Thursday, June 04, 2020

NGALAP BERKAH


"Helping others is the way we help ourselves" (Oprah Winfrey)

Dalam setiap kegiatan (operasi) kemanusiaan, seringkali orang fokus kepada para pembawa bantuannya. Gelar berani, hebat, berjiwa welas asih tinggi, dan entah apa lagi, selalu muncul mengiringi.

Menambah semangat dan bangga? Iya, umumnya demikian. Namun, akan sangat mencemaskan kalau hal tersebut bermetamorfosa menjadi sombong.

Dalam setiap bantuan kemanusiaan, sentral perhatian haruslah para penerima bantuan. People affected by crises. The most vulnerable ones. Kepada merekalah segala rencana disusun, strategi diupayakan, agar ada jiwa dan kehidupan yang terselamatkan. Agar kerentanan berubah menjadi ketenangan.

Dan yang tak kalah pentingnya, namun kerap dilupakan, adalah para donatur, para dermawan di belakang semua kegiatan ini. Merekalah yang tergerak hatinya untuk menyisihkan harta demi membantu orang lain.

Adapun para relawan, pembawa bantuan, dan pelaksana lapangan, merekalah sekelompok individu yang 'ngalap berkah' Yang Maha Pengasih lewat kedermawanan para donatur, dan penerimaan tulus para warga yang terdampak krisis. Mereka adalah para fasilitator who use their heart for kindness. Melakukan sesuatu di saat orang lain justru menghindar dari hal tersebut.

Jika ada banyak narasi tentang para relawan yang bergiat membantu sesama, hendaklah itu dipandang sebagai upaya penegakan akuntabilitas lembaga. Ada donasi yang diberikan. Ada amanah yang dititipkan. Ada harapan yang dibebankan.

Segera setelah semua itu dijalankan, maka narasi-narasi yang ada merupakan simbol pernyataan bahwa amanah telah ditunaikan. Harapan telah ditanamkan. Tugas telah dituntaskan.

Kita semua, pada satu titik, dipersatukan oleh sebuah rasa. Kemanusiaan.


No comments: