Thursday, February 16, 2006

Majalah (Bag. 2): Indonesia Punya Cerita

Sejarah majalah di Indonesia erat dengan pergerakan kebangsaan

PADA akhir abad ke-19, di Indonesia (waktu itu Hindia Belanda) mulai tampak ada penerbitan pers yang bercorak dan berdasar pada suatu program politik, Karangan yang disajikan bersikap kritis terhadap politik kolonial Belanda di Hindia Belanda. Muncullah majalah yang dikenal dengan nama Bondsblad, terbit 1897. Majalah ini membawa suara Indische Bond, perkumpulan kaum Indo-Belanda, yang memperjuangkan Hindia Belanda sebagai tanah airnya serta mengusahakan perlakuan yang sama bagi mereka dalam bidang politik. Selain Bondsblad, terbit juga Jong Indie, yang didirikan oleh Mr. Th. Thomas, seorang ahli hukum di Batavia.

Pada awal abad 20, muncul organisasi pergerakan kemerdekaan seperti Boedi Oetomo, Sarekat Islam dan Indische Partij. Mereka butuh corong untuk menyampaikan program organisasi. Boedi Oetomo menerbitkan Majalah Retno Doemilah dalam bahasa Melayu Jawa, dan Soeara Goeroe. Tahun 1907 di Bandung terbit Majalah Medan Prijaji yang dipimpin RM Tirtoadisoerjo, yang sebelumnya menerbitkan Majalah Soenda Berita.

Di masa-masa itulah terbit banyak majalah, yang kebanyakan isunya mengenai pergerakan kemerdekaan. Akhir 1910, Douwes Dekker menerbitkan majalah dwi mingguan Het Tijdschrift yang sangat radikal pembahasan politiknya dengan menyerukan aksi melawan kolonial. Pada tahun 1913, giliran Tjipto Mangoenkoesoemo menerbitkan Majalah De Indier. RM Soewardi Soerjaningrat mendirikan Hindia Poetra, memakai bahasa pengantar Belanda. Majalah ini berubah menjadi Indonesia Merdeka, yang kemudian terbit dalam dua bahasa. Peredarannya sangat luas, hingga ke Jerman, India, Mesir, Malaya, dan Prancis. Pembacanya mulai dari guru, kalangan swasta, mahasiswa, pejabat belanda dan Indonesia, redaksi surat kabar, dan sebagainya.

Balai Poestaka, salah satu penerbit tertua, juga menerbitkan beberapa majalah untuk rakyat, antara lain Majalah Pandji Poestaka, Majalah Kedjawen dan Parahijangan, majalah anak-anak berbahasa Melayu Taman Kanak-Kanak, dan yang berbahasa Jawa Taman Botjah. Majalah-majalah lain yang terbit dalam kurun ini antara lain: Fikiran Rakjat milik Partai Nasional Indonesia (PNI), dan Daulat Ra’jat(diterbitkan Bung Hatta). Lalu, muncul pula Majalah Weekblad Sin Po tahun 1923 yang merupakan terbitan grup Sin Po. Di majalah mingguan ini pula naskah lagu Indonesia Raya ciptaan WR Supratman untuk pertama kalinya dimunculkan.

Tercatat, hinggga tahun 1920-an, sudah ada 127 majalah dan surat kabar. Setelah era ini, masih ada lagi majalah tri wulanan De Chineesche Revue (1927), Timboel (membahas soal budaya, tahun 1930-an), hingga Pedoman Masjarakat yang terbit di Medan (diasuh HAMKA), serta Pandji Islam. Dari segi bisnis, disebutkan bahwa mutu kebanyakan majalah masih amat rendah, mengingat situasi yang tak memungkinkan perolehan iklan waktu itu.

Di jaman Jepang, ada Majalah Djawa Baroe, Pandji Poestaka, Pradjoerit, Keboedajaan Timoer, dan Panggoeng Giat Gembira. Kebanyakan isinya ketat mengikuti ketentuan penguasa Jepang. Semua majalah ini berhenti terbit seiring dengan takluknya Jepang kepada Sekutu tahun 1945. Memasuki masa kemerdekaan, terbit Majalah Pantja Raja (Desember 1945), Menara Merdeka di Ternate, dan Pedoman, majalah tengah bulanan. Yang terakhir disebut ini merupakan majalah stensilan, berisi suara kaum Republiken menentang Belanda. Ada pula Majalah Pesat yang didirikan Sajuti Melik dan terbit di Jogyakarta.

Selama lebih sepuluh tahun pasca kemerdekaan (1950-an), tercatat jumlah mingguan dan majalah berkala yang beredar sebanyak 226 judul, sementara surat kabar berbahasa Indonesia 67 judul, bahasa Belanda 11 judul, dan Cina 15 judul.

