Wednesday, February 16, 2005

Hutan Samudera nan Merana


Keindahan terumbu karang tidak terbantahkan. Ulah rakus manusia membuatnya makin hancur

TONTONLAH film kartun Disney yang berjudul “Finding Nemo”. Nikmati adegan ketika Nemo si ikan badut (giru) bangun pagi di sela-sela tentakel anemon --yang beracun bagi hewan lain tapi tidak bagi giru—lalu berangkat sekolah diantar ayahnya, Marlin. Sekolah di kawasan terumbu karang itu mirip sekolah internasional, terdiri atas berbagai ‘suku bangsa’ ikan, di tengah warna-warni belantara karang yang amat luas. Indah sekali.

Di alam aslinya, gambaran kartun itu tak terlalu salah, malah lebih indah dan mengagumkan. Setidaknya, bagi mereka yang pernah melihat langsung pemandangan bawah laut, atau yang pernah melihatnya di layar kaca, pasti mengakui betapa fantastisnya alam bawah laut di kawasan terumbu karang.

Dan bersyukurkah, Indonesia dianugerahi kawasan terumbu karang yang paling spektakuler, diakui oleh kalangan mana pun di dunia. Maka, semua penggemar selam atau snorkeling pasti tahu, setidaknya pernah mendengar, eksotisnya isi bawah laut Taman Laut Bunaken di Sulawesi Utara. Atau di kawasan Pulau Derawan dan Sangalaki di Kalimantan Timur, Takabonerate di Sulawesi Selatan, kawasan Raja Ampat di Papua, perairan Pulau Komodo, hingga yang cukup dekat seperti di Kepulauan Seribu, Jakarta.

Bandingkan dengan negara-negara di daerah subtropis, yang tak punya lokasi semacam itu. Jadi, bukan hal yang mengherankan jika pernah mendengar bagaimana banyak wisatawan mancanegara bersusah-payah menabung untuk dapat menyelam atau ber-snorkeling di kawasan terumbu karang di Indonesia.


Tumbuhan atau Hewan?

Konon, nenek moyang kita orang bahari, yang gemar mengarung luas samudera. Celakanya, kalau ditanyakan soal (terumbu) karang, cuma segelintir masyarakat kita yang keturunan orang bahari tersebut paham tentang samudera dan segala isinya. Hal paling sederhana, misalnya, soal status terumbu karang sebagai makhluk hidup. Sebagian besar orang pasti dengan yakin menjawab, karang adalah jenis tumbuhan. Alasannya simpel. Dari segi fisik sudah terlihat bentuknya yang menyamai tanaman kebanyakan. Ada yang seperti bunga, rumput, tanaman kipas, bercabang ke sana-sini, dan sebagainya.

Benarkah karang adalah kelompok tumbuhan? Jawabnya, tidak. Sebaliknya, karang justru termasuk dalam golongan hewan. Ia terbentuk dari aktivitas biologi dan merupakan komunitas laut tropis yang khas di antara berbagai komunitas laut lainnya. Terumbu karang merupakan endapan masif kalsium karbonat (kapur) yang direkatkan oleh zat perekat sejenis semen yang dihasilkan oleh alga (ganggang) berkapur dan organisme lain penghasil kalsium karbonat.

Sebagai hewan, karang tergolong dalam Filum Cnidaria, Ordo Scleratina. Walaupun hewan, organisme ini tidak dapat bergerak atau berpindah. Dalam istilah biologi, ia tergolong sebagai organisme yang menetap atau sesile.

Sebuah koloni atau kumpulan karang terbentuk dari ribuan individu yang disebut polip. Polip ini, kalau dilihat, berbentuk bak bunga-bunga kecil. Polip memiliki sejumlah tentakel, dan di bagian tengahnya terdapat mulut. Tentakel ini terdiri dari sel penyengat (stinging cell) yang disebut nematosist—berbentuk seperti panah kecil beracun. Fungsi nematosist ialah untuk menangkap makanan.

Di dalam tentakel dan tubuh karang terdapat alga yang disebut zooxanthellae. Alga ini menghasilkan makanan yang dibutuhkan karang melalui proses fotosintesis. Sebaliknya, polip karang melindungi alga zooxanthellae tadi dari pemangsa dan makhluk lain, karena koral polip merupakan rumah yang cocok bagi alga untuk hidup dan berkembang biak. Hubungan atau simbiosis antara polip karang dan alga tersebut dikenal sebagai hubungan yang saling menguntungkan (simbiosis mutualisme).

Yang mencengangkan, untuk membentuk karang menjadi koloni besar dan tampak seperti yang kita saksikan di bawah laut, dibutuhkan waktu beratus-ratus tahun. Simbiosis dengan waktu yang amat panjang itu dibuktikan dengan diketahuinya usia karang yang berevolusi pertama kali, yakni sejak lebih 200 juta tahun lalu. Maka dapat dibayangkan jika sekelompok karang rusak atau diganggu hidupnya. Untuk pemulihan, dibutuhkan waktu yang sama, puluhan hingga ratusan tahun.


Habitat dan Jenis Karang

Namanya juga makhluk hidup, karang tentu membutuhkan kondisi alamiah yang cocok bagi pertumbuhannya. Ia memerlukan lingkungan perairan laut dengan temperatur antara 18 hingga 30 derajat celsius, kedalaman air sampai 50 meter, dan kadar garam (salinitas) antara 30 hingga 60 ppt. Karang hanya bisa hidup bagus di perairan yang jernih dan laju sedimentasi rendah, dengan pergerakan arus air yang cukup, bebas dari polusi, dan ketersediaan substrat yang padat. Karang tidak bisa hidup di air tawar atau muara sungai.

Dari segi jenisnya, ada yang disebut terumbu karang cincin (atoll). Terumbu karang cincin jenis ini biasanya terdapat di pulau-pulau kecil yang terpisah jauh dari daratan. Pembentukan terumbu karang cincin ini membutuhkan waktu beratus-ratus tahun. Contoh terumbu karang cincin dapat ditemui di Takabonerate, Sulawesi Selatan. Ada pula yang disebut terumbu karang penghalang (barrier reefs). Pernah dengar nama The Great Barrier Reef di Australia? Nah, terumbu karang yang termasuk ngetop di dunia itu adalah contoh terumbu karang penghalang. Ia hadir bak benteng mengawal daratan, menyebar hingga ke arah laut lepas, sehingga disebut sebagai ‘penghalang’.

Selain kedua di atas, terdapat jenis terumbu karang tepi (fringing reefs). Terumbu karang ini merupakan jenis yang paling banyak ditemukan di perairan laut Indonesia. Terumbu karang tepi berada di pesisir pantai yang jaraknya mencapai 100 meter ke arah laut.

Kalau dihitung-hitung, berdasarkan berbagai penelitian ilmiah, terdapat sekitar 800 jenis karang di dunia. Jenis yang dominan di suatu habitat amat tergantung pada kondisi lingkungan atau habitat tempat karang itu hidup. Pada suatu habitat, jenis karang yang hidup didominasi oleh suatu jenis karang tertentu, sedangkan pada habitat lainnya jenis karang yang dominan bisa berasal dari jenis lain pula.

Yang membuat terumbu karang jadi amat berharga bukan soal bentuk dan keindahannya semata. Keberadaannya mengundang organisme lain datang dan hidup di sana, lalu berkembang biak. Misalnya, ikan-ikan yang habitatnya di kawasan karang, memanfaatkan kawasan terumbu untuk tempat tinggal dan berkembang biak. Dan sebagaimana kodrat rantai makanan berlaku, keberadaan ikan dan hewan ini mengundang kedatangan hewan lain yang lebih besar, untuk mencari makan. Tak heran, kawasan terumbu karang mirip pasar ikan, dalam arti benar-benar dipenuhi berbagai jenis ikan yang lalu lalang dan menetap di sana.

Surga Karang

Dari seluruh kawasan perairan laut, Asia Tenggara memiliki sekitar 100 ribu kilometer persegi terumbu karang. Itu berarti 34% dari total luas areal terumbu karang dunia. Dan dari sekitar 800 jenis karang pembentuk terumbu di dunia, lebih dari 600 jenis ditemukan di Asia Tenggara. Hal ini menjadikan terumbu karang di kawasan Asia Tenggara memiliki tingkat keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia. Asia Tenggara merupakan pusat keanekaragaman ikan karang, moluska (kerang-kerangan), dan krustasea (udang-udangan). Wilayah ini juga memiliki 51 dari 710 jenis mangrove di dunia dan 23 dari 50 jenis lamun (seaweed).



Kalau dihitung dengan duit, nilai ekonomis yang berhubungan dengan terumbu karang di Asia Tenggara sudah pasti amat angat penting. Coba saja, nilai perikanan karang yang berkelanjutan di kawasan Asia Tenggara adalah US$ 2,4 milyar per tahun. Sebagai tambahan, terumbu karang sangatlah penting untuk persediaan makanan, tenaga kerja, pariwisata, penelitian farmasi, dan perlindungan pantai. Devisa yang dihasilkan dari penyelam dan kegiatan wisata bahari lainnya amat besar. Belakangan, banyak jenis biota yang hidup di terumbu karang ternyata mengandung berbagai senyawa bioaktif untuk potensi bahan obat-obatan, makanan, dan kosmetika. Terumbu karang Indonesia dan Filipina, misalnya, memberikan keuntungan ekonomi setiap tahunnya masing-masing US$ 1,6 milyar dan US$ 1,1 milyar.

Khusus Indonesia, luas wilayah terumbu karangnya mencapai 75 ribu kilometer persegi, terluas di Asia Tenggara. Karena itu, bisa dimengerti besarnya manfaat terumbu karang bagi alam dan manusia, sebagaimana hitungan di atas.

