Friday, December 23, 2005

Menguak Misteri Lamun

Bicara soal kekayaan alam laut, asosiasi kita biasanya langsung tertuju pada terumbu karang, yang kerap disebut sebagai “hutan laut”. Terumbu karang sudah lazim dikenal keindahan warna-warni karangnya, berikut ikan dan hewan lain yang hidup di kawasan tersebut. Atau, ada juga yang langsung menunjuk hutan bakau atau mangrove. Ini berupa tanaman khas di kawasan pesisir, yang akarnya menghujam ke perairan dan menjadi tempat berlindung serta mencari makan banyak hewan.

Bagaimana dengan padang lamun? Dari namanya saja, sebagian besar orang bertanya-tanya, jenis kehidupan apa gerangan padang lamun ini. Mengapa disebut padang lamun, apakah ada di Indonesia? Dan yang terpenting, sejauh mana perannya bagi manusia dan kehidupan laut?

Hutan Hijau yang Beradaptasi

Bagi yang belum pernah mengenal lamun, tanaman yang biasa disebut seagrass ini merupakan tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang sudah sepenuhnya menyesuaikan diri hidup terbenam di dalam laut. Karena kemampuan adaptasinya, tumbuhan ini mampu hidup di lingkungan laut atau medium air asin. Disebut padang lamun, karena ia tumbuh dalam satu kawasan luas, yang jika dilihat mirip dengan bentangan padang rumput di darat.

Tanaman lamun bisa hidup normal dalam keadaan terbenam, dan mempunyai sistem perakaran jangkar (rhizoma) yang berkembang baik. Mengingat pada dasarnya tak berbeda dengan tanaman darat, maka lamun punya keunikan yaitu memiliki bunga dan buah yang kemudian berkembang menjadi benih. Semuanya dilakukan dalam keadaan terbenam di perairan laut. Hal inilah yang menjadi perbedaan nyata lamun dengan tumbuhan yang hidup terbenam di laut lainnya seperti makro-alga atau rumput laut (seaweed).

Untuk bisa hidup normal, akar tanaman lamun cukup kuat menghujam ke dasar perairan tempat tumbuh. Akar ini tidak berfungsi penting dalam pengambilan air –sebagaimana tanaman darat-- karena daun dapat menyerap nutrien (zat gizi) secara langsung dari dalam air lat. Tudung akarnya dapat menyerap nutrien dan melakukan fiksasi nitrogen. Sementara itu, untuk menjaga agar tubuhnya tetap mengapung dalam kolom air, lamun dilengkapi dengan rongga udara.

Lamun tumbuh subur terutama di daerah terbuka pasang surut dan perairan pantai yang dasarnya bisa berupa lumpur, pasir, kerikil, dan patahan karang mati, dengan kedalaman hingga empat meter. Malah di perairan yang sangat jernih, beberapa jenis lamun ditemukan tumbuh di kedalaman 8 hingga 15 meter.


Di daratan kita sering melihat, misalnya, hutan pinus. Sejauh mata memandang, hutan tersebut melulu diisi dengan pinus. Di tempat lain, ada pula hutan yang berisi aneka ragam jenis pohon. Demikian juga halnya dengan padang lamun, Di suatu tempat, ia dapat berbentuk vegetasi tunggal, tersusun atas satu jenis lamun yang tumbuh membentuk padang lebat. Sementara di tempat lain, ada vegetasi campuran yang terdiri dari dua hingga dua belas jenis lamun yang tumbuh bersama-sama.

Spesies lamun yang biasanya tumbuh dengan vegetasi tunggal adalah Thalassia hemprichii, Enhalus acoroides, Halophila ovalis, Halodule uninervis, Cymodocea serrulata, dan Thalassodendron ciliatum.

Kaya Sumber Daya

Sebagaimana terumbu karang, padang lamun menjadi menarik karena wilayahnya sering menjadi tempat berkumpul berbagai flora dan fauna akuatik lain dengan berbagai tujuan dan kepentingan. Di padang lamun juga hidup alga (rumput laut), kerang-kerangan (moluska), beragam jenis ekinodermata (teripang-teripangan), udang, dan berbagai jenis ikan.

Ikan-ikan amat senang tinggal di padang lamun. Ada jenis ikan yang sepanjang hayatnya tinggal di padang lamun, termasuk untuk berpijah (berkembang biak). Beberapa jenis lain memilih tinggal sejak usia muda (juvenil) hingga dewasa, kemudian pergi untuk berpijah di tempat lain. Ada juga yang hanya tinggal selama juvenil. Sebagian lagi memilih tinggal hanya sesaat. Suatu penelitian menunjukkan, jumlah ikan bernilai ekonomis penting yang ditemukan di kawasan padang lamun relatif kecil. Itu berarti bahwa padang lamun lebih merupakan daerah perbesaran bagi ikan-ikan tersebut.

Dari sekian banyak hewan laut, penyu hijau (Chelonia mydas) dan ikan duyung atau dugong (Dugong dugon) adalah dua hewan ‘pencinta berat’ padang lamun. Boleh dikatakan, dua hewan ini amat bergantung pada lamun. Hal ini tak lain karena tumbuhan tersebut merupakan sumber makanan penyu hijau dan dugong. Penyu hijau biasanya menyantap jenis lamun Cymodoceae, Thalassia, dan Halophila. Sedangkan dugong senang memakan jenis Poisidonia dan Halophila. Dugong mengkonsumsi lamun terutama bagian daun dan akar rimpangnya (rhizoma) karena dua bagian ini memiliki kandungan nitrogen cukup tinggi.

Peran Terabaikan

Tak ada satu pun jenis tumbuhan dan hewan di dunia ini yang diciptakan Allah tanpa memiliki fungsi dan peran. Begitu pula padang lamun, di alam berfungsi sebagai penghasil detritus (sampah) dan zat hara yang berguna sebagai makanan bagi makhluk hidup laut lainnya. Detritus daun lamun yang tua diuraikan (dekomposisi) oleh sekumpulan hewan dan jasad renik yang hidup di dasar perairan, seperti teripang, kerang, kepiting, dan bakteri. Hasil penguraian ini berupa nutrien yang tercampur atau terlarut di dalam air. Nutrien ini tidak hanya bermanfaat bagi tumbuhan lamun, melainkan juga bermanfaat untu pertumbuhan fitoplankton, dan selanjutnya zooplankton, dan juvenil ikan/udang.

Di sisi lain, tanaman lamun mampu mengikat sedimen dan menstabilkan substrat yang lunak. Sebagian hewan memanfaatkan lamun sebagai tempat berlindung, mencari makan, tumbuh besar, dan memijah. Juntaian dedaunan lamun juga berguna menjadi tudung pelindung dari sengatan matahari bagi penghuni ekosistem ini.

Indonesia Sarang Lamun

Di Indonesia, lamun yang ditemukan terdiri atas tujuh marga (genera). Dari 20 jenis lamun yang dijumpai di perairan Asia Tenggara, 12 di antaranya dijumpai di Indonesia. Penyebaran padang lamun di Indonesia cukup luas, mencakup hampir seluruh perairan Nusantara yakni Jawa, Sumatera, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara, dan Irian Jaya. Dari seluruh jenis, jenis Thalassia hemprichii merupakan yang paling dominan di Indonesia.

Keanekaragaman hayati lamun yang paling tinggi ada di perairan Teluk Flores dan Lombok, masing-masing ada 11 spesies. Jika dibandingkan, maka keanekaragaman hayati lamun di perairan Indonesia bagian timur ternyata lebih tinggi dibandingkan dengan bagian barat. Hal ini diduga karena posisi daerah bagian timur yang lebih dekat dengan pusat penyebaran lamun di perairan Indo Pasifik, yaitu Filipina (16 jenis) dan Australia Barat yang memiliki 17 jenis.

Padang lamun memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan bagi berbagai kepentingan, misalnya sebagai tempat kegiatan budidaya laut berbagai jenis ikan, kerang-kerangan dan tiram. Karena pemandangannya yang tak kalah eksotik dibandingkan terumbu karang, padang lamun bisa dijadikan tempat rekreasi atau pariwisata. Ia juga bisa diolah sebagai umber pupuk hijau.

Rentan Kerusakan

Sayangnya, ekosistem ini amat rentan terhadap kemerosotan lingkungan yang diakibatkan kegiatan manusia. Di kawasan pantai, manusia melakukan pengerukan dan pengurugan demi pembangunan pemukiman pantai, indusri, dan saluran navigasi. Ini mengakibatkan rusak totalnya padang lamun. Perusakan habitat di lokasi pembuangan hasil pengerukan akhirnya terjadi. Di samping itu, terdapat dampak sekunder pada perairan laut yaitu meningkatnya kekeruhan air, dan terlapisnya insang hewan air oleh lumpur dan tanah hasil pengerukan. Hewan-hewan air tersiksa dan akhirnya mati.

Ancaman juga datang dari pencemaran limbah industri, terutama logam berat dan senyawa organoklorin. Dua jenis bahan berbahaya ini mengakibatkan terjadinya akumulasi (penumpukan kandungan) logam berat padang lamun melalui proses yang disebut magnifikasi biologis. Persis seperti proses penumpukan kandungan merkuri yang menimpa kerang-kerangan di Teluk Jakarta.

Selain itu, tindakan manusia yang suka membuang sampah sembarangan ke laut mengakibatkan turunnya kandungan oksigen terlarut di kawasan padang lamun, serta dapat menimbulkan eutrofikasi (peningkatan kesuburan plankton). Hal ini bisa memancing meledaknya pertumbuhan perifiton, sejenis organisme yang hidup menempel di organisme lain. Perifiton yang banyak menempel membuat daun lamun kesulitan menyerap sinar matahari untuk proses fotosintesisnya. Kejadian serupa terjadi jika terjadi pencemaran minyak yang melapisi permukaan daun lamun.

Ada pula pencemaran limbah pertanian -terutama pestisida- yang mematikan hewan-hewan yang hidup di padang lamun. Pupuk yang masuk ke perairan laut di mana padang lamun terbentang juga memancing timbulnya eutrofikasi.

Padang lamun mungkin kurang populer dibandingkan dengan jenis ekosistem laut lainnya. Tetapi dengan mengetahui peran dan kegunaannya bagi alam dan manusia, kita bisa memahami betapa mengerikannya jika padang lamun juga dirusak dan berkurang habitat hidupnya. (ah)

Sunday, November 20, 2005

Kembali ke Alam

Image hosted by Photobucket.comPekan-pekan terakhir sebelum libur lebaran lalu, saya kedatangan adik dan kakak ipar, yang bergiat di Federasi Serikat Petani Indonesia (FSPI). Sembari melepas kangen, ada kegiatan lain yang cukup menarik minat saya dan istri. Kebetulan, lembaga yang peduli dengan nasib petani ini punya perhatian lebih terhadap sistem pertanian yang ramah lingkungan. Salah satunya, dengan mengembangkan pertanian organik.

Di Bogor, mereka membuka lahan percobaan di kawasan Darmaga, Kampus IPB. Tepatnya sih, di belakang gudang DOLOG Bogor. Maka, Minggu sore tanggal 23 Oktober lalu, kami berempat meluncur ke lahan yang luasnya kurang lebih 7000 meter persegi tersebut.

Apa itu Pertanian Organik?

Image hosted by Photobucket.comMengutip dari beberapa situs di internet, pertanian organik merupakan sistem pertanian yang mempromosikan mutu lingkungan, sosial dan slogan ekonomi dalam memproduksi pangan dan serat. Intinya, sistem ini memberikan penghargaan terhadap kapasitas alami tanaman, hewan dan kondisi lokal, yang bertujuan untuk mengoptimalkan kualitas aspek pertanian dan lingkungan, dan pengendalian penggunaan pupuk sintetis, pestisida dan bahan-bahan farmasi. Pertanian organik secara dramatis mengurangi masukan luar (external input) pertanian.

Yang pernah saya baca, peningkatan produksi dan kesehatan tanaman untuk pertanian model ini berbeda dengan yang dilakukan oleh sistem intensifikasi yang sekarang lazim dilakukan. Untuk sistem organik, peningkatannya dilakukan dengan rotasi tanam, tumpang sari, penanaman varietas yang tepat, pengendalian hama secara biologis, daur ulang nutrisi dan tindakan lainnya.Di dunia saat ini, luas lahan yang bersertifikat pertanian organik diperkirakan mencapai 25 juta hektar. Ada kemungkinan bahwa terdapat 10-20 juta hektar lahan lainnya yang tidak bersertifikat pertanian organik, terutama di negara-negara berkembang (terutama di Amerika Latin), yang sering berkenaan sebagai pertanian ekologi (agro-ecology). Di beberapa negara berkembang, banyak petani yang mempraktikkan salah satu jenis pertanian tradisional yang tidak mengandalkan dan mengijinkan penggunaan masukan (input) yang dibeli. Di sebuah situs diungkap, bahwa di Uganda dan Tanzania rata-rata penggunaan pupuk kimia sintetis adalah kurang dari 1 kg per hektar per tahun. Ini artinya banyak lahan tidak pernah dipupuk.


