suara aneh di kamar sebelah. Cukup kedengaran, karena pintu terbuat dari kayu, sehingga suara masih tembus.
Jangan takut dulu, suara-suara aneh itu bukan suara lengkingan ala kuntilanak atau tangisan wanita atau bayi misterius. Suara itu tak lain suara lenguhan perempuan dan lelaki yang sedang ehm.. ehm…. tau kan apa yang kumaksud…. Plus suara-suara keributan ala film BF yang biasa dijajakan di Glodok, hehehe…
Antara kesal, bingung, nggak percaya, penasaran (dan… tentu campur tergoda dong, kwak kwak kwak…..) saya coba “menyimak dengan penuh kekhusyukan” suara-suara itu (kok ya sempat-sempatnya ya?). Beneran lho, dan itu berlangsung hingga pukul 05.00, dengan beberapa jeda antar babak :P
Si penghuni kayaknya nggak sadar kalau kegiatan “extra kurikuler” mereka bisa terdengar oleh penghuni lain seperti saya. Dan, ya Tuhan, apa yang bisa saya lakukan dengan mendengar suara-suara di kamar tetangga seperti itu? Paling-paling dengan terpaksa saya setel acara Kuliah Subuh di sebuah stasiun TV Swasta. Yah, setidaknya ini bisa menurunkan ‘tensi’ kedua belah pihak, baik kamar sebelah maupun saya sendiri, huahahahaha…….
What an unforgetable experience…. (ah)
Monday, March 27, 2006
Cari Wangsit II: Medan, Kabanjahe
Pulang dari Makassar, cuma sempat nginap semalam di rumah. Esok harinya, Sabtu, sudah terbang lagi ke Medan. Rencananya mengikuti lokakarya bidang pendidikan di Kabanjahe, Karo. Kesempatan mampir ke my home sweet home di Karangsari, dan tentu saja bertemu my beloved mom. Hotel tetap di-booking, tapi sedetik pun tidak pernah ditempati, hahaha.
Gambar kiri: Pemandangan sekitar dari Mikie Holiday di pagi hari
Sampai rumah, sudah pasti semua kaget, terutama my mom. Tetapi beliau sekaligus juga girang luar biasa. Yah, kapan lagi sempat mampir kalau bukan pas sedang tugas, atau sengaja cuti lebaran. Meski cuma bermalam, karena esok paginya langsung cabut ke kantor regional Medan, rasanya cukuplah untuk menggembirakan orang tua.
Lebih setengah harian di kantor, lalu kami jalan ke Brastagi. Tempat menginap kami ini lumayan funky, bergaya minimalis. Namanya Hotel Mikie Holiday. Kalau lihat konsep hotelnya, mirip-mirip dengan Hotel Harris di bilangan Tebet.
Acara dua hari berlangsung lancar. Sempat membantu membuatkan siaran pers buat media lokal, sekaligus ambil dokumentasi foto. Eh, saya dapat foto yang lumayan bagus lho, dari sisi fotografi (setidaknya menurut diri sendiri). Angle-nya ada di depan Gedung Zentrum GBKP(?). Kalau lihat sudutnya, tampaknya sih biasa-biasa saja. Hanya, langit kebetulan lagi bagus-bagusnya. Plus, karakter jajaran pohon kering yang dijepret lumayan bagus. Hasilnya ya seperti yang ditampilkan di halaman ini. Bagaimana menurut Anda?
Siang hari, bersama rekan-rekan lain mencoba makan siang di luar, tepatnya di Warung Muslim di dekat Kantor Pemda (Bappeda). Ini rekomendasi Saruhum, DC Karo yang jadi guide dadakan kami. Gulai arsiknya memang “mantap kali” (pinjam omongan “Benu Buloe” di Trans TV). Nasinya juga wangi. Sampai-sampai semua penasaran, apa nama beras yang dipakai. Rupanya pucuk dicinta ulam tiba. Pemasok beras warung tersebut kebetulan datang. Beras yang enak itu jenisnya “Kuku Balam”, dengan merek “Jeruk Madu”. Di Jawa rasanya tidak ada jenis ini.
Gambar kiri: Sop buntut Restoran Garuda, Brastagi yang 'mantap kali' itu
Di malam kedua, saya makan malam di Restoran Garuda. Di sini, konon sop buntutnya luar biasa enak (kali ini yang promosi adalah Hamdan, DC Serdang Bedagai). Maka, saya jajal sop yang dimaksud. Eh, beneran. Uenak tenan, kata orang Surabaya. Tak heran, esok malamnya, sesaat sebelum turun ke Medan usai acara, kami datangi lagi restoran ini dan melalap menu serupa. TOP BGT, dah… 100% direkomendasikan.
Pulang ke Medan, saya habiskan dua hari tinggal di rumah, hitung-hitung ambil pengganti libur dari tugas daerah yang sebelumnya. Menu andalan my mom tak lain: rendang, rebus singkong dan pepaya, serta sambal tomat. Rrruarrr biasaaa….
Di rumah, ada kucing peliharaan yang diberi nama Drogba (diambil dari penyerang Chelsea bernomor punggung 15 asal Pantai Gading). Eh, baru ditinggal sejak lebaran, sekarang Drogba ini sudah besarnya bukan main. Tapi tetap saja kelakuan sama, makan, tidur, main. Nangkap tikus? Pikir-pikir dulu… Coba saja lihat tingkahnya di gambar sebelah, saat memain-mainkan tali tustel digital.
Selama dua hari itu juga saya juga banyak curhat dan diskusi dengan my mom dan kakak tentang pekerjaan yang ada sekarang dan tawaran-tawaran baru yang datang. Nasihat mereka lumayan berguna. Sebelum balik ke Jakarta, saya sempatkan pula ziarah ke makam Ayah di pemakaman kampung dekat mesjid. Allahummagh fir lahu warhamhu wa’afihi wa’fu ‘anhu.
Oh ya, tidak lupa saya borong bika Ambon Zulaikha (Hj. Mariani) yang di Jalan Mojopahit, plus roti bolu gulungnya. Juga brownies bikinan kenalan adik saya Iin. Sementara Teteh menitipkan oleh-oleh sirup Terong Belanda dan Kiwi, plus emping Aceh dari Kak Inur (kakak nomor dua di Banda Aceh). Wak Ipah, lain lagi. Dia buatkan bumbu pecel yang jadi andalan warungnya. “Cuma bisa kasih ini,” kata Uwak. Ck..ck..ck. Masih begitu banyak orang yang sayang dan perhatian pada saya dan keluarga. Itu harus disyukuri.
Walhasil, sesampai di rumah di Bogor, banyak orang bertanya-tanya, ini pulang tugas atau pulang cuti lebaran sih? Hahaha.... (ah)
Sampai rumah, sudah pasti semua kaget, terutama my mom. Tetapi beliau sekaligus juga girang luar biasa. Yah, kapan lagi sempat mampir kalau bukan pas sedang tugas, atau sengaja cuti lebaran. Meski cuma bermalam, karena esok paginya langsung cabut ke kantor regional Medan, rasanya cukuplah untuk menggembirakan orang tua.
Lebih setengah harian di kantor, lalu kami jalan ke Brastagi. Tempat menginap kami ini lumayan funky, bergaya minimalis. Namanya Hotel Mikie Holiday. Kalau lihat konsep hotelnya, mirip-mirip dengan Hotel Harris di bilangan Tebet.
Siang hari, bersama rekan-rekan lain mencoba makan siang di luar, tepatnya di Warung Muslim di dekat Kantor Pemda (Bappeda). Ini rekomendasi Saruhum, DC Karo yang jadi guide dadakan kami. Gulai arsiknya memang “mantap kali” (pinjam omongan “Benu Buloe” di Trans TV). Nasinya juga wangi. Sampai-sampai semua penasaran, apa nama beras yang dipakai. Rupanya pucuk dicinta ulam tiba. Pemasok beras warung tersebut kebetulan datang. Beras yang enak itu jenisnya “Kuku Balam”, dengan merek “Jeruk Madu”. Di Jawa rasanya tidak ada jenis ini.
Di malam kedua, saya makan malam di Restoran Garuda. Di sini, konon sop buntutnya luar biasa enak (kali ini yang promosi adalah Hamdan, DC Serdang Bedagai). Maka, saya jajal sop yang dimaksud. Eh, beneran. Uenak tenan, kata orang Surabaya. Tak heran, esok malamnya, sesaat sebelum turun ke Medan usai acara, kami datangi lagi restoran ini dan melalap menu serupa. TOP BGT, dah… 100% direkomendasikan.
Pulang ke Medan, saya habiskan dua hari tinggal di rumah, hitung-hitung ambil pengganti libur dari tugas daerah yang sebelumnya. Menu andalan my mom tak lain: rendang, rebus singkong dan pepaya, serta sambal tomat. Rrruarrr biasaaa….
Selama dua hari itu juga saya juga banyak curhat dan diskusi dengan my mom dan kakak tentang pekerjaan yang ada sekarang dan tawaran-tawaran baru yang datang. Nasihat mereka lumayan berguna. Sebelum balik ke Jakarta, saya sempatkan pula ziarah ke makam Ayah di pemakaman kampung dekat mesjid. Allahummagh fir lahu warhamhu wa’afihi wa’fu ‘anhu.
Oh ya, tidak lupa saya borong bika Ambon Zulaikha (Hj. Mariani) yang di Jalan Mojopahit, plus roti bolu gulungnya. Juga brownies bikinan kenalan adik saya Iin. Sementara Teteh menitipkan oleh-oleh sirup Terong Belanda dan Kiwi, plus emping Aceh dari Kak Inur (kakak nomor dua di Banda Aceh). Wak Ipah, lain lagi. Dia buatkan bumbu pecel yang jadi andalan warungnya. “Cuma bisa kasih ini,” kata Uwak. Ck..ck..ck. Masih begitu banyak orang yang sayang dan perhatian pada saya dan keluarga. Itu harus disyukuri.
Walhasil, sesampai di rumah di Bogor, banyak orang bertanya-tanya, ini pulang tugas atau pulang cuti lebaran sih? Hahaha.... (ah)
Sunday, March 26, 2006
Cari Wangsit ke Makassar
Di tengah-tengah gundah mempertimbangkan kembali tawaran untuk tetap tinggal di kantor sekarang atau hengkang, tugas ke Makassar tetap dijalankan. Sebenarnya lebih tepat dikatakan bukan tugas, karena saya hadir sebagai peserta pelatihan ToP (Technology of Participation) yang diselenggarakan kantor Sulsel. Hitung-hitung sambil mencari “wangsit” tentang masa depan pekerjaan sendiri.
Foto-foto: Pesisir Makassar dari kamar hotel Quality menjelang malam
Tiba di sana, sedikit ada trouble. Masuk ke Hotel Quality, kok nama tidak terdaftar. Mana hari sudah petang lagi. Akhirnya, kami cabut ke Hotel Imperial Arya Duta. Eh, ada SBY sedang datang karena membuka acara Kongres HMI. Terpaksa harus melewati pemeriksaan berlapis, sebelum akhirnya mendapat kamar. Malamnya, baru ketahuan, kalau Hotel Quality-lah yang salah memasukkan tanggal booking menjadi sebulan ke depan. Pantas saja nama yang sudah dipesan tidak muncul di layar mereka. Merasa bersalah, pihak hotel sampai merasa perlu mengutus orang meminta maaf. Kasihan juga. Tapi bagaimana ya, salah mereka juga sih...
Kang Dedi yang dari kantor Jawa Barat bergabung sebagai observer. Acaranya sendiri cukup lancar, meski ada kesan untuk sesi-sesi awal fasilitator kurang siap. Plus, waktu yang suka molor. Selain itu, semuanya berjalan bagus.
Empat malam di Makassar, tiga malam di antaranya diisi dengan menyantap ikan bakar dan seafood. Malam kedua bersama kang Dedi saya makan ikan kuwek di sebuah warung di sekitar pantai Losari. Rasanya, biasa saja. Malam berikutnya, Bu Tanti mentraktir. Kang Dedi dan saya jalan bareng suaminya yang dinas di Kodam setempat. Tempat makan yang dipilih adalah Restoran Koang. Boleh juga, dan lumayan puas. Trims ya Bu Tanti...! (sambil menjura dan mengacungkan jempol). Sedangkan malam terakhir, kami menjajal menu di Restoran LaeLae yang konon sudah terkenal. Harganya lumayan murah, padahal kami pesan kuwek, kakap, dan beberapa jenis sayur sekaligus.
Ingat makan di Makassar jadi ingat di Manado. Persis, dengan perbedaan sedikit di sana sini. Tetapi pesta sea food-nya memang bolehlah diulang lagi, kalau kebetulan tugas ke sana lagi. Nyam-nyam. (ah)
Tiba di sana, sedikit ada trouble. Masuk ke Hotel Quality, kok nama tidak terdaftar. Mana hari sudah petang lagi. Akhirnya, kami cabut ke Hotel Imperial Arya Duta. Eh, ada SBY sedang datang karena membuka acara Kongres HMI. Terpaksa harus melewati pemeriksaan berlapis, sebelum akhirnya mendapat kamar. Malamnya, baru ketahuan, kalau Hotel Quality-lah yang salah memasukkan tanggal booking menjadi sebulan ke depan. Pantas saja nama yang sudah dipesan tidak muncul di layar mereka. Merasa bersalah, pihak hotel sampai merasa perlu mengutus orang meminta maaf. Kasihan juga. Tapi bagaimana ya, salah mereka juga sih...
Kang Dedi yang dari kantor Jawa Barat bergabung sebagai observer. Acaranya sendiri cukup lancar, meski ada kesan untuk sesi-sesi awal fasilitator kurang siap. Plus, waktu yang suka molor. Selain itu, semuanya berjalan bagus.
Ingat makan di Makassar jadi ingat di Manado. Persis, dengan perbedaan sedikit di sana sini. Tetapi pesta sea food-nya memang bolehlah diulang lagi, kalau kebetulan tugas ke sana lagi. Nyam-nyam. (ah)
Saturday, March 25, 2006
Back to Yogya
Terbang ke Yogya lagi. Senang berjumpa dengan kota yang tentram ini. Agenda: menyelenggarakan pelatihan media relation buat internal team, termasuk para distric coordinator. Sukses, setidaknya menurut peserta dan teman-teman. Bahkan belakangan peserta dari proyek lain, meminta ijin untuk menggunakan konsep dan materi pelatihan, plus teman-teman tim sebagai narasumber. Usai pelatihan hari Selasa, saya masih harus terus di Yogya, mengurusi media program untuk konferensi jaringan pengawas pengadaan barang dan jasa.
foto bareng Ken Wheeler, konsultan
komunikasi dari Virginia, AS, yang ikut jadi observer
Kalau ada yang kurang, barangkali ya soal makan. Mungkin karena dibebani tanggung jawab pelatihan, dan sekaligus memonitoring kegiatan media relation untuk konferensi, sejak Minggu hingga Kamis kegiatan makan tidak sungguh-sungguh dinikmati. Kecuali saat malam Kamis, kami rombongan kecil makan gudeg di kawasan Tugu, sambil lesehan berdiskusi tentang banyak hal. Dengan Mas Topo, sambil naik becak, kami bicara tentang pekerjaan. Lumayan bernas, meski singkat.
Beringharjo, salah satu sudut Yogya
Acara konferensinya sendiri akhirnya berjalan bagus, dan cukup mendapat perhatian media lokal serta nasional. Saya terbang kembali ke Jakarta hari Jumat. Capek. (ah)
foto bareng Ken Wheeler, konsultan
komunikasi dari Virginia, AS, yang ikut jadi observer
Kalau ada yang kurang, barangkali ya soal makan. Mungkin karena dibebani tanggung jawab pelatihan, dan sekaligus memonitoring kegiatan media relation untuk konferensi, sejak Minggu hingga Kamis kegiatan makan tidak sungguh-sungguh dinikmati. Kecuali saat malam Kamis, kami rombongan kecil makan gudeg di kawasan Tugu, sambil lesehan berdiskusi tentang banyak hal. Dengan Mas Topo, sambil naik becak, kami bicara tentang pekerjaan. Lumayan bernas, meski singkat.
Beringharjo, salah satu sudut Yogya
Acara konferensinya sendiri akhirnya berjalan bagus, dan cukup mendapat perhatian media lokal serta nasional. Saya terbang kembali ke Jakarta hari Jumat. Capek. (ah)
Bebek dan Nasi Liwet
Catatan: Ini tulisan yang senantiasa dibuat sepanjang perjalanan tugas, tetapi selalu gagal diposting atas nama kata sibuk...
===
Saat tugas ke Solo, beberapa waktu lalu, saya diajak rekan-rekan untuk mencicipi bebek goreng Pak Slamet di kawasan Tipes, Solo.
Jadi, kami pun meluncur ke sana. Lumayan ramai, dan waktu dari pemesanan hingga hidangan datang cukup lama. Tetapi setelah hidangan datang, wuih, baru terasa bedanya. Lezat, garing, murah lagi. Hanya, tulangnya keras, tidak di-presto. Tetapi tak apalah, masak enggak rela kalau tulang juga nggak perlu ditelan?
Malam kedua, kami tidak sempat ke mana-mana, malah makan di ruang rapat, karena acara cukup padat. Menunya, bebek panggang tulang lunak. Yummy, tidak kalah dengan bebek goreng malam sebelumnya. Cuma, lalapannya pelit banget. Masak hanya timun dua iris. Sial…, eh, alhamdulillah…
Malam ketiga, giliran nasi liwet di Keprabon Kulon, tepatnya di Warung Nasi Liwet Bu Wongso Lemu. Konon ini katanya terkenal. Manalah aku tau? Tapi rupanya, harganya agak mahal. Kata kawan-kawan, mungkin karena kami datang bergaya turis (hehehe). Dan, lucunya, ketika menuju menuju jalan besar untuk pulang, kami bertemu dengan beberapa warung nasi liwet lain Tebak namanya? Sama, Bu Wongso Lemu! Sama atau beda pemilik? Atau itu nama generik? Ijinkan saya menjawabnya dengan kalimat: mana aku tau?
Berhubung sulit mendapat taksi ke hotel, kami akhirnya mencarter angkot. Si Mas sopir dengan baik hati mengantar hingga berhenti tepat di depan lobby. Oh, betapa percaya dirinya kami…
Malam terakhir, saya makan di sekitar Pasar Gede. Namanya sih Nasi Liwet dan Gudeg Mbak Sus. Sederhana, lesehan. Eh, lumayan murah pula.
Tiga hari di Solo, setidaknya kamus wisata kuliner saya nambah dikit. Asyik. (ah)
===
Saat tugas ke Solo, beberapa waktu lalu, saya diajak rekan-rekan untuk mencicipi bebek goreng Pak Slamet di kawasan Tipes, Solo.
Jadi, kami pun meluncur ke sana. Lumayan ramai, dan waktu dari pemesanan hingga hidangan datang cukup lama. Tetapi setelah hidangan datang, wuih, baru terasa bedanya. Lezat, garing, murah lagi. Hanya, tulangnya keras, tidak di-presto. Tetapi tak apalah, masak enggak rela kalau tulang juga nggak perlu ditelan?
Malam kedua, kami tidak sempat ke mana-mana, malah makan di ruang rapat, karena acara cukup padat. Menunya, bebek panggang tulang lunak. Yummy, tidak kalah dengan bebek goreng malam sebelumnya. Cuma, lalapannya pelit banget. Masak hanya timun dua iris. Sial…, eh, alhamdulillah…
Malam ketiga, giliran nasi liwet di Keprabon Kulon, tepatnya di Warung Nasi Liwet Bu Wongso Lemu. Konon ini katanya terkenal. Manalah aku tau? Tapi rupanya, harganya agak mahal. Kata kawan-kawan, mungkin karena kami datang bergaya turis (hehehe). Dan, lucunya, ketika menuju menuju jalan besar untuk pulang, kami bertemu dengan beberapa warung nasi liwet lain Tebak namanya? Sama, Bu Wongso Lemu! Sama atau beda pemilik? Atau itu nama generik? Ijinkan saya menjawabnya dengan kalimat: mana aku tau?
Berhubung sulit mendapat taksi ke hotel, kami akhirnya mencarter angkot. Si Mas sopir dengan baik hati mengantar hingga berhenti tepat di depan lobby. Oh, betapa percaya dirinya kami…
Malam terakhir, saya makan di sekitar Pasar Gede. Namanya sih Nasi Liwet dan Gudeg Mbak Sus. Sederhana, lesehan. Eh, lumayan murah pula.
Tiga hari di Solo, setidaknya kamus wisata kuliner saya nambah dikit. Asyik. (ah)
Friday, March 24, 2006
Dua Bulan Penuh Warna
Banyak yang terjadi dua bulan ini. Dan semuanya adalah hal-hal yang berpengaruh besar dalam hidup, rasanya begitu. Mulai dari rencana resign dari pekerjaan sekarang, yang akhirnya menimbulkan sedikit ”huru-hara”. Rame, seru. Dan setidaknya membuat hidup lebih berwarna :) ... Yang jadi korban adalah blog ini (!). Meski menulis jalan terus, tetapi postingnya itu yang tidak dilakukan setiap saat. Apa boleh buat.
Sementara itu, pekerjaan dan tugas daerah terus berjalan, seolah tak dipengaruhi oleh problem yang tengah terjadi. Bagus juga sih. Dan yang unik, setelah rencana resign awal tersebar, entah dari mana saja datangnya, ada saja tawaran bergabung bekerja. Laris manis ni yee... Termasuk, panggilan dari beberapa aplikasi yang pernah kukirim. GTZ, misalnya, sudah OK dan minta segera bergabung. Tetapi... harus segera pindah markas, dari Jakarta ke Klaten, Jawa Tengah. Mereka mengabulkan, dalam level tertentu, kenaikan gaji, yang kalau dibandingkan berarti 50% lebih besar dari gaji yang ada sekarang. Hmmmm (sembari air liur menetes....). Sekali lagi, setelah berpikir panjang, pertaruhannya memang cukup besar, terutama soal keluarga dan network di Jakarta yang sudah terjalin. Keputusannya, terpaksa ditolak. Bodoh? Bisa jadi.
