Tuesday, January 10, 2006

Hikayat Para Pengembara

Tahu fenomena mudik lebaran? Barangkali, Anda malah salah satu yang setia melakukannya setiap tahun. Tidak peduli kaya-miskin, tua-muda, lelaki-wanita, semuanya berbondong-bondong menempuh jarak ratusan hingga ribuan kilometer demi bisa kembali ke kampung halaman. “Ritual tahunan” itu seolah menjadi kewajiban bagi banyak orang.

Di dunia fauna, kejadian “mudik” sesungguhnya banyak terjadi. Ada banyak spesies hewan di alam yang keterikatannya kepada tempat asal amat tinggi. Tentu saja, motif perpindahannya berbeda-beda. Dan ini menajdikan fenomena tersebut sebagai bahan penelitian menarik bagi para peneliti sejak puluhan tahun silam.

Tengok saja, misalnya, burung pelikan. Di daerah dengan empat musim, menjelang datangnya musim dingin, burung-burung ini berbondong-bondong terbang menuju daerah dan perairan yang lebih hangat. Yang dicari adalah ruang lebih nyaman untuk tempat tumbuh dan dewasanya anak-anak mereka, juga ketersediaan sumberdaya makanan yang berlimpah, yakni ikan, yang banyak terdapat di perairan bersuhu hangat. Kelak, setelah anak-anak pelikan menjadi cukup dewasa, mereka pulang kembali ke daerah asalnya, yang sudah memasuki musim semi atau panas. Mereka tinggal di sana hingga musim gugur. Lalu, upacara tahunan migrasi dan mudik terulang kembali.

Konon, migrasi burung ini amat terbantu dengan kondisi bumi yang merupakan sebuah medan magnet super-raksasa. Para hewan merasakan manfaatnya. Antara dua kutub bumi merupakan medan magnet yang kekuatannya bervariasi. Burung yang ‘pindah rumah’ sementara, dalam kenyataannya tidak pernah mengalami kesalahan menuju lokasi yang mereka tuju. Padahal mereka terbang malam hari, atau pada saat cuaca tak bersahabat sekali pun.

Jenis burung Robin, umpamanya, jika ditaruh di kandang persis sebelum masa berangkat migrasi, posisi bertenggernya ternyata menghadap tujuan yang diinginkan. Para ahli bilang, selain tanda-tanda dari langit, burung menggunakan kemampuannya mendeteksi medan magnet di sekitarnya. Jika medan ini kacau, mereka kehilangan orientasi. Karena itulah, ketika belasan tahun lalu sekelompok burung pelikan tahu-tahu nyasar ke Indonesia dan memenuhi pantai-pantai kita, kekacauan magnet bumi itu bisa jadi merupakan penyebabnya. Wallahu a’lam.

Lebih gigih

Dibanding manusia, perjalanan hewan-hewan tersebut dari menetas hingga melakukan perjalanan besarnya ternyata lebih teratur, konsisten, dan lebih gigih. Kalau mudik ala manusia separah-parahnya menguras uang di kantong, fauna ini justru menantang mara bahaya menuju tempat asalnya, untuk setor nyawa. Mati.

Salmon Atlantik adalah salah satu contoh. Ikan ini dikenal sebagai pengembara dunia. Ikan ini termasuk jenis anadromous, yang berpijah di air tawar, tapi menghabiskan sebagian hidupnya di laut. Deskripsi ilmiah tentang perjalanan Salmon Atlantik sejak usai memijah, hidup di laut, hingga kembali ke hulu untuk memijah, telah didokumentasikan sejak tahun 1700-an. Begitu pun, tetap saja banyak hal yang belum diketahui.

Wilayah bersejarah salmon ini meliputi Samudera Atlantik Utara dan anak-anak sungainya dari Ungava Bay ke Danau Ontario, menuju Selatan ke Connecticut di Amerika, dari Laut Putih Rusia, ke Portugal menuju pesisir atau pantai-pantai Eropa. Sayangnya, banyak perjalanan ini yang sudah mulai berkurang, atau bahkan punah. Namun, perjalanan eksotik salmon masih bisa ditemui di sungai-sungai di kawasan Irlandia, Inggis, Kanada, Kepualauan Faroe, Islandia, Norwegia, Finlandia, Rusia, Prancis, Spanyol, Kanada, dan Amerika Serikat.