Image hosted by Photobucket.comSesungguhnya, pertanian organik bukan soal tren atau gaya-gayaan. Basis pengembangan pertanian ini sebenarnya bisa ditarik secara lebih “ideologis”, yakni betapa sesuatu yang alami tengah dipinggirkan oleh artificial semacam pertanian intensif yang tampak mampu memberi keuntungan berlimpah, namun menyimpan sejuta ancaman di belakangnya. Sebut saja pola hama-penyakit yang juga berubah, penggunaan pupuk dan pestisida yang menggila dan mengganggu keseimbangan alam, hingga yang paling menyentuh kepentingan petani: penciptaan ketergantungan mereka pada pupuk dan pestisida buatan pabrik.

Selada, Kangkung, Bayam
Image hosted by Photobucket.com
Letak ladang itu tidak jauh dari rumah, tepatnya ke arah kampus IPB. Yang segera tampak ketika menyusuri pematang ladang pertanian organik ini adalah warna hijau segar selada dan bayam, yang mendominasi beberapa blok tanaman di sebelah selatan ladang. Tanamannya gemuk-gemuk, sehat, dan mengundang decak kagum. Di blok lainnya ada kangkung siap panen. Lalu ada blok berisikan jagung yang baru berbuah, deretan cabai merah, hingga sawi cesin dan kemangi. Nun di sebelah utara, ada beberapa blok dijadikan kolam ikan nila.

Ladang percobaan ini dikelola beberapa tenaga muda lulusan IPB. Mereka tampak berbaur dengan para pekerja lokal di saung yang berdiri tepat di tepi ladang. “Mereka juga kalau malam biasa tidur di situ,” kata adik saya. Hebat. Dalam hati saya agak malu juga. Saya sarjana perikanan, jurusan budidaya pula. Praktik lapang saya di semester akhir dahulu mengambil topik pembibitan dan pembesaran ikan hias air tawar. Sedangkan topik skripsi adalah meneliti bakteri Aeromonas hydrophila yang kerap menyerang ikan budidaya air tawar. Tapi, bujubuneng –kata Mandra- saya menjerumuskan diri ke dunia pers, lalu akhirnya di bidang komunikasi, hingga kini. Masih syukur (!) tiga tahun belakangan saya masih bersinggungan dengan dunia perikanan, tatkala bekerja di proyek pengelolaan sumberdaya pesisir alias CRMP.

Hasil pertanian organik di ladang percobaan ini bahkan sudah mulai dijual secara lokal. Jangan heran, saya dan istri adalah penggemar dan pelanggan tetap. Mereka melepas hasil panen ke sebuah kios milik seorang Ibu di Pasar Yasmin. Pasokannya juga lumayan teratur, sepekan sekali, terutama untuk produk kangkung, bayam, dan kemangi.

Panen Euy…


Image hosted by Photobucket.comTentu, saya dan istri tidak sekadar melihat. Oleh Bang Henry, kami ditawari untuk memanen beberapa jenis tanaman. Maka, kami memetik kangkung, selada, dan bayam. Di blok kacang tanah, saya tak tahan untuk mencoba melihat hasilnya. Tinggal cabut, maka kumpulan kacang tanah segar hasil panen langsung ditumpuk di baskom. Jumlah sayur yang kami ambil cuImage hosted by Photobucket.comkup banyak. Soalnya, mau dibagi-bagikan ke beberapa teman di komplek. Sekalian promosi untuk back to nature, boleh toh? Hitung-hitung jadi voluntary publicist buat gerakan ini.

Sekadar informasi, di Sumatera Utara kampung saya sendiri, pengembangan pertanian organik juga pesat dilakukan oleh FSPI ini. Mereka punya Green Shop tempat memasarkan produk-produk dari ladang pertanian bebas pestisida yang mereka fasilitasi.

Organik di Siantar


Yang menyenangkan lagi, saya berkesempatan sekali lagi mengunjungi lahan pengembangan pertanian organik di Sumatera Utara, tepatnya di pinggiran Kota Pematang Siantar. Ceritanya, saat mudik lebaran, kami sekeluarga sempat berwisata ke Danau Toba. Ketika dalam perjalanan pulang ke Medan, abang ipar saya mengajak kami untuk singgah di pertanian organik yang dikelola oleh Jandri Damanik. Beliau ini alumnus FISIP-USU, tapi segera jatuh hati dengan sistem pertanian organik, dan sempat belajar khusus tentang hal tersebut ke Jepang.

Di ladang seluas sekitar setengah hektar tersebut, pemandangan spektakuler yang pertama kali menyambut adalah ratusan bibit ikan mas merah yang berenang-renang di kolam. Wuih… Kami disambut oleh Jandri (yang punya kebiasaan unik, bicara dengan anak balitanya dalam bahasa Inggris agar si bocah sekalian belajar). Ia mengembangkan juga pembuatan pupuk bokashi, yang mencampurkan beberapa jenis tanaman dan pupuk kandang.

Image hosted by Photobucket.comImage hosted by Photobucket.com Image hosted by Photobucket.com
Image hosted by Photobucket.com
COba lihat! Ikan-ikan yang sehat, bibit tomat, tomat muda, dan pupuk bokashi di ladang....

Di bukit sebelah rumahnya, ada sepetak tanah tempat memelihara ayam. Lalu di atasnya, lahan yang tengah dipersiapkan untuk menanam beberapa jenis sayuran. Saya melihat bibit-bibit tomat yang tengah disiapkan untuk dipindah. Hanya saja, dari segi sistematisasinya, lahan di Darmaga sudah lebih tertata. Kami sempat pula mengambil beberapa paket beras organik sebagai oleh-oleh ke Medan.

Sebenarnya, ada satu tempat lagi yang saya penasaran ingin mengunjunginya, yaitu lahan pertanian organik yang dikelola Hiro, pemuda asal Jepang, di kawasan Berastagi, Tanah Karo. Hiro juga sudah teratur mengirimkan hasil panennya ke Medan untuk dijual. Mungkin lain kali, kalau ada kesempatan, saya ingin mendatangi lahannya tersebut.

Saatnya Dikampanyekan

Produk pertanian organik lokal sendiri, dari yang saya baca di koran, kini mengalami lonjakan peningkatan pangsa pasar nasional. Di harian Pikiran Rakyat, disebutkan oleh Asosiasi Pelaku Agrobisnis Pertanian Organik (Aspaindo), peningkatan itu mencapai 60 persen selama beberapa bulan terakhir. Ini terutama terjadi di sejumlah pasar modern di Bandung dan Jakarta. Tak tanggung-tanggung, permintaan pasar itu dua sampai tiga kali lipat bertambah.

Itu berita bagus. Hanya, sistem pertanian organik hendaknya bertujuan tidak sekadar mengikuti selera pasar. Lebih penting dari itu, kesejahteraan petani kecil, kesadaran untuk mencegah dominasi pemodal melalui penyediaan pupuk pabrik dan pestisida, dan pelestarian lingkungan alam, hendaknya justru dijadikan sasaran utama.

Dari jalan-jalan ke dua lokasi pertanian organik itu, saya jadi makin kesengsem dan suatu saat mungkin akan lebih serius mengkampanyekannya. Namun, setidaknya, jika anda ingin mengetahui soal sistem pertanian ramah lingkungan ini lebih lanjut, dan bagaimana ia dapat membantu memberdayakan petani, silakan kontak kantor FSPI yang ada di Mampang XIV No. 5 (
www.fspi.or.id). Yang ada di sekitar Bogor, silakan datang ke Pasar Yasmin, tepatnya Kios Pa Tani (singkatan dari Pasar Tani), yang dikelola oleh Ibu Ginting. Di sana, insya-allah, tiap minggu pasokan sayur organik dan beras ada disediakan. (ah)

Thursday, October 20, 2005

"Media Cetak, Murdoch, GATRA, dan Dinosaurus

Majalah GATRA edisi 8 Oktober 2005 halaman 73 memuat artikel menarik tentang media. Tak tanggung-tanggung, isinya mengutip pendapat salah satu kaisar penguasa media massa dunia, Rupert Murdoch. Pak Murdoch bilang, ia skeptis melihat masa depan koran (dan media cetak secara umum). "Saya yakin, banyak editor dan reporter yang sudah kehilangan relasi dengan pembacanya," katanya, saat berbicara di hadapan Asosiasi Editor Surat Kabar Amerika pada April lalu.


Image hosted by Photobucket.com Image hosted by Photobucket.com Image hosted by Photobucket.com
Intinya, Murdoch mau bilang bahwasanya kematian koran dan media cetak lain tinggal menunggu waktu. Nasibnya tak beda dengan dinosaurus. Punah oleh evolusi, kata GATRA. Wassalam. Alasan kuat lainnya, apa lagi kalau bukan soal salah satu pemasukan media: iklan. Perusahaan pemasang iklan di media cetak akan mengalihkan strategi mereka ke media elektronik dan internet. Pada akhirnya, media elektronik juga harus bersaing dengan internet. Terutama dengan produk seperti blog dan news portal. "Sekarang perusahaan media, termasuk perusahaan saya, harus lebih paham soal internet," kata Murdoch, sebagaimana dikutip GATRA.

Menilik artikelnya, agaknya lumayan serius. Mas Basfin, sang penulis, menjelaskan bahwasanya ramalan era kematian koran sebenarnya bukan hal baru. “Para peneliti media pun sebelumnya mengatakan hal serupa,” ujarnya. Ada banyak data yang dikutip. Dan itu sahih. Dipaparkan pula secara ringkas soal jurnalisme baru via media blog. Hm, menarik, nih. Hingga akhirnya artikel ditutup dengan pertanyaan: “Jadi, sampai kapan media cetak bertahan?” Menurut buku Saving The Vanishing Newspaper: Journalism in The Information Age karangan Philip Meyer, bila trend digital semacam ini terus berlanjut, diperkirakan tahun 2040 masih ada sisa-sisa pembaca koran. Lewat tahun itu, semua goes digital.

Keniscayaan?

Apa yang dipaparkan dalam artikel itu, dalam beberapa hal amat benar. Media cetak, mengutip William R. Rivers dkk. (Mass Media and Modern Society, 2nd Edition) saat ini harus bekerja keras menyesuaikan diri dengan kondisi-kondisi baru. Banyak media besar berusia tua, akhirnya harus menyerah. Ini dialami, misalnya, oleh Life dan The Saturday Evening Post, yang terbit di Amerika sono.

Khusus buat majalah, sebagai salah satu produk media cetak, kondisi sulit bergerak ini makin terasa. Jim Willis dan Diane B. Willis bahkan menulis bab khusus dalam bukunya New Directions in Media Management (Allyn and Bacon, 1993) tentang siklus hidup majalah yang tak beda dengan manusia: lahir - jadi orok - tumbuh besar – untuk kemudian matang – tua - dan akhirnya mati (agak absurd juga soal ini dibahas, mengingat siklus itu sesungguhnya amat general, berlaku buat media apa saja).

Kembali, pertanyaan pokoknya adalah: benarkah media cetak akan “wassalam”? Teknologi rupa-rupanya menjadi satu alasan dominan (setidaknya dalam penjelasan artikel di GATRA tersebut) mengapa media cetak terus tersudut , untuk kemudian –sebagaimana dilontarkan Rupert Murdoch—punah. Koran dan majalah digital menggantikannya.

Pertama, ada kesalahpahaman kecil di sini. Tren turunnya oplah seolah-olah semata karena orang beralih ke dunia digital. Sesungguhnya, ada banyak faktor lain yang jarang dibahas. Di Amerika dan Eropa, turunnya oplah ditengarai juga karena meningkatnya populasi kaum minoritas di suatu negara. Misalnya, di Amerika, populasi kaum hispanik naik menjadi 9,2 persen tahun 2000 dari 7,2 tahun 1998. Karena amat lekat dengan budaya mereka, media cetak yang ada tidak memenuhi keinginan dan kebutuhan kaum minoritas, sementara jumlah mereka terus meningkat. Apa yang terjadi, mereka memilih tidak membeli dan membaca koran atau media cetak umum yang dijajakan.

Di lain pihak, jumlah keluarga inti di kawasan ini makin menurun, sementara banyak media tua terus berperan secara tradisional –diperuntukkan hanya untuk kepala rumah tangga dan tidak memperhatikan kebutuhan kaum ibu dan anak. Walhasil, peminatnya akan terus menyempit, hingga akhirnya hilang. Belum lagi dengan makin menurunya tingkat pertumbuhan populasi secara umum.

Adapun pengaruh teknologi baru, memang demikianlah adanya. Berita internet, dan berita online lainnya membuat orang malas membaca edisi hardcopy. Selain itu, berbagai layanan informasi elektronik makin menghujani pembaca di masa kini. Jasa informasi elektronik memang sudah mulai mewabah di AS, katakanlah seperti Nexis, Lexism, Compuserv, Dialog, DataTimes, dan VuText. Semua versi ini menyediakan naskah ratusan berita koran, majalah, laporan-laporan dan publikasi pemerintah, juga salinan putusan hukum dan berbagai komentar dari beragam sumber.

Tetapi di sisi lain, Murdoch (dan GATRA yang menulis) mungkin lupa, atau belum membaca penjelasan Jim Willis dan Diane B. Willis dalam bab lainnya dari buku yang sama. Tak banyak yang paham, bahwa berkali-kali studi dan kajian telah dilakukan oleh perusahaan media, yang mengujicobakan penyampaian berita koran secara elektronik kepada pembacanya. Hasilnya menunjukkan, orang (pembaca) sesungguhnya tidak ingin menjadi editor (penyunting) untuk dirinya sendiri (Sesuatu yang diagung-agungkan media digital, yang meletakkan keinginan dan kendali di tangan user). Mereka ingin editor-lah yang melakukannya buat mereka, menyaring berita mana yang menarik dan dan dianggap informasi yang layak dibaca pembeli, dan disajikan sesuai dengan kepentingannya serta ketertarikan pembaca. Untuk soal ini, media cetaklah yang bisa melakukannya.

Dengan kata lain, sifat dasar manusia sesungguhnya tak pernah hilang: ingin dilayani dengan baik oleh pihak lain. Media online dan digital memang menyediakan kelengkapan, tetapi silakan cari dan putuskan sendiri. Di media cetak, pembaca dilayani dengan penyediaan berita terpilih.

Lagipula, kemajuan digital tidak lantas otomatis me-nasakh-kan bacaan cetak. Kustomisasi, itulah kata kuncinya. Bahwa media cetak akan semakin mengecil porsinya, itu mungkin benar. Lihat saja grafik yang dimuat oleh Joseph Straubhar dan Robert LaRose dalam “Media Now” (Wadsworth, 2005). Media cetak, entah itu koran, majalah, akan menjadi lebih spesifik, menekuni niche (ceruk) yang amat sempit. Di ceruk-ceruk sempit inilah media cetak akan bermain. Dan ceruk-ceruk ini akan terus ada, dan berkembang. Media-media cetak yang pintar dan jeli memanfaatkan ceruk-lah yang bertahan.

Kemudian, ada alasan lain untuk menerangkan bahwasanya media cetak tak (semudah itu) akan mati. Saya suka menganalogikannya dengan keberadaan sepeda. Kendaraan ini ditemukan awal abad 18 (mula-mula dinamai velocipede). Lama-kelamaan sepeda didesak oleh motor, lalu mobil, dan pesawat. Apakah sepeda akan punah? Rasanya belum, atau tidak. Minimal, hingga usianya yang masuk tiga abad, sepeda tetap dipakai dan eksis. Ada yang sebagai koleksi belaka, ada yang sebagai hobi, dan di beberapa tempat ada yang masih menggunakannya sebagaimana fungsi awal, angkutan darat.

Atau, media cetak akan kembali ke posisi awalnya, menjadi bacaan para “elite” yang tidak semua orang dapat membacanya. Artinya, ketika bacaan digital menjadi keniscayaan, media cetak justru menjadi barang antik, yang memiliki pembaca dan penggemar tersendiri. Ia tidak mati, hanya beralih wujud melayani penggemar khusus.

Print Media Not Dinosaurs

Jadi, kalau Murdoch si raja media meneriakkan farewell to print media, lalu diamini oleh GATRA, saya sebaliknya amat menentangnya. Media cetak bukanlah dinosaurus. Malah agak disesalkan, pekerja media cetak justru “menyerah” dengan ramalan Murdoch tentang kepunahannya. Mengapa orang media cetak justru tidak pede dengan masa depan lahannya sendiri?

Karena itu, menurut saya, jangan malu untuk berseru: “Print media is not dinosaurs. Print media will never die...” (ah)

Thursday, October 06, 2005

Mission is Delayed...

Ringkas saja, rencana ekspedisi ke Ujung Kulon bareng Tony, Tammy, Pasus, dkk. terpaksa dimundurkan. Pekan-pekan terakhir September lalu, yang diprediksi oleh teman2x CRMP II bakal santai, ternyata justru sebaliknya. Mereka jumpalitan, karena naskah buku lessons learned-nya telat sampai ke meja lay out. Akhirnya, ya kerja keras sampai titik terakhir. Kasian juga melihat mereka.

Sempat pula kegagalan itu ingin diganti dengan makan seafood bersama (kepiting saus tiram andalan Tony) di Kelapa Gading. Sayang, hingga Jumat sore, beberapa hari sebelum puasa, saya telepon ke Ratu Plasa dan ternyata Pasus harus begadang sampai malam. "Udah, ke sini aja, ntar jam 19.00-an kita kelar," bujuk Pasus. Wah, nehi, tidak, saya ada janji di Bogor dan harus segera pulang (ingat lagu Slank: "Aku harus cepat pulang... jangan terlambat tiba di rumah..").

So, rencana masih tetap akan dijalankan, semua sepakat. Hanya saja, ya itu, ditunda hingga pasca lebaran. Saya sudah wanti-wanti, kalaupun akan ke sana, harus setelah pekan ke-2 November. Itu pun harus cek cuaca pesisir dan laut UK lebih dahulu. Akhir-akhir tahun biasanya cuaca tidak menentu.

Hm, mudah-mudahan aja penundaan ini yang terakhir... (ah)

Friday, September 30, 2005

Ibarat Hewan Apakah Kita Ini?

Kolumnis handal, almarhum Mahbub Djunaidi, menuliskan judul tersebut dalam sebuah kolomnya di Majalah Tempo, 32 tahun silam, tepatnya bulan Juni 1973. Seperti biasa, Mahbub lihai bermain dengan fakta dan kata-kata. Orang Jerman, sebutnya, tak ubahnya bak serigala. Beraninya main keroyok. Ia tak sembarang ucap. Keterangan itu dikutip Mahbub dari buku W. Trotter, Instinct of The Herd in Peace and War, tahun 1916. Trotter sendiri adalah orang Inggris. Mohon maklum.

Lain lagi orang Cina, yang identik dengan naga. Singapura, mungkin, cocok diwakilkan dengan hewan singa. Sementara warga Spanyol, barangkali bangga disebut punya semangat sebagai banteng, meskipun faktanya di arena laga hewan ini lebih banyak mati dicucuk sang matador sendiri. Untuk Indonesia, Mahbub punya banyak perumpaan. Walau lambang negara menggunakan burung garuda, dari sudut beranak pinak, orang Indonesia lazim diumpamakan sebagai marmot, katanya. Waktu itu tentu program Keluarga Berencana tengah digalakkan. Dari sudut kepatuhannya, orang Indonesia bisa pula dimisalkan dengan bebek. Untuk ukuran situasi sosial dan politik tahun-tahun itu, perumpamaan tokoh intelektual NU ini cukup pedas dan bikin perih kuping penguasa.

Di masa kini, sesungguhnya ungkapan Mahbub tadi bukan sesuatu yang main-main dan retorika belaka. Pertanyaannya masih amat relevan dilontarkan kembali. Meskipun di jaman internet yang super modern ini sudah tak pantas memirip-miripkan manusia dengan hewan, kenyataannya manusia sebagai makhluk yang diciptakan termulia oleh Tuhan ini kerap berpikir, berucap, dan bertingkah laku bagai hewan, bahkan lebih rendah dari itu.


Image hosted by Photobucket.com Bukankah akhirnya ada pepatah “homo homini lupus”? Itu terkenal tak lain karena manusia sering bersikap sebagai serigala bagi yang lain. Dalam banyak urusan dunia, dari kursi kepala desa sampai intrik di gedung DPR-MPR, sikap sebagai serigala adalah sesuatu yang sering dijumpai. Tak hanya mencakar, bila perlu lawan bisnis dan politik dicabik-cabik untuk kemudian bangkainya dinikmati.

Image hosted by Photobucket.comUntuk soal serigala ini, tokoh PDI Perjuangan, Arifin Panigoro bisa jadi sedikit berbeda paham. Sebagai salah satu tokoh utama yang bersama Poros Tengah merancang lengsernya Abdurrahman Wahid dan naiknya Megawati di Sidang Istimewa MPR akhir Juli 2001 silam, ia sempat diguncang kasus utang perusahaannya. Dalam pandangan bos Medco ini, kasus tersebut dirancang untuk menjegalnya. Maka, kepada pers, ia menyebut orang-orang yang merekayasa itu sebagai hyena. Ini hewan Afrika yang buruk rupa dan punya kebiasaan bergerombol menyerang mangsanya. Mirip-mirip serigala juga.

Image hosted by Photobucket.comKita mungkin bisa disamakan juga dengan ular. Meski ular meliliti gelas dijadikan simbol pengobatan di dunia farmasi, dalam istilah sehari-hari hewan melata ini jadi simbol penipu, tukang bual. Rakyat kecil yang kini terlunta-lunta karena rumahnya tergusur oleh aparat Tramtib dan Pemda DKI -- dengan dalih tak ada ijin tinggal di lokasi tersebut dan demi keindahan Jakarta—dapat menuding pemerintah sebagai ular karena menipu mereka. Mayoritas mereka tak paham dengan ilmu lanskap atau tata kota metropolitan. Tapi Undang-Undang Dasar Pasal 34 jelas-jelas menyebut orang miskin dan anak yatim dipelihara oleh negara. Walhasil, itu terasa kontradiktif dengan kejadian yang mereka alami sekarang. Meski kartu miskin dibagikan bagi keluarga miskin untuk mendapatkan biaya koImage hosted by Photobucket.commpensasi BBM sebesar Rp 100 ribu di kantor pos tiap bulan, tetap saja jutaan penduduk lainnya tidak menerima, dengan alasan ketiadaan tanda/identitas kependudukan yang jelas. Nasib ditentukan oleh selembar identitas, yang untuk memperolehnya pun kerap harus menyumpal mulut pegawai kelurahan dengan uang. Ular sekali, bukan? Bagi yang geli atau tidak suka melihat ular, barangkali dapat ‘memisuhi’ keadaan dengan hewan lain yang lebih kecil tapi punya konotasi sama; kadal.


Image hosted by Photobucket.comBahkan, dalam beberapa hal, kitab suci membuat perumpamaan manusia sebagai binatang. Al Quran ada menyebut orang-orang yang berdosa sebagai ternak atau hewan melata, bahkan lebih rendah dari itu. Dalam satu bagian dari Surat Al Baqarah yang menceritakan Bani Israil (Yahudi), dikisahkan bagaimana kaum ini suka sekali melecehkan nabi-nabi mereka sendiri, termasuk melanggar hari yang telah dikhususkan bagi mereka untuk beribadat. Oleh Al Quran, mereka disebut menjadi kera yang hina (qiradatan khaasyi’in). Ada ahli tafsir yang menganggap hati merekalah yang bagai kera, sementara yang lain menyebut mereka memang menjadi kera yang sesungguhnya. Dalam konteks sekarang, Dr. Mushthafa Mahmud (Monyet di Abad Manusia, Husaini 1987) menggambarkan masa yang penuh dekadensi moral saat ini sebagai abad kera.

Image hosted by Photobucket.comSedangkan kebebalan dan rasa tak tahu malu manusia biasa dicerminkan dengan sifat badak. Tebal muka, tak tahu malu, dan asal seruduk, sepertinya hal lazim yang banyak ditemui di masyarakat. Sifat itu malah dipertontonkan di depan khalayak. Kelas paling rendah, sebut saja contoh, tentulah baku hantam antaranggota dewan yang terjadi terdalam pembukaan Sidang Tahunan 2001 silam. Bukannya malu, insiden itu dianggap biasa dengan alasan parlemen negeri lain punya kebiasaan yang lebih buruk dari itu. Atau, para orang pintar di Komisi Pemilihan Umum (KPU) sana, yang dengan tega memakan uang rakyat untuk memperkaya kantong mereka secara kolektif, lalu dengan wajah tak berdosa mengaku tidak pernah kecipratan. Kalau disebut badak, mungkin mereka ini masuk kategori badak yang mukanya “kapalen” (mengalami penebalan jaringan kulit, kata orang Jawa). Tebal muka dan tak sensitif terhadap persoalan rakyat ini agaknya memang menjadi penyakit lama dari para pelaku politik dalam negeri, baik mereka yang duduk di eksekutif, legislatif, maupun yudikatif.

Image hosted by Photobucket.comTak selalu sifat, sikap, dan perilaku manusia itu mirip dengan hewan besar. Dalam banyak hal lain, manusia bisa menyaingi hewan kecil seperti lintah, nyamuk, atau tungau. Kerjanya hampir sama, mengisap darah mangsanya sepuas hati untuk kemudian lepas begitu saja. Ada berapakah lintah, nyamuk, atau tungau di masyarakat kita? Konon sepertiga dari dana pembangunan Indonesia bocor di tengah jalan. ‘Bagi-bagi rejeki’ itu sudah berakar cukup kuat dan dilakukan dari eselon rendah sampai puncak. Membandingkan akar yang sudah terhujam kuat itu dengan slogan pencanangan pemberantasan KKN oleh pemerintahan SBY-JK membuat hati menjadi miris dan harap-harap cemas.

Entah berapa triliun rupiah dana masyarakat di bank tersedot oleh para konglomerat lewat permainan liar mereka. Dana itu digunakan untuk kepentingan bisnis grupnya sendiri di bidang-bidang yang kerap tak bersentuhan langsung dengan kepentingan publik. Ketika bank bersangkutan kolaps, alih-alih dimintai pertanggungjawabannya di pengadilan, para konglomerat hitam itu –meminjam istilah Kwik Kian Gie—malah dibantu pemerintah, yang dengan pontang-panting menyelamatkan bank sekarat tersebut dengan injeksi dana segarnya.

Mereka, meminjam istilah Yasraf Amir Piliang (Sebuah Dunia yang Menakutkan, Mizan 2001), sesungguhnya adalah mesin parasit, organisme yang menumpang dengan modal seadanya dan menghisap negara semau-maunya. Di negeri ini ada banyak mesin parasit ekonomi, mesin parasit politik, mesin parasit hukum, mesin parasit spiritual, dan sebagainya.

Sesungguhnya, ada banyak lagi hewan yang mewakili wajah buruk kita sehari-hari --bunglon, buaya, kambing hitam, ulat, burung nasar, beo, dan lain sebagainya. Sifat kehewanan itu, sadar atau tidak, semakin hari semakin merasuk dalam diri kita, manusia Indonesia. Akibatnya, lama-kelamaan kita sendiri makin sulit membedakan, apakah kita ini manusia atau memang hewan asli yang jadi perumpamaan tadi. Jiwa manusia Indonesia, dengan semua ini, tak lama lagi bakal berubah menjadi ‘kebun binatang’ keburukan.

Begitupun, Tuhan sungguh Maha Pengasih dan Penyayang. Ditetapkan-Nya sebuah bulan, yang dengan bulan itu setiap orang berkesempatan mencuci sifat kehewanannya. Meski Ramadhan diciptakannya buat segenap umat Islam, entah kenapa rasanya yang patut paling bersyukur dalam hal ini adalah manusia Indonesia, kita semua. Allah bermurah hati memberi waktu pada kita sebulan penuh untuk menggelontor sifat hewani yang sudah menebal, segera sebelum kita sendiri terlambat menyadari dan tak dapat memulihkan sikap kebinatangan itu.

Image hosted by Photobucket.comPersoalannya sekarang, seberapa jauh kemahapengasihan Allah itu diterima oleh kita dengan rasa syukur, sehingga upaya pengembalian fitrah sebagai manusia itu dimanfaatkan sebaik mungkin, serta diwujudkan kelak dalam kehidupan sehari-hari. Jika dengan waktu yang terbuka luas ini kita juga gagal menemukan jati diri kemanusiaan kita, apa boleh buat. Tubuh boleh insani, namun jiwa tetap hewani. Bahkan, hewan yang dinisbahkan namanya pun bisa jadi tak sudi dijadikan perumpamaan sifat buruk kita itu. Seburuk-buruknya hewan, mereka masih tetap berzikir pada Sang Pencipta. Sedangkan kita? Ah, betapa menyedihkan…

Selamat Shiyam Ramadhan. Mohon maaf lahir batin… (ah)

Sunday, September 18, 2005

Yogya dan Perempuan

Malioboro tinggal dua puluh langkah lagi. Empat hari di Yogya, dua pekan lalu, tentu tidak absah jika tidak menyusuri kawasan populer ini. Malam itu, saya dan rekan sekantor, Mar Ir., berniat mencari makan di depan Pasar Beringharjo. "Sekalian mau nostalgia," katanya. Mas Ir pernah di kota gudeg ini cukup lama, konon sekitar 8 tahun.

Seperti biasa, tukang becak mengerumuni kami, mencari peluang untuk mengantarkan turis (emang saya turis?) keliling kota, atau ke mana saja yang diinginkan. Ongkos tidak mahal-mahal amat. Ada yang menawarkan 2000 perak sekali jalan.

Tetapi, sekonyong-konyong ada yang sangat mengganggu saya. Tawaran mereka berubah menjadi bisikan. "Mau cewek, Mas? Ada, bisa diantar ke sana. Ayu-ayu lho," kata tukang becak yang berkaos parpol, mengikuti saya dengan gigih dari belakang. Saya tolak halus. Mas Ir cuma senyum. Eh, nggak kapok. Yang lain juga menempel, menjajakan usulan 'menarik' lainnya. "Mau yang mahasiswi, Mas, bisa, untuk pijet-pijet..."

Bahwa bisnis wisata dan urusan sahwat hubungannya persis seperti sate kambing dengan bumbu kecap (pas nggak sih, padanannya? ngarang, deh), semua juga tau. Namu kenyataan tawaran soal perempuan itu, entah kenapa, tetap saja sangat mengecewakan saya. Kok jadi begini??

Saya tidak akrab dengan Yogya. Kalaupun pernah ke sini, urusannya cuma sekadar mampir, melanjutkan perjalanan ke kota lain. Meskipun begitu, dalam hati sanubari saya yang paling dalam, saya amat menghormati kota ini. Kota dengan budaya yang tinggi, katanya. Kota dengan suasana intelektual yang lebih kental, bahkan mungkin lebih di atas Bogor, yang jadi kota kedua saya selama ini. Dan spirit itu sudah saya tangkap dan nikmati ketika nongkrong hingga tengah malam di depan Benteng Vredeburg, diselingi kunjungan tak henti para pengamen jalanan. Di sela-sela becak warna-warni, dan guyonan akrab mbok penjual pecel.

Dan itu jadi buyar tidak karuan dengan adanya bisik-bisik tawaran soal perempuan itu. Selalu jika soal perempuan menjadi obyek sahwat seperti ini, saya jadi muak. Saya tanya ke Mas Ir, apakah sudah biasa begini, atau tren-nya baru-baru saja. Dia tidak menjawab pasti. Tetapi, "Dulu juga saya tidak pernah lihat cewek pakai pakaian mini kayak begitu di Yogya ini," katanya, menunjuk sekelompok perempuan muda tengah bercengkerama di bawah pohon beringin, di seberang benteng.

Lalu, bayangan saya terlempar kembali ke beberapa tahun silam, ketika berada di kereta malam Jayabaya dari Nganjuk menuju Jakarta. Seorang lelaki parlente, 40-tahunan, naik dari Madiun hendak ke Yogya, duduk di sebelah saya. Lama ngalor-ngidul, lelaki ini cerita kalau dia ke Yogya ingin bertemu dengan 'peliharaannya". Kucing anggora atau anjing herder? Bukan, peliharaannya itu adalah seorang mahasiswi sebuah perguruan tinggi negeri di kota tersebut. Itu pengakuannya. Ia bertutur, sudah lama menjalin hubungan yang lumayan bergelora dengan perempuan itu. "Kalau mas mau coba, boleh suatu saat kunjungi saya," katanya, berpromosi. Lha? Sial, nggak. Waktu itu, saya lagi tidak berselera menggebuk orang, sungguh. Padahal kalau dipikir-pikir, omongan si pria parlente itu amat saru, tidak sopan, dan sungguh bercita rasa exhibisionist. Entahlah.... Yang jelas, ia turun di Yogya, sambil bersiul-siul dan menyisir rambutnya yang hitam licin.

Apakah Yogya sudah berubah. Atau, memangnya kalau sudah berubah, kenapa? Jangan-jangan saya yang terlalu sensitif. Mengapa saya merisaukan Yogya dan perempuannya, sedangkan di Jakarta soal itu sudah jamak terjadi.

Di Jakarta, di tepian kali dekat jalan Latuharhari, saya pernah observasi, saat menjadi wartawan dahulu. Ketika masuk ke daerah itu pukul 7 malam, segerombolan wanita setengah baya sudah mengerumuni dan memberi tawaran servis dengan harga ala diskon swalayan. Cuma Rp 10.000. Saya abaikan. Ketika berbincang dengan penjual teh botol di lapak liar di sana, tepat di depan lapak ada gubuk plastik hitam, yang pasangan lelaki-perempuan gonta-ganti keluar masuk. Tahu sendiri, apa yang mereka perbuat di sana. Masuk rapi, keluar berantakan. Ketika saya keluar dari sana, perempuan-perempuan yang sama masih memburu, dengan harga kian miring. Rp 3000 short time. Busyet dah....

Lalu, kenapa saya jadi uring-uringan dengan fenomena tawar-menawar perempuan di Yogya tadi? Jawabnya, tidak tahu. Mungkin karena saya terlalu menaruh respek pada Yogya dalam benak saya selama ini. Saya yang tidak terlalu akrab pada kota ini, tetapi percaya bahwa ia memang berbeda dari kota-kota lain. Kota yang saya anggap lebih bermartabat (ah, perasaan terlalu bermain di sini). Atau, saya saja yang terlalu cepat mengambil kesimpulan. Cerita soal perempuan yang bisa melayani macem-macem di Yogya mungkin saja hanya di sekitar hotel. Bukan di kawasan lain. Ya, bisa jadi.

Yang jelas, selain soal insiden ditawari perempuan itu, aura positif Yogya memang seperti bayangan saya. Lain kali saya pasti ke sini. Dengan uang sendiri :) dan mudah-mudahan tidak bertemu lagi dengan tukang becak yang menawari perempuan seperti kemarin. Ampun deh...

Monday, September 05, 2005

UK Menanti...(Soon)

Sengaja menuliskan ini, agar Mbak Hani percaya bahwa saya benar-benar mau berangkat ke UK alias Ujung Kulon, hehehe.

Jadi, ceritanya, ide ini sudah disusun sejak Juli lalu dan klimaksnya pada Agustus awal. Teman2x para petualang pesisir amatir seperti saya, Tony, Pasus, Tammy, dan Glaudy sudah siap dengan segala perlengkapan. Bahkan tim luar ikut bergabung seperti Agung yg pegawai bank ("itung-itung refreshing," katanya yg abis dibantai ujian S2), dan beberapa sobat lain.

Kabar buruk datang. Tukang perahu di Kampung Sumur telepon bahwa ombak lagi tinggi, 4 meteran. Malah semua pengunjung di sekitar Taman Nasional terpaksa diungsikan sementara. "Bisa aja sih Mas nerusin niatnya, cuma resiko tanggung sendiri," kata si Mamang, yang mau nggak mau bikin kita semua keder juga.

Walhasil, joran yang udah disetel terpaksa dilipat lagi. Pasus jadi manyun melulu, makanya hasil design lay outnya jadi berantakan (hehehe, canda, Cus...). Maka, jadwal harus digeser. Rencananya mungkin pekan ketiga September, sebelum puasa masuk.

Jadi, mudah-mudahan saja berjalan lancar. Sudah lama juga tidak menulis soal petualangan di pesisir semacam ini. Konon, di Handeleum dan sekitarnya ada banyak tantangan yang menggiurkan (berperahu di tengah hutan bakau, dengan ikan kerapu segede paha berenang2x di bawahnya, plus buaya-buaya muara yang memandang kita dengan mesra di kejauhan -- kali-kali juga mereka berdoa menurut agama dan kepercayaannya masing-masing, agar ada mangsa yang sial kecebur dan bisa dicicipi. Hiii....)

Ramai-ramai Ganti Rupa

Note: Mengingat 'penggemar' saya, Latief "Poltak" Siregar beserta istri menjelang puasa nanti akan kembali ke tanah air setelah bertapa selama setahun penuh di Norwich, London -- maka tak ada salahnya kita sambut dengan bahasan tentang media menjelang puasa. Sebuah tulisan daur ulang yang masih layak direnungkan. Begitu, Bro? (AH)


Sekarang sudah September 2005. Siapa nyana, tak sampai sebulan lagi, Ramadhan bakal menghampiri. Dan terkait soal media massa, rasanya bagi orang tua, pendidik, dan masyarakat yang peduli lainnya, Ramadhan mungkin satu-satunya bulan yang bikin mereka sedikit lega. Pasalnya, selama 30 hari tontonan dan bacaan di media massa bisa agak “beradab” dibanding masa-masa di luar itu.

Biasanya, di luar waktu itu, ke saluran mana pun remote diarahkan, tayangan yang muncul tak jauh dari film tak senonoh, berita kriminal, infotainment nyinyir, atau pertunjukan musik dengan busana dan goyang penyanyinya yang vulgar. Juga tentang sinetron yang dipenuhi peran pria banci, program hantu dan mistik, reality show yang mengundang habisnya pulsa pemirsa, dan lain-lain.

Namun, ajaib, di bulan Ramadhan, kebanyakan semuanya berubah. Sejenak, memang. Yang hobi bergoyang sensual, tiba-tiba saja berbusana lebih tertutup dan hadir pula di program pengajian live. Hantu-hantu dan sebangsanya menghilang, atau setidaknya menyingkir ke jam tayang larut malam. Sementara itu, ada artis yang dikenal membawa acara gosip menjelma menjadi presenter acara rohani. Film dewasa menjadi film dakwah. Belum lagi hadirnya sinetron yang sudah dipersiapkan rumah produksi khusus buat slot bulan puasa, rata-rata bertema pertarungan kebaikan dan kejahatan dan happy ending. Si jahat keok, si baik menang dan sejahtera.