So, akhirnya sementara semua kembali seperti biasa, setelah bertemu bos dan kedua belah pihak menyepakati beberapa hal. Bekerja masih di tempat sama, gaji sama (hehehe), problem yang sama. Entah perubahan apa yang dapat terjadi dalam 3, 4, atau 6 bulan ke depan, sebagaimana yang dijanjikan. Let see... dan nothing to loose saja. Dengan begitu semuanya lebih ringan terasa. (ah)
Sementara itu, pekerjaan dan tugas daerah terus berjalan, seolah tak dipengaruhi oleh problem yang tengah terjadi. Bagus juga sih. Dan yang unik, setelah rencana resign awal tersebar, entah dari mana saja datangnya, ada saja tawaran bergabung bekerja. Laris manis ni yee... Termasuk, panggilan dari beberapa aplikasi yang pernah kukirim. GTZ, misalnya, sudah OK dan minta segera bergabung. Tetapi... harus segera pindah markas, dari Jakarta ke Klaten, Jawa Tengah. Mereka mengabulkan, dalam level tertentu, kenaikan gaji, yang kalau dibandingkan berarti 50% lebih besar dari gaji yang ada sekarang. Hmmmm (sembari air liur menetes....). Sekali lagi, setelah berpikir panjang, pertaruhannya memang cukup besar, terutama soal keluarga dan network di Jakarta yang sudah terjalin. Keputusannya, terpaksa ditolak. Bodoh? Bisa jadi.
So, akhirnya sementara semua kembali seperti biasa, setelah bertemu bos dan kedua belah pihak menyepakati beberapa hal. Bekerja masih di tempat sama, gaji sama (hehehe), problem yang sama. Entah perubahan apa yang dapat terjadi dalam 3, 4, atau 6 bulan ke depan, sebagaimana yang dijanjikan. Let see... dan nothing to loose saja. Dengan begitu semuanya lebih ringan terasa. (ah)
Thursday, February 16, 2006
Majalah (Bag. 2): Indonesia Punya Cerita
Sejarah majalah di Indonesia erat dengan pergerakan kebangsaan
PADA akhir abad ke-19, di Indonesia (waktu itu Hindia Belanda) mulai tampak ada penerbitan pers yang bercorak dan berdasar pada suatu program politik, Karangan yang disajikan bersikap kritis terhadap politik kolonial Belanda di Hindia Belanda. Muncullah majalah yang dikenal dengan nama Bondsblad, terbit 1897. Majalah ini membawa suara Indische Bond, perkumpulan kaum Indo-Belanda, yang memperjuangkan Hindia Belanda sebagai tanah airnya serta mengusahakan perlakuan yang sama bagi mereka dalam bidang politik. Selain Bondsblad, terbit juga Jong Indie, yang didirikan oleh Mr. Th. Thomas, seorang ahli hukum di Batavia.
Pada awal abad 20, muncul organisasi pergerakan kemerdekaan seperti Boedi Oetomo, Sarekat Islam dan Indische Partij. Mereka butuh corong untuk menyampaikan program organisasi. Boedi Oetomo menerbitkan Majalah Retno Doemilah dalam bahasa Melayu Jawa, dan Soeara Goeroe. Tahun 1907 di Bandung terbit Majalah Medan Prijaji yang dipimpin RM Tirtoadisoerjo, yang sebelumnya menerbitkan Majalah Soenda Berita.
Di masa-masa itulah terbit banyak majalah, yang kebanyakan isunya mengenai pergerakan kemerdekaan. Akhir 1910, Douwes Dekker menerbitkan majalah dwi mingguan Het Tijdschrift yang sangat radikal pembahasan politiknya dengan menyerukan aksi melawan kolonial. Pada tahun 1913, giliran Tjipto Mangoenkoesoemo menerbitkan Majalah De Indier. RM Soewardi Soerjaningrat mendirikan Hindia Poetra, memakai bahasa pengantar Belanda. Majalah ini berubah menjadi Indonesia Merdeka, yang kemudian terbit dalam dua bahasa. Peredarannya sangat luas, hingga ke Jerman, India, Mesir, Malaya, dan Prancis. Pembacanya mulai dari guru, kalangan swasta, mahasiswa, pejabat belanda dan Indonesia, redaksi surat kabar, dan sebagainya.
Balai Poestaka, salah satu penerbit tertua, juga menerbitkan beberapa majalah untuk rakyat, antara lain Majalah Pandji Poestaka, Majalah Kedjawen dan Parahijangan, majalah anak-anak berbahasa Melayu Taman Kanak-Kanak, dan yang berbahasa Jawa Taman Botjah. Majalah-majalah lain yang terbit dalam kurun ini antara lain: Fikiran Rakjat milik Partai Nasional Indonesia (PNI), dan Daulat Ra’jat(diterbitkan Bung Hatta). Lalu, muncul pula Majalah Weekblad Sin Po tahun 1923 yang merupakan terbitan grup Sin Po. Di majalah mingguan ini pula naskah lagu Indonesia Raya ciptaan WR Supratman untuk pertama kalinya dimunculkan.
Tercatat, hinggga tahun 1920-an, sudah ada 127 majalah dan surat kabar. Setelah era ini, masih ada lagi majalah tri wulanan De Chineesche Revue (1927), Timboel (membahas soal budaya, tahun 1930-an), hingga Pedoman Masjarakat yang terbit di Medan (diasuh HAMKA), serta Pandji Islam. Dari segi bisnis, disebutkan bahwa mutu kebanyakan majalah masih amat rendah, mengingat situasi yang tak memungkinkan perolehan iklan waktu itu.
Di jaman Jepang, ada Majalah Djawa Baroe, Pandji Poestaka, Pradjoerit, Keboedajaan Timoer, dan Panggoeng Giat Gembira. Kebanyakan isinya ketat mengikuti ketentuan penguasa Jepang. Semua majalah ini berhenti terbit seiring dengan takluknya Jepang kepada Sekutu tahun 1945. Memasuki masa kemerdekaan, terbit Majalah Pantja Raja (Desember 1945), Menara Merdeka di Ternate, dan Pedoman, majalah tengah bulanan. Yang terakhir disebut ini merupakan majalah stensilan, berisi suara kaum Republiken menentang Belanda. Ada pula Majalah Pesat yang didirikan Sajuti Melik dan terbit di Jogyakarta.
Selama lebih sepuluh tahun pasca kemerdekaan (1950-an), tercatat jumlah mingguan dan majalah berkala yang beredar sebanyak 226 judul, sementara surat kabar berbahasa Indonesia 67 judul, bahasa Belanda 11 judul, dan Cina 15 judul.
Majalah Modern Lokal
Perkembangan dan petumbuhan majalah, dekade pasca 1970-an semakin unik dan canggih. Majalah mulai menuju spesifikasi. Penerbitan majalah lambat laun mengubah dirinya menjadi bagian dari bisnis pers. Perubahan tersebut dilakukan antara lain dengan membuat pembahasan isi yang lebih mendalam daripada koran. Mereka pun melengkapi diri dengan gambar sampul yang berwarna, sejalan dengan memasyarakatnya teknologi cetak offset warna. Karyawan termasuk reporternya mulai mengikuti sebagaimana layaknya sebuah perusahaan. Majalah Tempo merupakan salah satu contoh majalah berita mingguan yang tumbuh dan berkembang pesat serta relatif minim pesaing, setelah wafatnya majalah Ekspress.
Beberapa majalah juga mengambil segmentasi yang lebih spesifik dan sempat populer, antara lain Aktuil, yang mengambil jalur musik dan seni. Mulai pula muncul majalah di bidang interior, otomotif, kedirgantaraan, manajemen, bisnis, komputer, dan sebagainya, di luar segmentasi yang berdasarkan jenis kelamin dan usia.
Pada masa ini terdapat pula kecenderungan masuknya pengusaha besar bekerja sama dengan pemiik SIUPP (Surat Ijin Usaha Penerbitan Pers) atau pekerja pers untuk mendirikan majalah baru atau menghidupkan majalah yang kolaps, seperti Majalah Anda Bisa, Aneka Ria, Info Bank, dan Prospek. ‘Pemain’nya adalah Sutrisno Bachir. Majalah olahraga Sportif tahun 1981 yang didanai oleh Bob Hasan, pengusaha kayu, demikian juga Gatra pada akhir tahun 1994. Sementara Popular didukung oleh Aburizal Bakrie, Vista oleh Suryo Paloh, dan Sinar oleh Ir. Ciputra. Pengusaha Sukamdani Sahid Gitosardjono dan beberapa rekannya memodali terbitnya Indonesia Business Weekly, dan A. Latief dikabarkan menyokong Majalah Proaktif. Perubahan yang cukup siginifikan ini juga menimbulkan problem baru yakni kekhawatiran kekuatan pengawasan media akibat adanya conflict of interest dari pemilik modal.
Sebelumnya, sempat pula dikenal praktik perubahan nama dengan membeli SIT (Surat Ijin Terbit), misalnya Fokus (dari SIT Flamboyan), Bombom (dari Violeta), Intan (dari Prestasi), Ria Kuis (dari Tokoh), dan Srikandi ( dari Contessa Asah Otak). Tahun 1989, tercatat jumlah majalah yang terbit berjumlah 107 buah, dengan sirkulasi total 3. 623.000 eksemplar.
Pada masa pasca reformasi 1998, SIUPP akhirnya dihapuskan. Sejak itu, jumlah penerbitan pers di Indonesia membengkak drastis. Tahun 2000, diperkirakan penerbitan pers mencapai sekitar 1.800 sampai 2.000, namun benar-benar operasional diperkirakan tidak lebih dari 800 penerbitan.
Majalah dan Investigasi
Jurnalisme muckcracking, yang pada awal perkembangannya banyak mengungkap skandal-skandal besar seperti korupsi, pelanggaran hak asasi, dan sebagainya, di dalam negeri lebih dikenal dengan sebutan jurnalisme investigasi atau istilah lunak lainnya, indepth reporting (reportase mendalam). Pers cetak yang dikenal luas sebagai pengusung jurnalisme ini adalah koran Indonesia Raya yang dipimpin Mochtar Lubis. Koran ini sempat dibredel tujuh kali hingga akhirnya dihentikan penerbitannya tahun 1974.
Majalah Tempo sebelum bredel 1994 beberapa kali pernah menuliskan laporan yang bersifat investigasi, antara lain tentang kerusuhan Tanjungpriok, pembelian kapal bekas RI dari Jerman, dan sebagainya. Peliputan investigatif tampaknya mulai dipakai wartawan secara serius pada dekade 1990-an. Dan sejak reformasi bergulir tahun 1998, pelaporan investigatif banyak mendapat tempat dengan memberitakan kasus-kasus korupsi. Majalah yang dengan eksplisit memberi judul investigasi pada liputan mereka antara lain dwi-mingguan Tajuk, yang terbit tahun 1996. Tajuk menyatakan diri sebagai majalah berita, investigasi, dan entertainment. Sedangkan Tempo, setelah terbit kembali Oktober 1998, memuat rubrik tetap Investigasi, yang pada edisi pertama menelusuri soal pemerkosaan perempuan keturuan Cina pada kerusuhan Mei 1998.
Ragam Majalah
Era kebebasan pers di jaman Reformasi membawa pengaruh pada usaha penerbitan majalah. Berbagai penemuan majalah baru semakin marak bermunculan di pasar. Dari data yang ada, majalah di Indonesia dikategorikan berdasarkan segmentasi khalayak pembacanya (lihat boks), misalnya majalah Bisnis dan Ekonomi, majalah Sastra dan Budaya, majalah Wanita, majalah Pria, majalah Berita, majalah Umum/Keluarga, majalah Remaja, majalah Anak, majalah Film, Musik, dan Televisi (entertainment), majalah Olahraga, majalah Agama, majalah Komputer, majalah Hobi, dan lain-lain
Masuknya negara-negara dunia ke dalam era globalisasi memberi pemgaruh signifikan dengan penerbitan majalah di Indonesia. Pihak asing mulai tertarik menanamkan modalnya di bidang pers, sebaliknya pengusaha dalam negeri berkesempatan mencari lahan media asing untuk dapat diterbitkan dengan gaya lokal.
Berbagai ijin waralaba (franchise) dari media mancanegara mulai tumbuh, seperti Cosmopolitan, F1, Golf Digest, Bazaar, Seventeen, Her World, Mens Health, Parent’s Guide Business Week, Komputeraktif!, dan lain-lain. Peredaran pers asing dan pendirian perwakilan perusahaan pers asing di Indonesia ini diatur dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku yaitu UU No.40 th.1999 tentang Pers.
Era Internet
Era digital dan munculnya internet mempengaruhi majalah dalam menampilkan isinya maupun proses pengolahan berita mereka. Secara isi, banyak majalah kini tampil secara online untuk dibaca publik. Gatra dapat disebut sebagai salah satu yang mempelopori, yakni dengan Gatra Information Service (GIS) tahun 1995. Saat ini, hampir tiap majalah memiliki versi online. Beberapa menampilkan layanan interaktif seperti polling, yang tidak dimuat dalam versi cetaknya. Umumnya, majalah online juga menampilkan berita-berita terkini, baik yang dikutip dari kantor berita lain ataupun yang diliput oleh reporternya sendiri seperti Tempo News Room.
Sedangkan proses peliputan berita hingga sampai ke redaksi dan tata letak juga mengalami perubahan. Sekita tahun 1995, wartawan mulai mengenal pengiriman naskah secara elektronik, yang dilakukan oleh beberapa media besar. Tahun-tahun selanjutnya, baik naskah maupun gambar mulai kerap dikirim dari lapangan dengan bantuan e-mail, telepon seluler, kamera digital, atau penerima foto digital lewat satelit.
Bredel dan Kebebasan Pers
Saat diberlakukannya politik liberal tahun 1950-an, media massa mulai rajin megritik pemerintah. Vonis bredel sendiri sesungguhnya sudah ada sejak jaman kolonial dengan diterapkannya Persbreidel Ordonnantie tahun 1931. Pada tahun 1954, PWI dan SPS berhasil mendesakkan tuntutan agar pemerintah menghapus peraturan peninggalan kolonial tersebut. Sebagai gantinya, pada akhir tahun 1960, penerbitan pers wajib mengajukan permohonan SIT (Surat Ijin Terbit). Pada masa ini sejumlah penerbitan berhenti beroperasi karena situasi politik, antara lain majalah Sastra pimpinan HB Jassin. Sementara media pro PKI mulai muncul.
Pembredelan 12 penerbitan pers juga terjadi akibat kasus Peristiwa Malari, 1974. Setelah itu, secara umum sejak tahun 1979 hingga 1984 sedikitnya ada empat majalah yang dicabut SIT-nya yakni Matahari, Tempo, Topik, dan Expo. Juga beberapa kali teguran dan peringatan karena ada majalah dianggap memberitakan hal yang tidak menguntungkan atau pun menampilkan pornografi. Tahun 1994, dengan alasan berbeda-beda, pemerintah membredel majalah Tempo, Editor dan tabloid Detik. Empat tahun kemudian, Tempo terbit kembali.
(ahmad husein, dari berbagai sumber)
PADA akhir abad ke-19, di Indonesia (waktu itu Hindia Belanda) mulai tampak ada penerbitan pers yang bercorak dan berdasar pada suatu program politik, Karangan yang disajikan bersikap kritis terhadap politik kolonial Belanda di Hindia Belanda. Muncullah majalah yang dikenal dengan nama Bondsblad, terbit 1897. Majalah ini membawa suara Indische Bond, perkumpulan kaum Indo-Belanda, yang memperjuangkan Hindia Belanda sebagai tanah airnya serta mengusahakan perlakuan yang sama bagi mereka dalam bidang politik. Selain Bondsblad, terbit juga Jong Indie, yang didirikan oleh Mr. Th. Thomas, seorang ahli hukum di Batavia.
Pada awal abad 20, muncul organisasi pergerakan kemerdekaan seperti Boedi Oetomo, Sarekat Islam dan Indische Partij. Mereka butuh corong untuk menyampaikan program organisasi. Boedi Oetomo menerbitkan Majalah Retno Doemilah dalam bahasa Melayu Jawa, dan Soeara Goeroe. Tahun 1907 di Bandung terbit Majalah Medan Prijaji yang dipimpin RM Tirtoadisoerjo, yang sebelumnya menerbitkan Majalah Soenda Berita.
Di masa-masa itulah terbit banyak majalah, yang kebanyakan isunya mengenai pergerakan kemerdekaan. Akhir 1910, Douwes Dekker menerbitkan majalah dwi mingguan Het Tijdschrift yang sangat radikal pembahasan politiknya dengan menyerukan aksi melawan kolonial. Pada tahun 1913, giliran Tjipto Mangoenkoesoemo menerbitkan Majalah De Indier. RM Soewardi Soerjaningrat mendirikan Hindia Poetra, memakai bahasa pengantar Belanda. Majalah ini berubah menjadi Indonesia Merdeka, yang kemudian terbit dalam dua bahasa. Peredarannya sangat luas, hingga ke Jerman, India, Mesir, Malaya, dan Prancis. Pembacanya mulai dari guru, kalangan swasta, mahasiswa, pejabat belanda dan Indonesia, redaksi surat kabar, dan sebagainya.
Balai Poestaka, salah satu penerbit tertua, juga menerbitkan beberapa majalah untuk rakyat, antara lain Majalah Pandji Poestaka, Majalah Kedjawen dan Parahijangan, majalah anak-anak berbahasa Melayu Taman Kanak-Kanak, dan yang berbahasa Jawa Taman Botjah. Majalah-majalah lain yang terbit dalam kurun ini antara lain: Fikiran Rakjat milik Partai Nasional Indonesia (PNI), dan Daulat Ra’jat(diterbitkan Bung Hatta). Lalu, muncul pula Majalah Weekblad Sin Po tahun 1923 yang merupakan terbitan grup Sin Po. Di majalah mingguan ini pula naskah lagu Indonesia Raya ciptaan WR Supratman untuk pertama kalinya dimunculkan.
Tercatat, hinggga tahun 1920-an, sudah ada 127 majalah dan surat kabar. Setelah era ini, masih ada lagi majalah tri wulanan De Chineesche Revue (1927), Timboel (membahas soal budaya, tahun 1930-an), hingga Pedoman Masjarakat yang terbit di Medan (diasuh HAMKA), serta Pandji Islam. Dari segi bisnis, disebutkan bahwa mutu kebanyakan majalah masih amat rendah, mengingat situasi yang tak memungkinkan perolehan iklan waktu itu.
Di jaman Jepang, ada Majalah Djawa Baroe, Pandji Poestaka, Pradjoerit, Keboedajaan Timoer, dan Panggoeng Giat Gembira. Kebanyakan isinya ketat mengikuti ketentuan penguasa Jepang. Semua majalah ini berhenti terbit seiring dengan takluknya Jepang kepada Sekutu tahun 1945. Memasuki masa kemerdekaan, terbit Majalah Pantja Raja (Desember 1945), Menara Merdeka di Ternate, dan Pedoman, majalah tengah bulanan. Yang terakhir disebut ini merupakan majalah stensilan, berisi suara kaum Republiken menentang Belanda. Ada pula Majalah Pesat yang didirikan Sajuti Melik dan terbit di Jogyakarta.
Selama lebih sepuluh tahun pasca kemerdekaan (1950-an), tercatat jumlah mingguan dan majalah berkala yang beredar sebanyak 226 judul, sementara surat kabar berbahasa Indonesia 67 judul, bahasa Belanda 11 judul, dan Cina 15 judul.
Majalah Modern Lokal
Perkembangan dan petumbuhan majalah, dekade pasca 1970-an semakin unik dan canggih. Majalah mulai menuju spesifikasi. Penerbitan majalah lambat laun mengubah dirinya menjadi bagian dari bisnis pers. Perubahan tersebut dilakukan antara lain dengan membuat pembahasan isi yang lebih mendalam daripada koran. Mereka pun melengkapi diri dengan gambar sampul yang berwarna, sejalan dengan memasyarakatnya teknologi cetak offset warna. Karyawan termasuk reporternya mulai mengikuti sebagaimana layaknya sebuah perusahaan. Majalah Tempo merupakan salah satu contoh majalah berita mingguan yang tumbuh dan berkembang pesat serta relatif minim pesaing, setelah wafatnya majalah Ekspress.
Beberapa majalah juga mengambil segmentasi yang lebih spesifik dan sempat populer, antara lain Aktuil, yang mengambil jalur musik dan seni. Mulai pula muncul majalah di bidang interior, otomotif, kedirgantaraan, manajemen, bisnis, komputer, dan sebagainya, di luar segmentasi yang berdasarkan jenis kelamin dan usia.
Pada masa ini terdapat pula kecenderungan masuknya pengusaha besar bekerja sama dengan pemiik SIUPP (Surat Ijin Usaha Penerbitan Pers) atau pekerja pers untuk mendirikan majalah baru atau menghidupkan majalah yang kolaps, seperti Majalah Anda Bisa, Aneka Ria, Info Bank, dan Prospek. ‘Pemain’nya adalah Sutrisno Bachir. Majalah olahraga Sportif tahun 1981 yang didanai oleh Bob Hasan, pengusaha kayu, demikian juga Gatra pada akhir tahun 1994. Sementara Popular didukung oleh Aburizal Bakrie, Vista oleh Suryo Paloh, dan Sinar oleh Ir. Ciputra. Pengusaha Sukamdani Sahid Gitosardjono dan beberapa rekannya memodali terbitnya Indonesia Business Weekly, dan A. Latief dikabarkan menyokong Majalah Proaktif. Perubahan yang cukup siginifikan ini juga menimbulkan problem baru yakni kekhawatiran kekuatan pengawasan media akibat adanya conflict of interest dari pemilik modal.
Sebelumnya, sempat pula dikenal praktik perubahan nama dengan membeli SIT (Surat Ijin Terbit), misalnya Fokus (dari SIT Flamboyan), Bombom (dari Violeta), Intan (dari Prestasi), Ria Kuis (dari Tokoh), dan Srikandi ( dari Contessa Asah Otak). Tahun 1989, tercatat jumlah majalah yang terbit berjumlah 107 buah, dengan sirkulasi total 3. 623.000 eksemplar.