Parr, Smolt, Turun Gunung

Salmon banyak mengalami perubahan tahapan dan ciri selama siklus hidupnya. Saat memijah di hulu-hulu sungai, telur –telurnya yang seukuran kacang ijo akan dilepaskan oleh betina dan di sarang-sarang di tepi sungai, pada musim gugur. Beberapa jenis salmon betina biasanya menggali sarang dengan ekornya, meletakkan telur di sarang tersebut. Tiap sarang berisi 500 hingga 1200 butir telur. Hanya 20 sampai 100 butir yang bertahan menetas menjadi larva dan ikan muda.

Pada awal musim semi, ribuan larva salmon (alevin) muncul. Ukurannya sekitar 2 sentimeter. Mereka bertahan hidup dengan kantong kuning telur di perutnya, yang lazim disebut yolk salk. Fungsi kantong ini adalah sebagai penyedia sumber makanan selama usia larva. Untuk menghindari pemangsa alami di perairan, makhluk kecil lemah itu bersembunyi di balik bebatuan. Dan ketika kantung kuning telur itu habis, ikan-ikan muda itu mulai berjuang menuju ruang air yang lebih luas. Mereka tinggal hingga ikan muda (fry) hingga mencapai panjang 8 sentimeter.

Jika para salmon mulai memiliki tanda khas vertikal di bagian punggungnya, itu artinya mereka masuk tahapan parr. Tanda parr –terdapat di punggung di sepanjang sisi tubuh dan berwarna gelap-- berfungsi sebagai alat kamuflase dari pandangan pemangsa atau predator. Kumpulan parr ini tetap tinggal di sungai selama 2 hingga 6 tahun, tergantung temperatur dan suplai pakan yang tersedia.

Ketika ikan-ikan ini sudab mencapai panjang 12 sampai 24 sentimeter, mereka mulai menjalani transformasi musim seminya menjadi smolt. Tanda parr yang tadinya jelas tampak, kni berganti menjadi tanda keperakan. Jangan salah, ini justru menjadi alat kamuflase yang lebih sempurna untuk hidup mereka di laut nantinya. Sistem internal tubuhnya pun mulai perlahan beradaptasi terhadap air laut asin. Dan akhirnya, gerombolan ikan ini memulai perjalanan panjangnya, ‘turun gunung’ menuju laut sebagai tempat mencari makan dan kehidupan baru mereka. Berdasarkan perhitungan peneliti, hanya dua persen salmon yang menetas dan bertahan hidup hingga dewasa.

Mudik dan Mati

Di laut bebas, mereka tumbuh pesat dengan memakan udang-udangan dan ikan kecil. Meski demikian, salmon juga mesti pintar-pintar berkelit menghindari predator seperti ikan carnivora yang lebih besar, dan mamalia laut lainnya.

Setelah hidup 1-2 tahun di laut, mereka menjalani kembali melakoni perjalanan ziarah ke tanah leluhur, ke anak sungai di hulu tempat asal mereka. Inilah yang menakjubkan. Betapa tidak. Para salmon kembali dengan tepat ke tempat asal mereka menetas. Tidak ada yang keliru atau nyasar, misalnya salmon asal anak sungai A mudik ke anak sungai B.

Dan perjalanan pulang ini betul-betul melelahkan serta penuh mara bahaya. Ikan-ikan itu harus menempuh jarak tak kurang dari 4000 kilometer dari laut bebas menuju hulu. Jika mereka pulang ke hulu saat musim dingin berlangsung di lautan, mereka disebut grilse. Salmon atlantik akan memasuki sungai sekitar bulan April dan November, menapaki jalan ke hulu, mampu melompati rintangan hingga 3 meter tingginya, termasuk air terjun dan riam.

Banyak di antara ikan itu yang “gugur” di tengah jalan, karena dimangsa hewan darat, ditangkapi manusia, atau kena penyakit. Karena itu pula, di beberapa negara, ditetapkan larangan menangkap salmon sepanjang jalur pulang-perginya. Sisanya yang bertahan, bisa mencapai hulu sungai, kampung halaman mereka, dan memijah pada akhir musim gugur. Yang lebih mengharukan, usai menunaikan tugas mulianya –meneruskan rantai keturunan-- mereka pun mati.


