Friday, March 04, 2005

Republik (Kereta) Indonesia...

Hmm... Kereta Api. Moda angkutan darat ini termasuk yang paling banyak menemani hidup saya sejak mulai mencari nafkah di Jakarta. Murah, meriah, meski penuh perjuangan dan doa.

Kalo situ mau mandi sauna di spa tapi ndak punya uang, saya sarankan naik KRL ekonomi Bogor-Jakarta aja, ditanggung mirip kok. Malah ada bonusnya segala.
Coba, mana ada ruang sauna di spa yang tiba-tiba bisa lewat bapak separuh baya sambil bawa selebaran sumbangan mesjid: "Assalaaaamu'alaikum...dst...dst." Atau, mana ada di spa lewat tukang tahu yang suka bikin gerr penumpang satu gerbong karena teriak: "Tahu, tahu sumedang, beli 10 bonus cabe...." Kadang-kadang ada juga tukang jual buah yang bualannya bikin bingung: "Apel Bandung, apel Bandung, murah meriah buat ibu-ibu di dapur..." Karena penasaran, ada yang nanya apel bandung itu yang seperti apa. Si tukang dagang dengan enaknya buka keranjangnya. Apa itu? Tomat, saudara-saudara... Norak nggak sih? Atau, kadang nongol juga anak kecil seraya pegang kerecekan dari tutup botol sambil bernyanyi merem-melek niruin Ariel Peter Pan (eh, ini yang mbuntingin anak orang itu ya? Tobatlah, bung): "Ada apaaa denganmuuu..??"

Ya, ada apa denganmu PT KAI? Sejak dahulu jaman kereta kotak-kotak, hingga masuk KRL biru Holec (orang-orang bilangnya si Komo, ntah kenapa, aku tak tahu...), Pakuan ex Jepang, sampai made in dewe keluaran Madiun, rasanya layanan tidak berubah. Tak manusiawi. Penuh sesak, manusia identik dengan sarden kaleng. Bedanya, "sarden-sarden" ini harus bayar duit tiket.

KRL juga zona rawan pelecehan seksual bagi para perempuan. Juga zona enak untuk selingkuh, lho....! Saya pernah tau, satu ketika, pagi-pagi, ketika KRL ekonomi mau "take off" (cie, bahasanya) dari setatsiun Mbogor, eh ada seorang ibu naik dan langsung ke satu gerbong. Di sana, di hadapan seorang wanita karir (bukan carrier) yang molegh bin geboy, itu ibu langsung damprat, "Dasar perempuan %$%@(*$ (sensorrr....). Selidik punya selidik, itu perempuan kantoran rupanya selalu pulang-pergi ke Jakarta bareng suami si ibu, plus beberapa karyawan lain. Istilahnya, mereka bikin geng, lah. Ada yang rela beliin tiket, nge-tek tempat duduk, dan sebangsanya. Dan setan nggak milih tempat, biar KRL ekonomi juga, kalau ada yang bisa digoda, why not (kecuali setan di KitKat 'kali ya, bisa ada gencatan senjata sama malaikat). Dan karena sering bareng-bareng, cin-ka (singkatan dari Cinta Ka Er El, sejenis Cinlok alias cinta lokasi) akhirnya terbentuk. Dan keluarga jadi berantakan....

Dan jangan salah, KRL juga sarang copet, terutama KRL ekonomi. Modusnya primitif punya, nempel sana-nempel sini, terutama pas brenti di stasiun, terus embat tas orang. Yang agak pinter pake cara nyilet. Yang rada sadis ya seperti kejadian copet/todong yang menewaskan lulusan anyar UI itu, baru-baru ini.