Pada masa pasca reformasi 1998, SIUPP akhirnya dihapuskan. Sejak itu, jumlah penerbitan pers di Indonesia membengkak drastis. Tahun 2000, diperkirakan penerbitan pers mencapai sekitar 1.800 sampai 2.000, namun benar-benar operasional diperkirakan tidak lebih dari 800 penerbitan.
Majalah dan Investigasi
Jurnalisme muckcracking, yang pada awal perkembangannya banyak mengungkap skandal-skandal besar seperti korupsi, pelanggaran hak asasi, dan sebagainya, di dalam negeri lebih dikenal dengan sebutan jurnalisme investigasi atau istilah lunak lainnya, indepth reporting (reportase mendalam). Pers cetak yang dikenal luas sebagai pengusung jurnalisme ini adalah koran Indonesia Raya yang dipimpin Mochtar Lubis. Koran ini sempat dibredel tujuh kali hingga akhirnya dihentikan penerbitannya tahun 1974.
Majalah Tempo sebelum bredel 1994 beberapa kali pernah menuliskan laporan yang bersifat investigasi, antara lain tentang kerusuhan Tanjungpriok, pembelian kapal bekas RI dari Jerman, dan sebagainya. Peliputan investigatif tampaknya mulai dipakai wartawan secara serius pada dekade 1990-an. Dan sejak reformasi bergulir tahun 1998, pelaporan investigatif banyak mendapat tempat dengan memberitakan kasus-kasus korupsi. Majalah yang dengan eksplisit memberi judul investigasi pada liputan mereka antara lain dwi-mingguan Tajuk, yang terbit tahun 1996. Tajuk menyatakan diri sebagai majalah berita, investigasi, dan entertainment. Sedangkan Tempo, setelah terbit kembali Oktober 1998, memuat rubrik tetap Investigasi, yang pada edisi pertama menelusuri soal pemerkosaan perempuan keturuan Cina pada kerusuhan Mei 1998.
Ragam Majalah
Era kebebasan pers di jaman Reformasi membawa pengaruh pada usaha penerbitan majalah. Berbagai penemuan majalah baru semakin marak bermunculan di pasar. Dari data yang ada, majalah di Indonesia dikategorikan berdasarkan segmentasi khalayak pembacanya (lihat boks), misalnya majalah Bisnis dan Ekonomi, majalah Sastra dan Budaya, majalah Wanita, majalah Pria, majalah Berita, majalah Umum/Keluarga, majalah Remaja, majalah Anak, majalah Film, Musik, dan Televisi (entertainment), majalah Olahraga, majalah Agama, majalah Komputer, majalah Hobi, dan lain-lain
Masuknya negara-negara dunia ke dalam era globalisasi memberi pemgaruh signifikan dengan penerbitan majalah di Indonesia. Pihak asing mulai tertarik menanamkan modalnya di bidang pers, sebaliknya pengusaha dalam negeri berkesempatan mencari lahan media asing untuk dapat diterbitkan dengan gaya lokal.
Berbagai ijin waralaba (franchise) dari media mancanegara mulai tumbuh, seperti Cosmopolitan, F1, Golf Digest, Bazaar, Seventeen, Her World, Mens Health, Parent’s Guide Business Week, Komputeraktif!, dan lain-lain. Peredaran pers asing dan pendirian perwakilan perusahaan pers asing di Indonesia ini diatur dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku yaitu UU No.40 th.1999 tentang Pers.
Era Internet
Era digital dan munculnya internet mempengaruhi majalah dalam menampilkan isinya maupun proses pengolahan berita mereka. Secara isi, banyak majalah kini tampil secara online untuk dibaca publik. Gatra dapat disebut sebagai salah satu yang mempelopori, yakni dengan Gatra Information Service (GIS) tahun 1995. Saat ini, hampir tiap majalah memiliki versi online. Beberapa menampilkan layanan interaktif seperti polling, yang tidak dimuat dalam versi cetaknya. Umumnya, majalah online juga menampilkan berita-berita terkini, baik yang dikutip dari kantor berita lain ataupun yang diliput oleh reporternya sendiri seperti Tempo News Room.
Sedangkan proses peliputan berita hingga sampai ke redaksi dan tata letak juga mengalami perubahan. Sekita tahun 1995, wartawan mulai mengenal pengiriman naskah secara elektronik, yang dilakukan oleh beberapa media besar. Tahun-tahun selanjutnya, baik naskah maupun gambar mulai kerap dikirim dari lapangan dengan bantuan e-mail, telepon seluler, kamera digital, atau penerima foto digital lewat satelit.
Bredel dan Kebebasan Pers
Saat diberlakukannya politik liberal tahun 1950-an, media massa mulai rajin megritik pemerintah. Vonis bredel sendiri sesungguhnya sudah ada sejak jaman kolonial dengan diterapkannya Persbreidel Ordonnantie tahun 1931. Pada tahun 1954, PWI dan SPS berhasil mendesakkan tuntutan agar pemerintah menghapus peraturan peninggalan kolonial tersebut. Sebagai gantinya, pada akhir tahun 1960, penerbitan pers wajib mengajukan permohonan SIT (Surat Ijin Terbit). Pada masa ini sejumlah penerbitan berhenti beroperasi karena situasi politik, antara lain majalah Sastra pimpinan HB Jassin. Sementara media pro PKI mulai muncul.
Pembredelan 12 penerbitan pers juga terjadi akibat kasus Peristiwa Malari, 1974. Setelah itu, secara umum sejak tahun 1979 hingga 1984 sedikitnya ada empat majalah yang dicabut SIT-nya yakni Matahari, Tempo, Topik, dan Expo. Juga beberapa kali teguran dan peringatan karena ada majalah dianggap memberitakan hal yang tidak menguntungkan atau pun menampilkan pornografi. Tahun 1994, dengan alasan berbeda-beda, pemerintah membredel majalah Tempo, Editor dan tabloid Detik. Empat tahun kemudian, Tempo terbit kembali.
(ahmad husein, dari berbagai sumber)
Wednesday, February 15, 2006
Pasang Surut Majalah
Inilah jenis bacaan yang takkan pernah mati
KETIKA membaca sebuah majalah, pernahkah terpikirkan oleh anda mengapa bacaan berformat seperti ini bisa muncul? Jika ingin tahu, majalah sesungguhnya memiliki sejarah panjang yang amat menarik.
Asal Usul Majalah
Oleh beberapa ahli, majalah didefinisikan sebagai kumpulan berita, artikel, cerita, iklan, dan sebagainya, yang dicetak dalam lembaran kertas ukuran kuarto atau folio dan dijilid dalam bentuk buku, serta diterbitkan secara berkala, seperti seminggu sekali, dua minggu sekali atau sebulan sekali. Ada pula yang membatasi pengertian majalah sebagai media cetak yang terbit secara berkala, tapi bukan terbit setiap hari. Media cetak itu haruslah bersampul, setidak-tidaknya punya wajah, dan dirancang secara khusus. Selain itu, media cetak itu dijilid atau sekurang-kurangnya memiliki sejumlah halaman tertentu. Bentuknya harus berformat tabloid, atau saku, atau format konvensional sebagaimana format majalah yang kita kenal selama ini.
Menurut suatu literatur, majalah pertama terbit di Inggris tahun 1731 yaitu Gentleman Magazine. Majalah ini berisi berbagai topik tentang sastra, politik, biografi, dan kritisisme. Kelak, ia menjadi contoh karakter umum majalah yang biasa dijumpai hingga kini, misalnya berisi humor, esai politik, sastra, musik, teater, hingga kabar orang-orang ternama. Sepuluh tahun sesudahnya, muncul majalah pertama di Amerika Serikat.
Namun sumber lain seperti Encyclopedia Americana menyebutkan, majalah dalam bentuk sebagai sisipan dari suratkabar sudah terbit sejak 1665 di Prancis, yakni Le Journal de savants. Majalah periodik ini berisi berita penting dari berbagai buku dan penulis, komentar seni, filsafat, dan iptek. Di Inggris, ada majalah Tatler yang terbit singkat tahun 1709-1711, demikian juga The Spectator (1711-1712). Gentleman’s Magazine sendiri lebih pas disebut sebagai majalah umum pertama yang tampil lebih modern, dan bertahan cukup lama hingga 1901.
Guttenberg sebagai Pemicu
Dunia cetak-mencetak mulai mengalami kemajuan tak henti-henti sejak dikembangannya mesin cetak oleh Johannes Guttenberg tahun 1455. Mesin cetak ini merupakan yang pertama kalinya di Eropa yang menggunakan cetak logam yang dapat digerakkan (movable metal type). Secara dramatis, penemuan ini meningkatkan kecepatan produksi barang cetakan, termasuk buku dan majalah. Mesin cetak juga mengurangi waktu yang digunakan dalam produksi buku dan majalah sebelumnya.
Di Amerika, majalah merupakan media cetak yang terbit belakangan setelah buku dan suratkabar. Hingga tahun 1800-an, tak satu pun majalah yang terbit sanggup bertahan lebih dari 14 bulan. Sampai tahun 1890, majalah-majalah terkemuka di Amerika seperti Harper’s, Century, dan Scribner’s ditujukan untuk kaum minoritas, yakni warga masyarakat yang kaya, agamawan, bangsawan, dan ilmuwan. Perubahan khalayak dari kalangan tertentu ke masyarakat luas, bagi majalah terjadi 50 tahun lebih lambat daripada koran. Isi majalahnya pun jauh dari selera, daya tangkap, dan kepentingan orang kebanyakan. Majalah-majalah yang beredar pada masa itu seperti Atlantic dan Harper’s masih penuh dengan artikel-artikel yang akan memusingkan orang kebanyakan.
Di masa ini, telah ada mesin cetak, kereta api, dan telegram untuk mengirim-menerima berita. Mesin-mesin cetak rintisan Guttenberg mulai berubah ke mesin cetak Columbia. Sampai 1825, media cetak di AS masih menggunakan mesin cetak silinder bertenaga uap yang hanya bisa mencetak 2000 eksemplar per jam. Penggunaan mesin silinder ganda hanya dapat menaikkan produksi dua kali lipat. Baru setelah mesin cetak putar tenaga listrik digunakan, koran-koran bisa mencetak 20.000 eksemplar per jam.
Teknologi dan Peliputan
Kemajuan teknologi juga memudahkan peliputan dan pemberitaan. Naskah dan foto-foto berita bisa dikirimkan jauh lebih cepat. Pada awal abad ke-19, berita dari Inggris baru bisa dibaca di AS 36 hari kemudian. Pada tahun 1838, selisih waktunya tinggal tiga, lalu dua minggu. Sejak adanya telegram, berita di Inggris bisa langsung diketahui di AS.
Sebelumnya, penerbit media cetak juga harus cekatan mengumpulkan berita dari berbagai tempat. Kadang mereka harus mengirim reporternya dengan kapal uap, kereta kuda atau kudanya sendiri, demi mempercepat perolehan berita. Dengan telegram, koran Patriot edisi 25 Mei 1844 dapat menjadi yang pertama memuat berita tentang aksi di Kongres. Ketika terjadi perang saudara, minat publik tentang peristiwa itu sangar besar, sehingga penerbitan media (koran) mengirimkan pasukan reporternya ke lapangan agar dapat langsung mengirimnya ke redaksi untuk dicetak. Mesin-mesin tambahan baru pun dibuat.
Kemajuan ini berlanjut, sejalan dengan perbaikan kondisi sosial yang terjadi akibat revolusi industri. Di kurun 1800-an itu, menurut Straubhaar dan LaRose (2004), tingkat pendidikan makin baik. Dengan meningkatnya upah, banyak penduduk pindah ke kota-kota untuk bekerja di bidang-bidang industri. Kelas menengah kota pun terbentuk. Harga majalah makin murah karena skala ekonomi yang makin besar, makin canggihnya teknologi cetak, dan meningkatnya permintaan. Efek positifnya adalah mempercepat penyebaran buku dan majalah hingga menjadi massal.
Penyebaran teknik cetak foto (photoengraving) sejak akhir abad 19 memudahkan dan mempercepat reproduksi aspek seni koran dan majalah. Biayanya pun menjadi lebih murah jika dibandingkan dengan teknik lama yang masih menggunakan batangan-batangan kayu, zincograph, dan pelat-pelat baja.
Perubahan Besar
Perubahan besar dalam industri majalah terjadi pada tahun 1890-an, ketika S.S. McClure, Frank Musey, Cyrus Curtis, dan sejumlah penerbit lain mulai mengubah industri penerbitan majalah secara revolusioner. Mereka melihat adanya ratusan ribu calon pelanggan yang belum terlayani oleh majalah yang ada. Mereka juga melihat bahwa iklan akan memainkan peranan penting dalam perekonomian AS.
Maka, para tokoh ini menciptakan majalah yang isinya sesuai dengan selera dan kepentingan orang banyak. Munsey’s dan McClure’s mulai menyajikan liputan olahraga di Harvard yang disusul dengan artikel olahraga umum, tulisan tentang perang, lagu-lagu populer, para pesohor (selebritis), dan sebagainya. Curtis lalu menerbitkan majalah khusus kaum ibu, Ladies’ Home Journal, yang kemudian menjadi majalah pertama yang mencapai tiras 1 juta. Majalah-majalah khusus seni dan arsitektur, kesehatan, dan sebagainya segera ikut bermunculan.Terjadilah fenomena yang disebut dengan popularisasi dan segmentasi isi.
Para penerbit majalah juga berusaha menekan harga agar bisa terjangkau oleh orang kebanyakan. Pada tahun 1893, Frank Munsey menjual Munsey’s seharga 10 sen, jauh lebih murah daripada majalah lain. Iklan menjadi kian penting daripada harga majalah. Curtis kemudian bahkan menurunkan harga majalahnya menjadi 5 sen, lebih murah daripada harga kertas majalahnya sendiri.
Isi populer dan harga murah itu sukses menjaring banyak pembeli, sehingga pengiklan pun tertarik. Kerugian akibat harga yang lebih murah daripada biaya produksi ditutup oleh penghasilan dari iklan. Redistribusi pendapatan memunculkan kelas menengah yang daya belinya lebih baik, dan mereka merupakan pasar potensial aneka produk massal yang dapat dijaring melalui iklan di majalah. Hal ini juga mendorong penerbit untuk berusaha membidik pembeli yang homogen guna memudahkan segmentasi iklan.
Dulu, untuk mempercepat reproduksi majalah mempekerjakan banyak seniman yang masing-masing membuat sebagian gambar yang lalu disatukan sebelum digunakan sebagai materi cetakan. Teknik cetak foto modern jelas serba lebih mudah. Pengiriman foto juga gampang dilakukan sejak adanya kamera saku dan jasa pencetakan dan pengiriman foto kilat sejak 1935.
Jika sebelumnya produk bacaan (cetak) dan aksesnya hanya tersedia bagi kalangan tertentu, maka belakangan produk-produk tersebut dapat diproduksi lebih banyak dan menyebar ke pembaca yang lebih luas. Terbitan koran dan majalah juga termasuk yang harus berusaha keras menyesuaikan diri dengan kondisi-kondisi baru ini. Banyak majalah raksasa yang tertekan, Tidak sedikit mingguan atau bulanan yang sudah puluhan tahun terbit dan berjangkauan luas akhirnya terpaksa tutup.
Majalah yang mampu bertahan umumnya yang bersifat khusus, seperti majalah khusus wisata (Sunset), olahraga (Sport Illustrated), hobi perahu layar (Yachting), penggemar acara televisi (TV Guide), atau berita-berita ilmiah (Scientific American). Majalah-majalah yang meliput segala hal (pusparagam) seperti Collier’s dan Saturday Evening Post, sudah bukan zamannya lagi, bahkan juga bagi yang awalnya begitu terkenal seperti Life dan Look. Sekarang adalah zaman majalah-majalah khusus.
Para penerbit buku Amerika, yang menelurkan lebih dari 35.000 judul setiap tahunnya, menjadi kian berorientasi bisnis, bukan saja karena peluang keuntungannya sangat besar jika bukunya menjadi best seller, namun juga pengutamaan pendidikan menjadikan buku kian dibutuhkan. Penerbitan yang semula dikelola secara santai oleh “orang-orang terhormat” berubah menjadi bisnis konglomerasi.
Selama lebih 10 tahun terakhir, ada perubahan jelas antara genre majalah, yang tengah muncul dan yang masih ada. Gambaran readership dari Mediamark Research, mengindikasikan bahwa sejak tahun 1995, ketika majalah genre-genre lain mengalami peningkatan secara finansial, majalah-majalah berita tetap stagnan, dalam arti jumlah halaman iklan yang mereka jual. Mungkin ini terkait dengan majalah berita, yang tidak seperti majalah lainnya, tidak banyak didukung dengan paket penjualan buku-buku.
Iklan dalam Majalah
Peran iklan di media masa sudah terlihat sejak masa Perang Saudara di Amerika. Akan tetapi porsinya yang signifikan sebagai sumber dana mulai terlihat sejak tahun 1890-an, ketika muncul majalah-majalah berskala nasional yang berharga murah namun bersirkulasi tinggi. Memasuki paruh kedua abad 20, peran iklan sudah dominan, namun masih cukup banyak penerbit yang menolak atau membatasi penerimaan iklan karena khawatir akan mempengaruhi isi terbitannya.
Seorang agen iklan muda bernama George P. Rowell suatu ketika mendekati penerbit Harper’s Weekly yang sudah memuat iklan kliennya guna mengetahui jumlah sirkulasinya. Pihak penerbit merasa tersinggung dan menolak iklan yang sama pada edisi berikutnya. Fletcher Harper, pemiliknya, bahkan pernah menolak tawaran US$ 18.000 untuk memuat iklan mesin jahit di halaman belakang majalahnya selama setahun. Harper merasa iklan itu tidak layak, dan ia membutuhkan halaman belakang majalahnya untuk mempromosikan bukunya sendiri.
Pada masa itu sedikit saja majalah yang mencari iklan secara aktif. Satu dari yang sedikit itu adalah Century, majalah prestisius yang beredar di kalangan berada dan terpelajar. Agresivitasnya dalam mencari iklan selama 1870-an dan 1880-an turut mengikis keengganan penerbit majalah terhadap iklan. Di tahun 1890-an, Frank Mursey yang sudah disebut sebelumnya, berjasa menerapkan praktik penerbitan majalah standar. Ia memasang harga lebih rendah daripada biaya produksi majalahnya sendiri, dan kekurangannya itu ia tutupi dengan iklan. Praktik ini kemudian ditiru oleh para penerbit lainnya.
Standarisasi dan Imitasi
Dalam perkembangannya, isi, gaya bahasa, dan format antara majalah-majalah sejenis –misalnya majalah busana, majalah sastra, atau majalah mingguan— menjadi sangat mirip. Standarisasi ini merupakan dampak tak terelakkan dari industrialisasi media, mekanisasi, urbanisasi, dan redistribusi pendapatan. Media telah berubah dari seni menjadi industri yang harus menggunakan teknik-teknik produksi massal.
Lama-kelamaan, pengasuh majalah harus mengikuti jenis artikel yang sudah terbukti diminati pembaca, dan ia sama sekali tidak bisa leluasa memilih menurut penilaiannya sendiri. Karakter majalah harus disesuaikan dengan selera pasar. Walter Hines Page, misalnya, pernah mengasuh majalah Forum pada 1187-1895. Ia mengejutkan semua stafnya karena menyusun langsung daftar isi majalahnya sekian bulan ke muka, dan langsung menentukan jenis-jenis artikel yang harus dicari. Ia melakukan semua ini cukup dengan menyimak artikel apa saja yang sudah terbukti diminati pembaca. Praktik seperti ini kini sudah lazim di hampir semua majalah.
Imitasi dan peniruan juga terjadi dalam proses standarisasi majalah. Setiap gagasan yang sukses akan segera beramai-ramai ditiru. Pada tahun 1922, seorang pemuda bernama DeWitt Wallace senang membaca semua majalah yang ada, lalu memilih dan menghimpun artikel-artikel yang dianggapnya paling baik atau menarik. Dari kebiasaan ini, timbul ide untuk menerbitkan sebuah majalah ringkas yang hanya memuat artikel-artikel bermutu. Maka lahirlah Reader’s Digest, yang sampai sekarang merupakan majalah dengan tiras terbanyak di seluruh dunia. Tidak lama berselang, sekian banyak majalah sejenis bermunculan sehingga istilah digest merujuk ke jenis majalah seperti itu. Kalau ada jenis majalah baru, misalnya khusus memuat cerita-cerita detektif, pengakuan pribadi, berita hangat, majalah khusus yang memuat foto-foto menarik, majalah petualangan, dan sebagainya, yang meraih sukses maka sekian banyak tiruannya akan segera menyerbu. (ah)
KETIKA membaca sebuah majalah, pernahkah terpikirkan oleh anda mengapa bacaan berformat seperti ini bisa muncul? Jika ingin tahu, majalah sesungguhnya memiliki sejarah panjang yang amat menarik.
Asal Usul Majalah
Oleh beberapa ahli, majalah didefinisikan sebagai kumpulan berita, artikel, cerita, iklan, dan sebagainya, yang dicetak dalam lembaran kertas ukuran kuarto atau folio dan dijilid dalam bentuk buku, serta diterbitkan secara berkala, seperti seminggu sekali, dua minggu sekali atau sebulan sekali. Ada pula yang membatasi pengertian majalah sebagai media cetak yang terbit secara berkala, tapi bukan terbit setiap hari. Media cetak itu haruslah bersampul, setidak-tidaknya punya wajah, dan dirancang secara khusus. Selain itu, media cetak itu dijilid atau sekurang-kurangnya memiliki sejumlah halaman tertentu. Bentuknya harus berformat tabloid, atau saku, atau format konvensional sebagaimana format majalah yang kita kenal selama ini.