Ada beberapa populasi yang tak sempat ke laut selama hidupnya. Mereka tertahan di danau-danau dan sistem sungai di area yang berbatasan dengan Laut Utara. Ikan-ikan ini tetap mengikuti siklus hidup sebagaimana salmon yang bermigrasi ke laut, kecuali bahwa daerah migrasinya adalah antara areal pencarian makanan (feeding ground di perairan dalam danau menuju perairan tempat memijah di daerah yang lebih dangkal. Ukuran rata-rata dewasanya 20-60 sentimeter, dengan berat kurang dari 4 kilogram,

Mudik ke Laut

Sebaliknya, ada ikan yang menjalani mudiknya menuju laut. Sidat atau disebut juga moa atau eel (Anguila sp), merupakan ikan menyerupai belut sawah, tapi mempunyai sirip dan ekor.

Beberapa jenis ikan ini, yang dikenal sebagai ikan pengembara, merampungkan sebagian siklus hidupnya di air tawar atau sekitar pantai. Musim pemijahannya dipercaya dilakukan pada musim semi. Misalnya sidat di Laut Sargasso, antara Bermuda dan Bahama. Sidat betina bisa membawa hingga 10 juta telur, yang nantinya berkembang menjadi larva yang disebut leptocephalus. Larva-larva ini bermigrasi ke pesisir Eropa mengikuti arus samudera. Perjalanannya menghabiskan waktu hinga 12 bulan. Larva berenang dengan kecepatan antara 1 hingga 5 mil per jam.

Saat mencapai Eropa, mereka berubah menjadi tahapan sidat kaca (glass eel). Mereka memasuki perairan tawar selama musim semi dan puncak migrasinya terjadi ketika pasang naik bulan April dan Mei. Saat itu, sidat muda itu berubah warna menjadi lebih gelap, dan dengan memanfaatkan arus pasang naik mereka tercegah dari terseret arus surut. Soalnya, kalau ini terjadi, sidat-sidat ini akan menjadi santapan lezat bagi nelayan pencari sidat dan predator lainnya.

Ada sidat yang tinggal dan hidup menetap di perairan payau. Di situ mereka makan dan tumbuh, sementara yang lain bermigrasi pulang-pergi menuju atau dari perairan tawar sepanjang hidupnya. Sidat hidup dekat dasar sungai dan danau. Mereka bermigrasi dengan pelan ke hulu. Selama periode ini, biasanya mereka disebut sebagai sidat kuning atau coklat, mengacu warnanya tubuhnya. Sidat jantan umumnya hidup di tempat yang lebih rendah, sementara betina kebanyakan mampu bergerak jauh ke hulu.

Untuk bertahan dan tumbuh, sidat memangsa invertebrata. Individu yang lebih besar ukurannya bisa pula memangsa ikan-ikan kecil. Walau bukti ilmiah tidak ditemukan, sidat biasanya suka dituduh sebagai hewan yang memangsa telur dan larva salmon. Yang jantan tinggal di perairan tawar 7 hingga 12 tahun sampai tingkat matang kelamin, dengan ukuran tubuh mencapai 26 sentimeter. Sidat betina tinggal lebih lama, 9 hingga 16 tahun, dengan ukuran lebih besar, sekitar 46 sentimeter. Hewan ini dapat hidup dan tumbuh lebih panjang hingga mencapai semeter.

Saat sudah matang kelamin, mereka berubah warna menjadi biru/perak (dikenal dengan sebutan sidat perak). Kemudian sidat-sidat bermigrasi kembali ke laut selama musim gugur. Kegelapan malam atau cuaca yang buruk malah justru membantu mudiknya mereka lebih lancar, tanpa gangguan pemangsa.

Begitu sampai di Laut Sargasso, sidat-sidat memijah dan akhirnya mati. Larva dan anak sidatlah yang kelak mengulangi lagi jejak induk dan para leluhurnya: lahir di laut, mengembara ke sungai, dan akhirnya kembali ke laut. Kematian yang indah dan penuh makna...(ah)

1 comment:

Anggi Kusumah said...

Pernah ke Biotrop ya?? itu adalah tempat kantor saya bekerja :)