Majalah Modern Lokal

Perkembangan dan petumbuhan majalah, dekade pasca 1970-an semakin unik dan canggih. Majalah mulai menuju spesifikasi. Penerbitan majalah lambat laun mengubah dirinya menjadi bagian dari bisnis pers. Perubahan tersebut dilakukan antara lain dengan membuat pembahasan isi yang lebih mendalam daripada koran. Mereka pun melengkapi diri dengan gambar sampul yang berwarna, sejalan dengan memasyarakatnya teknologi cetak offset warna. Karyawan termasuk reporternya mulai mengikuti sebagaimana layaknya sebuah perusahaan. Majalah Tempo merupakan salah satu contoh majalah berita mingguan yang tumbuh dan berkembang pesat serta relatif minim pesaing, setelah wafatnya majalah Ekspress.

Beberapa majalah juga mengambil segmentasi yang lebih spesifik dan sempat populer, antara lain Aktuil, yang mengambil jalur musik dan seni. Mulai pula muncul majalah di bidang interior, otomotif, kedirgantaraan, manajemen, bisnis, komputer, dan sebagainya, di luar segmentasi yang berdasarkan jenis kelamin dan usia.

Pada masa ini terdapat pula kecenderungan masuknya pengusaha besar bekerja sama dengan pemiik SIUPP (Surat Ijin Usaha Penerbitan Pers) atau pekerja pers untuk mendirikan majalah baru atau menghidupkan majalah yang kolaps, seperti Majalah Anda Bisa, Aneka Ria, Info Bank, dan Prospek. ‘Pemain’nya adalah Sutrisno Bachir. Majalah olahraga Sportif tahun 1981 yang didanai oleh Bob Hasan, pengusaha kayu, demikian juga Gatra pada akhir tahun 1994. Sementara Popular didukung oleh Aburizal Bakrie, Vista oleh Suryo Paloh, dan Sinar oleh Ir. Ciputra. Pengusaha Sukamdani Sahid Gitosardjono dan beberapa rekannya memodali terbitnya Indonesia Business Weekly, dan A. Latief dikabarkan menyokong Majalah Proaktif. Perubahan yang cukup siginifikan ini juga menimbulkan problem baru yakni kekhawatiran kekuatan pengawasan media akibat adanya conflict of interest dari pemilik modal.

Sebelumnya, sempat pula dikenal praktik perubahan nama dengan membeli SIT (Surat Ijin Terbit), misalnya Fokus (dari SIT Flamboyan), Bombom (dari Violeta), Intan (dari Prestasi), Ria Kuis (dari Tokoh), dan Srikandi ( dari Contessa Asah Otak). Tahun 1989, tercatat jumlah majalah yang terbit berjumlah 107 buah, dengan sirkulasi total 3. 623.000 eksemplar.

Pada masa pasca reformasi 1998, SIUPP akhirnya dihapuskan. Sejak itu, jumlah penerbitan pers di Indonesia membengkak drastis. Tahun 2000, diperkirakan penerbitan pers mencapai sekitar 1.800 sampai 2.000, namun benar-benar operasional diperkirakan tidak lebih dari 800 penerbitan.

Majalah dan Investigasi

Jurnalisme muckcracking, yang pada awal perkembangannya banyak mengungkap skandal-skandal besar seperti korupsi, pelanggaran hak asasi, dan sebagainya, di dalam negeri lebih dikenal dengan sebutan jurnalisme investigasi atau istilah lunak lainnya, indepth reporting (reportase mendalam). Pers cetak yang dikenal luas sebagai pengusung jurnalisme ini adalah koran Indonesia Raya yang dipimpin Mochtar Lubis. Koran ini sempat dibredel tujuh kali hingga akhirnya dihentikan penerbitannya tahun 1974.

Majalah Tempo sebelum bredel 1994 beberapa kali pernah menuliskan laporan yang bersifat investigasi, antara lain tentang kerusuhan Tanjungpriok, pembelian kapal bekas RI dari Jerman, dan sebagainya. Peliputan investigatif tampaknya mulai dipakai wartawan secara serius pada dekade 1990-an. Dan sejak reformasi bergulir tahun 1998, pelaporan investigatif banyak mendapat tempat dengan memberitakan kasus-kasus korupsi. Majalah yang dengan eksplisit memberi judul investigasi pada liputan mereka antara lain dwi-mingguan Tajuk, yang terbit tahun 1996. Tajuk menyatakan diri sebagai majalah berita, investigasi, dan entertainment. Sedangkan Tempo, setelah terbit kembali Oktober 1998, memuat rubrik tetap Investigasi, yang pada edisi pertama menelusuri soal pemerkosaan perempuan keturuan Cina pada kerusuhan Mei 1998.