Menurut suatu literatur, majalah pertama terbit di Inggris tahun 1731 yaitu Gentleman Magazine. Majalah ini berisi berbagai topik tentang sastra, politik, biografi, dan kritisisme. Kelak, ia menjadi contoh karakter umum majalah yang biasa dijumpai hingga kini, misalnya berisi humor, esai politik, sastra, musik, teater, hingga kabar orang-orang ternama. Sepuluh tahun sesudahnya, muncul majalah pertama di Amerika Serikat.
Namun sumber lain seperti Encyclopedia Americana menyebutkan, majalah dalam bentuk sebagai sisipan dari suratkabar sudah terbit sejak 1665 di Prancis, yakni Le Journal de savants. Majalah periodik ini berisi berita penting dari berbagai buku dan penulis, komentar seni, filsafat, dan iptek. Di Inggris, ada majalah Tatler yang terbit singkat tahun 1709-1711, demikian juga The Spectator (1711-1712). Gentleman’s Magazine sendiri lebih pas disebut sebagai majalah umum pertama yang tampil lebih modern, dan bertahan cukup lama hingga 1901.
Guttenberg sebagai Pemicu
Dunia cetak-mencetak mulai mengalami kemajuan tak henti-henti sejak dikembangannya mesin cetak oleh Johannes Guttenberg tahun 1455. Mesin cetak ini merupakan yang pertama kalinya di Eropa yang menggunakan cetak logam yang dapat digerakkan (movable metal type). Secara dramatis, penemuan ini meningkatkan kecepatan produksi barang cetakan, termasuk buku dan majalah. Mesin cetak juga mengurangi waktu yang digunakan dalam produksi buku dan majalah sebelumnya.
Di Amerika, majalah merupakan media cetak yang terbit belakangan setelah buku dan suratkabar. Hingga tahun 1800-an, tak satu pun majalah yang terbit sanggup bertahan lebih dari 14 bulan. Sampai tahun 1890, majalah-majalah terkemuka di Amerika seperti Harper’s, Century, dan Scribner’s ditujukan untuk kaum minoritas, yakni warga masyarakat yang kaya, agamawan, bangsawan, dan ilmuwan. Perubahan khalayak dari kalangan tertentu ke masyarakat luas, bagi majalah terjadi 50 tahun lebih lambat daripada koran. Isi majalahnya pun jauh dari selera, daya tangkap, dan kepentingan orang kebanyakan. Majalah-majalah yang beredar pada masa itu seperti Atlantic dan Harper’s masih penuh dengan artikel-artikel yang akan memusingkan orang kebanyakan.
Di masa ini, telah ada mesin cetak, kereta api, dan telegram untuk mengirim-menerima berita. Mesin-mesin cetak rintisan Guttenberg mulai berubah ke mesin cetak Columbia. Sampai 1825, media cetak di AS masih menggunakan mesin cetak silinder bertenaga uap yang hanya bisa mencetak 2000 eksemplar per jam. Penggunaan mesin silinder ganda hanya dapat menaikkan produksi dua kali lipat. Baru setelah mesin cetak putar tenaga listrik digunakan, koran-koran bisa mencetak 20.000 eksemplar per jam.
Teknologi dan Peliputan
Kemajuan teknologi juga memudahkan peliputan dan pemberitaan. Naskah dan foto-foto berita bisa dikirimkan jauh lebih cepat. Pada awal abad ke-19, berita dari Inggris baru bisa dibaca di AS 36 hari kemudian. Pada tahun 1838, selisih waktunya tinggal tiga, lalu dua minggu. Sejak adanya telegram, berita di Inggris bisa langsung diketahui di AS.
Sebelumnya, penerbit media cetak juga harus cekatan mengumpulkan berita dari berbagai tempat. Kadang mereka harus mengirim reporternya dengan kapal uap, kereta kuda atau kudanya sendiri, demi mempercepat perolehan berita. Dengan telegram, koran Patriot edisi 25 Mei 1844 dapat menjadi yang pertama memuat berita tentang aksi di Kongres. Ketika terjadi perang saudara, minat publik tentang peristiwa itu sangar besar, sehingga penerbitan media (koran) mengirimkan pasukan reporternya ke lapangan agar dapat langsung mengirimnya ke redaksi untuk dicetak. Mesin-mesin tambahan baru pun dibuat.
Kemajuan ini berlanjut, sejalan dengan perbaikan kondisi sosial yang terjadi akibat revolusi industri. Di kurun 1800-an itu, menurut Straubhaar dan LaRose (2004), tingkat pendidikan makin baik. Dengan meningkatnya upah, banyak penduduk pindah ke kota-kota untuk bekerja di bidang-bidang industri. Kelas menengah kota pun terbentuk. Harga majalah makin murah karena skala ekonomi yang makin besar, makin canggihnya teknologi cetak, dan meningkatnya permintaan. Efek positifnya adalah mempercepat penyebaran buku dan majalah hingga menjadi massal.
Penyebaran teknik cetak foto (photoengraving) sejak akhir abad 19 memudahkan dan mempercepat reproduksi aspek seni koran dan majalah. Biayanya pun menjadi lebih murah jika dibandingkan dengan teknik lama yang masih menggunakan batangan-batangan kayu, zincograph, dan pelat-pelat baja.
Perubahan Besar
Perubahan besar dalam industri majalah terjadi pada tahun 1890-an, ketika S.S. McClure, Frank Musey, Cyrus Curtis, dan sejumlah penerbit lain mulai mengubah industri penerbitan majalah secara revolusioner. Mereka melihat adanya ratusan ribu calon pelanggan yang belum terlayani oleh majalah yang ada. Mereka juga melihat bahwa iklan akan memainkan peranan penting dalam perekonomian AS.
Maka, para tokoh ini menciptakan majalah yang isinya sesuai dengan selera dan kepentingan orang banyak. Munsey’s dan McClure’s mulai menyajikan liputan olahraga di Harvard yang disusul dengan artikel olahraga umum, tulisan tentang perang, lagu-lagu populer, para pesohor (selebritis), dan sebagainya. Curtis lalu menerbitkan majalah khusus kaum ibu, Ladies’ Home Journal, yang kemudian menjadi majalah pertama yang mencapai tiras 1 juta. Majalah-majalah khusus seni dan arsitektur, kesehatan, dan sebagainya segera ikut bermunculan.Terjadilah fenomena yang disebut dengan popularisasi dan segmentasi isi.
Para penerbit majalah juga berusaha menekan harga agar bisa terjangkau oleh orang kebanyakan. Pada tahun 1893, Frank Munsey menjual Munsey’s seharga 10 sen, jauh lebih murah daripada majalah lain. Iklan menjadi kian penting daripada harga majalah. Curtis kemudian bahkan menurunkan harga majalahnya menjadi 5 sen, lebih murah daripada harga kertas majalahnya sendiri.
Isi populer dan harga murah itu sukses menjaring banyak pembeli, sehingga pengiklan pun tertarik. Kerugian akibat harga yang lebih murah daripada biaya produksi ditutup oleh penghasilan dari iklan. Redistribusi pendapatan memunculkan kelas menengah yang daya belinya lebih baik, dan mereka merupakan pasar potensial aneka produk massal yang dapat dijaring melalui iklan di majalah. Hal ini juga mendorong penerbit untuk berusaha membidik pembeli yang homogen guna memudahkan segmentasi iklan.
Dulu, untuk mempercepat reproduksi majalah mempekerjakan banyak seniman yang masing-masing membuat sebagian gambar yang lalu disatukan sebelum digunakan sebagai materi cetakan. Teknik cetak foto modern jelas serba lebih mudah. Pengiriman foto juga gampang dilakukan sejak adanya kamera saku dan jasa pencetakan dan pengiriman foto kilat sejak 1935.
Jika sebelumnya produk bacaan (cetak) dan aksesnya hanya tersedia bagi kalangan tertentu, maka belakangan produk-produk tersebut dapat diproduksi lebih banyak dan menyebar ke pembaca yang lebih luas. Terbitan koran dan majalah juga termasuk yang harus berusaha keras menyesuaikan diri dengan kondisi-kondisi baru ini. Banyak majalah raksasa yang tertekan, Tidak sedikit mingguan atau bulanan yang sudah puluhan tahun terbit dan berjangkauan luas akhirnya terpaksa tutup.
Majalah yang mampu bertahan umumnya yang bersifat khusus, seperti majalah khusus wisata (Sunset), olahraga (Sport Illustrated), hobi perahu layar (Yachting), penggemar acara televisi (TV Guide), atau berita-berita ilmiah (Scientific American). Majalah-majalah yang meliput segala hal (pusparagam) seperti Collier’s dan Saturday Evening Post, sudah bukan zamannya lagi, bahkan juga bagi yang awalnya begitu terkenal seperti Life dan Look. Sekarang adalah zaman majalah-majalah khusus.
Para penerbit buku Amerika, yang menelurkan lebih dari 35.000 judul setiap tahunnya, menjadi kian berorientasi bisnis, bukan saja karena peluang keuntungannya sangat besar jika bukunya menjadi best seller, namun juga pengutamaan pendidikan menjadikan buku kian dibutuhkan. Penerbitan yang semula dikelola secara santai oleh “orang-orang terhormat” berubah menjadi bisnis konglomerasi.
Selama lebih 10 tahun terakhir, ada perubahan jelas antara genre majalah, yang tengah muncul dan yang masih ada. Gambaran readership dari Mediamark Research, mengindikasikan bahwa sejak tahun 1995, ketika majalah genre-genre lain mengalami peningkatan secara finansial, majalah-majalah berita tetap stagnan, dalam arti jumlah halaman iklan yang mereka jual. Mungkin ini terkait dengan majalah berita, yang tidak seperti majalah lainnya, tidak banyak didukung dengan paket penjualan buku-buku.
Iklan dalam Majalah
Peran iklan di media masa sudah terlihat sejak masa Perang Saudara di Amerika. Akan tetapi porsinya yang signifikan sebagai sumber dana mulai terlihat sejak tahun 1890-an, ketika muncul majalah-majalah berskala nasional yang berharga murah namun bersirkulasi tinggi. Memasuki paruh kedua abad 20, peran iklan sudah dominan, namun masih cukup banyak penerbit yang menolak atau membatasi penerimaan iklan karena khawatir akan mempengaruhi isi terbitannya.
Seorang agen iklan muda bernama George P. Rowell suatu ketika mendekati penerbit Harper’s Weekly yang sudah memuat iklan kliennya guna mengetahui jumlah sirkulasinya. Pihak penerbit merasa tersinggung dan menolak iklan yang sama pada edisi berikutnya. Fletcher Harper, pemiliknya, bahkan pernah menolak tawaran US$ 18.000 untuk memuat iklan mesin jahit di halaman belakang majalahnya selama setahun. Harper merasa iklan itu tidak layak, dan ia membutuhkan halaman belakang majalahnya untuk mempromosikan bukunya sendiri.
Pada masa itu sedikit saja majalah yang mencari iklan secara aktif. Satu dari yang sedikit itu adalah Century, majalah prestisius yang beredar di kalangan berada dan terpelajar. Agresivitasnya dalam mencari iklan selama 1870-an dan 1880-an turut mengikis keengganan penerbit majalah terhadap iklan. Di tahun 1890-an, Frank Mursey yang sudah disebut sebelumnya, berjasa menerapkan praktik penerbitan majalah standar. Ia memasang harga lebih rendah daripada biaya produksi majalahnya sendiri, dan kekurangannya itu ia tutupi dengan iklan. Praktik ini kemudian ditiru oleh para penerbit lainnya.
Standarisasi dan Imitasi
Dalam perkembangannya, isi, gaya bahasa, dan format antara majalah-majalah sejenis –misalnya majalah busana, majalah sastra, atau majalah mingguan— menjadi sangat mirip. Standarisasi ini merupakan dampak tak terelakkan dari industrialisasi media, mekanisasi, urbanisasi, dan redistribusi pendapatan. Media telah berubah dari seni menjadi industri yang harus menggunakan teknik-teknik produksi massal.
Lama-kelamaan, pengasuh majalah harus mengikuti jenis artikel yang sudah terbukti diminati pembaca, dan ia sama sekali tidak bisa leluasa memilih menurut penilaiannya sendiri. Karakter majalah harus disesuaikan dengan selera pasar. Walter Hines Page, misalnya, pernah mengasuh majalah Forum pada 1187-1895. Ia mengejutkan semua stafnya karena menyusun langsung daftar isi majalahnya sekian bulan ke muka, dan langsung menentukan jenis-jenis artikel yang harus dicari. Ia melakukan semua ini cukup dengan menyimak artikel apa saja yang sudah terbukti diminati pembaca. Praktik seperti ini kini sudah lazim di hampir semua majalah.
Imitasi dan peniruan juga terjadi dalam proses standarisasi majalah. Setiap gagasan yang sukses akan segera beramai-ramai ditiru. Pada tahun 1922, seorang pemuda bernama DeWitt Wallace senang membaca semua majalah yang ada, lalu memilih dan menghimpun artikel-artikel yang dianggapnya paling baik atau menarik. Dari kebiasaan ini, timbul ide untuk menerbitkan sebuah majalah ringkas yang hanya memuat artikel-artikel bermutu. Maka lahirlah Reader’s Digest, yang sampai sekarang merupakan majalah dengan tiras terbanyak di seluruh dunia. Tidak lama berselang, sekian banyak majalah sejenis bermunculan sehingga istilah digest merujuk ke jenis majalah seperti itu. Kalau ada jenis majalah baru, misalnya khusus memuat cerita-cerita detektif, pengakuan pribadi, berita hangat, majalah khusus yang memuat foto-foto menarik, majalah petualangan, dan sebagainya, yang meraih sukses maka sekian banyak tiruannya akan segera menyerbu. (ah)
Tuesday, January 10, 2006
Hikayat Para Pengembara
Tahu fenomena mudik lebaran? Barangkali, Anda malah salah satu yang setia melakukannya setiap tahun. Tidak peduli kaya-miskin, tua-muda, lelaki-wanita, semuanya berbondong-bondong menempuh jarak ratusan hingga ribuan kilometer demi bisa kembali ke kampung halaman. “Ritual tahunan” itu seolah menjadi kewajiban bagi banyak orang.
Di dunia fauna, kejadian “mudik” sesungguhnya banyak terjadi. Ada banyak spesies hewan di alam yang keterikatannya kepada tempat asal amat tinggi. Tentu saja, motif perpindahannya berbeda-beda. Dan ini menajdikan fenomena tersebut sebagai bahan penelitian menarik bagi para peneliti sejak puluhan tahun silam.
Tengok saja, misalnya, burung pelikan. Di daerah dengan empat musim, menjelang datangnya musim dingin, burung-burung ini berbondong-bondong terbang menuju daerah dan perairan yang lebih hangat. Yang dicari adalah ruang lebih nyaman untuk tempat tumbuh dan dewasanya anak-anak mereka, juga ketersediaan sumberdaya makanan yang berlimpah, yakni ikan, yang banyak terdapat di perairan bersuhu hangat. Kelak, setelah anak-anak pelikan menjadi cukup dewasa, mereka pulang kembali ke daerah asalnya, yang sudah memasuki musim semi atau panas. Mereka tinggal di sana hingga musim gugur. Lalu, upacara tahunan migrasi dan mudik terulang kembali.
Konon, migrasi burung ini amat terbantu dengan kondisi bumi yang merupakan sebuah medan magnet super-raksasa. Para hewan merasakan manfaatnya. Antara dua kutub bumi merupakan medan magnet yang kekuatannya bervariasi. Burung yang ‘pindah rumah’ sementara, dalam kenyataannya tidak pernah mengalami kesalahan menuju lokasi yang mereka tuju. Padahal mereka terbang malam hari, atau pada saat cuaca tak bersahabat sekali pun.
Jenis burung Robin, umpamanya, jika ditaruh di kandang persis sebelum masa berangkat migrasi, posisi bertenggernya ternyata menghadap tujuan yang diinginkan. Para ahli bilang, selain tanda-tanda dari langit, burung menggunakan kemampuannya mendeteksi medan magnet di sekitarnya. Jika medan ini kacau, mereka kehilangan orientasi. Karena itulah, ketika belasan tahun lalu sekelompok burung pelikan tahu-tahu nyasar ke Indonesia dan memenuhi pantai-pantai kita, kekacauan magnet bumi itu bisa jadi merupakan penyebabnya. Wallahu a’lam.
Lebih gigih
Dibanding manusia, perjalanan hewan-hewan tersebut dari menetas hingga melakukan perjalanan besarnya ternyata lebih teratur, konsisten, dan lebih gigih. Kalau mudik ala manusia separah-parahnya menguras uang di kantong, fauna ini justru menantang mara bahaya menuju tempat asalnya, untuk setor nyawa. Mati.
Salmon Atlantik adalah salah satu contoh. Ikan ini dikenal sebagai pengembara dunia. Ikan ini termasuk jenis anadromous, yang berpijah di air tawar, tapi menghabiskan sebagian hidupnya di laut. Deskripsi ilmiah tentang perjalanan Salmon Atlantik sejak usai memijah, hidup di laut, hingga kembali ke hulu untuk memijah, telah didokumentasikan sejak tahun 1700-an. Begitu pun, tetap saja banyak hal yang belum diketahui.
Wilayah bersejarah salmon ini meliputi Samudera Atlantik Utara dan anak-anak sungainya dari Ungava Bay ke Danau Ontario, menuju Selatan ke Connecticut di Amerika, dari Laut Putih Rusia, ke Portugal menuju pesisir atau pantai-pantai Eropa. Sayangnya, banyak perjalanan ini yang sudah mulai berkurang, atau bahkan punah. Namun, perjalanan eksotik salmon masih bisa ditemui di sungai-sungai di kawasan Irlandia, Inggis, Kanada, Kepualauan Faroe, Islandia, Norwegia, Finlandia, Rusia, Prancis, Spanyol, Kanada, dan Amerika Serikat.
Parr, Smolt, Turun Gunung
Salmon banyak mengalami perubahan tahapan dan ciri selama siklus hidupnya. Saat memijah di hulu-hulu sungai, telur –telurnya yang seukuran kacang ijo akan dilepaskan oleh betina dan di sarang-sarang di tepi sungai, pada musim gugur. Beberapa jenis salmon betina biasanya menggali sarang dengan ekornya, meletakkan telur di sarang tersebut. Tiap sarang berisi 500 hingga 1200 butir telur. Hanya 20 sampai 100 butir yang bertahan menetas menjadi larva dan ikan muda.
Pada awal musim semi, ribuan larva salmon (alevin) muncul. Ukurannya sekitar 2 sentimeter. Mereka bertahan hidup dengan kantong kuning telur di perutnya, yang lazim disebut yolk salk. Fungsi kantong ini adalah sebagai penyedia sumber makanan selama usia larva. Untuk menghindari pemangsa alami di perairan, makhluk kecil lemah itu bersembunyi di balik bebatuan. Dan ketika kantung kuning telur itu habis, ikan-ikan muda itu mulai berjuang menuju ruang air yang lebih luas. Mereka tinggal hingga ikan muda (fry) hingga mencapai panjang 8 sentimeter.
Jika para salmon mulai memiliki tanda khas vertikal di bagian punggungnya, itu artinya mereka masuk tahapan parr. Tanda parr –terdapat di punggung di sepanjang sisi tubuh dan berwarna gelap-- berfungsi sebagai alat kamuflase dari pandangan pemangsa atau predator. Kumpulan parr ini tetap tinggal di sungai selama 2 hingga 6 tahun, tergantung temperatur dan suplai pakan yang tersedia.
Ketika ikan-ikan ini sudab mencapai panjang 12 sampai 24 sentimeter, mereka mulai menjalani transformasi musim seminya menjadi smolt. Tanda parr yang tadinya jelas tampak, kni berganti menjadi tanda keperakan. Jangan salah, ini justru menjadi alat kamuflase yang lebih sempurna untuk hidup mereka di laut nantinya. Sistem internal tubuhnya pun mulai perlahan beradaptasi terhadap air laut asin. Dan akhirnya, gerombolan ikan ini memulai perjalanan panjangnya, ‘turun gunung’ menuju laut sebagai tempat mencari makan dan kehidupan baru mereka. Berdasarkan perhitungan peneliti, hanya dua persen salmon yang menetas dan bertahan hidup hingga dewasa.
Mudik dan Mati
Di laut bebas, mereka tumbuh pesat dengan memakan udang-udangan dan ikan kecil. Meski demikian, salmon juga mesti pintar-pintar berkelit menghindari predator seperti ikan carnivora yang lebih besar, dan mamalia laut lainnya.
Setelah hidup 1-2 tahun di laut, mereka menjalani kembali melakoni perjalanan ziarah ke tanah leluhur, ke anak sungai di hulu tempat asal mereka. Inilah yang menakjubkan. Betapa tidak. Para salmon kembali dengan tepat ke tempat asal mereka menetas. Tidak ada yang keliru atau nyasar, misalnya salmon asal anak sungai A mudik ke anak sungai B.
Dan perjalanan pulang ini betul-betul melelahkan serta penuh mara bahaya. Ikan-ikan itu harus menempuh jarak tak kurang dari 4000 kilometer dari laut bebas menuju hulu. Jika mereka pulang ke hulu saat musim dingin berlangsung di lautan, mereka disebut grilse. Salmon atlantik akan memasuki sungai sekitar bulan April dan November, menapaki jalan ke hulu, mampu melompati rintangan hingga 3 meter tingginya, termasuk air terjun dan riam.
Banyak di antara ikan itu yang “gugur” di tengah jalan, karena dimangsa hewan darat, ditangkapi manusia, atau kena penyakit. Karena itu pula, di beberapa negara, ditetapkan larangan menangkap salmon sepanjang jalur pulang-perginya. Sisanya yang bertahan, bisa mencapai hulu sungai, kampung halaman mereka, dan memijah pada akhir musim gugur. Yang lebih mengharukan, usai menunaikan tugas mulianya –meneruskan rantai keturunan-- mereka pun mati.