Merana Luar-Dalam

Namun, di balik semua potensi itu, data dari LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) memperlihatkan kondisi yang memprihatinkan. Keberadaan terumbu karang ternyata tak begitu menggembirakan, bahkan bisa dibilang mencemaskan. Penyebabnya bermacam-macam. Yang jelas, akibat kerusakan terumbu karang yang menjadi rumah tempat berbagai macam hewan laut berlindung, mencari makan, dan berkembang biak itu, maka para hewan laut ini mungkin pergi mencari tempat lain dan tidak pernah kembali lagi. Akibatnya? Para nelayan akan mengalami penurunan hasil tangkapan yang berujung pada penurunan kesejahteraan masyarakat pada umumnya.

Faktor-faktor yang kini jadi mengancam terumbu karang kebanyakan berasal dari kegiatan manusia. Terumbu karang terus-menerus mendapat tekanan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Misalnya, rusaknya karang karena penggunaan bahan peledak untuk mencari ikan. Karang jadi patah, terbelah, tersebar berserakan, dan hancur menjadi pasir. Sedihnya, ledakan itu akan meninggalkan lubang-lubang pada terumbu karang.

Sebagian nelayan gencar menggunakan racun untuk memaksa ikan keluar dari sela-sela karang. Akibatnya, karang mati dan memutih, meninggalkan bekas patahan karang yang banyak. Ada pula yang melakukan penangkapan ikan di sekitar terumbu dengan alat-alat yang merusak seperti penggunaan trawl (pukat). Karang akan mati atau sulit bertahan hidup di daerah yang nelayannya sering menggunakan pukat harimau untuk menangkap ikan. Bagi yang menggunakan bubu, karang biasanya jadi rusak dan terdapat bongkahan karang mati serta menumpuk pada beberapa tempat, terutama jenis karang bercabang (Acrophora branching).

Jangkar juga bisa jadi biang kerok kerusakan, yang mengakibatkan karang rusak dan patah-patah, terutama jenis karang bercabang. Sebagian lagi merusak karang dengan menginjak atau berjalan di atasnya, terutama di tempat-tempat wisata yang bisa dikunjungi turis, atau para nelayan di pulau-pulau. Tak sedikit pula yang mengambil karang untuk cindera mata, dan pembuatan bahan dasar kapur untuk bangunan. Dari daratan, bahaya datang akibat sedimentasi kegiatan pertanian. Sedimentasi yang membawa lumpur ini akan menumpuk di kawasan terumbu karang. Akhirnya, karang mati akibat permukaannya tertutup lumpur.

Selain itu, ekosistem terumbu karang dapat terganggu karena faktor yang alamiah, seperti pemangsaan oleh hewan bintang laut berduri (Crown of Thorn). Hewan ini berbentuk mirip bintang laut, dengan seluruh bagian atas (punggung) berduri. Karang menjadi makanannya, dan jika karena sesuatu hal kondisi lingkungan menjadi tidak seimbang, jumlah bintang laut berduri ini akan membengkak, sehingga menjadi wabah. Terakhir, pemanasan global, dan gempa bumi, juga berperan memusnahkan karang. Dalam gempa bumi dan badai tsunami, sturuktur fisik karang bisa hancur, dan menumpuk di tepi pantai.

Ancaman Berat

Dalam kawasan Asia Tenggara, ancaman terhadap terumbu karang 88 persennya berasal dari aktivitas manusia. Lebih dari 90 persen terumbu karang di Kamboja, Singapura, Taiwan, Filipina, Vietnam, Cina, dan Kepulauan Spratly, serta lebih dari 85% terumbu karang di Malaysia dan Indonesia, kini dalam kondisi terancam. Indonesia dan Filipina total memiliki 77 persen dari seluruh terumbu karang di kawasan Asia Tenggara, dengan sekitar 80 persen di antaranya terancam.

Ratusan jenis karang batu yang membentuk terumbu karang cantik serta hewan-hewan dan tumbuhan laut lainnya yang saling menghidupi dalam sebuah masyarakat bawah laut (ekosistem) selama ribuan tahun ini akan punah kalau tak segera diambil tindakan. Manusia merupakan biang kerok utamanya. Manusia pulalah yang seharusnya mengambil langkah cepat dan strategis dari sekarang. Tingkat pembangunan dan perubahan yang cepat dalam 20 tahun terakhir ini harus disiasati agar tidak terus menjadi alat penggali kubur ekosistem terumbu karang.

Yang menggembirakan, ada banyak upaya mencegah dan mengatasi ancaman tersebut, antara lain lewat pengelolaan terumbu karang secara efektif. Di Asia Tenggara, misalnya, terdapat 646 kawasan konservasi laut, mencakup 8 persen wilayah terumbu karang Asia Tenggara. Namun dalam sebuah riset terhadap 332 dari kawasan konservasi tersebut, ternyata hanya 14 persen yang benar-benar efektif, sisanya 48 persen setengah efektif, dan 38 persen kurang efektif.

Itu berarti, dibutuhkan kerja lebih keras untuk membuat program pengelolaan kawasan perlindungan laut menjadi lebih berhasil. Plus, peraturan dan undang-undang yang menyokong penerapannya. Jika tidak, bisa-bisa ‘hutan samudera’ itu tinggal cerita, sebagaimana yang sudah mulai dialami hutan di daratan. (Ahmad Husein, dari berbagai sumber --dimuat di INSANI Islamic Digest)

No comments: