Saturday, February 19, 2005

Wartawan dan Kenangan Itu.....

Hari ini kusempatkan mampir ke blog Latief "Poltak". Dia nulis tentang dua rekannya, Meutia Hafid dan Budiyanto, yang kini disandera oleh gerombolan bersenjata (belakangan mengaku sebagai Tentara Mujahidin Irak). Aku turut prihatin, kawan... Semoga dua rekan wartawan ini selamat dan dilepaskan segera. Amin.


Mereka yang disandera itu....


Begitu membaca berita itu, saya terbayang kembali betapa kerasnya dunia wartawan. Harus diakui, saya tumbuh di dunia itu, sejak 1994. Dalam hal-hal tertentu, peristiwa yang menimpa Meutia dan Budiyanto ini seperti mata peluru, tak peduli mengenai siapa saja. Sebelumnya juga ada Ferry Santoro dan Ersa Siregar (alm.) yang disandera di sarang GAM, malah hingga berbulan-bulan. Ersa akhirnya gugur, sementara Ferry bebas kemudian.

Dan kenangan lama kembali muncul, karena bersama teman-teman, saya sempat mengalami berbagai situasi yang tak pernah terlupakan --tentu intensitasnya tidak seberat sebagaimana yang dialami wartawan Metro TV itu. Tahun 1998, ketika itu mahasiswa bergolak, DPR diduduki, Trisakti berdarah karena tembakan pasukan yang menewaskan 4 mahasiswanya. Tanggal 13 Mei, saya dan rekan (Nur Hidayat), berangkat ke Trisakti meliput upacara pemakaman mahasiwa. Situasi kacau, massa yang entah dari mana datangnya berkerumun di depan Citraland, makin siang makin banyak. Di tengah-tengah jalan, ada pasukan polisi dan tentara. Sementara di Trisakti, belasan tokoh datang berorasi dan berbelangsungkawa.

Dan entah dari mana datangnya, tiba-tiba truk meluncur, dibakar. Massa mulai merangsek maju, melempari aparat. Krak...krak, saya dengar polisi dan tentara mengokang senjatanya, siaga menghalau massa. Beberapa wartawan, termasuk saya dan Nur, terjebak di tengah-tengah antara massa dan aparat. Saya ingat, suara letusan senjata (peluru hampa?) beberapa kali dilepaskan. "Bakar, bakar, serang saja..." suara massa bergemuruh, dan mereka makin maju dengan beringas. Batu berseliweran di udara, kami pun menunduk. Nur sempat bertanya pada saya, "Kita harus ngapain, lari ke arah tentara, atau lari ke arah massa?" Dua-duanya penuh resiko. Namun pada detik-detik akhir, kami memilih lari ke arah massa, dan merangsek menuju kerumunan belakang, agar aman dari jangkauan batu dan peluru (siapa tahu?)...

Dan tiba-tiba, suara senjata mulai menyalak tak henti-henti. Desingannya sebagian terasa dekat sekali di telinga. Kami berdua komat-kamit berdoa, agar tak jadi sasaran empuk, mengingat kita tidak tau persis jenis peluru apa yang ditembakkan (karet atau jangan-jangan peluru tajam). Yang saya ingat, massa kocar-kacir, dan kami ikut berlari dalam kerumunan. Tahu-tahu kami berdua entah sudah berada di mana, rasanya sudah jauh berlari. Merasa agak aman, kami menyewa bajaj, dan diturunkan di dekat Petamburan. Untung masih ada taksi, dari situ kami berusaha kembali ke kantor. Jalanan lengang. Esok harinya, bakar-bakaran makin marak, dan akhirnya 14-15 Mei itulah Jakarta rusuh dan terbakar di mana-mana.

