Tuesday, March 24, 2009

Caleg berebut 'kursi', siswa di Malang kehilangan kursi

Minggu malam saya menyaksikan langsung sebuah (lagi) peristiwa pendidikan nan menyedihkan. Tak kurang dari Metro TV, TPI, dan beberapa televisi lain ikut menyiarkan. Ini kisah para siswa di SD Mulyo Asri Malang, Jawa Timur yang harus kehilangan kursi. Kursi sungguhan. Bukan cuma kursi, sebenarnya. Bahkan meja belajar mereka pun ikut hilang.



Seperti yang dilaporkan Metro TV, sekolah itu menerima bantuan meja dan kursi untuk kelengkapan belajar siswa-siswanya. Tapi apa lacur, tiba-tiba pihak pemborong datang mengambil paksa kursi-meja itu. Alasannya sederhana: Pemkab Malang belum melunasi pembayaran meja dan kursi tersebut.

Yang amat membuat hati teriris dan terenyuh ialah ketika para siswa berusaha sekuat tenaga mempertahankan kursi (dan meja) mereka. Jadilah adegan tarik-menarik kursi dan meja itu sebuah momen yang amat dramatis. Siswa menangis tersedu-sedu. "Ini kursi kami, jangan dibawa, Pak," ujar mereka. Karyawan perusahaan pemborong yang bertugas itu tak peduli. Mereka terus saja mengangkut balik semua perangkat yang ada.

Siswa-siswa tersebut, tak peduli perempuan atau lelaki, menangis dan meraung. Bagaimana mereka bisa belajar dengan nyaman jika kursi dan meja yang sebenarnya menjadi hak mereka tahu-tahu diambil paksa? Bingung mengadu pada siapa, mereka --dipimpin sang guru- hanya mampu beristigozah, sambil berlinang-linang air mata, berdoa memohon kekuatan pada Tuhan. Tragis sekali.

Pemkab sendiri konon berkelit. Menurut mereka, pembayaran belum dilakukan karena pihak pemborong membuat kursi dan meja tersebut tidak sesuai dengan spesifikasi yang sudah disepakati. Walhasil, pemborong dan Pemkab tarik urat menyalahkan satu sama lain, siswa SD Mulyo Sari justru seperti pelanduk di tengah-tengah: kehilangan kursi mereka. Itu seperti tiba-tiba kehilangan masa depan, rasanya.



Kasus ini jadi amat ironis dengan kenyataan ketika para parpol dan caleg tengah sibuk berkampanye di mana-mana. Mereka sampai berbusa-busa mulutnya menjanjikan akan meningkatkan kualitas dan sarana pendidikan. Semua janji manis itu, tentu saja, demi merebut kursi di Senayan, atau kursi dewan terhomat di DPRD masing-masing daerah. Di saat yang sama, di depan mata mereka sendiri, rakyat yang dijanjikan dengan mimpi manis itu malah kehilangan kursi.

Nurani di negeri ini memang sudah terbalik-balik....

Lebih buruk lagi, sudah pun demikian, tetap saja mayoritas kita tetap bermuka manis, selalu berprasangka baik, senyum penuh keyakinan, dan dicucuk hidungnya untuk pergi ke TPS untuk memilih, lalu merasa telah melakukan kebaikan dan kewajiban yang besar. Sementara ironi kesejahteraan rakyat terus terjadi setiap hari di sekitar kita.

Alangkah menyedihkan... (ah)

Blackberry murah - Hanya di Bandung...

Ketika jalan-jalan pagi di kawasan Gedung Sate di akhir pekan beberapa waktu lalu, tak sengaja saya menyaksikan beberapa kios memajang dagangan langka: produk Blackberry dengan harga murah...

Khusus Blackberry seri ini, ia tidak bisa dipencet, atau dipake nge-fesbuk. Tapi bisa dinikmati sambil nge-fesbuk.. Harganya cuma selisih dua ribu perak dibanding strawberry...