Ada beberapa populasi yang tak sempat ke laut selama hidupnya. Mereka tertahan di danau-danau dan sistem sungai di area yang berbatasan dengan Laut Utara. Ikan-ikan ini tetap mengikuti siklus hidup sebagaimana salmon yang bermigrasi ke laut, kecuali bahwa daerah migrasinya adalah antara areal pencarian makanan (feeding ground di perairan dalam danau menuju perairan tempat memijah di daerah yang lebih dangkal. Ukuran rata-rata dewasanya 20-60 sentimeter, dengan berat kurang dari 4 kilogram,
Mudik ke Laut
Sebaliknya, ada ikan yang menjalani mudiknya menuju laut. Sidat atau disebut juga moa atau eel (Anguila sp), merupakan ikan menyerupai belut sawah, tapi mempunyai sirip dan ekor.
Beberapa jenis ikan ini, yang dikenal sebagai ikan pengembara, merampungkan sebagian siklus hidupnya di air tawar atau sekitar pantai. Musim pemijahannya dipercaya dilakukan pada musim semi. Misalnya sidat di Laut Sargasso, antara Bermuda dan Bahama. Sidat betina bisa membawa hingga 10 juta telur, yang nantinya berkembang menjadi larva yang disebut leptocephalus. Larva-larva ini bermigrasi ke pesisir Eropa mengikuti arus samudera. Perjalanannya menghabiskan waktu hinga 12 bulan. Larva berenang dengan kecepatan antara 1 hingga 5 mil per jam.
Saat mencapai Eropa, mereka berubah menjadi tahapan sidat kaca (glass eel). Mereka memasuki perairan tawar selama musim semi dan puncak migrasinya terjadi ketika pasang naik bulan April dan Mei. Saat itu, sidat muda itu berubah warna menjadi lebih gelap, dan dengan memanfaatkan arus pasang naik mereka tercegah dari terseret arus surut. Soalnya, kalau ini terjadi, sidat-sidat ini akan menjadi santapan lezat bagi nelayan pencari sidat dan predator lainnya.
Ada sidat yang tinggal dan hidup menetap di perairan payau. Di situ mereka makan dan tumbuh, sementara yang lain bermigrasi pulang-pergi menuju atau dari perairan tawar sepanjang hidupnya. Sidat hidup dekat dasar sungai dan danau. Mereka bermigrasi dengan pelan ke hulu. Selama periode ini, biasanya mereka disebut sebagai sidat kuning atau coklat, mengacu warnanya tubuhnya. Sidat jantan umumnya hidup di tempat yang lebih rendah, sementara betina kebanyakan mampu bergerak jauh ke hulu.
Untuk bertahan dan tumbuh, sidat memangsa invertebrata. Individu yang lebih besar ukurannya bisa pula memangsa ikan-ikan kecil. Walau bukti ilmiah tidak ditemukan, sidat biasanya suka dituduh sebagai hewan yang memangsa telur dan larva salmon. Yang jantan tinggal di perairan tawar 7 hingga 12 tahun sampai tingkat matang kelamin, dengan ukuran tubuh mencapai 26 sentimeter. Sidat betina tinggal lebih lama, 9 hingga 16 tahun, dengan ukuran lebih besar, sekitar 46 sentimeter. Hewan ini dapat hidup dan tumbuh lebih panjang hingga mencapai semeter.
Saat sudah matang kelamin, mereka berubah warna menjadi biru/perak (dikenal dengan sebutan sidat perak). Kemudian sidat-sidat bermigrasi kembali ke laut selama musim gugur. Kegelapan malam atau cuaca yang buruk malah justru membantu mudiknya mereka lebih lancar, tanpa gangguan pemangsa.
Begitu sampai di Laut Sargasso, sidat-sidat memijah dan akhirnya mati. Larva dan anak sidatlah yang kelak mengulangi lagi jejak induk dan para leluhurnya: lahir di laut, mengembara ke sungai, dan akhirnya kembali ke laut. Kematian yang indah dan penuh makna...(ah)
Di dunia fauna, kejadian “mudik” sesungguhnya banyak terjadi. Ada banyak spesies hewan di alam yang keterikatannya kepada tempat asal amat tinggi. Tentu saja, motif perpindahannya berbeda-beda. Dan ini menajdikan fenomena tersebut sebagai bahan penelitian menarik bagi para peneliti sejak puluhan tahun silam.
Tengok saja, misalnya, burung pelikan. Di daerah dengan empat musim, menjelang datangnya musim dingin, burung-burung ini berbondong-bondong terbang menuju daerah dan perairan yang lebih hangat. Yang dicari adalah ruang lebih nyaman untuk tempat tumbuh dan dewasanya anak-anak mereka, juga ketersediaan sumberdaya makanan yang berlimpah, yakni ikan, yang banyak terdapat di perairan bersuhu hangat. Kelak, setelah anak-anak pelikan menjadi cukup dewasa, mereka pulang kembali ke daerah asalnya, yang sudah memasuki musim semi atau panas. Mereka tinggal di sana hingga musim gugur. Lalu, upacara tahunan migrasi dan mudik terulang kembali.
Konon, migrasi burung ini amat terbantu dengan kondisi bumi yang merupakan sebuah medan magnet super-raksasa. Para hewan merasakan manfaatnya. Antara dua kutub bumi merupakan medan magnet yang kekuatannya bervariasi. Burung yang ‘pindah rumah’ sementara, dalam kenyataannya tidak pernah mengalami kesalahan menuju lokasi yang mereka tuju. Padahal mereka terbang malam hari, atau pada saat cuaca tak bersahabat sekali pun.
Jenis burung Robin, umpamanya, jika ditaruh di kandang persis sebelum masa berangkat migrasi, posisi bertenggernya ternyata menghadap tujuan yang diinginkan. Para ahli bilang, selain tanda-tanda dari langit, burung menggunakan kemampuannya mendeteksi medan magnet di sekitarnya. Jika medan ini kacau, mereka kehilangan orientasi. Karena itulah, ketika belasan tahun lalu sekelompok burung pelikan tahu-tahu nyasar ke Indonesia dan memenuhi pantai-pantai kita, kekacauan magnet bumi itu bisa jadi merupakan penyebabnya. Wallahu a’lam.
Lebih gigih
Dibanding manusia, perjalanan hewan-hewan tersebut dari menetas hingga melakukan perjalanan besarnya ternyata lebih teratur, konsisten, dan lebih gigih. Kalau mudik ala manusia separah-parahnya menguras uang di kantong, fauna ini justru menantang mara bahaya menuju tempat asalnya, untuk setor nyawa. Mati.
Salmon Atlantik adalah salah satu contoh. Ikan ini dikenal sebagai pengembara dunia. Ikan ini termasuk jenis anadromous, yang berpijah di air tawar, tapi menghabiskan sebagian hidupnya di laut. Deskripsi ilmiah tentang perjalanan Salmon Atlantik sejak usai memijah, hidup di laut, hingga kembali ke hulu untuk memijah, telah didokumentasikan sejak tahun 1700-an. Begitu pun, tetap saja banyak hal yang belum diketahui.
Wilayah bersejarah salmon ini meliputi Samudera Atlantik Utara dan anak-anak sungainya dari Ungava Bay ke Danau Ontario, menuju Selatan ke Connecticut di Amerika, dari Laut Putih Rusia, ke Portugal menuju pesisir atau pantai-pantai Eropa. Sayangnya, banyak perjalanan ini yang sudah mulai berkurang, atau bahkan punah. Namun, perjalanan eksotik salmon masih bisa ditemui di sungai-sungai di kawasan Irlandia, Inggis, Kanada, Kepualauan Faroe, Islandia, Norwegia, Finlandia, Rusia, Prancis, Spanyol, Kanada, dan Amerika Serikat.
Parr, Smolt, Turun Gunung
Salmon banyak mengalami perubahan tahapan dan ciri selama siklus hidupnya. Saat memijah di hulu-hulu sungai, telur –telurnya yang seukuran kacang ijo akan dilepaskan oleh betina dan di sarang-sarang di tepi sungai, pada musim gugur. Beberapa jenis salmon betina biasanya menggali sarang dengan ekornya, meletakkan telur di sarang tersebut. Tiap sarang berisi 500 hingga 1200 butir telur. Hanya 20 sampai 100 butir yang bertahan menetas menjadi larva dan ikan muda.
Pada awal musim semi, ribuan larva salmon (alevin) muncul. Ukurannya sekitar 2 sentimeter. Mereka bertahan hidup dengan kantong kuning telur di perutnya, yang lazim disebut yolk salk. Fungsi kantong ini adalah sebagai penyedia sumber makanan selama usia larva. Untuk menghindari pemangsa alami di perairan, makhluk kecil lemah itu bersembunyi di balik bebatuan. Dan ketika kantung kuning telur itu habis, ikan-ikan muda itu mulai berjuang menuju ruang air yang lebih luas. Mereka tinggal hingga ikan muda (fry) hingga mencapai panjang 8 sentimeter.
Jika para salmon mulai memiliki tanda khas vertikal di bagian punggungnya, itu artinya mereka masuk tahapan parr. Tanda parr –terdapat di punggung di sepanjang sisi tubuh dan berwarna gelap-- berfungsi sebagai alat kamuflase dari pandangan pemangsa atau predator. Kumpulan parr ini tetap tinggal di sungai selama 2 hingga 6 tahun, tergantung temperatur dan suplai pakan yang tersedia.
Ketika ikan-ikan ini sudab mencapai panjang 12 sampai 24 sentimeter, mereka mulai menjalani transformasi musim seminya menjadi smolt. Tanda parr yang tadinya jelas tampak, kni berganti menjadi tanda keperakan. Jangan salah, ini justru menjadi alat kamuflase yang lebih sempurna untuk hidup mereka di laut nantinya. Sistem internal tubuhnya pun mulai perlahan beradaptasi terhadap air laut asin. Dan akhirnya, gerombolan ikan ini memulai perjalanan panjangnya, ‘turun gunung’ menuju laut sebagai tempat mencari makan dan kehidupan baru mereka. Berdasarkan perhitungan peneliti, hanya dua persen salmon yang menetas dan bertahan hidup hingga dewasa.
Mudik dan Mati
Di laut bebas, mereka tumbuh pesat dengan memakan udang-udangan dan ikan kecil. Meski demikian, salmon juga mesti pintar-pintar berkelit menghindari predator seperti ikan carnivora yang lebih besar, dan mamalia laut lainnya.
Setelah hidup 1-2 tahun di laut, mereka menjalani kembali melakoni perjalanan ziarah ke tanah leluhur, ke anak sungai di hulu tempat asal mereka. Inilah yang menakjubkan. Betapa tidak. Para salmon kembali dengan tepat ke tempat asal mereka menetas. Tidak ada yang keliru atau nyasar, misalnya salmon asal anak sungai A mudik ke anak sungai B.
Dan perjalanan pulang ini betul-betul melelahkan serta penuh mara bahaya. Ikan-ikan itu harus menempuh jarak tak kurang dari 4000 kilometer dari laut bebas menuju hulu. Jika mereka pulang ke hulu saat musim dingin berlangsung di lautan, mereka disebut grilse. Salmon atlantik akan memasuki sungai sekitar bulan April dan November, menapaki jalan ke hulu, mampu melompati rintangan hingga 3 meter tingginya, termasuk air terjun dan riam.
Banyak di antara ikan itu yang “gugur” di tengah jalan, karena dimangsa hewan darat, ditangkapi manusia, atau kena penyakit. Karena itu pula, di beberapa negara, ditetapkan larangan menangkap salmon sepanjang jalur pulang-perginya. Sisanya yang bertahan, bisa mencapai hulu sungai, kampung halaman mereka, dan memijah pada akhir musim gugur. Yang lebih mengharukan, usai menunaikan tugas mulianya –meneruskan rantai keturunan-- mereka pun mati.
Ada beberapa populasi yang tak sempat ke laut selama hidupnya. Mereka tertahan di danau-danau dan sistem sungai di area yang berbatasan dengan Laut Utara. Ikan-ikan ini tetap mengikuti siklus hidup sebagaimana salmon yang bermigrasi ke laut, kecuali bahwa daerah migrasinya adalah antara areal pencarian makanan (feeding ground di perairan dalam danau menuju perairan tempat memijah di daerah yang lebih dangkal. Ukuran rata-rata dewasanya 20-60 sentimeter, dengan berat kurang dari 4 kilogram,
Mudik ke Laut
Sebaliknya, ada ikan yang menjalani mudiknya menuju laut. Sidat atau disebut juga moa atau eel (Anguila sp), merupakan ikan menyerupai belut sawah, tapi mempunyai sirip dan ekor.
Beberapa jenis ikan ini, yang dikenal sebagai ikan pengembara, merampungkan sebagian siklus hidupnya di air tawar atau sekitar pantai. Musim pemijahannya dipercaya dilakukan pada musim semi. Misalnya sidat di Laut Sargasso, antara Bermuda dan Bahama. Sidat betina bisa membawa hingga 10 juta telur, yang nantinya berkembang menjadi larva yang disebut leptocephalus. Larva-larva ini bermigrasi ke pesisir Eropa mengikuti arus samudera. Perjalanannya menghabiskan waktu hinga 12 bulan. Larva berenang dengan kecepatan antara 1 hingga 5 mil per jam.
Saat mencapai Eropa, mereka berubah menjadi tahapan sidat kaca (glass eel). Mereka memasuki perairan tawar selama musim semi dan puncak migrasinya terjadi ketika pasang naik bulan April dan Mei. Saat itu, sidat muda itu berubah warna menjadi lebih gelap, dan dengan memanfaatkan arus pasang naik mereka tercegah dari terseret arus surut. Soalnya, kalau ini terjadi, sidat-sidat ini akan menjadi santapan lezat bagi nelayan pencari sidat dan predator lainnya.
Ada sidat yang tinggal dan hidup menetap di perairan payau. Di situ mereka makan dan tumbuh, sementara yang lain bermigrasi pulang-pergi menuju atau dari perairan tawar sepanjang hidupnya. Sidat hidup dekat dasar sungai dan danau. Mereka bermigrasi dengan pelan ke hulu. Selama periode ini, biasanya mereka disebut sebagai sidat kuning atau coklat, mengacu warnanya tubuhnya. Sidat jantan umumnya hidup di tempat yang lebih rendah, sementara betina kebanyakan mampu bergerak jauh ke hulu.
Untuk bertahan dan tumbuh, sidat memangsa invertebrata. Individu yang lebih besar ukurannya bisa pula memangsa ikan-ikan kecil. Walau bukti ilmiah tidak ditemukan, sidat biasanya suka dituduh sebagai hewan yang memangsa telur dan larva salmon. Yang jantan tinggal di perairan tawar 7 hingga 12 tahun sampai tingkat matang kelamin, dengan ukuran tubuh mencapai 26 sentimeter. Sidat betina tinggal lebih lama, 9 hingga 16 tahun, dengan ukuran lebih besar, sekitar 46 sentimeter. Hewan ini dapat hidup dan tumbuh lebih panjang hingga mencapai semeter.
Saat sudah matang kelamin, mereka berubah warna menjadi biru/perak (dikenal dengan sebutan sidat perak). Kemudian sidat-sidat bermigrasi kembali ke laut selama musim gugur. Kegelapan malam atau cuaca yang buruk malah justru membantu mudiknya mereka lebih lancar, tanpa gangguan pemangsa.
Begitu sampai di Laut Sargasso, sidat-sidat memijah dan akhirnya mati. Larva dan anak sidatlah yang kelak mengulangi lagi jejak induk dan para leluhurnya: lahir di laut, mengembara ke sungai, dan akhirnya kembali ke laut. Kematian yang indah dan penuh makna...(ah)
Friday, December 23, 2005
Menguak Misteri Lamun
Bicara soal kekayaan alam laut, asosiasi kita biasanya langsung tertuju pada terumbu karang, yang kerap disebut sebagai “hutan laut”. Terumbu karang sudah lazim dikenal keindahan warna-warni karangnya, berikut ikan dan hewan lain yang hidup di kawasan tersebut. Atau, ada juga yang langsung menunjuk hutan bakau atau mangrove. Ini berupa tanaman khas di kawasan pesisir, yang akarnya menghujam ke perairan dan menjadi tempat berlindung serta mencari makan banyak hewan.
Bagaimana dengan padang lamun? Dari namanya saja, sebagian besar orang bertanya-tanya, jenis kehidupan apa gerangan padang lamun ini. Mengapa disebut padang lamun, apakah ada di Indonesia? Dan yang terpenting, sejauh mana perannya bagi manusia dan kehidupan laut?
Hutan Hijau yang Beradaptasi
Bagi yang belum pernah mengenal lamun, tanaman yang biasa disebut seagrass ini merupakan tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang sudah sepenuhnya menyesuaikan diri hidup terbenam di dalam laut. Karena kemampuan adaptasinya, tumbuhan ini mampu hidup di lingkungan laut atau medium air asin. Disebut padang lamun, karena ia tumbuh dalam satu kawasan luas, yang jika dilihat mirip dengan bentangan padang rumput di darat.
Tanaman lamun bisa hidup normal dalam keadaan terbenam, dan mempunyai sistem perakaran jangkar (rhizoma) yang berkembang baik. Mengingat pada dasarnya tak berbeda dengan tanaman darat, maka lamun punya keunikan yaitu memiliki bunga dan buah yang kemudian berkembang menjadi benih. Semuanya dilakukan dalam keadaan terbenam di perairan laut. Hal inilah yang menjadi perbedaan nyata lamun dengan tumbuhan yang hidup terbenam di laut lainnya seperti makro-alga atau rumput laut (seaweed).
Untuk bisa hidup normal, akar tanaman lamun cukup kuat menghujam ke dasar perairan tempat tumbuh. Akar ini tidak berfungsi penting dalam pengambilan air –sebagaimana tanaman darat-- karena daun dapat menyerap nutrien (zat gizi) secara langsung dari dalam air lat. Tudung akarnya dapat menyerap nutrien dan melakukan fiksasi nitrogen. Sementara itu, untuk menjaga agar tubuhnya tetap mengapung dalam kolom air, lamun dilengkapi dengan rongga udara.
Lamun tumbuh subur terutama di daerah terbuka pasang surut dan perairan pantai yang dasarnya bisa berupa lumpur, pasir, kerikil, dan patahan karang mati, dengan kedalaman hingga empat meter. Malah di perairan yang sangat jernih, beberapa jenis lamun ditemukan tumbuh di kedalaman 8 hingga 15 meter.
Di daratan kita sering melihat, misalnya, hutan pinus. Sejauh mata memandang, hutan tersebut melulu diisi dengan pinus. Di tempat lain, ada pula hutan yang berisi aneka ragam jenis pohon. Demikian juga halnya dengan padang lamun, Di suatu tempat, ia dapat berbentuk vegetasi tunggal, tersusun atas satu jenis lamun yang tumbuh membentuk padang lebat. Sementara di tempat lain, ada vegetasi campuran yang terdiri dari dua hingga dua belas jenis lamun yang tumbuh bersama-sama.
Spesies lamun yang biasanya tumbuh dengan vegetasi tunggal adalah Thalassia hemprichii, Enhalus acoroides, Halophila ovalis, Halodule uninervis, Cymodocea serrulata, dan Thalassodendron ciliatum.
Kaya Sumber Daya
Sebagaimana terumbu karang, padang lamun menjadi menarik karena wilayahnya sering menjadi tempat berkumpul berbagai flora dan fauna akuatik lain dengan berbagai tujuan dan kepentingan. Di padang lamun juga hidup alga (rumput laut), kerang-kerangan (moluska), beragam jenis ekinodermata (teripang-teripangan), udang, dan berbagai jenis ikan.
Ikan-ikan amat senang tinggal di padang lamun. Ada jenis ikan yang sepanjang hayatnya tinggal di padang lamun, termasuk untuk berpijah (berkembang biak). Beberapa jenis lain memilih tinggal sejak usia muda (juvenil) hingga dewasa, kemudian pergi untuk berpijah di tempat lain. Ada juga yang hanya tinggal selama juvenil. Sebagian lagi memilih tinggal hanya sesaat. Suatu penelitian menunjukkan, jumlah ikan bernilai ekonomis penting yang ditemukan di kawasan padang lamun relatif kecil. Itu berarti bahwa padang lamun lebih merupakan daerah perbesaran bagi ikan-ikan tersebut.
Dari sekian banyak hewan laut, penyu hijau (Chelonia mydas) dan ikan duyung atau dugong (Dugong dugon) adalah dua hewan ‘pencinta berat’ padang lamun. Boleh dikatakan, dua hewan ini amat bergantung pada lamun. Hal ini tak lain karena tumbuhan tersebut merupakan sumber makanan penyu hijau dan dugong. Penyu hijau biasanya menyantap jenis lamun Cymodoceae, Thalassia, dan Halophila. Sedangkan dugong senang memakan jenis Poisidonia dan Halophila. Dugong mengkonsumsi lamun terutama bagian daun dan akar rimpangnya (rhizoma) karena dua bagian ini memiliki kandungan nitrogen cukup tinggi.
Peran Terabaikan
Tak ada satu pun jenis tumbuhan dan hewan di dunia ini yang diciptakan Allah tanpa memiliki fungsi dan peran. Begitu pula padang lamun, di alam berfungsi sebagai penghasil detritus (sampah) dan zat hara yang berguna sebagai makanan bagi makhluk hidup laut lainnya. Detritus daun lamun yang tua diuraikan (dekomposisi) oleh sekumpulan hewan dan jasad renik yang hidup di dasar perairan, seperti teripang, kerang, kepiting, dan bakteri. Hasil penguraian ini berupa nutrien yang tercampur atau terlarut di dalam air. Nutrien ini tidak hanya bermanfaat bagi tumbuhan lamun, melainkan juga bermanfaat untu pertumbuhan fitoplankton, dan selanjutnya zooplankton, dan juvenil ikan/udang.
Di sisi lain, tanaman lamun mampu mengikat sedimen dan menstabilkan substrat yang lunak. Sebagian hewan memanfaatkan lamun sebagai tempat berlindung, mencari makan, tumbuh besar, dan memijah. Juntaian dedaunan lamun juga berguna menjadi tudung pelindung dari sengatan matahari bagi penghuni ekosistem ini.