Media Massa dan Etika

Media massa sesungguhnya punya etika. Yang dimaksud etika di sini adalah aturan moral yang memandu kegiatan mereka sehari-hari. Etika membimbing para profesional media masa harus berlaku pada setiap aktivitas mereka yang bisa mengakibatkan efek negatif pada orang lain. Panduan-panduan ini banyak disusun oleh organisasi-organisasi profesional sesuai bidangnya. Jurnalis dan praktisi komunikasi lainnya secara terus-menerus membuat keputusan etis mengenai hal-hal yang secara spesifik diatur hukum.

Di negara Barat seperti Amerika, persoalan etika di dunia media massa telah muncul dan dibahas sejak lama, terutama mengenai cara media menampilkan isu tentang seksualitas, kekerasaan, dan material sensasi lainnya untuk membuat khalayak tertarik pada media tersebut. Acara televisi, isi media cetak, dan film sebagai telah dketahui berdampak bagi besar bagi publik. Para pembuat film, misalnya, sekarang marak membuat film kekerasan, berbau seksual, rasis, sensasional, dan lain-lain. Demikian pula pengelola koran dan majalah, serta pengelola stasiun televisi. Semua produk mereka diyakini bisa mempengaruhi penontonnya. Apakah mereka harus bertanggung jawab kepada publik atas yang mereka produksi?

Para produsen biasanya punya dua kalimat pembelaan. Pertama, pembaca atau penonton sesungguhnya tidaklah serapuh itu dalam menerima pesan film. Kedua, penonton atau orangtuanya (dalam kasus kanak-kanak) harusnya bertanggung jawab sendiri tentang keputusan mereka tentang terbitan yang harus mereka baca, film dan program yang mereka tonton, dan sebagainya.

Khusus bulan suci, fenomenanya memang menarik. Media massa sadar bahwa dalam waktu itu mayoritas umat Islam tengah menjalankan ibadah puasa. Suasana kerohanian mereka tengah tinggi-tingginya. Jika media massa nekad menjalankan program yang menurut umat tidak sejalan dengan semangat kerohaniannya saat itu, maka media massa bisa mendapat masalah besar. Mereka bisa ditinggal konsumennya di masa mendatang.

Karena itu, mengikuti selera pasar adalah jalan teraman dan paling logis,. Jadi, media masa bukan memenuhi etika belaka. Fenomena ini bukan hanya milik Indonesia. Kevin Keena dan Sultana Yeni, dua peneliti di University of America, Kairo, dalam penelitian mereka menemukan bahwa di Mesir pun terjadi kecenderungan sama (thx to Bro Yayan, yang memberi data ini). Selama bulan Ramadhan, mereka mengamati 508 iklan yang ditayangkan stasiun televisi setempat. Ternyata, iklan dalam bulan suci jumlahnya lebih sedikit di banding di luar bulan Ramadhan. Isinya pun mayoritas mengangkat soal-soal rohani. Demikian juga dengan tampilan dan busana bintang-bintangnya lebih rapi dan tertutup.


Media = Powerful?

Telah lama orang percaya bahwa media massa punya pengaruh dan kekuatan yang besar. Itu karena publik melihat media massa bisa mempengaruhi opini publik dan pemegang kebijakan. Apa yang ditayangkan media bisa menjadi tren yang diikuti masyarakat.

Benarkah demikian? Tidak selalu. Sebagian pihak malah percaya sebaliknya, media massa sesungguhnya tidak sekuat dan sekokoh yang dibayangkan. Asal tahu saja, untuk bisa hidup survive, media massa harus berprinsip sebagaimana lembaga bisnis lainnya. Media massa amat tergantung pada beberapa pihak penting sebagai “penyambung nyawa” mereka. Pihak itu antara lain pemilik perusahaan atau para pemegang saham.

Contoh gampang, misalnya, dulu sebuah stasiun TV dengan gencar menayangkan seri final Piala Thomas dan Uber, sementara stasiun lain tidak melakukannya. Mengapa? Karena pemilik stasiun televisi itu kebetulan juga adalah ketua organisasi olahraga tersebut. Atau, sebuah koran di Sumatera kerap memasang jurnal kegiatan pemiliknya di edisi minggu harian tersebut. Padahal, kegiatan si pemilik bisa jadi tak layak berita.

Media massa juga bergantung dari para pemasang iklannya. Jika ada pemasang iklan yang merasa tidak terpenuhi keinginannya, mereka bisa hengkang dan ogah memasang produknya untuk dipromosikan lewat media massa itu. Gawat, sumber penghasilan bisa berkurang, apalagi jika klien pemasang iklan itu adalah perusahaan gede.

Selain itu, rumah-rumah produksi, distributor film/program atau berita juga jadi gantungan harapan pengelola media. Terutama di televisi, para penjual film ini amat dominan mempengaruhi stasiun televisi. Jika tidak, jangan harap pengelola mendapatkan acara atau film bagus Lama-lama, mereka bisa ditinggal penontonnya.

Terakhir, yang tak kalah penting, masyarakat atau publik juga punya kekuatan yang memaksa media melakukan sesuatu. Beberapa acara atau program yang tak senonoh di masa lalu sempat diprotes kalangan Islam, dan akhirnya tidak ditayangkan lagi. Seorang presenter televisi swasta, karena silap menjadikan cacat salah satu presiden waktu itu, terpaksa di-grounded oleh redaksinya, karena mereka mendapat ancaman dari organisasi massa pendukung sang presiden.

Jalan Masih Panjang

Dengan banyaknya pihak yang patut diwaspadai oleh pengelola, tak heran kalau media massa berusaha mencari jalan seaman mungkin. Sayangnya, yang paling kuat pengaruhnya selama ini tetap saja adalah dari pihak pemilik atau pemegang saham serta para pengiklan dan rumah produksi. Adapun masyarakat, sepanjang suara mereka masih bisa diredam, maka pengaruhnya sering kali diabaikan. RCTI, misalnya, karena mendapat pukulan telak dari seorang warga yang tak terima dilecehkan dalam sebuah program reality show – oleh pembuat program dan oknum polisi ia ditakut-takuti dan dituduh sebagai pembawa narkoba hingga akhirnya si korban marah dan melapor – baru akhirnya memutuskan tidak menayangkan program-program acara yang bertujuan ‘mengerjai’ orang.

Khusus televisi, secara faktual harus diakui selama ini lebih menonjolkan peran sebagai medium hiburan (entertainment). Padahal dua tokoh komunikasi massa, Laswell dan Right, dengan tegas menyebut bahwa fungsi sosial komunikasi massa yang diemban media bukan cuma sebagai sarana hiburan, melainkan juga sebagai sarana pengawasan lingkungan, korelasi sosial, dan sosialisasi.

“Jangan berharap banyak,” begitu kata seorang petinggi sebuah stasiun TV saat berdiskusi dengan mahasiswa dalam kuliah soal media di Salemba. Sedikit-banyak ia mengaku bahwa jalan menuju sebuah tayangan yang bermartabat dan terhindar dari kekerasan, pornografi, kebohongan, serta sensasi, masih amat jauh. Itu bermakna, untuk tahun ini dan beberapa tahun mendatang, sepertinya tayangan dan program TV, acara radio, bacaan di koran dan majalah, masih mengikuti pola yang sudah-sudah: bersopan-sopan di bulan suci, dan kembali garang dan liar selepasnya.

Tentu, bukan berarti seluruh pengelola media massa berpikir bisnis praktis seperti itu. Ketika Islam, misalnya, mengajarkan bahwa informasi haruslah untuk tujuan mendidik dan makin mendekatkan umat pada Sang Pencipta, cara dan jalan menuju ke sana pastilah selalu ada. Buktinya, beberapa terbitan dan program televisi dan radio bernafaskan dakwah –baik di dalam maupun di luar bulan suci-- setidaknya telah menunjukkan bahwa semuanya mungkin dicapai. Lagipula, bisnis maju dan pencapaian predikat takwa bukanlah dua tujuan yang melulu harus ditempuh dengan kenderaan berbeda. Bukan begitu?


Karena itu, meskipun kuat dugaan bahwa media bakal berlaku sama seperti tahun-tahun kemarin di bulan puasa, toh tak ada salahnya kita tetap memasang mata dan telinga mengamati aksi mereka bulan-bulan ini. (ah)

Saturday, August 06, 2005

Indomie

Image hosted by Photobucket.comAda satu pertanyaan, yang entah sudah berapa puluh kali saya lontarkan ke temen-temen sesama alumnus kampus dulu. Meski menggunakan metode random sampling yang tidak sesuai dengan yang dijelaskan dalam mata kuliah Rancangan Percobaan (S1) atau Statistik Sosial (S2), rasanya saya menemukan jawaban yang valid dan signifikan, dengan tingkat kepercayaan 99%.

Pertanyaannya adalah: “Enakan mana, Indomie rebus bikinan sendiri atau bikinan si Akang pemilik warung Indomie?”


Kadang-kadang, bagi yang sudah beristri, pertanyaannya diganti: “Enak mana, Indomie buatan istri atau bikinan mamang yang jualan Indomie rebus di pinggir jalan?”

Sodara-sodara, jawabannya rata-rata adalah: Enakan bikinan si Akang empunya warung. Atau, lebih sip Indomie bikinan Mamang pedagang Indomie pinggir jalan.

Nah, lho? Tanpa meremehkan arti bakti istri yang rajin bikin Indomie buat suami, memang rasanya jauh beda dengan yang dibuat oleh Mamang penjual Indomie rebus di warung-warung. Apa karena campur keringat, atau serbet kumel itu ya? Hiiii....


Teman Setia Para Mahasiswa

Sebenarnya, istilah lebih tepat untuk ini adalah mie instan. Tapi, istilah Indomie = Mie Instan sudah seperti layaknya pasta gigi = Odol, atau air minum dalam kemasan = Aqua. Jadi, sutralah....

Kalau ada jenis makanan yang perlu mendapat tanda jasa kesetiaan berkarya, saya rasa Indomie mungkin salah satu yang harus menerima. Dia menemani lebih akrab dari siapapun, kayaknya. Makanya, saya pake kata "dia".

Saya jadi ingat, dulu, masa kuliah S1, di daerah Darmaga, Bogor, entah berapa kali dalam seminggu Indomie ini menjadi santapan utama. Tiap ke warung Indomie (yang entah kenapa kok mayoritas dikelola orang dari Kuningan?), wajah-wajah mahasiswa rantau yang kuyu kelaparan tampak ngantri menunggu hidangan murah meriah ini. Gizi dan sebagainya, nomor 16... yang penting nggak masuk angin, dan sensasi rasanya (ah, masak iya?).

Malah, sampai-sampai metodologi proses memasaknya ada banyak rupa. Di dekat pertigaan Radar, tukang mie memasukkan Indomie ke dalam plastik, diberi daun sawi, lalu disiram air panas, dan dimasukkan ke dalam panci mendidih. Waduh, itu kandungan senyawa kimia plastiknya memuai dan dikonsumsi juga. Semua juga tau, tapi entah kenapa semua juga diam. Nggak peduli. Santap abis.

Di Jl. Bara Tengah, ada warung Indomie keren, letaknya di atas jalan, sehingga kalau malam pengunjungnya bisa melihat seliweran mahasiswa lalu-lalang sibuk dengan urusan masing-masing. Si Mamang juga punya penampilan beda dengan penjual Indomie lain. Dia pakai ikat kepala putih dari handuk made in Cina. Sekilas, mirip dengan penjual singkong dan makanan lokal di Jepang sono. Dan, campuran sayurnya bukan sawi hijau, melainkan sawi putih. Sadar atau tidak, si Mamang ini sudah menerapkan strategi positioning dan branding yang mantap (saya malah baru dapatnya di Semester 3 S2 UI.... rasain lo, kalah sigap soal branding dengan mamang Indomie).

Tetapi, di warung ini juga tingkat loyalitas saya jatuh, dan akhirnya tidak pernah datang ke situ lagi. Gara-garanya, suatu saat, sekitar jam 23.00 WIB, saya dan Khairullah (teman pemilik Rental PC Rezko), nongkrong pengen isi perut di situ. Si mamang pun, dengan tampilan khasnya, mulai memasak. Sekitar sekian menit, saya melihat hal aneh. Di wajan tempat merebus Indomie, selain ada sawi putih dan Indomie kuning, kok ada benda coklat mengapung-ngapung.... dan meronta-ronta...!! (Whhaaa, coba, mana ada sawi warna coklat, pake meronta lagi). Sekian detik dibutuhkan untuk mengidentifikasi, sampai akhirnya kami berdua tak sadar berteriak kepada si Mamang, dengan teriakan 'agak' ngeri: "Kecoaaaa......!"

Tahukah anda reaksi si Mamang. Hohoho, memang betul-betul mental baja. Tanpa ngomong apapun, atau minta maaf, atau apalah, dia dengan cekatan, gerakan bak jurus "Kunyuk Melempar Buah" ala Wiro Sableng, mencongkel si kecoa dari Indomie yang tengah mengebul-ngebul mendidih. Tuiiiing..... sang coro nahas itu mencelat ke luar, nemplok di sudut kaki kursi. Dan, oh my god, tanpa merasa pernah terjadi apa-apa, itu hidangan tetap diaduk-aduk, dituang ke mangkok, dikasih bumbu, dan dihidangkan kepada kami berdua. Betulp-betul Indomia bumbu kecoak....

Saya nggak ingat apa reaksi detil saya waktu itu. Kayaknya, kalo ndak salah ingat, kita berdua bengong dan pura-pura ngobrol, tapi tidak menyentuh si Indomie. Cuma makan kerupuk, dan akhirnya cabutt. Putus hubungan dengan si Mamang. Sampai kini.

Menjajal Lagi

Dan begitulah. Entah mengapa, beberapa hari silam saya tiba-tiba bertanya lagi ke teman di kantor, soal enakan mana, masakan Indomie sendiri/istri, atau buatan Mamang penjualnya. Eh, jawabannya masih sama, enakan masakan penjual.

Pulang dari kantor, keluar dari stasiun Bogor, hujan rintik-rintik. Ah, saya sudah lapar, perut berdesis dan berkontraksi. Tiba-tiba pandangan saya tertumbuk pada warung Indomie di tepi jalan. Nostalgia? Why not. Saya tanpa sadar mengikuti langkah kaki (tentu diperintah otak dan hati, cuma serasa otomatis, gitu loh)... menuju warung itu. Saya telepon istri, bilang kalo entah kenapa tiba-tiba saya ingin makan Indomie rebus di warung. Buah hati saya itu cuma tertawa lebar dan bilang, "Ya sudah, selamat bernostalgia.."

"Indomie, Mang. Satu..." saya pesan ke si penjual. Dia mengangguk, dan mulai bekerja. Warung kebetulan sepi, cuma saya sendiri. Tanpa sadar, saya mengamati ritual langkah memasak Indomie yang dilakukan si Mamang. Buka bungkus, sreset, masukin ke wajan berisi air mendidih. Sementara bumbu dibuka dan ditaruh di mangkok. Hmm..... Usai masak, saya taruh kecap, bubuk merica, dan saos sambel botolan yang kental. Ini sambel yang saya tau bukanlah 100% tomat dan cabe, melainkan lebih banyak dibuat dari tepung ubi rambat kuning (Seorang teman pernah meneliti pembuatannya dulu sekali).

Nah, di situ jawabannya tiba-tiba muncul. Sembari makan dan merem-melek menikmati hidangan, saya mulai mengira-ngira. Kesimpulannya hadir ketika makan usai. Jangan-jangan, semua rasa yang khas itu datang dari saos sambel botolan ini, karena 100% warung Indomie selalu pakai saos sambel yang seperti ini.

Berguna atau tidak, tak terlalu penting. Yang jelas, saya lumayan puas. Selain bisa makan Indomie rebus, juga menemukan 'jawaban' dari pertanyaan yang sudah kerap saya lontarkan itu.

Jadi, enak mana, makan Indomie bikinan sendiri, atau yang buatan Mamang penjualnya? Jawabannya mungkin tetap sama: Indomie buatan si penjual. Kenapa? Karena saos sambel ubi jalar kuning itu....
Nyam...nyam.... (ah)

Catatan: Selama menulis tentang Indomie ini, tidak ada Indomie yang disakiti, atau dicuri dari tempatnya. Tidak ada kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga saya, gara-gara saya pengen Indomie tapi tidak ada stoknya di lemari. Dan yang terpenting, tidak ada pesan sponsor dari pabrik Indomie (Bogasari atao Indofood). Semua ini sekadar pengalaman belaka.







Tuesday, July 19, 2005

Ketika ALLAH Mengalahkan Mereka

Saat Perang Irak berkecamuk 2002 lalu, tak ada yang meragukan keganasan jet tempur Tornado milik Inggris. Inilah pesawat yang ikut andil meluluhlantakkan kota Bagdad dari udara dengan bom-bomnya. Tetapi siapa pernah menduga, kalau pesawat itu justru hancur digempur misil Patriot milik sekutunya sendiri, Amerika Serikat.

Atau simaklah ini, kekuatan habis-habisan pasukan sekutu merangsek maju ke ibukota Irak, terhambat berhari-hari. Bukan karena dihadang pasukan Irak, melainkan karena badai pasir yang luar biasa dahsyat. Konon butirannya sampai menembus jaket dan masker mereka, sehingga menimbulkan banyak kepanikan.

Sejarah menunjukkan, hal-hal aneh dan ajaib di medan pertempuran kerap terjadi dalam perjalanan kaum muslimin, sejak jaman nabi hingga masa modern kini. Awam, atau para ahli yang tak percaya keimanan dan kekuasaan Allah, dapat saja menyebutnya karena taktik pihak musuh, faktor alam, atau keberuntungan semata. Tapi fakta tak terbantahkan, ada 'tangan' Allah yang bermain di sana. Berikut beberapa di antaranya:

Hujan, Ketenangan, dan Khusyuk

Di saat Perang Badar, malam hari sebelum perang, kaum muslimin merasa tenang dan lega. Mereka dapat beristirahat dengan hati penuh kepercayaan. Atas rahmat Allah, malam itu turun hujan rintik-rintik, membuat udara sejuk dan nyaman, Keesokan harinya mereka merasa segar dan pikiran penuh dengan harapan baru. Pasir di sekitar mereka menjadi agak padat sehingga mudah diinjak dan meringankan langkah. Kemudahan itu dinyatakan dalam Al Quran surat Al Anfaal ayat 11.

Beberapa saat setelah usai Perang Dzatu Riqa', Rasulullah SAW dan kaum muslimin berhenti di suatu tempat untuk bermalam. Rasul memilih beberapa sahabat untuk menjadi pengawal malam bergiliran, mengingat ancaman musuh masih mungkin datang. Mereka antara lain adalah Amar bin Yasir r.a dan Abbad bin Bisyir r.a., mendapat giliran pertama. Abbad menyilakan Amar tidur karena sahabatnya itu kelihatan capai.

Saat ia menjaga dan merasa aman, Abbad pun bersalat, membaca Fathihah dan ayat Al Quran. Tahu-tahu ada sebuah panah meluncur dan mengenai lengannya hingga berlubang. Ia mencabutnya, dan meneruskan salat. Panah kedua meluncur lagi, ia cabut kembali, demikian pula panah ketiga, ia cabut sambil terus rukuk, lalu sujud. Saat tak tahan lagi, tangannya membangunkan Amar, sementara ia terus menyelesaikan salatnya, baru kemudian berkata lirih kehabisan tenaga "Bangunlah, gantikan aku menjaga, aku terkena panah." Amar pun melompat bangun dan berteriak sehingga si pemanah gelap lari. Ketika ditanya kenapa tak membangunkannya, Abbad menjawab : "Tadinya aku membaca ayat Al Quran dan aku ttidak ingin menghentikannya..." Kekhusyukan salat dan membaca Al Quran ternyata menguatkannya.

Satu orang =1000 tentara

Dalam usaha penaklukan Mesir di jaman Khalifah Umar bin Khattab r.a., beliau menulis surat kepada panglima pasukan muslimin yang bertugas, Amru bin Ash r.a. Beliau menanyakan, mengapa penaklukan berjalan lamban sejak beberapa tahun lalu. Karena itu, selain surat, khalifah mengirim empat sahabat, yakni Az Zubair bin Al Awwam, Miqdad bin Al Aswad, Ubadah bin Al Shamit, dan Masalamah bin Mukhalad. "Sepanjang yang kuketahui, seorang lelaki di antara mereka setara dengan seribu lelaki, kecuali kalau mereka telah diubah oleh unsur-unsur yang mengubah orang lain," tulis Umar. Beliau memerintahkan agar keempat orang ini ditampilkan di depan pasukan, untuk menambah semangat dan keyakinan mereka.

Begitu menerima surat dan kehadiran empat sahabat, Amru bin Ash melaksanakan amanat khalifah tersebut. Mereka mengerjakan salat dua rakaat dan memohon pertolongan Allah. Dan tak lama kemudian, Allah menaklukkan Mesir untuk mereka.

Bantuan Malaikat

Allah juga menurunkan para malaikat-Nya untuk membantu kaum muslimin melawan orang kafir pada beberapa peperangan seperti Badar dan Uhud. Al Baihaqy, men-takhrij dari Aud bin Abdurrahaman, budak Ummu Bartsan, menceritakan dari seseorang yang pernah mendengar keluh kesah seorang kafir, bahwa ketika orang-orang musyrik bertempur melawan Muhammad SAW, mereka menghunus pedang dan siap menyerang. Tapi tiba-tiba muncul beberapa orang berwajah tampan mendatangi mereka seraya berkata,"Kalian adalah orang-orang yang berwajah buruk. Minggirlah kalian!" Setelah mereka berkata seperti itu, orang-orang kafir mengalami kekalahan yan telak.

Ada pula seorang Anshar dari pasukan muslimin, yang dalam sebuah pertempuran berusaha mengejar seorang musuh musyrikin di depannya. Tapi dia mendengar ada suara lecutan cambuk dari atas dan suara kuda dengan sebuah suara, "Maju terus wahai Haizum." Selagi pandangannya tertuju pada musuh yang dburunya, ternyata orang kafir itu sudah menggeletak di tanah. Wajah mayat itu hancur terkena lecutan cambuk. Maka sahabat Anshar ini menemui Rasul SAW menceritakan semuanya. Beliau bersabda, "Benar apa yang engkau ceritakan. Itu merupakan pertolongan malaikat yang datang dari langit ketiga. Jumlah mereka tujuh puluh malaikakat dan dapat menawan 70 musuh."

Ciri-ciri malaikat 'turun tangan' membantu kaum muslimin antara lain berupa kematian musuh dengan cara leher terpenggal dan ujung jari-jari mereka terpotong, (Al Quran Surat Al Anfaal ayat 12).

Tanah, Angin, dan Petir

Saat perang Hunain, Rasul menghadapi saat-saat genting ketika banyak pasukan muslimin yang kocar-kacir digempur musuh. Yang tinggal di dekat beliau hanyalah sahabat Abbas bin Abdul Muthalib dan Abu Sufyan bin Al Harits. Ketika musuh merangsek maju, Beliau menaburkan ke muka orang-orang musyrik segenggam tanah. Orang-orang kafir itu mengaku mereka seolah melihat batu dan pepohonan memburu mereka. Kaum musyrikin akhirnya dapat dikalahkan.

Sementara, pada perang Ahzab (Khandaq), musuh mengepung kota Madinah dari segala penjuru. Ketika saat puncaknya, di malam hari angin kencang berhembus, memporak-porandakan pasukan sekutu (Ahzab). Angin itu amat menusuk tulang, diiringi petir menyambar-nyambar. Saking kacaunya, pemimpin mereka waktu itu, Abu Sufyan, langsung lari lintang pukang dengan untanya, kembali ke Mekkah. Mereka gagal masuk ke kota, dan kaum muslimin meraih kemenangan gemilang.

Mayat Dilindungi Lebah

Dalam suatu kesempatan, Rasulullah mengirim pasukan perang dan mengangkat Ashim bin Abul Aflah sebagai komandan. Ashim pernah berujar bahwa ia tidak sudi berada dalam perlindungan orang musyrikin. Ia bersumpah pada Allah agar tubuhnya kelak tidak dijamah orang musyrik dan dia tidak mau menjamah oang musyrik. Ketika Ashim terbunuh, orang-orang Quraisy mengirim utusan untuk memotong sebagian anggota tubuh Ashim sebagai bukti. Pasalnya, sewaktu Perang Badar, Ashim berhasil membunuh banyak pemimpin Quraisy. Yang terjadi kemudian adalah, Allah mengutus sekumpulan lebah untuk melindungi jasadnya dari tindakan keji itu. Karena itu, sahabat Ashim ini dijuluki sebagai "Orang yang Dilindungi Lebah."

Jumlah Bukan Ukuran

Dalam Perang Badar, Allah swt memberikan rahmatnya bagi pandangan para pejuang muslimin, sehingga mereka melihat jumlah musuh seolah tampak sedikit dari yang sebenarnya. Para sahabat melihat dan saling berbicara membicarakan jumlah orang kafir. Mereka menduga, jumlahnya hanya tinggal 70 orang. Setelah perang usai, dari tawanan mereka tahu bahwa jumlah musuh mencapai 1000 orang.

Sementara, dalam sebuah peperangan melawan Romawi, seorang pasukan muslimin bernama Hajar bin Ady berteriak kepada rekan-rekannya, "Mengapa kalian tidak segera menyerbu musuh dengan menyeberangi Sungai Tigris ini? Sementara Allah telah berfirman, sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya."
Segera dia terjun ke sungai dengan tetap menunggang kudanya, lantas para prajurit muslim mengikuti langkahnya. Musuh yang melihat tindakan yang dilakukan para prajurit itu berkata, "Ada jin Ifrit datang..." dan mereka pun melarikan diri.