Blackberry, murah meriah.... siapa mau beli?

Tatacara memilih caleg di hari H... (draft SOP ver 1.0)

Banyak orang langsung 'manyun' begitu saya katakan, saya bakal tak memilih siapapun nanti di Pemilu. Rencananya sih, sampai hari ini, memang begitu.

"Kamu itu tak tau terima kasih. Harusnya kamu mendorong semangat berdemokrasi, bukan mematikannya," kata seorang kenalan.

(Maaf, sejak kapan saya punya kewajiban mendorong semangat demokrasi?)

"Kamu itu naif, masak sih nggak ada satu pun caleg yang bisa kamu pilih. Setidaknya, kamu pilih yang terbaik dari yang terburuk (yang tersedia)," ujar sobat saya yang lain.

(Jawabnya: kalau memang nggak ada, pegimane? Kalau saya naif, sobat saya itu mungkin 'the Changchuter'...)

Karena banyaknya yang memberi saran, okelah, agar 'fair', saya coba merunut kembali langkah dan niat untuk memilih, yang konon katanya demi kemajuan bangsa (ada yang bilang demi kemajuan umat, pake SMS segala, mendramatisir bahwasanya kalau tidak memilih Anda akan menghadapi jaman di mana tidak ada lagi yang membela umat di parlemen. Dangkal sekali tebakannya? Lebih dalam ramalannya Mama Lauren -- jangan-jangan...).

Corat-coret sana-sini, saya berhasil menyusun draft memilih caleg tatkala pemilu nanti. Bahasa kerennya sih, SOP. Standard Operating Procedure. Begini kira-kira:

1. Di hari pemilihan, datanglah ke TPS tempat Anda ditetapkan memilih (tentu dong, kalau ntar ke swalayan, yang ada ntar belanja, bukan nyoblos). Datang ke TPS menunjukkan kalau Anda sesungguhnya punya niat mulia menggunakan hak politik Anda (bahwa nantinya kita memutuskan tidak memilih, itu lain soal, karena itu terus ikuti SOP-nya).

2. Sejatinya, di tiap TPS, pasti ada poster yang menunjukkan urut-urutan proses memilih. Hapalkan.

3. Sejatinya juga, akan ada poster berisi urutan partai berikut nama-nama calegnya. Ada poster untuk tingkat DPR, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota. Semua mencantumkan gambar parpol, sedangkan caleg hanya nomor urut dan nama. Ada juga lembar DPD, yang berisi gambar para calon senator.

4. Pertama, perhatikan nama partainya dulu. Tidak kenal, tidak familiar? Coret dari daftar calon partai yang Anda bakal pilih. Kenal, familiar, tapi tahu track recordnya sejak jaman nenek moyang waktu Pancasila masih harus dihapal 36 butir? Yang beginian juga coret. Makin kecil toh, pilihannya? Kenal, familiar, tapi tahu pimpinan dan jajarannya banyak berbual di media ketimbang berbuat? Coret juga. Kenal, familiar, Islami katanya, tapi plin-plan (sampai-sampai kadernya juga mulai gerah?) Kalau saya, sih, coret juga!

5. Perhatikan hasilnya, sembari Anda menunggu giliran dipanggil. Kalau ternyata semua tercoret, ya masak harus memilih yang tak qualified, ya toh? Di sini, keputusan tidak memilih karena tak ada yang sesuai absah adanya.

6. Hati kecil mungkin bicara, "Kalau bukan partai, mbok ya liat orang per orang-nya?" Oke kalau begitu. Kita mulai saringannya. Pelototi nama masing-masing caleg. Tidak kenal? Tidak familiar? Jelas, coret! Tidak kenal tapi familiar, karena namanya sering terbaca berikut tampang orangnya di poster dan banner di seantero kota? Nah, ini sudah jelas, coret juga! Ini caleg malas, tidak usah dipilih. Hobi mereka bikin kota jadi semrawut. Masak harus milih caleg seperti ini. Tidak bermartabat, kan? Berikutnya, kenal, tapi tidak familiar. Mungkin dia tokoh daerah, mungkin dia pemuka masyarakat di sekitar kita. Tanya dulu, kalau kenal, mengapa Anda tidak familiar? Bukankah artinya caleg itu tak efektif menjangkau konstituennya, kita-kita ini? Yah, kalau begitu, coret juga.

7. Walhasil, Anda mungkin menemukan bahwasanya baik partai maupun calegnya tercoret semua. Tak ada sisa 'short-listed candidates". Apa yang harus dilakukan? Sementara Panitia TPS sudah memanggil nama Anda?

8. Jangan gelisah, maju, ambil kartu suara, bawa ke bilik, buka, dan jika memang sudah bulat tidak menemukan calon yang dipilih, lakukan apa yang harus Anda lakukan. Beberapa teman berangan-angan, ingin menggambar awan, ada yang ingin mencoret-coret dan melukis gambar perahu. Ada yang ingin mencontreng semua nama, biar adil, meskipun nantinya kartu suara tak sah. Ada yang ingin menggunakan cara lama, mencoblos, meski tak diperintahkan. Ya, itu urusan masing-masing deh.

9. Lho, itu semua kan namanya golput juga? Tergantung sudut pandangnya. Yang jelas, SOP-nya sudah ada.

10. Keluar dari bilik, masukkan kartu ke masing-masing tempatnya. Beri senyum seperlunya (apalagi jika ada wartawan yang kebetulan meliput TPS di wilayah Anda). Jangan lupa, celupkan jari di tinta biru. Tanda absah Anda ikut Pemilu.

11. Keluar dari TPS. Tugas Anda selesai.

Ini hanya draft. Dan hanya berlaku bagi yang sudah terdaftar sebagai pemilih tetap.

Karena namanya juga draft, jadi amat mungkin berubah dalam hitungan hari, jam, atau bahkan menit. Apalagi kalau ada yang bisa memberi draft SOP lain yang lebih meyakinkan. Ya kita lihat saja. Monggo...

Thursday, February 26, 2009

Efan von Cibinong

Mulanya saya kira ia iseng, ikut berteriak-teriak mencari penumpang. Sore itu, menjelang magrib, kawasan UKI tak ramai-ramai amat. Efan, bocah berbaju oranye garis, celana panjang dan sandal swallow hitam itu, ternyata ikut menumpang bis Agra Mas. Tepat setelah calon penumpang terakhir terjaring, dan bisa melaju menuju tol, Efan sigap bergerak. Dari balik saku belakang celana lusuhnya, ia keluarkan alat musik --kalau bisa disebut demikian-- andalannya: botol Aqua bekas diisi sejumput beras.

Maka, jadilah bocah delapan tahun ini, dengan musik perkusi buatannya sendiri, mendendangkan setidaknya tiga buah lagu. Tak merdu, memang. Lagipula, siapa peduli. Puluhan penumpang terlalu letih menegurnya untuk berhenti. Separo memilih tidur, separo lagi memilih mp3 player sebagai teman perjalanan.

Meski samar --karena saya duduk agak ke belakang-- saya tahu lagu yang ia nyanyikan adalah dari salah satu album ST12. Pop melayu, enteng di pendengaran.

Total jenderal, ia bernyanyi 15 menit. Usai itu, kantong bekas bungkus permen ia sodorkan ke setiap orang. Lumayan, tampaknya sore ini Tuhan memberinya rejeki berlebih. Rasanya, tak kurang dari 20 ribu perak ia peroleh.

Melihatnya berdiri dekat pintu belakang sambil termenung-menung (uang tadi tak ia hitung, langsung dimasukkan ke saku belakang celananya), saya jadi terenyuh. Wajahnya menanggung beban berat. Saya ingat, ada segelas Aqua di ransel. Saya colek tangannya. "Ambil," saya sodorkan minuman itu.