Indonesia Sarang Lamun
Di Indonesia, lamun yang ditemukan terdiri atas tujuh marga (genera). Dari 20 jenis lamun yang dijumpai di perairan Asia Tenggara, 12 di antaranya dijumpai di Indonesia. Penyebaran padang lamun di Indonesia cukup luas, mencakup hampir seluruh perairan Nusantara yakni Jawa, Sumatera, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara, dan Irian Jaya. Dari seluruh jenis, jenis Thalassia hemprichii merupakan yang paling dominan di Indonesia.
Keanekaragaman hayati lamun yang paling tinggi ada di perairan Teluk Flores dan Lombok, masing-masing ada 11 spesies. Jika dibandingkan, maka keanekaragaman hayati lamun di perairan Indonesia bagian timur ternyata lebih tinggi dibandingkan dengan bagian barat. Hal ini diduga karena posisi daerah bagian timur yang lebih dekat dengan pusat penyebaran lamun di perairan Indo Pasifik, yaitu Filipina (16 jenis) dan Australia Barat yang memiliki 17 jenis.
Padang lamun memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan bagi berbagai kepentingan, misalnya sebagai tempat kegiatan budidaya laut berbagai jenis ikan, kerang-kerangan dan tiram. Karena pemandangannya yang tak kalah eksotik dibandingkan terumbu karang, padang lamun bisa dijadikan tempat rekreasi atau pariwisata. Ia juga bisa diolah sebagai umber pupuk hijau.
Rentan Kerusakan
Sayangnya, ekosistem ini amat rentan terhadap kemerosotan lingkungan yang diakibatkan kegiatan manusia. Di kawasan pantai, manusia melakukan pengerukan dan pengurugan demi pembangunan pemukiman pantai, indusri, dan saluran navigasi. Ini mengakibatkan rusak totalnya padang lamun. Perusakan habitat di lokasi pembuangan hasil pengerukan akhirnya terjadi. Di samping itu, terdapat dampak sekunder pada perairan laut yaitu meningkatnya kekeruhan air, dan terlapisnya insang hewan air oleh lumpur dan tanah hasil pengerukan. Hewan-hewan air tersiksa dan akhirnya mati.
Ancaman juga datang dari pencemaran limbah industri, terutama logam berat dan senyawa organoklorin. Dua jenis bahan berbahaya ini mengakibatkan terjadinya akumulasi (penumpukan kandungan) logam berat padang lamun melalui proses yang disebut magnifikasi biologis. Persis seperti proses penumpukan kandungan merkuri yang menimpa kerang-kerangan di Teluk Jakarta.
Selain itu, tindakan manusia yang suka membuang sampah sembarangan ke laut mengakibatkan turunnya kandungan oksigen terlarut di kawasan padang lamun, serta dapat menimbulkan eutrofikasi (peningkatan kesuburan plankton). Hal ini bisa memancing meledaknya pertumbuhan perifiton, sejenis organisme yang hidup menempel di organisme lain. Perifiton yang banyak menempel membuat daun lamun kesulitan menyerap sinar matahari untuk proses fotosintesisnya. Kejadian serupa terjadi jika terjadi pencemaran minyak yang melapisi permukaan daun lamun.
Ada pula pencemaran limbah pertanian -terutama pestisida- yang mematikan hewan-hewan yang hidup di padang lamun. Pupuk yang masuk ke perairan laut di mana padang lamun terbentang juga memancing timbulnya eutrofikasi.
Padang lamun mungkin kurang populer dibandingkan dengan jenis ekosistem laut lainnya. Tetapi dengan mengetahui peran dan kegunaannya bagi alam dan manusia, kita bisa memahami betapa mengerikannya jika padang lamun juga dirusak dan berkurang habitat hidupnya. (ah)
Bagaimana dengan padang lamun? Dari namanya saja, sebagian besar orang bertanya-tanya, jenis kehidupan apa gerangan padang lamun ini. Mengapa disebut padang lamun, apakah ada di Indonesia? Dan yang terpenting, sejauh mana perannya bagi manusia dan kehidupan laut?
Hutan Hijau yang Beradaptasi
Bagi yang belum pernah mengenal lamun, tanaman yang biasa disebut seagrass ini merupakan tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang sudah sepenuhnya menyesuaikan diri hidup terbenam di dalam laut. Karena kemampuan adaptasinya, tumbuhan ini mampu hidup di lingkungan laut atau medium air asin. Disebut padang lamun, karena ia tumbuh dalam satu kawasan luas, yang jika dilihat mirip dengan bentangan padang rumput di darat.
Tanaman lamun bisa hidup normal dalam keadaan terbenam, dan mempunyai sistem perakaran jangkar (rhizoma) yang berkembang baik. Mengingat pada dasarnya tak berbeda dengan tanaman darat, maka lamun punya keunikan yaitu memiliki bunga dan buah yang kemudian berkembang menjadi benih. Semuanya dilakukan dalam keadaan terbenam di perairan laut. Hal inilah yang menjadi perbedaan nyata lamun dengan tumbuhan yang hidup terbenam di laut lainnya seperti makro-alga atau rumput laut (seaweed).
Untuk bisa hidup normal, akar tanaman lamun cukup kuat menghujam ke dasar perairan tempat tumbuh. Akar ini tidak berfungsi penting dalam pengambilan air –sebagaimana tanaman darat-- karena daun dapat menyerap nutrien (zat gizi) secara langsung dari dalam air lat. Tudung akarnya dapat menyerap nutrien dan melakukan fiksasi nitrogen. Sementara itu, untuk menjaga agar tubuhnya tetap mengapung dalam kolom air, lamun dilengkapi dengan rongga udara.
Lamun tumbuh subur terutama di daerah terbuka pasang surut dan perairan pantai yang dasarnya bisa berupa lumpur, pasir, kerikil, dan patahan karang mati, dengan kedalaman hingga empat meter. Malah di perairan yang sangat jernih, beberapa jenis lamun ditemukan tumbuh di kedalaman 8 hingga 15 meter.
Di daratan kita sering melihat, misalnya, hutan pinus. Sejauh mata memandang, hutan tersebut melulu diisi dengan pinus. Di tempat lain, ada pula hutan yang berisi aneka ragam jenis pohon. Demikian juga halnya dengan padang lamun, Di suatu tempat, ia dapat berbentuk vegetasi tunggal, tersusun atas satu jenis lamun yang tumbuh membentuk padang lebat. Sementara di tempat lain, ada vegetasi campuran yang terdiri dari dua hingga dua belas jenis lamun yang tumbuh bersama-sama.
Spesies lamun yang biasanya tumbuh dengan vegetasi tunggal adalah Thalassia hemprichii, Enhalus acoroides, Halophila ovalis, Halodule uninervis, Cymodocea serrulata, dan Thalassodendron ciliatum.
Kaya Sumber Daya
Sebagaimana terumbu karang, padang lamun menjadi menarik karena wilayahnya sering menjadi tempat berkumpul berbagai flora dan fauna akuatik lain dengan berbagai tujuan dan kepentingan. Di padang lamun juga hidup alga (rumput laut), kerang-kerangan (moluska), beragam jenis ekinodermata (teripang-teripangan), udang, dan berbagai jenis ikan.
Ikan-ikan amat senang tinggal di padang lamun. Ada jenis ikan yang sepanjang hayatnya tinggal di padang lamun, termasuk untuk berpijah (berkembang biak). Beberapa jenis lain memilih tinggal sejak usia muda (juvenil) hingga dewasa, kemudian pergi untuk berpijah di tempat lain. Ada juga yang hanya tinggal selama juvenil. Sebagian lagi memilih tinggal hanya sesaat. Suatu penelitian menunjukkan, jumlah ikan bernilai ekonomis penting yang ditemukan di kawasan padang lamun relatif kecil. Itu berarti bahwa padang lamun lebih merupakan daerah perbesaran bagi ikan-ikan tersebut.
Dari sekian banyak hewan laut, penyu hijau (Chelonia mydas) dan ikan duyung atau dugong (Dugong dugon) adalah dua hewan ‘pencinta berat’ padang lamun. Boleh dikatakan, dua hewan ini amat bergantung pada lamun. Hal ini tak lain karena tumbuhan tersebut merupakan sumber makanan penyu hijau dan dugong. Penyu hijau biasanya menyantap jenis lamun Cymodoceae, Thalassia, dan Halophila. Sedangkan dugong senang memakan jenis Poisidonia dan Halophila. Dugong mengkonsumsi lamun terutama bagian daun dan akar rimpangnya (rhizoma) karena dua bagian ini memiliki kandungan nitrogen cukup tinggi.
Peran Terabaikan
Tak ada satu pun jenis tumbuhan dan hewan di dunia ini yang diciptakan Allah tanpa memiliki fungsi dan peran. Begitu pula padang lamun, di alam berfungsi sebagai penghasil detritus (sampah) dan zat hara yang berguna sebagai makanan bagi makhluk hidup laut lainnya. Detritus daun lamun yang tua diuraikan (dekomposisi) oleh sekumpulan hewan dan jasad renik yang hidup di dasar perairan, seperti teripang, kerang, kepiting, dan bakteri. Hasil penguraian ini berupa nutrien yang tercampur atau terlarut di dalam air. Nutrien ini tidak hanya bermanfaat bagi tumbuhan lamun, melainkan juga bermanfaat untu pertumbuhan fitoplankton, dan selanjutnya zooplankton, dan juvenil ikan/udang.
Di sisi lain, tanaman lamun mampu mengikat sedimen dan menstabilkan substrat yang lunak. Sebagian hewan memanfaatkan lamun sebagai tempat berlindung, mencari makan, tumbuh besar, dan memijah. Juntaian dedaunan lamun juga berguna menjadi tudung pelindung dari sengatan matahari bagi penghuni ekosistem ini.
Indonesia Sarang Lamun
Di Indonesia, lamun yang ditemukan terdiri atas tujuh marga (genera). Dari 20 jenis lamun yang dijumpai di perairan Asia Tenggara, 12 di antaranya dijumpai di Indonesia. Penyebaran padang lamun di Indonesia cukup luas, mencakup hampir seluruh perairan Nusantara yakni Jawa, Sumatera, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara, dan Irian Jaya. Dari seluruh jenis, jenis Thalassia hemprichii merupakan yang paling dominan di Indonesia.
Keanekaragaman hayati lamun yang paling tinggi ada di perairan Teluk Flores dan Lombok, masing-masing ada 11 spesies. Jika dibandingkan, maka keanekaragaman hayati lamun di perairan Indonesia bagian timur ternyata lebih tinggi dibandingkan dengan bagian barat. Hal ini diduga karena posisi daerah bagian timur yang lebih dekat dengan pusat penyebaran lamun di perairan Indo Pasifik, yaitu Filipina (16 jenis) dan Australia Barat yang memiliki 17 jenis.
Padang lamun memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan bagi berbagai kepentingan, misalnya sebagai tempat kegiatan budidaya laut berbagai jenis ikan, kerang-kerangan dan tiram. Karena pemandangannya yang tak kalah eksotik dibandingkan terumbu karang, padang lamun bisa dijadikan tempat rekreasi atau pariwisata. Ia juga bisa diolah sebagai umber pupuk hijau.
Rentan Kerusakan
Sayangnya, ekosistem ini amat rentan terhadap kemerosotan lingkungan yang diakibatkan kegiatan manusia. Di kawasan pantai, manusia melakukan pengerukan dan pengurugan demi pembangunan pemukiman pantai, indusri, dan saluran navigasi. Ini mengakibatkan rusak totalnya padang lamun. Perusakan habitat di lokasi pembuangan hasil pengerukan akhirnya terjadi. Di samping itu, terdapat dampak sekunder pada perairan laut yaitu meningkatnya kekeruhan air, dan terlapisnya insang hewan air oleh lumpur dan tanah hasil pengerukan. Hewan-hewan air tersiksa dan akhirnya mati.
Ancaman juga datang dari pencemaran limbah industri, terutama logam berat dan senyawa organoklorin. Dua jenis bahan berbahaya ini mengakibatkan terjadinya akumulasi (penumpukan kandungan) logam berat padang lamun melalui proses yang disebut magnifikasi biologis. Persis seperti proses penumpukan kandungan merkuri yang menimpa kerang-kerangan di Teluk Jakarta.
Selain itu, tindakan manusia yang suka membuang sampah sembarangan ke laut mengakibatkan turunnya kandungan oksigen terlarut di kawasan padang lamun, serta dapat menimbulkan eutrofikasi (peningkatan kesuburan plankton). Hal ini bisa memancing meledaknya pertumbuhan perifiton, sejenis organisme yang hidup menempel di organisme lain. Perifiton yang banyak menempel membuat daun lamun kesulitan menyerap sinar matahari untuk proses fotosintesisnya. Kejadian serupa terjadi jika terjadi pencemaran minyak yang melapisi permukaan daun lamun.
Ada pula pencemaran limbah pertanian -terutama pestisida- yang mematikan hewan-hewan yang hidup di padang lamun. Pupuk yang masuk ke perairan laut di mana padang lamun terbentang juga memancing timbulnya eutrofikasi.
Padang lamun mungkin kurang populer dibandingkan dengan jenis ekosistem laut lainnya. Tetapi dengan mengetahui peran dan kegunaannya bagi alam dan manusia, kita bisa memahami betapa mengerikannya jika padang lamun juga dirusak dan berkurang habitat hidupnya. (ah)
Sunday, November 20, 2005
Kembali ke Alam
Di Bogor, mereka membuka lahan percobaan di kawasan Darmaga, Kampus IPB. Tepatnya sih, di belakang gudang DOLOG Bogor. Maka, Minggu sore tanggal 23 Oktober lalu, kami berempat meluncur ke lahan yang luasnya kurang lebih 7000 meter persegi tersebut.
Apa itu Pertanian Organik?
Yang pernah saya baca, peningkatan produksi dan kesehatan tanaman untuk pertanian model ini berbeda dengan yang dilakukan oleh sistem intensifikasi yang sekarang lazim dilakukan. Untuk sistem organik, peningkatannya dilakukan dengan rotasi tanam, tumpang sari, penanaman varietas yang tepat, pengendalian hama secara biologis, daur ulang nutrisi dan tindakan lainnya.Di dunia saat ini, luas lahan yang bersertifikat pertanian organik diperkirakan mencapai 25 juta hektar. Ada kemungkinan bahwa terdapat 10-20 juta hektar lahan lainnya yang tidak bersertifikat pertanian organik, terutama di negara-negara berkembang (terutama di Amerika Latin), yang sering berkenaan sebagai pertanian ekologi (agro-ecology). Di beberapa negara berkembang, banyak petani yang mempraktikkan salah satu jenis pertanian tradisional yang tidak mengandalkan dan mengijinkan penggunaan masukan (input) yang dibeli. Di sebuah situs diungkap, bahwa di Uganda dan Tanzania rata-rata penggunaan pupuk kimia sintetis adalah kurang dari 1 kg per hektar per tahun. Ini artinya banyak lahan tidak pernah dipupuk.
Selada, Kangkung, Bayam
Letak ladang itu tidak jauh dari rumah, tepatnya ke arah kampus IPB. Yang segera tampak ketika menyusuri pematang ladang pertanian organik ini adalah warna hijau segar selada dan bayam, yang mendominasi beberapa blok tanaman di sebelah selatan ladang. Tanamannya gemuk-gemuk, sehat, dan mengundang decak kagum. Di blok lainnya ada kangkung siap panen. Lalu ada blok berisikan jagung yang baru berbuah, deretan cabai merah, hingga sawi cesin dan kemangi. Nun di sebelah utara, ada beberapa blok dijadikan kolam ikan nila.
Ladang percobaan ini dikelola beberapa tenaga muda lulusan IPB. Mereka tampak berbaur dengan para pekerja lokal di saung yang berdiri tepat di tepi ladang. “Mereka juga kalau malam biasa tidur di situ,” kata adik saya. Hebat. Dalam hati saya agak malu juga. Saya sarjana perikanan, jurusan budidaya pula. Praktik lapang saya di semester akhir dahulu mengambil topik pembibitan dan pembesaran ikan hias air tawar. Sedangkan topik skripsi adalah meneliti bakteri Aeromonas hydrophila yang kerap menyerang ikan budidaya air tawar. Tapi, bujubuneng –kata Mandra- saya menjerumuskan diri ke dunia pers, lalu akhirnya di bidang komunikasi, hingga kini. Masih syukur (!) tiga tahun belakangan saya masih bersinggungan dengan dunia perikanan, tatkala bekerja di proyek pengelolaan sumberdaya pesisir alias CRMP.
Hasil pertanian organik di ladang percobaan ini bahkan sudah mulai dijual secara lokal. Jangan heran, saya dan istri adalah penggemar dan pelanggan tetap. Mereka melepas hasil panen ke sebuah kios milik seorang Ibu di Pasar Yasmin. Pasokannya juga lumayan teratur, sepekan sekali, terutama untuk produk kangkung, bayam, dan kemangi.
Panen Euy…
Sekadar informasi, di Sumatera Utara kampung saya sendiri, pengembangan pertanian organik juga pesat dilakukan oleh FSPI ini. Mereka punya Green Shop tempat memasarkan produk-produk dari ladang pertanian bebas pestisida yang mereka fasilitasi.
Organik di Siantar
Yang menyenangkan lagi, saya berkesempatan sekali lagi mengunjungi lahan pengembangan pertanian organik di Sumatera Utara, tepatnya di pinggiran Kota Pematang Siantar. Ceritanya, saat mudik lebaran, kami sekeluarga sempat berwisata ke Danau Toba. Ketika dalam perjalanan pulang ke Medan, abang ipar saya mengajak kami untuk singgah di pertanian organik yang dikelola oleh Jandri Damanik. Beliau ini alumnus FISIP-USU, tapi segera jatuh hati dengan sistem pertanian organik, dan sempat belajar khusus tentang hal tersebut ke Jepang.
Di ladang seluas sekitar setengah hektar tersebut, pemandangan spektakuler yang pertama kali menyambut adalah ratusan bibit ikan mas merah yang berenang-renang di kolam. Wuih… Kami disambut oleh Jandri (yang punya kebiasaan unik, bicara dengan anak balitanya dalam bahasa Inggris agar si bocah sekalian belajar). Ia mengembangkan juga pembuatan pupuk bokashi, yang mencampurkan beberapa jenis tanaman dan pupuk kandang.
COba lihat! Ikan-ikan yang sehat, bibit tomat, tomat muda, dan pupuk bokashi di ladang....
Di bukit sebelah rumahnya, ada sepetak tanah tempat memelihara ayam. Lalu di atasnya, lahan yang tengah dipersiapkan untuk menanam beberapa jenis sayuran. Saya melihat bibit-bibit tomat yang tengah disiapkan untuk dipindah. Hanya saja, dari segi sistematisasinya, lahan di Darmaga sudah lebih tertata. Kami sempat pula mengambil beberapa paket beras organik sebagai oleh-oleh ke Medan.
Sebenarnya, ada satu tempat lagi yang saya penasaran ingin mengunjunginya, yaitu lahan pertanian organik yang dikelola Hiro, pemuda asal Jepang, di kawasan Berastagi, Tanah Karo. Hiro juga sudah teratur mengirimkan hasil panennya ke Medan untuk dijual. Mungkin lain kali, kalau ada kesempatan, saya ingin mendatangi lahannya tersebut.
Saatnya Dikampanyekan
Produk pertanian organik lokal sendiri, dari yang saya baca di koran, kini mengalami lonjakan peningkatan pangsa pasar nasional. Di harian Pikiran Rakyat, disebutkan oleh Asosiasi Pelaku Agrobisnis Pertanian Organik (Aspaindo), peningkatan itu mencapai 60 persen selama beberapa bulan terakhir. Ini terutama terjadi di sejumlah pasar modern di Bandung dan Jakarta. Tak tanggung-tanggung, permintaan pasar itu dua sampai tiga kali lipat bertambah.
Itu berita bagus. Hanya, sistem pertanian organik hendaknya bertujuan tidak sekadar mengikuti selera pasar. Lebih penting dari itu, kesejahteraan petani kecil, kesadaran untuk mencegah dominasi pemodal melalui penyediaan pupuk pabrik dan pestisida, dan pelestarian lingkungan alam, hendaknya justru dijadikan sasaran utama.
Dari jalan-jalan ke dua lokasi pertanian organik itu, saya jadi makin kesengsem dan suatu saat mungkin akan lebih serius mengkampanyekannya. Namun, setidaknya, jika anda ingin mengetahui soal sistem pertanian ramah lingkungan ini lebih lanjut, dan bagaimana ia dapat membantu memberdayakan petani, silakan kontak kantor FSPI yang ada di Mampang XIV No. 5 (www.fspi.or.id). Yang ada di sekitar Bogor, silakan datang ke Pasar Yasmin, tepatnya Kios Pa Tani (singkatan dari Pasar Tani), yang dikelola oleh Ibu Ginting. Di sana, insya-allah, tiap minggu pasokan sayur organik dan beras ada disediakan. (ah)
Thursday, October 20, 2005
"Media Cetak, Murdoch, GATRA, dan Dinosaurus
Majalah GATRA edisi 8 Oktober 2005 halaman 73 memuat artikel menarik tentang media. Tak tanggung-tanggung, isinya mengutip pendapat salah satu kaisar penguasa media massa dunia, Rupert Murdoch. Pak Murdoch bilang, ia skeptis melihat masa depan koran (dan media cetak secara umum). "Saya yakin, banyak editor dan reporter yang sudah kehilangan relasi dengan pembacanya," katanya, saat berbicara di hadapan Asosiasi Editor Surat Kabar Amerika pada April lalu.

Intinya, Murdoch mau bilang bahwasanya kematian koran dan media cetak lain tinggal menunggu waktu. Nasibnya tak beda dengan dinosaurus. Punah oleh evolusi, kata GATRA. Wassalam. Alasan kuat lainnya, apa lagi kalau bukan soal salah satu pemasukan media: iklan. Perusahaan pemasang iklan di media cetak akan mengalihkan strategi mereka ke media elektronik dan internet. Pada akhirnya, media elektronik juga harus bersaing dengan internet. Terutama dengan produk seperti blog dan news portal. "Sekarang perusahaan media, termasuk perusahaan saya, harus lebih paham soal internet," kata Murdoch, sebagaimana dikutip GATRA.
