Friday, May 27, 2005

Ingat Kampung Halaman (lanjutan)

Di kampung, ada satu hal favorit yang selalu kutunggu-tunggu: makan. Tidak peduli apakah itu sarapan, makan siang, atau makan malam, semuanya terasa enak. Padahal menunya sungguh tidak intelek di mata orang kota: sayur singkong rebus, nasi putih mengepul (kadang ada juga nasi merah, lebih enak lagi), sambel terasi, dan balado teri atau ikan sungai. Wuih, the most delicious cuisine in the world...Yang aku, ingat, ada ikan sungai yang disebut "ikan sulup" (kecil-kecil, warna keperakan, di Medan kadang disebut dengan "ikan chen-chen". Ada juga ikan jurung; yang ukurannya besar dan streamline seperti peluru. Dua-duanya sama enak. Selain itu, juga tersedia ikan asap dari limbat (sejenis lele), yang paling uenak kalo digulai. Hmmm.....

Belum lagi kalo kita diundang silih berganti dari satu rumah famili ke rumah famili lain. Yang paling ditunggu-tunggu adalah kalau berkunjung ke rumah bapak dan ibu angkat kami, dipanggil Pak Cuman (nama aslinya Lukman) dan Ibu Betty (asli Yogya, tapi udah lebih batak dari orang batak).......... Mereka tinggal di dalam komplek pasar. Selalu ada kurir yang datang ke rumah nenek, dan menanyakan, apa menu yang diinginkan kalau pas datang ke rumah mereka. Saya dan saudara-saudara biasanya saling berebut menyampaikan 'aspirasi' perut masing-masing.

Jika malam menyambangi kampung, suasana terasa temaram, meski belakangan listrik sudah tersedia. Dulu, belum ada yang memiliki TV, kemudian satu-satu mulai membeli dan memasangnya di halaman rumah, seperti yang dilakukan Pak kades, yang rumahnya pas di sebrang jalan. Dingin menyelubungi seluruh kawasan bebukitan itu. Kami biasanya berkumpul di rumah, minum teh atau kopi, dan berbincang-bincang. Bagi anak laki-laki seperti aku, kesempatan semacam itu biasa dipakai untuk mencuri-curi melinting rokok tradisional (dari daun jagung, diisi dengan sejumput tembakau) dari saku kakek atau paman. Biasanya Mama' langsung menyuruh berhenti, sedangkan Ayah cuma tertawa-tawa. "Biarlah, sekali-sekali," begitu alasannya. Para paman malah dengan semangat mengajari bagaimana melinting dan memasukkan jumput tembakau secara baik dan benar :)

Dan bila malam makin larut, saatnya tidur. Ini tidur paling nikmat, dengan selimut tebal, dan tak jarang lebih dulu didongengi cerita oleh Uwak kami. Tentu, sambil rambut di kepala diucel-ucel, membuat kita makin 'teler' keenakan dan akhirnya tak sadar terpulas.

Kalau bosan, kita bisa minta sepupu memanjat pohon kelapa di siang hari dan memetik buahnya barang dua-tiga butir. Bosan juga? Bisa ikut Uwak laki-laki membuat gula merah dari pohon aren (gula aren). Memasaknya penuh kesabaran, dan dicetak berbentuk bundar dengan cetakan dari pelepah pisang yang sudah dikeringkan. Manisnya, jangan tanya lagi. Dan sangat bergizi. Penuh kalori.

Sering pula kita pergi ke pasar (disebut Pekan, tiap hari Kamis). Di sana ada banyak jajanan tradisional, dengan harga murah. Atau, menemani Uwak berdagang tauge ke provinsi sebelah (Sumatera Barat), tepatnya di Pasar Rao (tempat lahirnya sutradara terkenal, Asrul Sani). Sementara Uwak menjajakan tauge-nya, kita berkeliling pasar sambil bermain hingga letih. Kalau dagangannya laku, Uwak suka membelikanku tebu segar yang sudah dipotong-potong dan ditancapkan di tangkai bambu. Persis makan es krim, tetapi yang ini tebu, saudara-saudara...

Dan ketika esok atau lusa kita akan pulang kembali ke Medan, itu saatnya para paman dan bibi serta sepupu membuatkan oleh-oleh spesial: dodol kacang. Membuatnya dari kelapa dan gula merah (aren), diaduk pelan-pelan, yang lama kelamaan makin berat karena makin mengental. Aku pernah mencoba, bahkan hingga SMA, tetap saja ngos-ngosan dan tidak kuat. Sementara mereka membuatnya begitu santai dan mudah, sambil berbincang dan bersenda gurau.

Ada perasaan sedih tiap kali akan berangkat pulang, menunggu bis yang ditumpangi datang menjemput. Biasanya, dulu hingga SMA, ketika akan berangkat pastilah saku celana saya penuh dengan uang recehan, dari lima ratusan, hingga seribuan. Itu 'persenan' dari nenek, kakek, uwak, paman, dan famili lainnya. Wah, bahagianya (waktu aku lulus dari IPB dan mampir di sana, eh, aku juga masih disangui seperti itu, betapa mereka tidak mau melepas tradisi ini. Jadi malu, ih).

Sekarang, aku cuma bisa mengenang-ngenang semua itu. Entah kapan bisa ke sana lagi, dan menjalani masa-masa bahagia tanpa beban seperti dulu. I miss my village... (ah)

4 comments:

Anonymous said...

wah, jadi ikut terbawa ke kampung halaman. ingat mbah sayah.
dan ceritanya tentang sambel terasi bikin laper...

-maknyak-

mutiara nauli pohan said...

aku jadi pengen pulang padahal dah janji ama bapak dan diri aku sendiri untuk ga pul sampe lebaran nanti (biar ga manja)
sedih

Anonymous said...

wah......abang ni.....

bikin aku kangen masa kecil di siantar dulu.

makan ikan jurung dengan duri2nya,sirip2nya,ekor2nya....slurp..nyam2.....

dimana aak bisa cari ikan jurung sekarang..


bayu
"niscayasegera.blogspot.com"

murwanto said...

Aslmkm Bang...

Membaca tulisan ini... jadi rindu sekali ingin pulang ke muarasipongi.. salam kenal bang...

J.Murwanto Nst (bdr panjang-morsip)