Ia terperangah, tetapi sejenak kemudian mengambilnya sambil mengucap terima kasih.

Kami pun berbincang. Tak ada yang memperhatikan, karena semua terlena dalam kegiatannya masing-masing. Dari cerita Efan, saya tahu bahwa dia tinggal di Cibinong. Jauh amat?

"Iya, sekolah di sana juga. Udah kelas tiga," katanya, bangga. Kakak tertuanya sudah bekerja, sedangkan kakak kedua sekolah SMP kelas tiga. Ia anak bungsu rupanya.

Setiap hari, Efan bersama beberapa teman sebayanya berangkat ke UKI, lalu mengambil teritorial masing-masing. Ngamen. Karena sekolahnya selang-seling, kadang masuk pagi, kadang siang, ia mengatur waktunya dengan seksama. JIka masuk siang, ia harus berhati-hati, agar bisa pulang sebelum waktu sekolah tiba. Tetapi jika sekolah pagi, ia lebih leluasa.

"Bisa pulang malam, sampe rumah jam 9-an," akunya. Caranya pun terbilang pintar. Ia ngamen dari bis UKI menuju Bogor. Setiba di kota hujan, ia pindah ke bis kecil jurusan Cibinong, ngamen lagi sambil pulang.

"Uang saya disetor ke Ibu semuanya. Buat masak," Efan mengaku. Sementara jika mengamen pagi, uangnya ia pakai untuk jajan. "Sama untuk belajar," katanya. Maksudnya, untuk membeli perlengkapan sekolah.

Bukankah kakaknya sudah bekerja?

"Ah, iya tapi kan gajiannya sebulan sekali. Kalau Ibu nggak pegang uang harian, gimana bisa makan?" katanya. Jawaban yang lucu. Mungkin maksudnya, sang kakak ikut memberi nafkah, tetapi tak cukup buat menghidupi keluarga.

Ayahnya?

"Udah nggak di rumah. Udah cerai," katanya. Lalu diam. Kelihatannya ia tidak suka ditanyai soal ayahnya.

Bila sedang mujur, Efan bisa pulang membawa uang hingga Rp 30 ribu per hari. Kalau lagi apes, "Paling banter 15 ribu," katanya, malu-malu, sembari sesekali meneguk Aqua yang ia terima tadi.

Menjelang masuk Bogor, percakapan kami mulai terganggu. Banyak orang mulai terbangun dan bersiap-siap. Saya tanyakan kepadanya, apakah tidak ada yang mengganggunya ketika ngamen?

"Tukang palak? Nggak ada tuh selama ini," akunya.

Syukurlah. Saya nasehati dia supaya tetap berhati-hati.

Pukul 18:45, Agra Mas tiba di Baranangsiang. Saya tinggalkan Efan yang sejenak berganti profesi menjadi kernet.

"Yang turun Bogor, abis. Yang Bogor, yang Bogor..." teriakannya nyaring. Bertenaga.

Anak kelas tiga SD itu tahu benar bagaimana mengemban tanggung jawab di usianya yang masih amat belia.

Anak yang tangguh.

(Bogor, 9 Feb 09)

Saturday, January 10, 2009

Mereka, Para Pemalas Itu....

Tak peduli di manapun Anda berada saat ini di Indonesia, saya yakin kita merasakan hal serupa. Polusi Visual. Apa maksudnya?

Cobalah berjalan di sekitar lingkungan tempat tinggal kita. Atau keliling kota, atau ke luar kota, atau menyeberang mengunjungi kota lain. Kita akan melihat fenomena sama di setiap sudut tempat: poster kampanye para calon legislator (caleg) pemilu. Formatnya baku. Menjemukan, malah. Poster seseorang dengan berbagai pose (ada yang cool, ada yang kaku, ada yang berlagak akrab, dsb), diiringi logo partai, lengkap dengan nomor partai dan nomor urut si caleg. Tak lupa, iming-iming janji dan visi mereka masing-masing. Sebagian yang lain malah merasa kurang pede, sehingga merasa perlu memasang foto tokoh ketua partainya --yang umumnya tokoh nasional-- di samping fotonya. Kelihatan akrab, gitu...