Menilik artikelnya, agaknya lumayan serius. Mas Basfin, sang penulis, menjelaskan bahwasanya ramalan era kematian koran sebenarnya bukan hal baru. “Para peneliti media pun sebelumnya mengatakan hal serupa,” ujarnya. Ada banyak data yang dikutip. Dan itu sahih. Dipaparkan pula secara ringkas soal jurnalisme baru via media blog. Hm, menarik, nih. Hingga akhirnya artikel ditutup dengan pertanyaan: “Jadi, sampai kapan media cetak bertahan?” Menurut buku Saving The Vanishing Newspaper: Journalism in The Information Age karangan Philip Meyer, bila trend digital semacam ini terus berlanjut, diperkirakan tahun 2040 masih ada sisa-sisa pembaca koran. Lewat tahun itu, semua goes digital.
Keniscayaan?
Apa yang dipaparkan dalam artikel itu, dalam beberapa hal amat benar. Media cetak, mengutip William R. Rivers dkk. (Mass Media and Modern Society, 2nd Edition) saat ini harus bekerja keras menyesuaikan diri dengan kondisi-kondisi baru. Banyak media besar berusia tua, akhirnya harus menyerah. Ini dialami, misalnya, oleh Life dan The Saturday Evening Post, yang terbit di Amerika sono.
Khusus buat majalah, sebagai salah satu produk media cetak, kondisi sulit bergerak ini makin terasa. Jim Willis dan Diane B. Willis bahkan menulis bab khusus dalam bukunya New Directions in Media Management (Allyn and Bacon, 1993) tentang siklus hidup majalah yang tak beda dengan manusia: lahir - jadi orok - tumbuh besar – untuk kemudian matang – tua - dan akhirnya mati (agak absurd juga soal ini dibahas, mengingat siklus itu sesungguhnya amat general, berlaku buat media apa saja).
Kembali, pertanyaan pokoknya adalah: benarkah media cetak akan “wassalam”? Teknologi rupa-rupanya menjadi satu alasan dominan (setidaknya dalam penjelasan artikel di GATRA tersebut) mengapa media cetak terus tersudut , untuk kemudian –sebagaimana dilontarkan Rupert Murdoch—punah. Koran dan majalah digital menggantikannya.
Pertama, ada kesalahpahaman kecil di sini. Tren turunnya oplah seolah-olah semata karena orang beralih ke dunia digital. Sesungguhnya, ada banyak faktor lain yang jarang dibahas. Di Amerika dan Eropa, turunnya oplah ditengarai juga karena meningkatnya populasi kaum minoritas di suatu negara. Misalnya, di Amerika, populasi kaum hispanik naik menjadi 9,2 persen tahun 2000 dari 7,2 tahun 1998. Karena amat lekat dengan budaya mereka, media cetak yang ada tidak memenuhi keinginan dan kebutuhan kaum minoritas, sementara jumlah mereka terus meningkat. Apa yang terjadi, mereka memilih tidak membeli dan membaca koran atau media cetak umum yang dijajakan.
Di lain pihak, jumlah keluarga inti di kawasan ini makin menurun, sementara banyak media tua terus berperan secara tradisional –diperuntukkan hanya untuk kepala rumah tangga dan tidak memperhatikan kebutuhan kaum ibu dan anak. Walhasil, peminatnya akan terus menyempit, hingga akhirnya hilang. Belum lagi dengan makin menurunya tingkat pertumbuhan populasi secara umum.
Adapun pengaruh teknologi baru, memang demikianlah adanya. Berita internet, dan berita online lainnya membuat orang malas membaca edisi hardcopy. Selain itu, berbagai layanan informasi elektronik makin menghujani pembaca di masa kini. Jasa informasi elektronik memang sudah mulai mewabah di AS, katakanlah seperti Nexis, Lexism, Compuserv, Dialog, DataTimes, dan VuText. Semua versi ini menyediakan naskah ratusan berita koran, majalah, laporan-laporan dan publikasi pemerintah, juga salinan putusan hukum dan berbagai komentar dari beragam sumber.
Tetapi di sisi lain, Murdoch (dan GATRA yang menulis) mungkin lupa, atau belum membaca penjelasan Jim Willis dan Diane B. Willis dalam bab lainnya dari buku yang sama. Tak banyak yang paham, bahwa berkali-kali studi dan kajian telah dilakukan oleh perusahaan media, yang mengujicobakan penyampaian berita koran secara elektronik kepada pembacanya. Hasilnya menunjukkan, orang (pembaca) sesungguhnya tidak ingin menjadi editor (penyunting) untuk dirinya sendiri (Sesuatu yang diagung-agungkan media digital, yang meletakkan keinginan dan kendali di tangan user). Mereka ingin editor-lah yang melakukannya buat mereka, menyaring berita mana yang menarik dan dan dianggap informasi yang layak dibaca pembeli, dan disajikan sesuai dengan kepentingannya serta ketertarikan pembaca. Untuk soal ini, media cetaklah yang bisa melakukannya.
Dengan kata lain, sifat dasar manusia sesungguhnya tak pernah hilang: ingin dilayani dengan baik oleh pihak lain. Media online dan digital memang menyediakan kelengkapan, tetapi silakan cari dan putuskan sendiri. Di media cetak, pembaca dilayani dengan penyediaan berita terpilih.
Lagipula, kemajuan digital tidak lantas otomatis me-nasakh-kan bacaan cetak. Kustomisasi, itulah kata kuncinya. Bahwa media cetak akan semakin mengecil porsinya, itu mungkin benar. Lihat saja grafik yang dimuat oleh Joseph Straubhar dan Robert LaRose dalam “Media Now” (Wadsworth, 2005). Media cetak, entah itu koran, majalah, akan menjadi lebih spesifik, menekuni niche (ceruk) yang amat sempit. Di ceruk-ceruk sempit inilah media cetak akan bermain. Dan ceruk-ceruk ini akan terus ada, dan berkembang. Media-media cetak yang pintar dan jeli memanfaatkan ceruk-lah yang bertahan.
Kemudian, ada alasan lain untuk menerangkan bahwasanya media cetak tak (semudah itu) akan mati. Saya suka menganalogikannya dengan keberadaan sepeda. Kendaraan ini ditemukan awal abad 18 (mula-mula dinamai velocipede). Lama-kelamaan sepeda didesak oleh motor, lalu mobil, dan pesawat. Apakah sepeda akan punah? Rasanya belum, atau tidak. Minimal, hingga usianya yang masuk tiga abad, sepeda tetap dipakai dan eksis. Ada yang sebagai koleksi belaka, ada yang sebagai hobi, dan di beberapa tempat ada yang masih menggunakannya sebagaimana fungsi awal, angkutan darat.
Atau, media cetak akan kembali ke posisi awalnya, menjadi bacaan para “elite” yang tidak semua orang dapat membacanya. Artinya, ketika bacaan digital menjadi keniscayaan, media cetak justru menjadi barang antik, yang memiliki pembaca dan penggemar tersendiri. Ia tidak mati, hanya beralih wujud melayani penggemar khusus.
Print Media Not Dinosaurs
Jadi, kalau Murdoch si raja media meneriakkan farewell to print media, lalu diamini oleh GATRA, saya sebaliknya amat menentangnya. Media cetak bukanlah dinosaurus. Malah agak disesalkan, pekerja media cetak justru “menyerah” dengan ramalan Murdoch tentang kepunahannya. Mengapa orang media cetak justru tidak pede dengan masa depan lahannya sendiri?
Karena itu, menurut saya, jangan malu untuk berseru: “Print media is not dinosaurs. Print media will never die...” (ah)
Intinya, Murdoch mau bilang bahwasanya kematian koran dan media cetak lain tinggal menunggu waktu. Nasibnya tak beda dengan dinosaurus. Punah oleh evolusi, kata GATRA. Wassalam. Alasan kuat lainnya, apa lagi kalau bukan soal salah satu pemasukan media: iklan. Perusahaan pemasang iklan di media cetak akan mengalihkan strategi mereka ke media elektronik dan internet. Pada akhirnya, media elektronik juga harus bersaing dengan internet. Terutama dengan produk seperti blog dan news portal. "Sekarang perusahaan media, termasuk perusahaan saya, harus lebih paham soal internet," kata Murdoch, sebagaimana dikutip GATRA.
Menilik artikelnya, agaknya lumayan serius. Mas Basfin, sang penulis, menjelaskan bahwasanya ramalan era kematian koran sebenarnya bukan hal baru. “Para peneliti media pun sebelumnya mengatakan hal serupa,” ujarnya. Ada banyak data yang dikutip. Dan itu sahih. Dipaparkan pula secara ringkas soal jurnalisme baru via media blog. Hm, menarik, nih. Hingga akhirnya artikel ditutup dengan pertanyaan: “Jadi, sampai kapan media cetak bertahan?” Menurut buku Saving The Vanishing Newspaper: Journalism in The Information Age karangan Philip Meyer, bila trend digital semacam ini terus berlanjut, diperkirakan tahun 2040 masih ada sisa-sisa pembaca koran. Lewat tahun itu, semua goes digital.
Keniscayaan?
Apa yang dipaparkan dalam artikel itu, dalam beberapa hal amat benar. Media cetak, mengutip William R. Rivers dkk. (Mass Media and Modern Society, 2nd Edition) saat ini harus bekerja keras menyesuaikan diri dengan kondisi-kondisi baru. Banyak media besar berusia tua, akhirnya harus menyerah. Ini dialami, misalnya, oleh Life dan The Saturday Evening Post, yang terbit di Amerika sono.
Khusus buat majalah, sebagai salah satu produk media cetak, kondisi sulit bergerak ini makin terasa. Jim Willis dan Diane B. Willis bahkan menulis bab khusus dalam bukunya New Directions in Media Management (Allyn and Bacon, 1993) tentang siklus hidup majalah yang tak beda dengan manusia: lahir - jadi orok - tumbuh besar – untuk kemudian matang – tua - dan akhirnya mati (agak absurd juga soal ini dibahas, mengingat siklus itu sesungguhnya amat general, berlaku buat media apa saja).
Kembali, pertanyaan pokoknya adalah: benarkah media cetak akan “wassalam”? Teknologi rupa-rupanya menjadi satu alasan dominan (setidaknya dalam penjelasan artikel di GATRA tersebut) mengapa media cetak terus tersudut , untuk kemudian –sebagaimana dilontarkan Rupert Murdoch—punah. Koran dan majalah digital menggantikannya.
Pertama, ada kesalahpahaman kecil di sini. Tren turunnya oplah seolah-olah semata karena orang beralih ke dunia digital. Sesungguhnya, ada banyak faktor lain yang jarang dibahas. Di Amerika dan Eropa, turunnya oplah ditengarai juga karena meningkatnya populasi kaum minoritas di suatu negara. Misalnya, di Amerika, populasi kaum hispanik naik menjadi 9,2 persen tahun 2000 dari 7,2 tahun 1998. Karena amat lekat dengan budaya mereka, media cetak yang ada tidak memenuhi keinginan dan kebutuhan kaum minoritas, sementara jumlah mereka terus meningkat. Apa yang terjadi, mereka memilih tidak membeli dan membaca koran atau media cetak umum yang dijajakan.
Di lain pihak, jumlah keluarga inti di kawasan ini makin menurun, sementara banyak media tua terus berperan secara tradisional –diperuntukkan hanya untuk kepala rumah tangga dan tidak memperhatikan kebutuhan kaum ibu dan anak. Walhasil, peminatnya akan terus menyempit, hingga akhirnya hilang. Belum lagi dengan makin menurunya tingkat pertumbuhan populasi secara umum.
Adapun pengaruh teknologi baru, memang demikianlah adanya. Berita internet, dan berita online lainnya membuat orang malas membaca edisi hardcopy. Selain itu, berbagai layanan informasi elektronik makin menghujani pembaca di masa kini. Jasa informasi elektronik memang sudah mulai mewabah di AS, katakanlah seperti Nexis, Lexism, Compuserv, Dialog, DataTimes, dan VuText. Semua versi ini menyediakan naskah ratusan berita koran, majalah, laporan-laporan dan publikasi pemerintah, juga salinan putusan hukum dan berbagai komentar dari beragam sumber.
Tetapi di sisi lain, Murdoch (dan GATRA yang menulis) mungkin lupa, atau belum membaca penjelasan Jim Willis dan Diane B. Willis dalam bab lainnya dari buku yang sama. Tak banyak yang paham, bahwa berkali-kali studi dan kajian telah dilakukan oleh perusahaan media, yang mengujicobakan penyampaian berita koran secara elektronik kepada pembacanya. Hasilnya menunjukkan, orang (pembaca) sesungguhnya tidak ingin menjadi editor (penyunting) untuk dirinya sendiri (Sesuatu yang diagung-agungkan media digital, yang meletakkan keinginan dan kendali di tangan user). Mereka ingin editor-lah yang melakukannya buat mereka, menyaring berita mana yang menarik dan dan dianggap informasi yang layak dibaca pembeli, dan disajikan sesuai dengan kepentingannya serta ketertarikan pembaca. Untuk soal ini, media cetaklah yang bisa melakukannya.
Dengan kata lain, sifat dasar manusia sesungguhnya tak pernah hilang: ingin dilayani dengan baik oleh pihak lain. Media online dan digital memang menyediakan kelengkapan, tetapi silakan cari dan putuskan sendiri. Di media cetak, pembaca dilayani dengan penyediaan berita terpilih.
Lagipula, kemajuan digital tidak lantas otomatis me-nasakh-kan bacaan cetak. Kustomisasi, itulah kata kuncinya. Bahwa media cetak akan semakin mengecil porsinya, itu mungkin benar. Lihat saja grafik yang dimuat oleh Joseph Straubhar dan Robert LaRose dalam “Media Now” (Wadsworth, 2005). Media cetak, entah itu koran, majalah, akan menjadi lebih spesifik, menekuni niche (ceruk) yang amat sempit. Di ceruk-ceruk sempit inilah media cetak akan bermain. Dan ceruk-ceruk ini akan terus ada, dan berkembang. Media-media cetak yang pintar dan jeli memanfaatkan ceruk-lah yang bertahan.
Kemudian, ada alasan lain untuk menerangkan bahwasanya media cetak tak (semudah itu) akan mati. Saya suka menganalogikannya dengan keberadaan sepeda. Kendaraan ini ditemukan awal abad 18 (mula-mula dinamai velocipede). Lama-kelamaan sepeda didesak oleh motor, lalu mobil, dan pesawat. Apakah sepeda akan punah? Rasanya belum, atau tidak. Minimal, hingga usianya yang masuk tiga abad, sepeda tetap dipakai dan eksis. Ada yang sebagai koleksi belaka, ada yang sebagai hobi, dan di beberapa tempat ada yang masih menggunakannya sebagaimana fungsi awal, angkutan darat.
Atau, media cetak akan kembali ke posisi awalnya, menjadi bacaan para “elite” yang tidak semua orang dapat membacanya. Artinya, ketika bacaan digital menjadi keniscayaan, media cetak justru menjadi barang antik, yang memiliki pembaca dan penggemar tersendiri. Ia tidak mati, hanya beralih wujud melayani penggemar khusus.
Print Media Not Dinosaurs
Jadi, kalau Murdoch si raja media meneriakkan farewell to print media, lalu diamini oleh GATRA, saya sebaliknya amat menentangnya. Media cetak bukanlah dinosaurus. Malah agak disesalkan, pekerja media cetak justru “menyerah” dengan ramalan Murdoch tentang kepunahannya. Mengapa orang media cetak justru tidak pede dengan masa depan lahannya sendiri?
Karena itu, menurut saya, jangan malu untuk berseru: “Print media is not dinosaurs. Print media will never die...” (ah)
Thursday, October 06, 2005
Mission is Delayed...
Ringkas saja, rencana ekspedisi ke Ujung Kulon bareng Tony, Tammy, Pasus, dkk. terpaksa dimundurkan. Pekan-pekan terakhir September lalu, yang diprediksi oleh teman2x CRMP II bakal santai, ternyata justru sebaliknya. Mereka jumpalitan, karena naskah buku lessons learned-nya telat sampai ke meja lay out. Akhirnya, ya kerja keras sampai titik terakhir. Kasian juga melihat mereka.
Sempat pula kegagalan itu ingin diganti dengan makan seafood bersama (kepiting saus tiram andalan Tony) di Kelapa Gading. Sayang, hingga Jumat sore, beberapa hari sebelum puasa, saya telepon ke Ratu Plasa dan ternyata Pasus harus begadang sampai malam. "Udah, ke sini aja, ntar jam 19.00-an kita kelar," bujuk Pasus. Wah, nehi, tidak, saya ada janji di Bogor dan harus segera pulang (ingat lagu Slank: "Aku harus cepat pulang... jangan terlambat tiba di rumah..").
So, rencana masih tetap akan dijalankan, semua sepakat. Hanya saja, ya itu, ditunda hingga pasca lebaran. Saya sudah wanti-wanti, kalaupun akan ke sana, harus setelah pekan ke-2 November. Itu pun harus cek cuaca pesisir dan laut UK lebih dahulu. Akhir-akhir tahun biasanya cuaca tidak menentu.
Hm, mudah-mudahan aja penundaan ini yang terakhir... (ah)
Sempat pula kegagalan itu ingin diganti dengan makan seafood bersama (kepiting saus tiram andalan Tony) di Kelapa Gading. Sayang, hingga Jumat sore, beberapa hari sebelum puasa, saya telepon ke Ratu Plasa dan ternyata Pasus harus begadang sampai malam. "Udah, ke sini aja, ntar jam 19.00-an kita kelar," bujuk Pasus. Wah, nehi, tidak, saya ada janji di Bogor dan harus segera pulang (ingat lagu Slank: "Aku harus cepat pulang... jangan terlambat tiba di rumah..").
So, rencana masih tetap akan dijalankan, semua sepakat. Hanya saja, ya itu, ditunda hingga pasca lebaran. Saya sudah wanti-wanti, kalaupun akan ke sana, harus setelah pekan ke-2 November. Itu pun harus cek cuaca pesisir dan laut UK lebih dahulu. Akhir-akhir tahun biasanya cuaca tidak menentu.
Hm, mudah-mudahan aja penundaan ini yang terakhir... (ah)
Friday, September 30, 2005
Ibarat Hewan Apakah Kita Ini?
Kolumnis handal, almarhum Mahbub Djunaidi, menuliskan judul tersebut dalam sebuah kolomnya di Majalah Tempo, 32 tahun silam, tepatnya bulan Juni 1973. Seperti biasa, Mahbub lihai bermain dengan fakta dan kata-kata. Orang Jerman, sebutnya, tak ubahnya bak serigala. Beraninya main keroyok. Ia tak sembarang ucap. Keterangan itu dikutip Mahbub dari buku W. Trotter, Instinct of The Herd in Peace and War, tahun 1916. Trotter sendiri adalah orang Inggris. Mohon maklum.
Lain lagi orang Cina, yang identik dengan naga. Singapura, mungkin, cocok diwakilkan dengan hewan singa. Sementara warga Spanyol, barangkali bangga disebut punya semangat sebagai banteng, meskipun faktanya di arena laga hewan ini lebih banyak mati dicucuk sang matador sendiri. Untuk Indonesia, Mahbub punya banyak perumpaan. Walau lambang negara menggunakan burung garuda, dari sudut beranak pinak, orang Indonesia lazim diumpamakan sebagai marmot, katanya. Waktu itu tentu program Keluarga Berencana tengah digalakkan. Dari sudut kepatuhannya, orang Indonesia bisa pula dimisalkan dengan bebek. Untuk ukuran situasi sosial dan politik tahun-tahun itu, perumpamaan tokoh intelektual NU ini cukup pedas dan bikin perih kuping penguasa.
Di masa kini, sesungguhnya ungkapan Mahbub tadi bukan sesuatu yang main-main dan retorika belaka. Pertanyaannya masih amat relevan dilontarkan kembali. Meskipun di jaman internet yang super modern ini sudah tak pantas memirip-miripkan manusia dengan hewan, kenyataannya manusia sebagai makhluk yang diciptakan termulia oleh Tuhan ini kerap berpikir, berucap, dan bertingkah laku bagai hewan, bahkan lebih rendah dari itu.
Bukankah akhirnya ada pepatah “homo homini lupus”? Itu terkenal tak lain karena manusia sering bersikap sebagai serigala bagi yang lain. Dalam banyak urusan dunia, dari kursi kepala desa sampai intrik di gedung DPR-MPR, sikap sebagai serigala adalah sesuatu yang sering dijumpai. Tak hanya mencakar, bila perlu lawan bisnis dan politik dicabik-cabik untuk kemudian bangkainya dinikmati.
Untuk soal serigala ini, tokoh PDI Perjuangan, Arifin Panigoro bisa jadi sedikit berbeda paham. Sebagai salah satu tokoh utama yang bersama Poros Tengah merancang lengsernya Abdurrahman Wahid dan naiknya Megawati di Sidang Istimewa MPR akhir Juli 2001 silam, ia sempat diguncang kasus utang perusahaannya. Dalam pandangan bos Medco ini, kasus tersebut dirancang untuk menjegalnya. Maka, kepada pers, ia menyebut orang-orang yang merekayasa itu sebagai hyena. Ini hewan Afrika yang buruk rupa dan punya kebiasaan bergerombol menyerang mangsanya. Mirip-mirip serigala juga.
Kita mungkin bisa disamakan juga dengan ular. Meski ular meliliti gelas dijadikan simbol pengobatan di dunia farmasi, dalam istilah sehari-hari hewan melata ini jadi simbol penipu, tukang bual. Rakyat kecil yang kini terlunta-lunta karena rumahnya tergusur oleh aparat Tramtib dan Pemda DKI -- dengan dalih tak ada ijin tinggal di lokasi tersebut dan demi keindahan Jakarta—dapat menuding pemerintah sebagai ular karena menipu mereka. Mayoritas mereka tak paham dengan ilmu lanskap atau tata kota metropolitan. Tapi Undang-Undang Dasar Pasal 34 jelas-jelas menyebut orang miskin dan anak yatim dipelihara oleh negara. Walhasil, itu terasa kontradiktif dengan kejadian yang mereka alami sekarang. Meski kartu miskin dibagikan bagi keluarga miskin untuk mendapatkan biaya ko
mpensasi BBM sebesar Rp 100 ribu di kantor pos tiap bulan, tetap saja jutaan penduduk lainnya tidak menerima, dengan alasan ketiadaan tanda/identitas kependudukan yang jelas. Nasib ditentukan oleh selembar identitas, yang untuk memperolehnya pun kerap harus menyumpal mulut pegawai kelurahan dengan uang. Ular sekali, bukan? Bagi yang geli atau tidak suka melihat ular, barangkali dapat ‘memisuhi’ keadaan dengan hewan lain yang lebih kecil tapi punya konotasi sama; kadal.