Di KRL pula ada praktik mafia terselubung, mulai dari yang kelas kambing sampe yang eksekutif. ada petugas karcis yang selalu bilang tiket dengan nomor duduk udah abis. Tetapi begitu ada nona asoy geboy yang modal rok di atas dengkul lemah gemulai sambil main mata nanya tiket, eh, dari balik laci adaaaa aja tiket bernomor kursi. Asem deh... Atau, gerombolan penumpang tertentu suka nongkrong di gerbong sekian, tidak beli tiket. Begitu kondektur datang, nah ada jubir khususnya. Cukup kumpulin duit separo harga (kadang cuma seperempat harga), tinggal di-mangsupin ke sakunya pak kondektur. Awww, rejeki di tengah krismon, siapa yang nolak? Termasuk juga di KRL Eksekutif, praktik sama berlangsung. Pak kondektur yang kayak gini, biasanya baru berlagak alim kalau ada sidak dari Polsuska (polisi khusus KA). Demikian juga masinis, udah tau di stasiun tertentu ndak boleh berhenti, eh, cukup bayar 2000 perak, itu KA yang sudah punya jadwal tegas, bisa aja brenti semaunya, nurunin penumpang... Ck...ck..ck..

Kadang-kadang, ada kondektur yang tegas. Kagak peduli orang parlente atau kumuh, asal nggak punya tiket, dia giring itu orang ke stasiun terdekat, diturunkan dengan tidak hormat. Nah, saya angkat jempol buat kondektur kayak gini...

Sering kali gangguan tidak datang dari dalam, tapi dari luar. Entah sudah berapa kereta yang kacanya bolong-bolong dilempar batu oleh orang yang tak bertanggung jawab. Atau anak-anak sekolah yang nyelonong masuk stasiun dan naik ke atap KRL, dengan risiko "wassalam" disengat listrik.

Pokoknya, semuanya yang nyeleneh2x ada di kereta. Persis seperti kehidupan sehari-hari di Indonesia. Kehidupan di kereta api dan stasiun itu adalah miniatur kehidupan negara ini. Persis sama: ada bad guys, ada good guys, ada intrik, ada tragedi. Dan saya, cuma satu dari sekian ribu orang yang statusnya di dalam kereta dan di dalam negara persis sama: jadi penumpang, tergencet, dan tidak ada yang peduli.... Masih syukur, sekarang saya naik KRL Eksekutif. Tetapi tiap kali melihat KRL Ekonomi melintas, saya merasa seakan ikut terjepit dan terengah-engah.

Saya yakin, persoalan ini bisa dipecahkan. Salah satunya, kalo Pak SBY kebetulan nge-warnet, atau surfing di istana negara malam ini, lalu iseng masuk blognya sayah di http://duamata.blogspot.com ini, dan baca artikel ini. Kayaknya, siapa tau, besok pagi keluar maklumat presiden: BBM batal dinaikkan, pemerintah akan membuat lebih banyak KRL eksekutif buat rakyat kecil, dan pemberantasan korupsi dimulai dari tubuh PT KAI.... Huebaaat.... Dan (mungkin lagi), lusanya SBY muncul di depan pintu rumah saya di Cimanggu, malam-malam, menyamar sebagai tukang ojek, lalu berbisik: "Eh, bagaimana kalau malam ini kita survey ke tempat pembuangan sampah?" Sudah pasti saya bakal tersipu malu dan mengangguk sambil berujar, "Ah, Bapak bisa aja..." (ah)

**menyongsong kenaikan harga BBM, perkenankan saya berucap: kaciaaaaan deh, kita....**

3 comments:

onetea said...

ooh ternyata alumnus KA super ekonomi juga? :D

benernya PT KAI kita tuh BUMN yang paling kaya, karena punya kepemilikan tanah yang luas, cmn sayang mrk ga bisa ngelola. jadilah kita hya bisa ngekspor KA bekas buatan de dan jp. walopun murah, tapi hal ini bisa mematikan PT INKA, tul ga?

Andi said...

naiklah Prameks, Solo-Jogja. di situlah para copet melakukan pertemuan

husein said...

tulllllllll .. he he ane asli madiun loh mas dulu jg pernah training kerja ( praktek ) di PT INKA di departemen fabrikasi sub divisi perakitan Bogie :D emang sepi kadang .. malah pesenan ada yg dari aussie juga tapi kok PT KAI malah ngimpor KRD dari Jepang sih bekas lagi...

http://kusaeni.com