Dalam kesempatan lain, ketika mencoba menembus barikade demonstrasi massa, dekat gedung DPR, tahu-tahu tabung gas air mata dilontarkan, seluruh demonstran bubar, asap mengepul di mana-mana. Kami hanya bermodal handuk mencoba menutup mata. Gagal, mata tetap terasa perih, dan air mata mengalir terus. Untung tak sempat lama, kami menyingkir ke tempat aman.

Kali lain, ketika tembak-tembakan terjadi di depan Universitas Atmajaya beberapa bulan kemudian (ada mahasiswa yang tewas karena kejadian itu), saya dan rekan Kris juga berada dekat-dekat situ. Kawasan itu selepas Magrib seolah terang-benderang karena cahaya dari rentetan senjata tentara dan polisi. Suara orang berteriak-teriak panik. Kami masih mencoba meliput dan berdiri di dekat Benhil, sampai akhirnya harus berlari ke Gedung Dharmala karena situasi makin panas. Untung Pak Satpam-nya berbaik hati memanggil untuk berlindung di posnya. Suara panser, derap sepatu tentara, ambulance yang meraung-raung menuju RS Jakarta, membuat suasana senja itu amat mencekam.

Namun yang tak terlupakan adalah ketika rekan-rekan wartawan sekantor, di tengah-tengah situasi kacau itu, tiba-tiba bertemu seorang anak usia 11 tahun terkapar di gorong-gorong dekat Semanggi, dengan pinggang membiru. Menggelepar meregang nyawa. Masya-allah. Seorang temannya, mendampingi dengan wajah pucat pasi. Konon, ia ditendang tentara. Sang teman mengaku mereka tak tahu pasal kejadian, karena cuma ikut-ikutan bergabung dalam rombongan pro Sidang Istimewa. Keduanya mengaku dari Demak, dan sehari-hari kerjanya mengamen, dan sore tidur di komplek Mesjid Istiqlal.

Keduanya dilarikan ke kantor. Tetapi si anak yang pinggangnya membiru itu sudah setengah tak sadar. Saya ingat benar, seorang rekan berbisik, “Jangan-jangan ginjalnya pecah, atau apa.... “ Kami larikan ia ke klinik di dekat kantor, tapi petugas di sana menyerah. Akhirnya, si anak kami larikan ke RS Cipto. Di sana, puluhan orang, terutama mahasiswa, juga bergeletakan luka-luka. Begitu diterima petugas, si anak ini langsung dibaringkan di atas brankar ditemani temannya. Kepada kami, petugas mengatakan biar mereka yang mengurus, dan melarang kami ikut ke dalam. Itu terakhir kalinya saya melihat si anak didorong ke dalam lorong dan hilang dari pandangan. Saya tidak pernah tahu lagi, seperti apa nasibnya. Selamatkah? Atau...

Saya sendiri bersyukur belum pernah digebuki, atau masuk dalam situasi yang lebih gawat (beberapa rekan dari wartawan foto kenalan saya sudah kenyang ditendang dan kameranya dibanting di saat-saat meliput dahulu... Nggak tau sekarang, mungkin lebih tenang, terutama di Jakarta). Paling banter: dibentak dan ditelepon oleh aparat yang ngamuk karena tulisan saya.

Dan kini, mengingat Meutia dan Budiyanto, sekali lagi, mengembalikan ingatan saya, betapa tugas wartawan tidaklah mudah, dan amat membutuhkan mental baja. Meski kini tidak lagi terjun langsung di dunia peliputan, saya paham benar, Insya-Allah, tentang resiko yang mereka hadapi, tiap kali bertugas di lapangan. Dan saya amat kagum akan semangat dan ketegaran mereka. Semoga Allah memberikan yang terbaik...

(ahmad husein)

3 comments:

yanti said...

silakeuh klo mo dilink..

pengalaman ngeliput taun 98 seru bgt ya..

Hani said...

seru yah jadi wartawan. saya dulu pernah jadi wartawan tp cuma wartawan sekolah :)

Syahrani AR said...

Alhamdulillah dah bebas :)