Bahkan, dalam beberapa hal, kitab suci membuat perumpamaan manusia sebagai binatang. Al Quran ada menyebut orang-orang yang berdosa sebagai ternak atau hewan melata, bahkan lebih rendah dari itu. Dalam satu bagian dari Surat Al Baqarah yang menceritakan Bani Israil (Yahudi), dikisahkan bagaimana kaum ini suka sekali melecehkan nabi-nabi mereka sendiri, termasuk melanggar hari yang telah dikhususkan bagi mereka untuk beribadat. Oleh Al Quran, mereka disebut menjadi kera yang hina (qiradatan khaasyi’in). Ada ahli tafsir yang menganggap hati merekalah yang bagai kera, sementara yang lain menyebut mereka memang menjadi kera yang sesungguhnya. Dalam konteks sekarang, Dr. Mushthafa Mahmud (Monyet di Abad Manusia, Husaini 1987) menggambarkan masa yang penuh dekadensi moral saat ini sebagai abad kera.
Sedangkan kebebalan dan rasa tak tahu malu manusia biasa dicerminkan dengan sifat badak. Tebal muka, tak tahu malu, dan asal seruduk, sepertinya hal lazim yang banyak ditemui di masyarakat. Sifat itu malah dipertontonkan di depan khalayak. Kelas paling rendah, sebut saja contoh, tentulah baku hantam antaranggota dewan yang terjadi terdalam pembukaan Sidang Tahunan 2001 silam. Bukannya malu, insiden itu dianggap biasa dengan alasan parlemen negeri lain punya kebiasaan yang lebih buruk dari itu. Atau, para orang pintar di Komisi Pemilihan Umum (KPU) sana, yang dengan tega memakan uang rakyat untuk memperkaya kantong mereka secara kolektif, lalu dengan wajah tak berdosa mengaku tidak pernah kecipratan. Kalau disebut badak, mungkin mereka ini masuk kategori badak yang mukanya “kapalen” (mengalami penebalan jaringan kulit, kata orang Jawa). Tebal muka dan tak sensitif terhadap persoalan rakyat ini agaknya memang menjadi penyakit lama dari para pelaku politik dalam negeri, baik mereka yang duduk di eksekutif, legislatif, maupun yudikatif.
Tak selalu sifat, sikap, dan perilaku manusia itu mirip dengan hewan besar. Dalam banyak hal lain, manusia bisa menyaingi hewan kecil seperti lintah, nyamuk, atau tungau. Kerjanya hampir sama, mengisap darah mangsanya sepuas hati untuk kemudian lepas begitu saja. Ada berapakah lintah, nyamuk, atau tungau di masyarakat kita? Konon sepertiga dari dana pembangunan Indonesia bocor di tengah jalan. ‘Bagi-bagi rejeki’ itu sudah berakar cukup kuat dan dilakukan dari eselon rendah sampai puncak. Membandingkan akar yang sudah terhujam kuat itu dengan slogan pencanangan pemberantasan KKN oleh pemerintahan SBY-JK membuat hati menjadi miris dan harap-harap cemas.
Entah berapa triliun rupiah dana masyarakat di bank tersedot oleh para konglomerat lewat permainan liar mereka. Dana itu digunakan untuk kepentingan bisnis grupnya sendiri di bidang-bidang yang kerap tak bersentuhan langsung dengan kepentingan publik. Ketika bank bersangkutan kolaps, alih-alih dimintai pertanggungjawabannya di pengadilan, para konglomerat hitam itu –meminjam istilah Kwik Kian Gie—malah dibantu pemerintah, yang dengan pontang-panting menyelamatkan bank sekarat tersebut dengan injeksi dana segarnya.
Mereka, meminjam istilah Yasraf Amir Piliang (Sebuah Dunia yang Menakutkan, Mizan 2001), sesungguhnya adalah mesin parasit, organisme yang menumpang dengan modal seadanya dan menghisap negara semau-maunya. Di negeri ini ada banyak mesin parasit ekonomi, mesin parasit politik, mesin parasit hukum, mesin parasit spiritual, dan sebagainya.
Sesungguhnya, ada banyak lagi hewan yang mewakili wajah buruk kita sehari-hari --bunglon, buaya, kambing hitam, ulat, burung nasar, beo, dan lain sebagainya. Sifat kehewanan itu, sadar atau tidak, semakin hari semakin merasuk dalam diri kita, manusia Indonesia. Akibatnya, lama-kelamaan kita sendiri makin sulit membedakan, apakah kita ini manusia atau memang hewan asli yang jadi perumpamaan tadi. Jiwa manusia Indonesia, dengan semua ini, tak lama lagi bakal berubah menjadi ‘kebun binatang’ keburukan.
Begitupun, Tuhan sungguh Maha Pengasih dan Penyayang. Ditetapkan-Nya sebuah bulan, yang dengan bulan itu setiap orang berkesempatan mencuci sifat kehewanannya. Meski Ramadhan diciptakannya buat segenap umat Islam, entah kenapa rasanya yang patut paling bersyukur dalam hal ini adalah manusia Indonesia, kita semua. Allah bermurah hati memberi waktu pada kita sebulan penuh untuk menggelontor sifat hewani yang sudah menebal, segera sebelum kita sendiri terlambat menyadari dan tak dapat memulihkan sikap kebinatangan itu.
Persoalannya sekarang, seberapa jauh kemahapengasihan Allah itu diterima oleh kita dengan rasa syukur, sehingga upaya pengembalian fitrah sebagai manusia itu dimanfaatkan sebaik mungkin, serta diwujudkan kelak dalam kehidupan sehari-hari. Jika dengan waktu yang terbuka luas ini kita juga gagal menemukan jati diri kemanusiaan kita, apa boleh buat. Tubuh boleh insani, namun jiwa tetap hewani. Bahkan, hewan yang dinisbahkan namanya pun bisa jadi tak sudi dijadikan perumpamaan sifat buruk kita itu. Seburuk-buruknya hewan, mereka masih tetap berzikir pada Sang Pencipta. Sedangkan kita? Ah, betapa menyedihkan…
Selamat Shiyam Ramadhan. Mohon maaf lahir batin… (ah)
Lain lagi orang Cina, yang identik dengan naga. Singapura, mungkin, cocok diwakilkan dengan hewan singa. Sementara warga Spanyol, barangkali bangga disebut punya semangat sebagai banteng, meskipun faktanya di arena laga hewan ini lebih banyak mati dicucuk sang matador sendiri. Untuk Indonesia, Mahbub punya banyak perumpaan. Walau lambang negara menggunakan burung garuda, dari sudut beranak pinak, orang Indonesia lazim diumpamakan sebagai marmot, katanya. Waktu itu tentu program Keluarga Berencana tengah digalakkan. Dari sudut kepatuhannya, orang Indonesia bisa pula dimisalkan dengan bebek. Untuk ukuran situasi sosial dan politik tahun-tahun itu, perumpamaan tokoh intelektual NU ini cukup pedas dan bikin perih kuping penguasa.
Di masa kini, sesungguhnya ungkapan Mahbub tadi bukan sesuatu yang main-main dan retorika belaka. Pertanyaannya masih amat relevan dilontarkan kembali. Meskipun di jaman internet yang super modern ini sudah tak pantas memirip-miripkan manusia dengan hewan, kenyataannya manusia sebagai makhluk yang diciptakan termulia oleh Tuhan ini kerap berpikir, berucap, dan bertingkah laku bagai hewan, bahkan lebih rendah dari itu.
Entah berapa triliun rupiah dana masyarakat di bank tersedot oleh para konglomerat lewat permainan liar mereka. Dana itu digunakan untuk kepentingan bisnis grupnya sendiri di bidang-bidang yang kerap tak bersentuhan langsung dengan kepentingan publik. Ketika bank bersangkutan kolaps, alih-alih dimintai pertanggungjawabannya di pengadilan, para konglomerat hitam itu –meminjam istilah Kwik Kian Gie—malah dibantu pemerintah, yang dengan pontang-panting menyelamatkan bank sekarat tersebut dengan injeksi dana segarnya.
Mereka, meminjam istilah Yasraf Amir Piliang (Sebuah Dunia yang Menakutkan, Mizan 2001), sesungguhnya adalah mesin parasit, organisme yang menumpang dengan modal seadanya dan menghisap negara semau-maunya. Di negeri ini ada banyak mesin parasit ekonomi, mesin parasit politik, mesin parasit hukum, mesin parasit spiritual, dan sebagainya.
Sesungguhnya, ada banyak lagi hewan yang mewakili wajah buruk kita sehari-hari --bunglon, buaya, kambing hitam, ulat, burung nasar, beo, dan lain sebagainya. Sifat kehewanan itu, sadar atau tidak, semakin hari semakin merasuk dalam diri kita, manusia Indonesia. Akibatnya, lama-kelamaan kita sendiri makin sulit membedakan, apakah kita ini manusia atau memang hewan asli yang jadi perumpamaan tadi. Jiwa manusia Indonesia, dengan semua ini, tak lama lagi bakal berubah menjadi ‘kebun binatang’ keburukan.
Begitupun, Tuhan sungguh Maha Pengasih dan Penyayang. Ditetapkan-Nya sebuah bulan, yang dengan bulan itu setiap orang berkesempatan mencuci sifat kehewanannya. Meski Ramadhan diciptakannya buat segenap umat Islam, entah kenapa rasanya yang patut paling bersyukur dalam hal ini adalah manusia Indonesia, kita semua. Allah bermurah hati memberi waktu pada kita sebulan penuh untuk menggelontor sifat hewani yang sudah menebal, segera sebelum kita sendiri terlambat menyadari dan tak dapat memulihkan sikap kebinatangan itu.
Selamat Shiyam Ramadhan. Mohon maaf lahir batin… (ah)
Sunday, September 18, 2005
Yogya dan Perempuan
Malioboro tinggal dua puluh langkah lagi. Empat hari di Yogya, dua pekan lalu, tentu tidak absah jika tidak menyusuri kawasan populer ini. Malam itu, saya dan rekan sekantor, Mar Ir., berniat mencari makan di depan Pasar Beringharjo. "Sekalian mau nostalgia," katanya. Mas Ir pernah di kota gudeg ini cukup lama, konon sekitar 8 tahun.
Seperti biasa, tukang becak mengerumuni kami, mencari peluang untuk mengantarkan turis (emang saya turis?) keliling kota, atau ke mana saja yang diinginkan. Ongkos tidak mahal-mahal amat. Ada yang menawarkan 2000 perak sekali jalan.
Tetapi, sekonyong-konyong ada yang sangat mengganggu saya. Tawaran mereka berubah menjadi bisikan. "Mau cewek, Mas? Ada, bisa diantar ke sana. Ayu-ayu lho," kata tukang becak yang berkaos parpol, mengikuti saya dengan gigih dari belakang. Saya tolak halus. Mas Ir cuma senyum. Eh, nggak kapok. Yang lain juga menempel, menjajakan usulan 'menarik' lainnya. "Mau yang mahasiswi, Mas, bisa, untuk pijet-pijet..."
Bahwa bisnis wisata dan urusan sahwat hubungannya persis seperti sate kambing dengan bumbu kecap (pas nggak sih, padanannya? ngarang, deh), semua juga tau. Namu kenyataan tawaran soal perempuan itu, entah kenapa, tetap saja sangat mengecewakan saya. Kok jadi begini??
Saya tidak akrab dengan Yogya. Kalaupun pernah ke sini, urusannya cuma sekadar mampir, melanjutkan perjalanan ke kota lain. Meskipun begitu, dalam hati sanubari saya yang paling dalam, saya amat menghormati kota ini. Kota dengan budaya yang tinggi, katanya. Kota dengan suasana intelektual yang lebih kental, bahkan mungkin lebih di atas Bogor, yang jadi kota kedua saya selama ini. Dan spirit itu sudah saya tangkap dan nikmati ketika nongkrong hingga tengah malam di depan Benteng Vredeburg, diselingi kunjungan tak henti para pengamen jalanan. Di sela-sela becak warna-warni, dan guyonan akrab mbok penjual pecel.
Dan itu jadi buyar tidak karuan dengan adanya bisik-bisik tawaran soal perempuan itu. Selalu jika soal perempuan menjadi obyek sahwat seperti ini, saya jadi muak. Saya tanya ke Mas Ir, apakah sudah biasa begini, atau tren-nya baru-baru saja. Dia tidak menjawab pasti. Tetapi, "Dulu juga saya tidak pernah lihat cewek pakai pakaian mini kayak begitu di Yogya ini," katanya, menunjuk sekelompok perempuan muda tengah bercengkerama di bawah pohon beringin, di seberang benteng.
Lalu, bayangan saya terlempar kembali ke beberapa tahun silam, ketika berada di kereta malam Jayabaya dari Nganjuk menuju Jakarta. Seorang lelaki parlente, 40-tahunan, naik dari Madiun hendak ke Yogya, duduk di sebelah saya. Lama ngalor-ngidul, lelaki ini cerita kalau dia ke Yogya ingin bertemu dengan 'peliharaannya". Kucing anggora atau anjing herder? Bukan, peliharaannya itu adalah seorang mahasiswi sebuah perguruan tinggi negeri di kota tersebut. Itu pengakuannya. Ia bertutur, sudah lama menjalin hubungan yang lumayan bergelora dengan perempuan itu. "Kalau mas mau coba, boleh suatu saat kunjungi saya," katanya, berpromosi. Lha? Sial, nggak. Waktu itu, saya lagi tidak berselera menggebuk orang, sungguh. Padahal kalau dipikir-pikir, omongan si pria parlente itu amat saru, tidak sopan, dan sungguh bercita rasa exhibisionist. Entahlah.... Yang jelas, ia turun di Yogya, sambil bersiul-siul dan menyisir rambutnya yang hitam licin.
Apakah Yogya sudah berubah. Atau, memangnya kalau sudah berubah, kenapa? Jangan-jangan saya yang terlalu sensitif. Mengapa saya merisaukan Yogya dan perempuannya, sedangkan di Jakarta soal itu sudah jamak terjadi.
Di Jakarta, di tepian kali dekat jalan Latuharhari, saya pernah observasi, saat menjadi wartawan dahulu. Ketika masuk ke daerah itu pukul 7 malam, segerombolan wanita setengah baya sudah mengerumuni dan memberi tawaran servis dengan harga ala diskon swalayan. Cuma Rp 10.000. Saya abaikan. Ketika berbincang dengan penjual teh botol di lapak liar di sana, tepat di depan lapak ada gubuk plastik hitam, yang pasangan lelaki-perempuan gonta-ganti keluar masuk. Tahu sendiri, apa yang mereka perbuat di sana. Masuk rapi, keluar berantakan. Ketika saya keluar dari sana, perempuan-perempuan yang sama masih memburu, dengan harga kian miring. Rp 3000 short time. Busyet dah....
Lalu, kenapa saya jadi uring-uringan dengan fenomena tawar-menawar perempuan di Yogya tadi? Jawabnya, tidak tahu. Mungkin karena saya terlalu menaruh respek pada Yogya dalam benak saya selama ini. Saya yang tidak terlalu akrab pada kota ini, tetapi percaya bahwa ia memang berbeda dari kota-kota lain. Kota yang saya anggap lebih bermartabat (ah, perasaan terlalu bermain di sini). Atau, saya saja yang terlalu cepat mengambil kesimpulan. Cerita soal perempuan yang bisa melayani macem-macem di Yogya mungkin saja hanya di sekitar hotel. Bukan di kawasan lain. Ya, bisa jadi.
Yang jelas, selain soal insiden ditawari perempuan itu, aura positif Yogya memang seperti bayangan saya. Lain kali saya pasti ke sini. Dengan uang sendiri :) dan mudah-mudahan tidak bertemu lagi dengan tukang becak yang menawari perempuan seperti kemarin. Ampun deh...
Seperti biasa, tukang becak mengerumuni kami, mencari peluang untuk mengantarkan turis (emang saya turis?) keliling kota, atau ke mana saja yang diinginkan. Ongkos tidak mahal-mahal amat. Ada yang menawarkan 2000 perak sekali jalan.
Tetapi, sekonyong-konyong ada yang sangat mengganggu saya. Tawaran mereka berubah menjadi bisikan. "Mau cewek, Mas? Ada, bisa diantar ke sana. Ayu-ayu lho," kata tukang becak yang berkaos parpol, mengikuti saya dengan gigih dari belakang. Saya tolak halus. Mas Ir cuma senyum. Eh, nggak kapok. Yang lain juga menempel, menjajakan usulan 'menarik' lainnya. "Mau yang mahasiswi, Mas, bisa, untuk pijet-pijet..."
Bahwa bisnis wisata dan urusan sahwat hubungannya persis seperti sate kambing dengan bumbu kecap (pas nggak sih, padanannya? ngarang, deh), semua juga tau. Namu kenyataan tawaran soal perempuan itu, entah kenapa, tetap saja sangat mengecewakan saya. Kok jadi begini??
Saya tidak akrab dengan Yogya. Kalaupun pernah ke sini, urusannya cuma sekadar mampir, melanjutkan perjalanan ke kota lain. Meskipun begitu, dalam hati sanubari saya yang paling dalam, saya amat menghormati kota ini. Kota dengan budaya yang tinggi, katanya. Kota dengan suasana intelektual yang lebih kental, bahkan mungkin lebih di atas Bogor, yang jadi kota kedua saya selama ini. Dan spirit itu sudah saya tangkap dan nikmati ketika nongkrong hingga tengah malam di depan Benteng Vredeburg, diselingi kunjungan tak henti para pengamen jalanan. Di sela-sela becak warna-warni, dan guyonan akrab mbok penjual pecel.
Dan itu jadi buyar tidak karuan dengan adanya bisik-bisik tawaran soal perempuan itu. Selalu jika soal perempuan menjadi obyek sahwat seperti ini, saya jadi muak. Saya tanya ke Mas Ir, apakah sudah biasa begini, atau tren-nya baru-baru saja. Dia tidak menjawab pasti. Tetapi, "Dulu juga saya tidak pernah lihat cewek pakai pakaian mini kayak begitu di Yogya ini," katanya, menunjuk sekelompok perempuan muda tengah bercengkerama di bawah pohon beringin, di seberang benteng.
Lalu, bayangan saya terlempar kembali ke beberapa tahun silam, ketika berada di kereta malam Jayabaya dari Nganjuk menuju Jakarta. Seorang lelaki parlente, 40-tahunan, naik dari Madiun hendak ke Yogya, duduk di sebelah saya. Lama ngalor-ngidul, lelaki ini cerita kalau dia ke Yogya ingin bertemu dengan 'peliharaannya". Kucing anggora atau anjing herder? Bukan, peliharaannya itu adalah seorang mahasiswi sebuah perguruan tinggi negeri di kota tersebut. Itu pengakuannya. Ia bertutur, sudah lama menjalin hubungan yang lumayan bergelora dengan perempuan itu. "Kalau mas mau coba, boleh suatu saat kunjungi saya," katanya, berpromosi. Lha? Sial, nggak. Waktu itu, saya lagi tidak berselera menggebuk orang, sungguh. Padahal kalau dipikir-pikir, omongan si pria parlente itu amat saru, tidak sopan, dan sungguh bercita rasa exhibisionist. Entahlah.... Yang jelas, ia turun di Yogya, sambil bersiul-siul dan menyisir rambutnya yang hitam licin.
Apakah Yogya sudah berubah. Atau, memangnya kalau sudah berubah, kenapa? Jangan-jangan saya yang terlalu sensitif. Mengapa saya merisaukan Yogya dan perempuannya, sedangkan di Jakarta soal itu sudah jamak terjadi.
Di Jakarta, di tepian kali dekat jalan Latuharhari, saya pernah observasi, saat menjadi wartawan dahulu. Ketika masuk ke daerah itu pukul 7 malam, segerombolan wanita setengah baya sudah mengerumuni dan memberi tawaran servis dengan harga ala diskon swalayan. Cuma Rp 10.000. Saya abaikan. Ketika berbincang dengan penjual teh botol di lapak liar di sana, tepat di depan lapak ada gubuk plastik hitam, yang pasangan lelaki-perempuan gonta-ganti keluar masuk. Tahu sendiri, apa yang mereka perbuat di sana. Masuk rapi, keluar berantakan. Ketika saya keluar dari sana, perempuan-perempuan yang sama masih memburu, dengan harga kian miring. Rp 3000 short time. Busyet dah....
Lalu, kenapa saya jadi uring-uringan dengan fenomena tawar-menawar perempuan di Yogya tadi? Jawabnya, tidak tahu. Mungkin karena saya terlalu menaruh respek pada Yogya dalam benak saya selama ini. Saya yang tidak terlalu akrab pada kota ini, tetapi percaya bahwa ia memang berbeda dari kota-kota lain. Kota yang saya anggap lebih bermartabat (ah, perasaan terlalu bermain di sini). Atau, saya saja yang terlalu cepat mengambil kesimpulan. Cerita soal perempuan yang bisa melayani macem-macem di Yogya mungkin saja hanya di sekitar hotel. Bukan di kawasan lain. Ya, bisa jadi.
Yang jelas, selain soal insiden ditawari perempuan itu, aura positif Yogya memang seperti bayangan saya. Lain kali saya pasti ke sini. Dengan uang sendiri :) dan mudah-mudahan tidak bertemu lagi dengan tukang becak yang menawari perempuan seperti kemarin. Ampun deh...
Subscribe to:
Posts (Atom)