Tak pelak, seantero kota penuh dengan spanduk, banner, baliho, poster yang seragam. Minus kreatifitas. Dan yang terpenting, minus rasa peduli tentang apa yang harusnya mereka buat jika ingin menggaet suara rakyat.

Saya hanya mikir begini: bayangkanlah Saudara-saudara, mereka belum lagi menjadi wakil Anda di DPR, atau DPRD. Tetapi mereka sudah seenak perutnya melanggar hak kita menyaksikan lingkungan yang asri. Belum lagi, sepengetahuan saya, tiap daerah punya peraturan sendiri mengenai pemasangan atribut, spanduk, dan sejenisnya di tempat umum. Di Jakarta, memasang hal semacam ini tanpa ijin bisa ditindak. Kalau ingin memasang, perhitungannya setara dengan iklan luar ruang. Ada biaya yang harus disetor untuk kas daerah.

Alih-alih setor, yang ada ialah premanisme caleg yang mengepung kita. Mereka, tak peduli dari mana partainya, sesungguhnya adalah calon yang malas, berotak tumpul, tak kreatif, tak sensitif dengan kotanya sendiri (yang ironisnya merupakan kota daerah tempat ia bertarung untuk dipilih). Simpelnya, kalau boleh saya duga dari isi otak mereka, daripada repot-repot berpikir tentang cara mendekati konstituen secara elegan, cerdik, dengan tetap menghormati peraturan dan etika yang umum berlaku, mending lakukan apa yang sudah ramai dilakukan para pesaing atau koleganya: tempel dan pasang spanduk di manapun.

Tak heran, pohon-pohon kayu jadi korban. Paku menancap di mana-mana. Mereka, para caleg pemalas itu, barangkali tak pernah belajar mata pelajaran IPA, misalnya, yang menyebutkan bagaimana aliran makanan dari akar ke daun bisa terhambat oleh banyak hal, termasuk paku-paku berkarat itu. Atau, setidaknya dari sudut moral, bahwa pohon juga makhluk hidup. Menghujaninya dengan paku di sana-sini tanpa sebab-musabab yang sahih niscaya bakal diganjar Tuhan dengan ganjaran yang setimpal (eh, lucunya partai berbasis agama juga memaku dan mengikat di pohon juga, lho).

Atau, mereka pura-pura buta (atau memang sudah tertutup matanya) soal tak nyamannya pemandangan di lingkungan mereka akibat spanduk dan banner yang mereka pasang. Tak peduli, yang penting nampang, dan sukur-sukur menangguk massa. Koran Kompas beberapa edisi silam menuliskan kerusakan pemandangan di tiap sudut kota ini dengan istilah yan amat mengena: "POLUSI VISUAL". Merekalah, para caleg keblinger itu, yang menyebabkannya. Merekalah, ironisnya, yang minta dipilih, dan nanti mewakili kita di pentas politik nasional/lokal.

Pertanyaannya: bagaimana mereka bisa membela kepentingan kita, para konstituennya, jika saat ini saja mereka yang belum terpilih itu sudah menzalimi kita dengan riuh-rendah spanduk dan kampanye murahan tersebut. Sungguh tak bisa diterima.

Hanya ada segelintir dari mereka yang --mungkin-- sudah melakukan cara yang lebih beradab. Ada yang memasang profil di Facebook. That's good, saya akui dan pujikan. Soal kualitas kepemimpinan dan visi-misinya, itu nanti-nantilah. Urusan lain. Ada yang rajin menggelar pertemuan, pertandingan, dan sebagainya. Bolehlah. Meski kerap urusan uang sebagai iming-iming jadi lebih dominan. Ibarat jargon yang pernah populer dulu: ambil uangnya, belum tentu pilih orangnya.

Karena itu, saya punya himbauan, terserah mau ikut atau tidak: Jangan pilih mereka para pemalas yang enggan menggunakan otak dan akalnya tersebut! Pilih calon yang menggunakan cara cerdas dalam menggaet pemilihnya, yang tidak merusak pemandangan, tidak melanggar peraturan, dan tidak menganiaya bakal rakyat yang memilihnya.

Kalaupun Anda akhirnya tidak dapat menemukan calon yang seperti itu, maka berarti saya dengan bangga bisa menghimbau: Selamat Datang di Pintu Golput. Jangan pilih siapapun yang sesungguhnya tak punya niat baik membela Anda.

Wahai para caleg pemalas! Saya harap Anda bisa membaca tulisan ini.

(ahmad husein)




Friday, November 14, 2008

It’s all about behaviour change

The Red Cross Red Crescent is working hard to provide clean water and sanitation advice on a tsunami-affected island.

Mother-of-three Iberia Lase says that life is much better now in Afia, sub-district Lahewa, Nias Island. She has built her family latrine and im
proved her knowledge and behaviour on family sanitation and hygiene, thanks to support from the Red Cross Red Crescent.

“We keep the latrine clean every day, so we
can use it comfortably,” she says, smiling.

In the past, as other people did in the village, Iberia and her family made a natural latrine by digging a hole in the back yard o
r just sitting at the riverbank. Keeping the house and neighbourhood area clean was also not part of their daily practice.

Cars’ parade around Lahewa tow. The parade displays examples and miniatures of water and sanitation facilities including semi-permanent latrine and water tank. Red Cross takes benefit from the International Year of Sanitation 2008 celebration to promote community healthier life in Nias Island, Indonesia.

Diseases


As a result, it was not surprising that the vill
age was susceptible to diseases such as diarrhoea, malaria and dengue fever. “We were living in a very unhealthy life,” Iberia admits.

Changing people’s old behaviour in Lahewa wa
s truly a challenge. Moreover, the International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies (IFRC), with support from Canadian Red Cross, works alone to provide water and sanitation assistance in this area. The water and sanitation team must arrange intensive promotion and campaign activities to convince the villagers to improve their daily sanitation practices gradually. Almost 7,000 people have been reached by these programmes to date.

Children are in queue registering their selves to participate in hygiene competition in Lahewa, Nias Island.

Hygiene

“We engage the local community to kee
p them familiar with practical sanitation and hygiene topics,” says Biserka Pop Stefanija, the IFRC’s water and sanitation delegate in Lahewa.

In Lahewa, the community has b
een involved from the outset, with villagers voluntarily contributing materials during the construction phase. The Red Cross Red Crescent also provides them with training on operation and maintenance skills, so the community can maintain their new facilities.

Two kids participate in teeth brushing competition in Lahewa, Nias Island. Besides having fun, children also learn about how to keep their body and environment clean and healthy

“In the past, people in Lahewa knew nothing about family sanitation, but now they start to recognise its urgency,” says Yamo Arota Hulu, the secretary of Lahewa Head of Sub-District.


The IFRC has been working on water and sanitation in Lahewa, Nias since 2005. Accordi
ng to United Nations data, approximately 2.6 billion people in the world have no access to clean water and proper sanitation.

People in Lahewa, Nias enjoy the film screening that delivering family health and hygienic messages.

Monday, July 28, 2008

Yanti

She is Sumaryanti. Call her Yanti. I met her two weeks ago at Erasmus Huis, Kuningan Jakarta in the launching of the Indonesian Red Cross (PMI) book: Stories of Hope: Back Alive. This book contains 29 stories of disable people who received psychosocial support from PMI.

Yanti came from Yogyakarta with Kartini, a PMI’s psychosocial support programme (PSP) volunteer. “We just arrived last night, I’m actually still tired,” she admitted. But Yanti couldn’t hide her enthusiasm about the event. PMI invited Yanti to share her experience as a survivor from the disaster and how she accepted the condition she couldn’t avoid.

Yanti, accompanied by Kartini, is sharing her experiences

Before the Yogyakarta earthquake, Yanti worked as a salesgirl at Malioboro mall, Yogyakarta city. But the disaster has changed everything. Her spinal injury left her wheelchair-bound. As Yanti told in the book, in the beginning she used to cry a lot about her misfortune. “It took one year for me to recover my spirit,” Yanti remembered. Tear drops falling from her eyes.

PMI through its psychosocial support programme –supported by the Netherland Red Cross- provided assistance to help start disabled people’s live over and to self sustaining. Yanti was one of them. After attending meetings with other disabled people, she rediscovered her enthusiasm for life.

Signing the cover of Stories of Hope book

During group activities, PMI volunteers in provided her with suggestion on producing various small saleable items, such as key chains. Yanti was lucky because she studied dressmaking in high school, so she decided to start producing sewn souvenirs. She also runs a small business selling credit vouchers for mobile phones at her home.

“I hope other disabled people like me in Yogya could also receive the same support from PMI,” Yanti said.

Friday, July 11, 2008

Me vs Liver: 0-1 (final score)

Last week was really a nightmare for me. Since 1990, I have never been hospitalized for any health problems. But last Monday, I was finally defeated by the disease and was hospitalized for three days at Karya Bakti Hospital, Bogor.

Initial diagnosis: hepatitis. Really frightened me. The result later showed it was not. But as doctor said: "You have problem with your liver. Not too serious, but you must be careful from now," doctor warned.

So, now I'm back to work. But this will always haunt me. I understand now how valuable the healthy is (when you're sick).


Total in three days:
intravenous infusion fluid = 9 bottles; anti vomit fluid = 6 sacks

Saturday, June 21, 2008

The sweet of joyfulness

When I was kid, it’s easy to find street vendors who sell sugarcane juice in Medan, North Sumatra. They are very unique sellers who bring a manual or diesel-powered sugarcane extractor. This usually consists of two steel cylinders placed side by side. Each cylinder rolls to opposite ways and when you pushing a bar of sugarcane between the rollers, the bar will be crushed, resulting an unique and attractive-looked juice. It could be repeated several times until you’re sure that the bar is totally dry and no more resulting extract. You don’t need to add any sweeten as the juice already has a perfect sweet taste.

A street vendor sells sugarcane juice in a corner of city of Jambi

Guess what, I found this sugarcane juice vendor during walking around city of Jambi. Surprise! All memories suddenly opened in front my eyes. It’s been long time not tasting the special juice like I did in the past.

So, I left my mom –who’s busy with shopping with my sister and my wife looking for local batik clothes- to visit the vendor’s little kiosk. Dozens of sugar cane bars orderly arranged in transparent glass box. The juice price is quite cheap, only IDR 2,000 (USD 22 cent) per cup.

Sugarcane bars ready for extracted

Now it’s the show time. The vendor turned on her extractor machine and started to crush the sugar cane bars one by one. Different with what I saw 30 years ago, this juice colour is greenish instead brownish. “It’s because the different kind of sugarcane,” said Ridho, friend of my brother who joint with us in the travelling. Only three bars of sugar cane needed to get a full glass of juice before I tasted it later and….

BUZZ....

A glass of greenish sugarcane juice

It was a moment of truth, an unbelievable experience. A feeling that had been forgotten for long time finally came again. The juice is really fresh with a light sweet taste and good smell.

My brothers and Ridho might saw a flash of joyfulness in my eyes caused by such exciting experience. I successfully provoked them to also ordered the same drink as I did :)

And the sugar ane juice party just began in that sunny afternoon; at a small kiosk in city of Jambi.

The sugarcane, that tasted good
The cinnamon, that
Hollywood

Come on, come on…

(Michael Stipe, R.E.M: Imitation of Life)