Di Perang Mu'tah, kaum muslimin yang berjumlah 3000 orang maju melawan 100.000 pasukan Romawi, plus 100.000 pasukan lainnya dari Nasrani Arab. Dalam perang yang berlangsung hebat itu, Rasulullah yang ada di Madinah dapat menggambarkan kejadian yang tengah berlangsung di medan perang, atas izin Allah. Zaid bi Haritsah r.a. yang bertugas membawa panji Rasulullah bertempur dengan gagah berani, hingga akhirnya syahid di ujung tombak musuh. Ja'far bin Abi Thalib r.a. segera mengambil alih panji tersebut dan menerjang musuh.

Kepahlawaan Ja'far dilukiskan, tangan kanannya yang memegang panji ditebas musuh hingga putus, dengan segera ia mengalihkan panji ke tangan kiri. Ketika tangan kiri juga putus, ia mengepitnya dengan kedua lengannya, sebelum akhirnya gugur dalam usia yang belia, 33 tahun. Panji itu langsung digaet Abdullah bin Rawahah, yang tak lama kemudian menyusul gugur. Tsabit bin Arqad mengambil laih dan berteriak kepada kaum muslimin agar mereka memilih pimpinan yang baru setelah 3 pimpinan gugur. Pasukan muslim memilih Khalid bi Walid, yang kemudian berhasil membawa pasukan muslimin memukul mundur pasukan Romawi hingga kocar-kacir, sebelum akhirnya memutuskan menarik pasukan kembali ke Madinah.

Cobaan yang lebih berat datang ketika Perang Tabuk menghadapi Romawi. Saat itu musim paceklik, sehingga pasukan muslimin begitu terbatas persenjataan dan logistiknya, sehingga saat itu dijuluki sebagai "Jaisyul 'Usrah" (pasukan yang menghadapi kesukaran) . Saking terbatasnya, seekor unta harus dinaiki bergantian oleh 2-3 orang tentara. Dalam terik matahari, haus mendera, dan banyak pasukan kondisinya amat mengkhawatirkan. Saat itu, para sahabat menanyakan Nabi SAW untuk meminta pertolongan Allah. Rasul SAW pun mengangkat tangan menengadah ke langit dan baru menarik tangannya setelah turun hujan deras. Orang-orang beramai-ramai minum dan mengisi wadah airnya hingga penuh.

Dalam perang lainnya, Rasul pernah mendoakan seluruh sisa perbekalan makanan yang ada pada pejuang muslimin. Setelah itu, seluruh anggota dipersilakan mengambil bekal masing-masing. Hingga pasukan itu habis, makanan yang tersedia ternyata masih utuh, bahkan dengan ukuran yang sama seperti saat didoakan.

Keajaiban di Afghanistan

Berbagai peristiwa menakjubkan yang terjadi pada zaman sahabat dan tabi"in, ternyata juga dialami para mujahidin beratus tahun setelahnya. Lahan jihad Afghanistan menyisakan berbagai kisah nyata pertolongan Allah terhadap kaum mujahidin dalam mengusir pasukan Tentara Merah Uni Soviet dari sana. Dr. Abdullah Azzam, salah satu panglima mujahidin Afghanistan yang terkenal, telah merangkum dalam sebuah berjudul "Ayatur Rahman fi Jihadil Afghan" (Tanda-tanda Kekuasaan Allah dalam Jihad Afghanistan) tentang keajaiban-keajaiban yang terjadi selama perang.

Misalnya, seorang anak usia 3 tahun, di malam hari dengan gagah berani membawa korek api menuju tank Soviet. Sang komandan bingung dan bertanya apa maksud bocah tersebut. Bawahannya dengan tergopoh-gopoh memberi tahu bahwa balita itu bertekad membakar tank-tank musuh yang masuk ke desanya!

Seorang wanita, dalam kesempatan lain, ada di depan mesjid yang di dalamnya terdapat pejuang muslim yang tengah dikepung tank-tank musuh. Si wanita berdoa, "Ya Allah, jika Engkau akan memberikan kekalahan pada para mujahidin yang ada di dalam sana, maka jadikanlah diriku sebagai tumbal untuk menyelamatkan mereka..." Padahal, dua hari lagi wanita itu akan melangsungkan pernikahannya. Benar saja, wanita itu tewas diberondong peluru tentara musuh dan para mujahidin bisa menyelamatkan diri.

Ada pula kisah pasukan Mujahidin yang hanya 40 personel membuat kalang kabut sepasukan besar Rusia. Dengan bermodalkan senjata sederhana dengan pinggang dililit kain kafan putih, mereka berteriak, ''Allahu Akbar!'' dan menerjang barisan musuh. Anehnya, pasukan Soviet itu lari tunggang langgang. Prajurit Rusia yang tertangkap mengaku, mereka kabur karena tiba-tiba melihat pasukan Mujahidin berjejal memenuhi bukit. Seruan ''Allahu Akbar'' terdengar membahana bak letusan ribuan senjata menggetarkan bumi.

Di daerah Syathura, mujahidin yang cuma berkekuatan 25 orang digempur musuh yang berjumlah 2000 orang. Pertempuran sengit terjadi selama empat jam, dengan kemenangan di pihak mujahidin. Musuh yang tewas sebanyak 80 orang dan 26 tertawan. Tawanan Soviet itu mengaku bahwa pasukan mujahidin dengan senapan mesin buatan Amerika menghujani mereka dari empat penjuru mata angin. Padahal, 25 orang pejuang tadi hanya menggnakan senapan sederhana dan hanya menyerang dari satu arah.

Dalam Majalah GATRA tahun 2001, Ustad Ja'far Umar Thalib, Panglima Laskar Jihad, dan pernah berjuang di sana, bercerita dalam suatu kesempatan Mujahidin terkepung di sebuah lembah. Dua helikopter besar ada di atas dan siap melontarkan bomnya. Sementara para mujahid hanya punya sisa satu bazoka. Allahu Akbar, satu bazoka itu menghancurkan sebuah heli yang, anehnya, kemudian menimpa heli lainnya.

Pasukan Beruang Merah juga takluk oleh cuaca. Psaukan mujahidin pimpinan Ahmad Syah Mas'ud (yang bergelar Singa Lembah Panshir) pernah dikepung tentara Soviet di wilayah Panshir. Mereka dipaksa bertahan di dalam gua. Sebulan kemudian, yang terjadi justru tentara Rusia mati bergelimpangan karena kedinginan.

Kisah Mujahidin Ambon

Seorang pejuang Putih (istilah untuk orang Islam ) pernah menghadapi pasukan merah (Nasrani) yang memberondong tubuhnya dengan rentetan tujuh tembakan. Anehnya, pejuang itu tak kurang satu apapun. Pejuang Putih justru mudah digempur dan lemah kalau mereka emosi dan melontarkan kata-kata kotor. Karena itu, pasukan Merah konon suka memancing dengan kata-kata kotor, menghina agama, menghina nabi, dan lain-lain, agar para pejuang muslim emosi dan balas memaki.

Seorang dokter pernah kagum tatkala mengobati seorang pasien yang terluka akibat panah di tubuhnya. Belum selesai diobati, sang pasien memaksa untuk turun lagi ke medan jihad. "Ayo dok, tolong sembuhkan saya segera. Biar saya balik lagi ke sana..." ujar sang pasien. Ada juga seorang anak perempuan berusia 11 tahun yang mengancam akan bunuh diri kalau orang tuanya tidak mengizinkan dirinya berjihad. Konon, wanita muda itu menjadi salah satu pemimpin pasukan jihad Jailolo.

Atau, simaklah pengalaman dr. Jose Rizal Jurnalis dari MER-C di sebuah majalah. Di Tual, jumlah umat Islam hanya 20%, kampungnya terjepit di tepi pantai, sementara orang-orang Kristen berada di kawasan yang lebih tinggi. Orang-orang Merah menyerang dengan gencar dengan berbagai macam senjata. Hebatnya, umat Islam mampu bertahan. Setelah suasana aman dan Islam-Kristen berbaur kembali, rahasianya terungkap. Orang Kristen mengaku sudah setengah mati menyerang tapi akhirnya lari sebab mereka melihat banyak sekali orang berpakaian putih-putih, tersebar dimana-mana, bahkan di pohon dan genting rumah.

Seorang pemimpin pasukan jihad, dalam ceramahnya di kawasan Rawamangun, berkisah lain lagi. Tatkala pasukan merah menyerang pasukan muslim yang tersudut di sebuah mesjid, tahu-tahu saja mereka lari lintang pukang dan berteriak ketakutan. Selidik punya selidik, mereka mengaku halaman mesjid, mereka melihat banyak sekali anak-anak kecil berbaju putih berdiri tegap melindungi mesjid. Siapakah mereka? Wallahu a'lam.

Pert
olongan Bagi Orang Mukmin

Perang yang dahulu (dan masih hingga kini) di Irak, sesungguhnya juga menyisakan banyak pertanyaan tentang kejadian-kejadian ganjil. Bagaimana mungkin seorang petani bisa menjatuhkan heli Apache yang paling canggih di dunia? Bagaimana mungkin misil dan rudal yang terprogram dengan akurat bisa melenceng ke Iran, Turki, Saudi, atau Kuwait?

Yang jelas, pertolongan Allah tak dapat ditebak kapan dan di mana datangnya. Hanya, pertolongan tersebut ditujukan kepada kaum dan masyarakat yang berjuang ikhlas membela agamanya. Banyak riwayat para sahabat dan kejadian di dunia modern seperti di atas menjelaskan tentang keajaiban yang Allah berikan di saat kondisi kaum muslimin terjepit, hampir tak berdaya.

"(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dari hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka kepada Allah dengan bermacam-macam purbasangka. Di situlah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat." (al-Ahzaab: 10­ 11)


Wallahu a'lam

Sunday, July 17, 2005

Akhirnya...

Dua tahun itu sebentar
Mungkin malah cuma sekerjap mata
Baru kemarin rasanya
mengisi malam-malam penuh wacana
diskusi di ruang terbuka
dengan paper dan take home exam yang melelahkan

Dua tahun itu
sama dengan satu jam
2003-2005 setara dengan 15 juni 2005 14.00-15.00
ketika nasib dan status
ditentukan ketuk palu para dosen
"Dengan senang hati, kami meluluskan Saudara.."

Plong...


(Jumat, 15 Juli 2005, 14.00 -15.00 WIB, aku akhirya menjalani sidang akhir pengujian tesis di program pascasarjana, departemen ilmu komunikasi FISIP-UI. Sidangnya terbuka, karena bbrp teman ingin ikut dan menyaksikan. Ya sudah, apa ruginya, kalau hancur ya hancur sekalian. Namun ternyata semua berjalan lancar. Dua tahun jerih payah terbayar, dua tahun menjalani sisa malam dengan terkantuk-kantuk di bis antarkota UKI-Bogor, setelah seharian bekerja, lalu berlanjut dengan kuliah malam yang melelahkan. Begitu, empat-lima hari sepekan, selama hampir 24 bulan).

Ini pastilah bukan (sekadar) soal gelar. MSi, kek, MS kek, atau apalah. Tugas menuntut ilmu, yang aku rasa sudah sampai taraf wajib, karena jika aku tidak menambah ilmuku berarti aku potensial menzalimi banyak orang dengan pekerjaanku yang terkait bidang komunikasi. Itu saja...

Menuntut ilmu dari buaian hingga liang lahat. Sekarang, satu tahap kewajiban lagi sudah selesai. Aku menanti dan mencari dengan semangat tugas dan tantangan lain.

I'll miss my campuss at Salemba... (ah)

Thursday, July 07, 2005

Blog-ku Sayang, Blog-ku Malang

Sebenarnya sedih juga, ninggalin blog begini lama. Sampai ketika si Abdul Latief Siregar a.k.a Azis Sutan Barita a.k.a Poltak yang baru jalan-jalan dari Pakistanshire (eh, maksudnya Bradford) menulis harapannya agar ada updating. Plus, Mbak Hani, yang dengan polos nanya di shoutbox, "Yang punya keblog lagi ke mana nih..?"

Sesungguhnya saya tidak ke mana-mana. Cuma, malu untuk bilang bahwasanya ada banyak kejadian selama bulan Juni lalu, dan persoalannya belum kelar hingga kini. Soal tesis menjelang ujian, soal kepindahan kerja, dll. Sampai-sampai, nulis di Insani saja di-stop dulu.

Sebegitu seriusnya kah persoalan? Klise barangkali. Tetapi memang begitulah. Tak heran, hingga kemudian blog jadi nomor sekian dalam prioritas. Kabar buruk buat dunia per-blog-an? Mungkin ya, mungkin nggak. Emang gua siapa sih? Hehehe...