Ragam Majalah

Era kebebasan pers di jaman Reformasi membawa pengaruh pada usaha penerbitan majalah. Berbagai penemuan majalah baru semakin marak bermunculan di pasar. Dari data yang ada, majalah di Indonesia dikategorikan berdasarkan segmentasi khalayak pembacanya (lihat boks), misalnya majalah Bisnis dan Ekonomi, majalah Sastra dan Budaya, majalah Wanita, majalah Pria, majalah Berita, majalah Umum/Keluarga, majalah Remaja, majalah Anak, majalah Film, Musik, dan Televisi (entertainment), majalah Olahraga, majalah Agama, majalah Komputer, majalah Hobi, dan lain-lain

Masuknya negara-negara dunia ke dalam era globalisasi memberi pemgaruh signifikan dengan penerbitan majalah di Indonesia. Pihak asing mulai tertarik menanamkan modalnya di bidang pers, sebaliknya pengusaha dalam negeri berkesempatan mencari lahan media asing untuk dapat diterbitkan dengan gaya lokal.

Berbagai ijin waralaba (franchise) dari media mancanegara mulai tumbuh, seperti Cosmopolitan, F1, Golf Digest, Bazaar, Seventeen, Her World, Mens Health, Parent’s Guide Business Week, Komputeraktif!, dan lain-lain. Peredaran pers asing dan pendirian perwakilan perusahaan pers asing di Indonesia ini diatur dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku yaitu UU No.40 th.1999 tentang Pers.

Era Internet

Era digital dan munculnya internet mempengaruhi majalah dalam menampilkan isinya maupun proses pengolahan berita mereka. Secara isi, banyak majalah kini tampil secara online untuk dibaca publik. Gatra dapat disebut sebagai salah satu yang mempelopori, yakni dengan Gatra Information Service (GIS) tahun 1995. Saat ini, hampir tiap majalah memiliki versi online. Beberapa menampilkan layanan interaktif seperti polling, yang tidak dimuat dalam versi cetaknya. Umumnya, majalah online juga menampilkan berita-berita terkini, baik yang dikutip dari kantor berita lain ataupun yang diliput oleh reporternya sendiri seperti Tempo News Room.

Sedangkan proses peliputan berita hingga sampai ke redaksi dan tata letak juga mengalami perubahan. Sekita tahun 1995, wartawan mulai mengenal pengiriman naskah secara elektronik, yang dilakukan oleh beberapa media besar. Tahun-tahun selanjutnya, baik naskah maupun gambar mulai kerap dikirim dari lapangan dengan bantuan e-mail, telepon seluler, kamera digital, atau penerima foto digital lewat satelit.

Bredel dan Kebebasan Pers

Saat diberlakukannya politik liberal tahun 1950-an, media massa mulai rajin megritik pemerintah. Vonis bredel sendiri sesungguhnya sudah ada sejak jaman kolonial dengan diterapkannya Persbreidel Ordonnantie tahun 1931. Pada tahun 1954, PWI dan SPS berhasil mendesakkan tuntutan agar pemerintah menghapus peraturan peninggalan kolonial tersebut. Sebagai gantinya, pada akhir tahun 1960, penerbitan pers wajib mengajukan permohonan SIT (Surat Ijin Terbit). Pada masa ini sejumlah penerbitan berhenti beroperasi karena situasi politik, antara lain majalah Sastra pimpinan HB Jassin. Sementara media pro PKI mulai muncul.

Pembredelan 12 penerbitan pers juga terjadi akibat kasus Peristiwa Malari, 1974. Setelah itu, secara umum sejak tahun 1979 hingga 1984 sedikitnya ada empat majalah yang dicabut SIT-nya yakni Matahari, Tempo, Topik, dan Expo. Juga beberapa kali teguran dan peringatan karena ada majalah dianggap memberitakan hal yang tidak menguntungkan atau pun menampilkan pornografi. Tahun 1994, dengan alasan berbeda-beda, pemerintah membredel majalah Tempo, Editor dan tabloid Detik. Empat tahun kemudian, Tempo terbit kembali.

(ahmad husein, dari berbagai sumber)

3 comments:

handajani said...

Terima kasih sekali atas informasi dari blog anda.
Boleh minta ijin untuk mengutip blog anda untuk penelitian saya ?

La chiquita said...

Hello mas Ahmad Husein... Sebelumnya saya mau bilang terimakasih dengan informasi yang anda tulis dalam blo anda, cukup membantu saya yang sedang menulis skripsi mengenai media massa di Indonesia. Kebetulan saya sedang belajar di rusia, dan sangat sulit sekali mencari sumber-sumber berbentuk buku mengenai media massa indonesia disini. Apa boleh buat saya banyak membaca melalui Internet walaupun kadang2 hasilnya malah membingungkan karena, banyak sekali fakta2 yg terkadang beda... anyway, kalo mas Ahmad tau dan enggak merasa keberatan untuk memberi tahukan saya sumber2 yg akan sangat bermanfaat untuk tulisan skripsi saya dari internet, saya akan sangat senang sekali :)

Terimakasih Banyak sekali lagi, feed me back if u would.

Anonymous said...

selamat sore mas..saya vito, mahasiswa jurnalistik Unpad.
aku boleh lihat tidak yang mengenai segmentasi media yang katanya ada boksnya...karena saya tidak menemukan boksnya.

untuk keperluan skripsi...boleh kirim ke yurivitokrisnugroho@yahoo.com
maaf mas merepotkan..
banyak terima kasih..

vito