Mudah-mudahan ntar malam, saya bisa mulai menulis lagi. Nggak janji, sih. Cuma kasih harapan aja :)

Friday, May 27, 2005

Ingat Kampung Halaman (lanjutan)

Di kampung, ada satu hal favorit yang selalu kutunggu-tunggu: makan. Tidak peduli apakah itu sarapan, makan siang, atau makan malam, semuanya terasa enak. Padahal menunya sungguh tidak intelek di mata orang kota: sayur singkong rebus, nasi putih mengepul (kadang ada juga nasi merah, lebih enak lagi), sambel terasi, dan balado teri atau ikan sungai. Wuih, the most delicious cuisine in the world...Yang aku, ingat, ada ikan sungai yang disebut "ikan sulup" (kecil-kecil, warna keperakan, di Medan kadang disebut dengan "ikan chen-chen". Ada juga ikan jurung; yang ukurannya besar dan streamline seperti peluru. Dua-duanya sama enak. Selain itu, juga tersedia ikan asap dari limbat (sejenis lele), yang paling uenak kalo digulai. Hmmm.....

Belum lagi kalo kita diundang silih berganti dari satu rumah famili ke rumah famili lain. Yang paling ditunggu-tunggu adalah kalau berkunjung ke rumah bapak dan ibu angkat kami, dipanggil Pak Cuman (nama aslinya Lukman) dan Ibu Betty (asli Yogya, tapi udah lebih batak dari orang batak).......... Mereka tinggal di dalam komplek pasar. Selalu ada kurir yang datang ke rumah nenek, dan menanyakan, apa menu yang diinginkan kalau pas datang ke rumah mereka. Saya dan saudara-saudara biasanya saling berebut menyampaikan 'aspirasi' perut masing-masing.

Jika malam menyambangi kampung, suasana terasa temaram, meski belakangan listrik sudah tersedia. Dulu, belum ada yang memiliki TV, kemudian satu-satu mulai membeli dan memasangnya di halaman rumah, seperti yang dilakukan Pak kades, yang rumahnya pas di sebrang jalan. Dingin menyelubungi seluruh kawasan bebukitan itu. Kami biasanya berkumpul di rumah, minum teh atau kopi, dan berbincang-bincang. Bagi anak laki-laki seperti aku, kesempatan semacam itu biasa dipakai untuk mencuri-curi melinting rokok tradisional (dari daun jagung, diisi dengan sejumput tembakau) dari saku kakek atau paman. Biasanya Mama' langsung menyuruh berhenti, sedangkan Ayah cuma tertawa-tawa. "Biarlah, sekali-sekali," begitu alasannya. Para paman malah dengan semangat mengajari bagaimana melinting dan memasukkan jumput tembakau secara baik dan benar :)

Dan bila malam makin larut, saatnya tidur. Ini tidur paling nikmat, dengan selimut tebal, dan tak jarang lebih dulu didongengi cerita oleh Uwak kami. Tentu, sambil rambut di kepala diucel-ucel, membuat kita makin 'teler' keenakan dan akhirnya tak sadar terpulas.

Kalau bosan, kita bisa minta sepupu memanjat pohon kelapa di siang hari dan memetik buahnya barang dua-tiga butir. Bosan juga? Bisa ikut Uwak laki-laki membuat gula merah dari pohon aren (gula aren). Memasaknya penuh kesabaran, dan dicetak berbentuk bundar dengan cetakan dari pelepah pisang yang sudah dikeringkan. Manisnya, jangan tanya lagi. Dan sangat bergizi. Penuh kalori.

Sering pula kita pergi ke pasar (disebut Pekan, tiap hari Kamis). Di sana ada banyak jajanan tradisional, dengan harga murah. Atau, menemani Uwak berdagang tauge ke provinsi sebelah (Sumatera Barat), tepatnya di Pasar Rao (tempat lahirnya sutradara terkenal, Asrul Sani). Sementara Uwak menjajakan tauge-nya, kita berkeliling pasar sambil bermain hingga letih. Kalau dagangannya laku, Uwak suka membelikanku tebu segar yang sudah dipotong-potong dan ditancapkan di tangkai bambu. Persis makan es krim, tetapi yang ini tebu, saudara-saudara...

Dan ketika esok atau lusa kita akan pulang kembali ke Medan, itu saatnya para paman dan bibi serta sepupu membuatkan oleh-oleh spesial: dodol kacang. Membuatnya dari kelapa dan gula merah (aren), diaduk pelan-pelan, yang lama kelamaan makin berat karena makin mengental. Aku pernah mencoba, bahkan hingga SMA, tetap saja ngos-ngosan dan tidak kuat. Sementara mereka membuatnya begitu santai dan mudah, sambil berbincang dan bersenda gurau.

Ada perasaan sedih tiap kali akan berangkat pulang, menunggu bis yang ditumpangi datang menjemput. Biasanya, dulu hingga SMA, ketika akan berangkat pastilah saku celana saya penuh dengan uang recehan, dari lima ratusan, hingga seribuan. Itu 'persenan' dari nenek, kakek, uwak, paman, dan famili lainnya. Wah, bahagianya (waktu aku lulus dari IPB dan mampir di sana, eh, aku juga masih disangui seperti itu, betapa mereka tidak mau melepas tradisi ini. Jadi malu, ih).

Sekarang, aku cuma bisa mengenang-ngenang semua itu. Entah kapan bisa ke sana lagi, dan menjalani masa-masa bahagia tanpa beban seperti dulu. I miss my village... (ah)

Tuesday, May 24, 2005

Ingat Kampung Halaman

Baca Kompas Minggu, 22 Mei 2005 lalu? Ketika mereka membedah tentang bagaimana nikmatnya hidup di desa, dengan segala suasana dan tradisinya, aku jadi termenung-menung. Aku jadi ingat kampung halaman. Tepatnya, kampung halaman ayah almarhum (semoga Allah merahmati-nya, allahummaghfir lahum warhamhum). Hitung punya hitung, aku terakhir ke sana 13 tahun silam, ketika baru saja lulus perguruan tinggi dan pulang ke Medan dengan bis, bersama kedua orang tua. Waktu itu, kami mampir di sana 3 hari.

Kompas menulis tentang kehidupan di desa sekitar Gunung Sorik Merapi di Tapanuli Selatan (sekarang masuk wilayah Kabupaten Mandailing Natal atau Madina). Kampung ayah juga di kawasan sana juga, meski lumayan jauh dari Sorik Merapi. Namanya Muara Sipongi, sekitar 22 km dari Kotanopan, 60 kilometeran dari Panyabungan, serta 120 kilometeran dari Padang Sidempuan.

Melihat foto-foto suasana kampung berikut gambaran situasi kehidupan sehari-hari, ah, tak salah lagi. Itu khas yang memang selalu dirasakan, tiap kali mengunjungi dan tinggal di sana. Muara Sipongi, saudara-saudara! Mungkin kota (kecamatan) ini asing di telinga anda. Tapi coba aku sebutkan nama orang-orang ternama ini: Sanusi Pane (sastrawan), Armyn Pane (sastrawan, budayawan, salah satu pendiri HMI), Muhammad Kasim (sastrawan handal), lahir di tempat ini. Adnan Buyung Nasution pun juga kampung asalnya dari Muara Sipongi, kalo tak salah di desa Pakantan.

Kami sekeluarga, dahulu, kerap menyambangi kakek dan nenek (keduanya kini sudah tiada, allahummaghfir lahuma warhamhuma). Entah itu ketika liburan, lebaran, atau kadang kapan saja, ketika rindu itu datang. Aku malah punya pengalaman menarik, ketika baru saja pengumuman kelulusan SD, pagi-pagi buta ayah membangunkanku dan bertanya, “Mau ikut ke kampung? Ayah ada tugas dan lewat sana, nanti kita mampir ke nenek barang sehari-dua,” katanya. Belakangan, aku tahu kalau ajakan itu adalah bentuk hadiah dari beliau, karena aku menjadi juara umum di sekolah. Persiapan kilat pun dilakukan. Mama’ menyiapkan pakaian, baju hangat, dan tak lupa mewanti-wantiku agar jangan membiarkan perut kosong di perjalanan. Dan benar, saking buru-burunya, waktu itu makan pun tak selera lagi. Akibatnya, masuk angin dan mabuk perjalanan, apalagi saat melewati kelok 40, Sibolga (waktu itu jalur nyaman lewat Kisaran belum lagi dibuka). Waktu itu, dari Medan ke Muara Sipongi (atau biasa disebut Morsip) membutuhkan 14 jam perjalanan.


Image hosted by Photobucket.comTetapi tetap saja mengunjungi kampung halamanku itu menjadi sebuah kenikmatan tiada tara. Bayangkanlah. Kampung ini berada di tepi Batang Gadis (nama sungai), yang airnya jernih bukan kepalang. Dinginnya jangan tanya. Aku tak pernah bisa mandi kecuali jarum jam sudah menunjuk angka 11 siang. Saking dinginnya, di permukaan air terlihat kabut yang mengapung-apung hingga tengah hari. Kawanan burung Belibis suka mandi di tepian dekat hutan, dan menghambur berterbangan jika diusik anak-anak yang asik mandi. Kadang, babi hutan suka mengintip di balik dedaunan. Harimau? Satu-dua orang pernah mengaku bertemu. Ayahku juga pernah, dan suka menceritakan pengalaman itu berkali-kali kepada kami, anak-anaknya. Kami selalu suka mendengar cerita itu dan senantiasa terkagum-kagum. Mata kami berbinar-binar kalau cerita tentang harimau, babi hutan, bahkan tentang cerita seram sekali pun, terutama tentang inyik (sebutan sopan untuk harimau) jadi-jadian yang suka terlihat melintasi sungai di tengah malam, dengan seorang nenek berjubah kelabu di atas punggung sang harimau.

Di belakang rumah-rumah penduduk, baik yang di sebelah utara maupun selatan jalan lintas Sumatera, hutan dan semak belukar lebat sudah menyambut. Belukar ini terus menyambung hingga menuju rimba bebukitan. Sinar matahari baru bisa nongol setelah jam 11 karena tertutup bebukitan itu. Jadi, dinginnya sudah terkira, bukan?

Tiap orang bertemankan sarung dan kemul. Pagi-pagi, sehabis subuh, pekerjaan paling nikmat adalah nongkrong di depan rumah sambil berkemul dan ngobrol ngalor ngidul, atau masuk warung dan ngopi atau minum teh, plus ditemani pisang goreng yang rasanya tidak bisa disamai pisang goreng mana pun di dunia. Sumpah!

Sembari ngobrol (orang sana menyebutnya “mahota”), aku dan sanak saudara sebaya dulu sering menghitung bus-bus antarkota dan pulau yang selalu lewat di jalanan kampung. Coba, apa yang tidak ada, mulai dari ALS (Antar Lintas Sumatera), ANS (singkatan dari ANAS, punya orang Padang?), PM Toh, Sibual-buali, Sampagul, hingga Mawar Merah). Entah di mana letak kesenangannya, yang jelas, tiap bus yang lewat selalu kami sambut dengan sorakan dan lambaian tangan. Bangga rasanya menghibur para musafir yang dari dalam mobil tampak tersenyum sambil balas melambai. Kadang, mereka juga berhenti di mesjid jami di tepi sungai dekat jembatan, sekadar membasuh muka dan menunaikan solat.

Mandi di sungai adalah kenikmatan yang lain lagi. Air yang jernih membuat ikan di dasar perairan tampak dengan jelas. Kadang kami main ke daerah larangan, sebutan buat kawasan sungai yang ditetapkan desa sebagai daerah larang ambil, karena ditebar berbagai bibit ikan. Biasanya pada hari kedua atau ketiga lebaran idul fitri, larangan itu diakhiri, dan warga desa boleh mengambil dengan jala, pancing, tombak, dan segala rupa perangkat, dengan membayar sejumlah uang pendaftaran. Uang itu dipakai untuk kepentingan desa. Di sungai larangan ini, kami bawa nasi basi dari rumah nenek. Begitu nasi ditebar di tepi, dan permukaan air ditepuk-tepuk, ikan-ikan beragam jenis muncul mendekat dan berpesta. Jinak-jinak. Pemandangan eksotik apa lagi yang bisa menyainginya?

Ketika ayah memiliki ladang jeruk, kami rela berjalan kaki 2 kilometer menuju ladang itu, mendaki hingga puncak bukit dan membawakan kakek nasi rantang untuk makan siang. Di puncak bukit ada saung, berikut kolam di bawahnya. Untuk cucu-cucunya, kakek suka mengambil ikan mas yang ada di kolam, untuk digulai atau digoreng dan disantap bersama. Yang lucu, di kaki bukit, sebelum masuk ladang jeruk, ada pengumuman unik, ditulis dengan cat putih di papan tipis. Isinya: “Dilarang Mencuri. Kebun Ini Berubat!!” (maksudnya berobat, diberi jampi-jampi yang membuat pencurinya bakal celaka). Kakek yang membuatnya. Konon, dia termasuk tabib atau dukun kampung yang lumayan disegani...

(bersambung, udah menjelang jam 22.30. ngantuk...)